
Bab 189. Angin sakal persahabatan
" Jika tidak tahu kapan akan kaya, jangan siakan miskin yang ada. Sebab tidak ada perut yang mampu menahan lapar, sekalipun dengan dalih memperbaiki ekonomi!"
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Dengan tanpa syak wasangka ia kini duduk menunggui Bapak yang tertidur. Nasib sudah di kandung badan, tiada guna ia menyuguhkan sesal.
Insan terlahir lengkap dengan kemujuran serat petaka yang akan mengikuti, hingga hayat telah tamat.
"Terdapat beberapa keadaan lanjut yang dapat terjadi akibat stroke, salah satunya adalah kejang!"
" Hal ini diyakini terjadi sebagai akibat terbentuknya jaringan parut dari penyembuhan jaringan otak yang kemudian menyebabkan gangguan hantaran aktivitas listrik otak!"
Ucapan dokter beberapa jam yang lalu masih belum hilang dari ingatannya. Ia merasa menyesal karena meninggalkan Bapak sendirian tadi. Walau biasanya, itu juga dilakukan oleh Rara.
Sekelebat bayangan wajah pria mendadak melintas di otaknya, manakala ia masih tekun memijat lembut kaki Bapak, yang tengah tertidur itu.
Ada apa denganku?
Yudha. Pria menyebalkan yang sok ikut campur itu rupanya telah menjadi superheronya tadi. Mau tidak mau ia harus mengakui hal itu.
Namun, entah mengapa ia buru-buru menepis wajah pria itu. Bagiamanapun juga, pria itu berkali- kali menyakitinya. Rara ogah memusingkan yang tidak terlalu penting untuk saat ini.
Kini, ia lebih baik memikirkan bagaimana cara untuk membayar biaya rumah sakit yang sudah menunggu di depan mata. Sebab mereka tak memiliki kartu sakti berslogan dengan gotong royong semua tertolong.
Membuatnya harus berpikir keras detik itu juga.
.
.
Kedai Cak Juned
Pukul 18.15
***
Sekumpulan orang- orang santai
" Si bos wajahnya cerah banget. Roman- romannya, kita bakal ngopi gratis nih!" Tukas Dino yang kini sudah memesan kopi langganan mereka kepada Cak Jun.
" Jelas! Udah dapat lampu ijo dari calon kakak ipar coy!" Balas Sukron menyenggol lengan atas Dino dengan senyum jumawa, dan bibir tercebik.
Namun yang di omong hanya terkekeh. Sebab kupu-kupu tengah terbang bebas memenuhi relung hatinya.
" Berplower- plower ( Berflower- flower/ berbunga-bunga) ya mas?" Cak Jun datang menghidangkan pesanan para pria bujangan itu.
" Catat aja, nanti sama saya Cak!" Sahut Ajisaka sang big boss.
" Beres Mas, wah semoga di segerakan ya? Saya jadi ikutan seneng!"
Mereka kini terlihat saling mencomot kudapan hangat buatan istri cak Juned yang endulitak tiada duanya.
Aji yang melihat Sakti diam seraya mengepulkan asap itu terlihat memicingkan matanya. Pria itu terlihat mengerikan saat tidak bersikap seperti biasanya.
" Sak!"
" Sak!"
Namun yang di panggil masih tekun memproduksi kepulan asap putih, hasil dari bakaran nikotin dalam tembakau itu. Pria itu terlihat tengah memikirkan sesuatu.
" Sakti mandraguna!!!!" Aji melempari pria sableng itu dengan kulit kacang, sembari berteriak.
" CK, asu!! Apaan sih?" Sakti mendengus kesal sekali. Pria itu kesal karena terkaget sebetulnya.
" Jujur ya Sak, aku lebih seneng kalau kamu ceriwis, penyinyilan, kakean cangkem, dan...!"
" Huh cangkemu!" Sakti langsung meremas bibir Sukron yang nyerocos itu. Membuat Aji dan Dino kini tertawa.
" Lagian, elu kenapa sih? Enggak biasa- biasanya begitu?" Tanya Sukron demi memenuhi hasrat keponya.
TIN
Keempat pria itu kini menoleh demi melihat Toyota Fortuner yang masuk ke halaman kedai Cak Juned.
" Siapa tuh?" Tanya Dino.
" Pandu sama ceweknya kah!" Sahut Aji.
" Ya Allah, semua orang punya mobil sekarang. Kita kapan mas?" Tanya Dino kepada Sukron. Membuat Sakti turut tertegun demi mendengar ucapan kedua cecunguk itu.
Ya, Sakti baru menyadari jika ketiga sahabatnya saat ini telah memiliki roda empat. Kecuali dia. Sakti tersenyum sumbang dalam hatinya.
" Weizzzttt, calon manten udah lengket aja kayak pulut nangka!" Ucap Sakti akhirnya kembali ke mode normal.
Ia tak pernah iri akan kesuksesan orang lain. Lagipula, alasan dibalik sikap mellow nya juga bukan perkara kepemilikan mobil. Tapi ada hal lain yang masih enggan ia ungkapkan, ke permukaan.
" Ihhh, enggak ada yang lebih bagus apa perumpamaannya? Pulut nangka!" Fina yang baru datang bersama Pandu langsung tidak terima dengan selorohan Sakti.
Sakti, Aji, Sukron dan Dino kompak tergelak.
" Kalian baru pulang?" Tanya Aji kepada dua pasangan yang kini sama-sama sibuk mengelola usaha mereka itu.
Fina mengangguk, " Ternyata orang kerja itu sibuk banget Mas. Duh, enggak kebayang kalau udah nikah gimana riwehnya!" Ucap Fina menjawab Aji.
" Cak! es dong, haus banget nih. Kamu mau apa sayang?" tanya Fina kepada Pandu.
" Samain aja!" Pandu berucap sembari mengeluarkan ponselnya. Sungguh, memiliki usaha yang kian maju membaut waktunya bersama teman-temannya terpangkas.
" Si Yudha mana? Belum nongol?" Tanya Fina yang mengabsen para sahabat kekasihnya dengan sapuan pandangan.
Kehadiran Fina dan Pandu rupanya membawa keriuhan tersendiri.
" Gak tahu, seharian ini enggak ada nongol dia!" Sahut Sukron sambil mencomot dimsum hangat.
Sakti terlihat tidak mau nimbrung saat para manusia di depannya sibuk menanyakan Yudha. Wajahnya seketika berubah menjadi tak berminat.
" Ciee mas Aji...lagi chatting sama siapa tuh? Sibuk amat. Lagi LDR ya?" As usual, Fina selalu saja menjadi paling rame setelah Sakti. Ia sudah berbaur dan suka dengan semua sahabat Pandu yang menurutnya unik- unik.
" Jangan salah mbak, bos lagi seneng karena tadi udah dapat ijin dari calon kakak iparnya?" Dino terkekeh. Membuat Ajisaka makin membesarkan cuping hidungnya.
Fina menatap tak percaya, " Yang bener? Jadi mbak Inggar udah pulang? Duh...ya udah, kapan kita jalan lagi, ke cafe yang kapan hari itu Lo, yuk?"
Semua terlihat antusias, kecuali Sakti yang tak memiliki rona. Apalagi, saat Fina mengatakan hal itu, sebuah mobil putih juga terlihat belok ke kedai itu.
" Nah tuh dia panjang umur!" Sahut Sukron demi melihat kedatangan Yudha dengan membawa mobilnya. Entah akan pergi kemana.
" Gue kira udah hilang ke antah berantah lu Yud, enggak ada kabar seharian!" Sahut Pandu yang juga tak melihat pria itu mengunggah story sama sekali.
" Aku balik dulu, kalian lanjut aja!" Ucap Sakti yang langsung pergi usai menepuk pundak Pandu. Sama sekali tak menatap ke arah Yudha yang baru saja tiba.
Membuat Yudha yang baru saja datang seketika bingung. What's wrong?
.
.
.
.
.
.
.