Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 56. Kamar D10



Bab 56. Kamar D10


^^^" Mengikuti aturan Tuhan. Hidup tinggal hidup"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Kemana kelok lilin, kesana arah angin bertiup. Kemana arah langkahnya, disitu sebenarnya tujuannya.


Ya, peribahasa tersebut sangat relevan dengan tujuan Pandu saat ini. Malang atau mujur, no one ever knows.


Sebuah bus ekspres kini tengah melaju menuju X. Bus dengan kapasitas lebih dari empat puluh orang itu cukup ramai siang itu.


Sing Ono hang biso, ngalangi niat Iki. Masio tah Samudro sun arungi.


( Tak ada yang bisa, menghalangi niat ini. Meskipun menyeberangi samudra aku akan arungi)


Sing Ono hang biso, mbatesi welas Iki. Masio ilang nyowo sun lakoni.


( Tak ada yang bisa, menghalangi kasih sayang ini. Meskipun kehilangan nyawa, akan ku lakukan)


Paran byaen sing lakoni, kanggo Riko.


( Apapun akan ku lakukan demi kamu)


( Demy~ Kanggo Riko)


Sebuah lagu yang berasal dari suatu daerah di ujung timur pulau Jawa terlihat mengalun dan menyeruak di dalam bus itu. Membuat semua penumpang larut dalam suara khas penyanyi lokal yang memiliki rambut panjang itu.


Pandu terlihat duduk seorang diri di baris ke tiga yang berada di lajur sebelah kiri. Persis berada di samping jendela. Menatap nanar jalanan yang seolah bergerak karena gerak semu.


Namun tak berselang lama, bus itu terlihat berhenti di rumah seorang agen perjalanan moda transportasi bus dan terlihat menjemput satu penumpang lain.


Hal biasa dan umum.


Ia membuka ponselnya lalu mengganti kartunya dengan kartu yang baru sementara ini. Tak mau di hantui rasa bersalah. Ia tahu, cepat atau lambat jika ketiga sahabatnya mengetahui dirinya sudah pergi, mereka pasti akan mencecarnya dengan berbagai gerutuan melalui sambungan telepon.


Dan ia tak siap untuk itu.


Ia sudah menyalin beberapa nomor-nomor yang ia anggap penting . Termasuk nomor Fina. Tunggu dulu, apakah Fina masuk dalam jajaran orang penting dalam hidupnya saat ini?


Cieee!


" Aaa akhirnya dapat juga tempat duduk. Ah....!" kegiatan Pandu terinterupsi dengan kehadiran pria tambun berkacamata yang duduk di sampingnya. Membuat bangkunya turut bergoyang karena terhempas angin hasil dari dudukan pria itu.


" Misi ya mas!" sahutnya kepada Pandu.


Pria itu mengeluarkan aroma pakpung ( sejenis minyang nyong-nyong ) yang begitu sialan. Pandu merasa aroma itu cukup mengusik hidungnya. Bahkan menembus barikade masker yang ia kenakan.


Sungguh sialan!


" Kenapa mas hapenya?" Pria tambun itu rupanya kini bertanya kepadanya sembari menjejalkan tas yang ia ke bawah kursinya.


Haruskah ia menjawab?


" Emmm, tidak kenapa-kenapa. Ganti chard aja!" Rupanya dia tak bisa untuk tak menjawab. Jelas Pandu memang orang baik.


Pria itu mengangguk paham. Sejurus kemudian ponselnya yang mengeluarkan nada tulalit dengan begitu keras, ia pencet dengan gemasnya. Membuat Pandu kembali menghela napas. Apakah perjalanan panjang ini akan ia lalui bersama seorang pria aneh?


Kembali Pandu mendecak demi merasakan kelakuan orang di bangku sebelahnya.


" Halo Mak, iya udah....!"


" Udah!"


" Enggak aku gak bawa ayamnya!"


" Nanti mau tidur diman dia. Biarlah sudah!"


" Ada sambal terasi ini. Masih....Iya semoga ya ...amin!"


Pandu menguping obrolan pria aneh di sampingnya itu dengan saksama. Tapi , untuk apa dia mendengarkan?


Sejenak ia tertegun. Dilihat dari pembicaraan yang berlangsung, pria di sampingnya itu pasti baru saja di telpon oleh ibunya. Agak menggelitik sekali sih. Pria aneh dengan sambal terasi yang terus di pantau pergerakannya oleh emaknya. Lantas mengapa pria seperti itu dibiarkan berkeliaran sendiri?


Jelas anak emak. Pandu terkikik dalam hati.


" Mas...mau?" Pria itu usai memungkasi panggilan teleponnya kini mengangsurkan sekotak madu mangsa ( sejenis jajanan dari ketan yang dibuat menjadi dodol dengan gula merah yang lekat) kepada Pandu.


Gak orang gak makanan yang di bawa, sama kunonya. Ah ralat bukan kuno. Kearifan lokal lebih tepatnya. Begitu terdengar lebih baik.


" Makasih mas, saya tidak makan yang terlalu manis!" tolaknya halus. Orang asing dan makanan yang di perkenalkan agaknya cukup ekstrim.


Cukup membuat Pandu khawatir. Mendadak dia seperti orang awam yang takut diracuni. Alias insecure dengan sendirinya.


Very bad!


Namun kecurigaannya tak berarti. Pria itu usah menghabiskan sekotak madu mangsa kini terlelap. Cih, mudah sekali pikirnya. Membuatnya juga turut menguap karena lelah.


Pandu selama di dalam bus memejamkan matanya sembari menutup kepalanya dengan Hoodie yang ia kenakan. Menutup wajahnya dengan masker, dan menyenderkan kepalanya ke jendela.


Terlihat elegan bukan.


Dan sialnya bersebelahan dengan pria aneh itu rupanya bertahan hingga di terminal akhir kota X. Membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak demi memburu waktu.


Beberapa saat kemudian.


" Mas! Mas!" Lengannya di tepuk oleh seseorang. Membuatnya kini berusaha menggali kesadaran.


Baru saja memejamkan matanya, kini ia sudah merasa terusik kembali. Benar-benar jancok kan?


Pandu mengerjapkan matanya. Dilihatnya ke sekeliling. Bus itu telah terparkir di tempat yang ramai dengan asongan, riuh pejalan kaki dan satu lagi sebuah partisi besar yang menerangkan bila ia sudah sampai pada tujuannya.


...Terminal Yaksowilangun...


...Kota X...


Ya, akhirnya ia sudah semakin dekat dengan tujuannya. Pandu telah menginjakkan kakinya di kota itu tepat pukul empat sore.


.


.


Ia yang lapar kini membelokkan langkahnya menuju sebuah warung tenda. Semangkuk soto dengan embel-embel nama salah satu daerah terkenal di Jawa Timur itu sepertinya terlihat menggiurkan.


" Sama es tehnya buk!" Berjam-jam berada di dalam bus dan tak meneguk apapun jelas membuat faring, laring dan esofagusnya minta untuk dihidrasi.


Dan es teh manis adalah pilihan yang cukup menggiurkan.


" Monggo mas!" tutur ibu itu mengangsurkan semangkuk makanan dengan kuah kuning gurih lezat, berisikan irisan ayam kampung, tomat, kecambah, kubis, daun bawang, bawang goreng dan juga yang paling Pandu suka, kerupuk udang.


" Ah..!" ucapnya lega usai menyeruput es teh manis yang membuat esofagusnya kini dingin. Terasa terhidrasi dengan baik.


Ya, tidak ada satupun perut yang bisa dan kuat menahan lapar. Sekalipun dengan dalih ingin memperbaiki ekonomi.


Pandu makan dalam tekun, cepat dan khusyu. Jelas menandakan jika ia benar-benar lapar. Segelas es teh itu juga terlihat licin tandas. Kosong tak bersisa.


" Enak juga!" gumamnya.


Kini Pandu terlihat menggulir ponselnya. Mencari hotel atau penginapan sederhana yang dekat dari kawasan Kijang Kencana. Tak mau menunda-nunda lagi. Besok ia harus segera mencari orang itu.


" Berapa semuanya Buk?"


.


.


Keberuntungan agaknya masih melingkupi Pandu. Beruntung karena mendapat kamar murah petang itu.


Ia kini terlihat menerima sebuah kunci hotel kelas melati. Tak ada hotel berbintang atau penginapan mahal. Tidak ada waktu untuk hal itu. Jangan di bayangkan ia akan mendapatkan cardlock atau kartu chip yang biasa diberikan oleh petugas hotel berbintang.


Ya, jelas kunci yang di terima Pandu merupakan sebuah kunci yang mirip dengan logo merk tepung berprotein rendah milik perusahaan manufaktur terkenal.


Sebuah hotel dengan harga yang tidak terlalu mencekik di musim paceklik merupakan pilihan yang tepat.


Hotel kelas melati.


Pandu merupakan orang pemikir bebas dan tak mau ribet. Tak terlalu memusingkan nilai estetika maupun fasilitas oke. Yang penting baginya malam ini bisa tidur dan mandi dulu. Perkara besok ia tak mau ambil pusing.


Tujuannya datang ke kota itu sangat jelas. Bukan untuk berpelancong atau untuk keliling dunia. Jadi, hotel seperti itupun sudah lebih dari cukup.


Kamar- kamar di Hotel itu berjajar memanjang. Jika dilihat, bangunan disana lebih mirip seperti sebuah kos-kosan dari pada sebuah hotel sebenarnya. Yes whatever!


Kamar D10.


Bahkan kamarnya diberi nama alphabet untuk membedakan kelasnya. Cukup menggelitik.


Saat Pandu tengah memutar anak kunci itu, ia mendengar de sa han juga era ngan, dari kamar di sebelahnya. Jelas suara manusia- manusia liar yang melebur hasrat bersama.


Oh Sh it! apakah ia bisa tidur malam ini?


Sepertinya ia lupa memperhitungkan aspek lain saat memilih tempat itu.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Seorang wanita tengah duduk menatap kaca jendelanya dengan tatapan nanar. Berulang kali menghubungi Pandu. Alih-alih ingin menelponnya lantaran hatinya tak lagi bisa menahan diri, justru malah suara Veronica yang ia dengar.


Sial!


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi!


The number you have dialed is inactive or out of range. Please try it in a few minutes!


" CK, duh...!" Ia menggerutu seraya melempar ponselnya.


Ada apa dengannya? Mengapa tak berpamitan dengan Pandu yang notabene bukan siapa-siapa justru malah membuat moodnya berantakan.


Apalagi ia tak bisa menghubungi Pandu melalui sambungan reguler. Benar-benar menyebalkan.


Tok Tok Tok


" Fin ini mamah!"


" Keluar bentar itu kamu ada yang nyari di depan!"


.


.


.