
Bab 45. Perjalanan Abadi
^^^" Selamat jalan kekasih, kaulah cinta dalam hidupku. Aku kehilanganmu, untuk selama- lamanya!"^^^
^^^( Diambil dari lirik lagu yang di nyanyikan oleh Rita Effendy)^^^
.
.
.
...πππ...
Dengan gelagapan Fina menatap wajah neneknya sembari mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Lebih parahnya, di belakangnya telah berdiri Nyonya Lidia.
" Mencium? "
" Di depan Riko?"
Bu Asmah menatap wajah cucunya yang saat ini terlihat pias dengan tatapan penuh selidik.
" E ..em Oma!" Fina tergagap-gagap. Bak maling yang ketangkap basah oleh pemiliknya. Mendadak tersedak ludahnya sendiri.
" Coba jelaskan apa yang seharusnya Oma dengar!" wanita tua itu menatap tajam wajah Fina yang sudah sangat ketakutan.
.
.
Ketiga wanita itu terpekur menatap meja di depan mereka. Fina telah menceritakan semuanya tanpa tanggung-tanggung. Kini, kecanggungan menyeruak melingkupi ketiga kaum hawa itu.
Bu Asmah memijat keningnya sementara Nyonya Lidia terlihat memejamkan matanya usai mendengar cerita anaknya itu.
" Fina gak punya cara lain, Fina cuma pengen bikin Riko berhenti ngejar Fina mah!" ucapnya memecah kesunyian.
" Fina udah gak mau lagi dekat sama Riko!"
Nyonya Lidia menatap iba wajah anaknya.
" Ibuk gak tau cara didik kamu bagaimana selama ini Lid. Ibuk pikir dia disini bisa sembuh. Mengingat cerita Guntoro yang mengatakan jika Fina terlalu nakal di kota!" Bu Asmah mumet seketika demi menyadari ulah cucunya.
Nyonya Lidia hanya menunduk pasrah seraya meneguk ludahnya dengan susah. Ia sadar akan kesalahannya. Terlalu memanjakan Fina.
" Itulah sebabnya mas Gun melarang Fina untuk dekat dengan Riko Buk. Karena orang tuanya yang kerap menghalalkan segala cara dalam mengalahkan saingan bisnisnya!" tukas Nyonya Lidia dengan wajah muram.
Membuat Fina tersentak " Kenapa papa gak bilang dari dulu mah?" sergah Fina tidak terima karena mengapa mamanya baru mengatakan hal itu sekarang.
" Kamu mana pernah mau dengar ucapan papamu, coba kamu ingat kapan terakhir kalian bicara baik-baik?" Nyonya Lidia meluapkan apa yang ia pendam selama ini. Dengan kembang kempis ia mengatur nafasnya.
" Sudah-sudah, kenapa kalian malah jadi bertengkar?" Bu Asmah benar-benar berada di titik mumetnya saat itu.
" Guntoro harus tahu persolan ini. Ini menyangkut keselamatan orang lain Fin. Pria bernama Riko itu bukan pria yang bisa kita sepelekan!"
Membuat Fina dan Nyonya Lidia saling mengembuskan napas pasrah.
" Tapi kita juga gak bisa berbuat banyak. Mereka terlalu berkuasa!" ucap Fina frustasi.
" Kalau sampai terjadi sesuatu kepada anaknya Ambar, apa yang harus kita lakukan?" Bu Asmah berpikir keras. Ini sudah keterlaluan.
Membuat Fina dan mamanya turut memijat keningnya lantaran nyaris tak menemui titik temu.
.
.
Rumah Sakit
Pagi itu belum ada tanda-tanda perubahan, bahkan kondisi Ayu semakin memburuk. Bedside monitor di samping ranjang Ayudya semakin melemah. Membuat Ambarwati panik. Ia awam dan tak tahu reaksi peralatan medis itu berarti apa.
Bedside Monitor adalah suatu alat yang digunakan untuk memonitor vital sign pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, secara terus menerus.
" Ndu, ini kenapa?" Ambarwati panik kala mendengar alat itu berubah bunyi. Pandu yang baru saja terlelap karena semalaman terjaga itu, kini kembali bangun lantaran suara panik Ibunya.
" Ada apa Buk?" ucapnya dengan menggoyang kepalanya yang agak pusing.
" Lihat ini Ndu!" dengan panik Ambarwati menunjukkan ke arah layar yang suaranya berubah. Fluktuasi garis itupun juga semakin melandai.
" Tunggu sebentar Buk, aku akan panggil dokter!"
Pandu melesat dengan kepala yang terasa terlempar saking beratnya. Pria itu benar-benar kehilangan rest hour minimun ( waktu minimal istirahat) yang biasanya harus di dapatkan minimal delapan jam.
Kebetulan dokter akan memeriksa kondisi Ayu pagi itu. Pandu membeberkan apa yang baru saja ia dengar kepada dokter itu. Mereka berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan Ayu.
Jelas menandakan genting dan mengkhawatirkan.
.
.
Pandu
Petir seolah menyambar diri Pandu detik itu juga, kala ia melihat garis datar kuning yang terpampang di Bedside monitor itu. Lebih parahnya lagi, ibunya sudah menangis meraung-raung sembari mengguncang tubuh adiknya.
Petaka itu telah datang.
" Dokter anak saya kenapa Dok?" ucap Ibu dengan air mata yang berlinang membasahi pipi bersihnya, saat pria berjas putih itu tiba di ruangan dimana ayu dirawat.
Dokter bersama seorang perawat terlihat memeriksa beberapa bagian sebelum memastikan hal itu. Digunakannya alat kejut jantung namun hasilnya nihil.
Dengan dada yang seolah tercabik- cabik, ia menatap nanar wajah pucat adiknya yang sudah tak beraksi.
" Maaf Buk, dengan sangat menyesal kami harus mengatakan...."
Dokter itu berucap dengan wajah muram. Suatu berita yang sangat sulit untuk dikabarkan kenyataannya, namun tetap harus di utarakan.
Detik itu juga rasa pusing yang bersarang di kepala Pandu berubah menjadi sakit yang berkali- kaki lipat menghantam dirinya. Memukul rasa ambisi yang kini semakin goyah.
Bersamaan dengan itu pula, ia terkaget lantaran tubuh ibunya yang mendadak limbung.
" Ibuk!"
...πππ...
Bendera putih berkibar lemah. Selemah diri Pandu yang bersikap sok kuat saat itu. Di tatapnya adiknya yang kini sudah terbujur kaku dengan wajah pucat.
Tak mengira jika petaka itu datang dengan cepat tanpa kompromi kepada dirinya terlebih dahulu. Pandu benar-benar tak memiliki daya.
Ayudya telah meninggalkan dirinya untuk selama- lamanya.
Wajah kosong Ambarwati seolah mewakili kehancuran diri Pandu. Semua ini terlalu cepat untuk ia telaah. Merasa gagal menjadi seorang kakak. Merasa tak berguna sebagai seorang saudara.
Duka nampak jelas tersirat di wajah Pandu. Pria itu tak hentinya duduk di sebelah jasad adiknya yang berselanjar membujur ke Utara. Memandang wajah ayu dengan tatapan nanar.
"Kenapa kamu pergi secepat ini Yuk?"
" Ndu!" Ketiga sahabatnya turut hadir disana. Memberikan kekuatan dan turut merasakan kehilangan.
" Sabar, ikhlas!" Aji menepuk bahu Pandu yang jelas saat ini tengah berada dalam titik nadir kehidupan.
Para pelayat memenuhi rumah Pandu. Para tetangga turut larut dalam tangis. Apalagi mereka semua ingat akan targedi yang menyebabkan Ayudya meregang nyawa.
.
.
Serafina
Hatinya sesak. Dadanya perih, jiwanya pilu. Di tatapnya wajah Pandu yang kosong dan terlihat berbeban berat. Ia tak berani mendekat. Hanya berani menatap dengan linangan air mata yang kian menyiksa diri.
Rasa bersalahnya benar-benar menggerus keberanian yang tersisa untuk sekedar menyapa. Fina berada di ambang rasa ambigu.
" Sudah, kita bicara kepada Pandu dan keluarganya nanti saja!" Oma mengusap punggungnya cucunya. Menatap sendu ke arah Pandu dari balik kerumunan para pelayat.
Mama yang awalnya bersikap cuek kepada Pandu, kini terlihat turut menitikan air matanya. " Fin!" ucap mama yang mungkin iba menatap keadaan keluarga Pandu.
.
.
Pandu
Riuh rendah suara pelayat berangsur-angsur tak terdengar dari areal pemakaman itu. Menyisakan Pandu dan ketiga sahabatnya. Ibu berada dirumah lantaran tak sadarkan diri sewaktu anaknya di berangkatkan menuju pemakaman. Istri Lik Sarip lah yang setia menemani Ibu.
Kini, kenyataan pahit harus ia telan secara sadar. Tuhan sudah memanggil adiknya untuk berpulang bahkan tanpa saling berucap.
Meski hatinya sesak dan pedih, tapi entah mengapa sedari keluar dari rumah sakit menuju rumah duka, air matanya kering kerontang. Tak keluar bahkan setetes pun dari kedua netranya.
Di tatapnya gundukan pusara yang basah itu dengan tatapan nanar. Batinnya membaca tulisan yang terpahat di batu nisan itu dengan wajah tak terbaca.
...Ayudya Kinati binti Sulaksono...
" Ndu, udah mau hujan !" Ajisaka menepuk pundak sahabatnya itu. Mengingatkan jika sebentar lagi hujan deras akan mengguyur kawasan itu.
Pandu tak menjawab, ia bergeming seraya berjongkok di depan pusara adiknya. Bayangan wajah ayu yang tersenyum saat memancing di sungai beberapa waktu yang lalu, wajah ayu yang tersenyum usai di potong rambutnya oleh Fina, membuat air mata Pandu kini meluncur begitu saja.
Kini ia benar-benar menangisi kepergian adiknya yang tak pernah ia kira akan datang secepat itu.
" Ayuk!" lirihnya dalam kesedihan yang dalam.
Yudhasoka meminta Ajisaka untuk meninggalkan Pandu yang mungkin memerlukan waktu sendirian untuk adiknya. Sakti turut mengangguk, meminta Ajisaka untuk membiarkan Pandu.
Mau tidak mau Ajisaka menurut kepada dua sahabatnya. Kini, mereka benar-benar meninggalkan Pandu seorang diri di samping pusara basah Ayudya.
Mendung kian berarak, pekat dan hitam menyelimuti atmosfer pemakaman. " Mas janji bakal cari siapa yang bikin kamu begini Yuk. Ini sumpah mas sama kamu!"
" Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa!" ucapnya geram dengan air mata yang terus mengalir.
Petir tiba-tiba menggelegar. Bak mengiyakan sumpah yang diucapkan oleh pria dengan wajah penuh kegeraman itu. Rintik hujan mulai turun. Langit bahkan turut bersedih dengan kepulangan Ayudya kepada sang khalik.
" Pandu!" Terdengar suara bergetar seseorang yang ia kenal
Pandu masih menunduk, memejamkan matanya. Sejurus kemudian ia berdiri usai menyusut sisa air matanya.
Dalam keadaan redup karena mendung, siang itu Pandu menatap Fina dengan terkejut. Mengapa Fina masih berada di sana.
" Maafkan aku!" Fina memeluk Pandu seraya menangis. " Semua ini karena aku!" tangisnya kian pecah kala Pandu hanya berdiri mematung.
Pandu masih diam saat kedua tangan Fina melingkar erat di perutnya. Ia bahkan bisa menghirup aroma shampo Fina dari balik pasmina hitam yang kini melorot karena tersapu angin.
Pandu masih bergeming.
" Semua ini karena aku yang membawamu kedalam masalahku Ndu. Riko...Riko yang...!" ucap Fina seraya melonggarkan pelukannya.
Mata Pandu membulat demi mendengar ucapan Fina. " Apa yang kau katakan?"
.
.
.