
Bab 43. Who is my enemy ?
^^^" Miskin itu keadaan, dan sederhana itu gaya hidup!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Gadis itu tak hentinya memikirkan sikap Pandu yang acuh tak acuh kepadanya siang tadi. Tapi jauh dari itu semua, Fina melihat raut penuh kecemasan dari wajah Pandu.
Jelas telah terjadi sesuatu.
Tak berselang lama dugaannya terbukti benar. Di kampung itu beredar kabar bila adik Pandu dibawa kerumah sakit. Beredar kabar pula bila ada orang misterius yang menyerang keluarga Pandu.
" Pandu orang yang gak pernah macem-macem. Mustahil jika dia punya musuh!"
" Benar, ibunya saja janda yang enggak mau menikah lagi. Dari dulu keluarga mereka gak banyak bicara!"
" Kasihan Ayu, matanya belum bisa ngelihat ee sekarang malah begitu!"
Suara riuh rendah para tetangga yang saling bersahutan masih santer membicarakan hal heboh itu, membuat Fina semakin terusik.
" Fin, kamu mau kemana?" tanya Nyonya Lidia yang melihat Fina berganti pakaian.
" Mau nengok temen ma, mama gak dengar tadi mereka pada ngomongin orang?" sahut Fina yang mengganti pakaiannya dengan terburu-buru.
" Fin, kita jangan ikut-ikutan lah. Mama takut!"
Sedikit banyak Nyonya Lidia tahu bila yang melakukan hal itu adalah orang misterius yang membuat beberapa orang ketakutan.
Bagi Lidia, itu bukan urusanya. Karena ia sendiri cukup kapok berurusan dengan orang-orang seperti itu.
" Ada apa ini?" Bu Asmah masuk ke kamar Fina, wanita tua itu juga sudah mendengar kabar bila keluarga Pandu mengalami musibah.
" Ini Bu, saya mau bilang sama Fina untuk tidak ikut-ikutan yang orang..."
" Apa maksudmu? Anak ingin menengok orang yang sedang kesusahan kamu malah menahannya?" Bu Asmah memarahi Nyonya Lidia.
"Bu-bukan begitu Buk, saya hanya..."
" Dia itu bukan orang lain. Fina udah kenal sama keluarganya korban itu. Kita kesana sekarang juga Fin!"
.
.
Mau tidak mau Nyonya Lidia akhirnya ikut dalam rombongan itu. Kali ini Bu Asmah tak membiarkan Fina mengemudikan mobil. Ia meminta Ajiz untuk mengantarkan mereka.
" Iya Fin ini gue lagi sama Bu Ambar. Kok gue curiga kalau semua ini Riko yang berbuat Fin!"
Fina sedari tadi sibuk berbalas pesan dengan Dita. Ia lega karena sahabatnya turut membantu Bu Ambar.
Namun ia menjadi gelisah begitu mendengar spekulasi dari bibir sahabatnya itu. Cukup masuk akan dan relevan. Apalagi, terkahir Riko pergi dari kediaman neneknya dalam keadaan dada yang nergenur.
" Gue OTW, elu disitu dulu. Kalau bener ini karena si brengsek itu, gue bakal buat perhitungan ama dia!" balas Fina cepat.
Hatinya mendadak diliputi rasa bersalah. Apalagi, persolan ini jelas bukan main-main. Ini sudah menyangkut nyawa orang.
Dengan langkah cepat Fina meninggalkan tiga orang tua yang masih riweh itu. Ia berlari dengan cepat sembari mencari ruangan yang sudah di infokan oleh Dita.
Membuat tiga orang tua itu menggelengkan kepalanya.
Di depan ruangan ICU.
Ia melihat empat pria yang berdiri seraya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pandangannya bertumbuk pada sosok Pandu yang nampak berwajah murung. Tanpa menunggu lagi ia berlari menghampiri Pandu dan
Bruk
Ia memeluk Pandu dengan seluruh perasaan bersalahnya " Pandu!" ia memeluk tubuh tegap itu dengan rasa bersalah yang semakin membuncah.
Ia bahkan menepikan tatapan penuh selidik dari ketiga pria ganteng di sampingnya. Membuat Pandu terperanjat dengan mata membulat sempurna.
"Emmm Fin!" Pandu melonggarkan pelukannya. Merasa takut akan di cecar pertanyaan oleh para sahabatnya itu.
" Maaf!" Ucap Fina yang menyusut air matanya. Ia benar-benar kehilangan kendali.
Sakti detik itu juga langsung menyenggol tubuh Yudha " Sepertinya kita ketinggalan gosip panas!" bisik Sakti.
" Mulutmu Sak, jangan mulai!" Yudha memperingatkan Sakti yang mulai bermulut licin.
" Matamu Sak!" dengus Ajisaka yang justru membuat sakti terkekeh. Ajisaka adalah pria yang amatir dalam urusan wanita. Ia kerap menolak wanita yang dekat dengan dirinya. Entahlah, sebabnya juga belum tahu pasti. Apa gerangan yang membuat Ajisaka tertutup soal wanita.
Sejurus kemudian mereka semua dikejutkan dengan kedatangan Bu Asmah, mama Fina dan Ajiz. Membuat meraka semua kini menatap tiga orang yang berjalan ke arah mereka.
" Pandu, apa yang terjadi nak. Gimana keadaan Ayu sekarang?" tanya Bu Asmah dengan wajah panik.
Pandu menatap sekilas wanita seusia ibunya yang terlihat cantik namun berwajah dingin.
" Ayu masih kritis Bu, baru selesai menjalani operasi!" Tukas Pandu menatap Bu Asmah.
Pandu lantas menceritakan semua yang menimpa keluarganya. Mulai dari kejadian di pasar bahkan mengenai Ayu yang sudah bersimbah darah ketika dia pulang.
" Pandu, ini sudah kriminal yang terorganisir. Kita harus lapor polisi nak!" Ucap Bu Asmah dengan wajah cemas.
" Saya tadi juga sudah mengatakan hal itu Bu. Tapi Pandu...!" ucap Ajisaka.
" Yang terpenting keselamatan Ayu dulu Bu. Perkara itu, nanti bisa saya pertimbangkan kembali!" Pandu menjawab lesu. Sungguh menjadi orang dalam keadaan tak berada itu sangat tidak enak.
.
.
Ajisaka, Yudhasoka, Sakti, Bu Asmah, Nyonya Lidia, hingga Ajiz menjenguk Ayu yang masih belum sadarkan diri secara bergantian.
Dita sudah pamit pulang terlebih dahulu dan berjanji akan datang kembali besok. Ia juga belum istirahat sama sekali sejak selesai berdinas tadi.
Pandu menatap nanar semburat jingga di ufuk barat. Ia membiarkan ibunya mengobrol bersama para tamu, sementara dirinya ingin sendiri.
Tak di nyana, Fina rupanya menyusul Pandu yang duduk kursi panjang dari besi, yang ada di lorong luar rumah sakit dari lantai dua. Nyalang menatap langit senja sore itu.
" Ehem!" Fian berdiri seraya bersidekap.
" Kok kamu kesini?" ucap Pandu yang tersentak sedari lamunannya.
" Sengaja nyari kamu!" jawab Fina yang kini mendudukkan dirinya di samping Pandu.
Pandu diam, wajahnya tak bisa di tebak. Fina masih lekat mengamati wajah Pandu. " Maaf!" ucap Fina kemudian, membuat Pandu menatap Fina tak mengerti.
" Untuk apa?" jawabnya bingung.
Fina menghela nafasnya " Telah membawamu kedalam persoalanku!"
Pandu semakin menatap Fina tak otaknya benar-benar sulit diajak berpikir taktis saat itu.
" Orang yang kemaren datang dan bilang jika dia pacarku. Kemungkinan adalah orang yang melakukan semua hal ini!" jawab Fina membuat Pandu menatapnya tak percaya.
" Kita tidak punya cukup bukti. Sebaiknya jangan asal menuduh!" Jawab Pandu yang masih tidak percaya.
" Tapi aku yakin!"
Mereka berdua saling menatap.
" Tapi kenapa mereka menyerangku, aku tak kenal mereka!"
" Mustahil jika me....!"
" Karena kita berciuman di depan mata kepalanya tempo hari. Lebih tepatnya aku yang menciumu !"
Fina masih menatap Pandu tak lekang, sementara Pandu terlihat menaikturunkan jakunnya saat mendengar Fina berucap dengan santainya.
Fina lantas menceritakan sebab mengapa hubungan mereka bisa kandas. Fina menyesali sikapnya yang lupa bila Riko adalah pria nekat.
" Itu hanya spekulasimu saja. Dia sama saja bodoh jika melakukan hal itu demi menyerang aku dan keluargaku. Itu sudah masuk kejahatan berencana!" sergah Pandu menggelengkan kepalanya.
Fina memejamkan matanya. Pandu tidak tahu seberapa berkuasanya orang tua Riko.
" Riko anak orang berada. Keluarga mereka cukup berpengaruh di lingkungan para pembesar. Tapi tenang saja, setelah ini aku akan menemui pria itu. Dia sudah benar- benar keterlaluan!" Fina menahan kegeraman.
" Apa kau akan kembali padanya?"
Fina terkaget mendengar pertanyaan Pandu.
.
.
.
.
to be continued