Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 29. Menemukan mu



Bab 29. Menemukan mu


^^^" Saat hati lelah mengejar, yang bisa ia lakukan hanyalah melupakan!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Riko


Ia habis bertengkar besar dengan Shila. Ia menyadari, telah berlaku sembrono karena bermain api. Api yang kini justru membakar dan menghanguskan kisah cintanya bersama Fina.


" Kamu ini jangan seenaknya Riko!" bentak Shila yang dalam mode emosi.


" Dengar, aku yang bodoh karena selama ini terbujuk rayuan dari wanita kayak kamu!" Riko menunjuk wajah Shila dengan geram. Menyadari bila Fina teramat berharga untuknya.


Singkat cerita awalnya Riko tak menggubris Shila yang kerap meminta bantuannya. Terutama untuk hal remeh. Hingga suatu malam, Riko yang mabuk malah bercumbu dengan Shila. Pria itu menganggap **** merupakan suatu kebutuhan.


Ia pernah menggagahi tubuh Fina sekali, dan ia cukup senang karena rupanya ia adalah orang yang berhasil mengambil harta berharga milik Fina itu.


Namun tak di sangka, seringnya Fina yang jarang bisa bertemu dengan Riko karena terhalang restu dari Guntoro, malah di salahgunakan oleh Shila dengan menggoda Riko.


" Riko, elu jangan gila. Gue gak mau elu putusin!" ucap Shila dengan murka.


" Gue bertengkar sama Fina itu gara-gara elu Shil. Sekarang mending kita udahan, dan stop cari gue!" Riko juga tak kalah murka.


Nyatanya, pria itu lebih menikmati Fina yang secara telah rela menyerahkan keperawanannya untuk dirinya. Berbeda dengan Shila yang sudah tak bersegel.


" Brengseknya elu Ko, gue gak akan tinggal diam!" umat Shila saat ia ditinggalkan oleh Riko.


" Riko!!!!


Riko tak peduli, ia melenggang begitu saja meninggalkan Shila yang kesal.


Dan paginya, saat ia sibuk bersama teman-temannya di sebuah cafe. Ia tak sengaja melihat postingan Dita.


" Brengsek si Dita. Bohongin gue rupanya dia!" ucapnya saat melihat Fina yang turut berada di foto itu.


Ia lantas mengubungi Dita detik itu juga. Berkali- kali ia mengumpat karena Dita tak kunjung menjawab telepon darinya.


Dan, saat panggilan ke empat. Dokter muda itu baru menjawab panggilan darinya


" Hallo..!" terdengar ketus.


" Katakan elu dimana sekarang, elu sama Fina kan?" ucapnya geram.


" Apa maksud elu Ko, gue lagi tugas di tempat baru. Gue gak tahu dimana Fina!"


"Elu jangan bohong Dit, gue kesana sekarang juga. Antar gue ketemu Fina!"


" Katakan atau gue bakal bikin masalah!" ia mengancam.


Dita yang tahu siapa orang tua Riko seketika ciut nyali.


Dan puncaknya adalah pagi ini, ia akhirnya mencari alamat Dita berbekal info dari orang puskesmas yang ia temui tadi.


Dan saat akan mengetuk pintu rumah Dita, pintu itu rupanya telah mengayun. Menandakan bila yang ia tuju akan segera menampakkan diri.


" Bagus lah kau sudah keluar, aku jadi tidak perlu susah-susah mengetuk pintumu!" ia berucap seraya menatap tajam Dita yang membulatkan matanya.


.


.


" Gue gak sengaja ketemu Fina Ko, gue gak tahu dia dimana suer!" Dita masih bersikeras berdalih.


Ia adalah garda terdepan panitia penolak Riko yang telah menghancurkan hati sahabatnya itu.


Citttt


Mobil itu berdecit lantaran Riko menghentikan mobilnya seketika. " Elu jangan bikin gue tambah emosi Dit!" Riko mencengkeram lengan Dita dengan rahang mengeras. Pria itu tersulut emosi.


" Anjing, sakit tahu! lepasin gue!" Dita mengumpat karena ia memang merasa sangat kesakitan.


Riko menatap tajam Dita lalu melempar lengan perempuan itu dengan cepat begitu ia sadar telah menyakiti Dita, nafas Riko terlihat memburu matanya memerah dan rahangnya mengeras.


Dengan wajah bersungut-sungut Dita mengusap lengannya yang sakit. " Gue heran sama elo ko. Mau elu apa sih, gak cukup bikin Fina sakit hati kayak kemaren?"


" Elu tu..."


" Iya gue salah!" ucap Riko berteriak. Suaranya yang menggema di dalam mobil membuat Dita seketika terdiam.


Hening beberapa detik, Riko terlihat mengusap wajahnya kasar.


" Gue emang ngaku salah, makanya gue mau nebus kesalahan dan gue mau elu nunjukin dimana Fina berada!"


Dita melempar pandangannya sembari berengut. Otaknya mendadak tak bisa berpikir waras karena mendapat intimidasi dari Riko.


...☘️☘️☘️...


Di pagi yang sama Fina terlihat sibuk melukis gunung yang nampak jelas dari pelataran rumah Bu Asmah. Desa yang asri, yang memberikan ketenangan.


Pagi itu ia bingung mau melakukan apa. Sebenarnya ia masih ada tugas, namun masih nanti siang. Membuatnya memilih mengisi waktu paginya dengan menyibukkan diri pada goresan tinta yang berwarna-warni.


Namun, seketika ia terkejut demi melihat sebuah mobil yang tak asing berbelok ke pelataran rumah Bu Asmah yang luas. Matanya mendelik saat itu juga begitu ia melihat Riko yang turun dengan wajah tersenyum.


" Riko?" Fina terperanjat dengan tubuh berdiri mematung.


Tak berselang lama, ia melihat Dita dengan wajah murung turut keluar dari ruang kemudi.


" Sory Fin!" ucapnya dengan wajah muram penuh penyesalan.


Fina berniat berlari dan masuk ke dalam rumahnya, ia sudah tidak ingin bertemu lagi dengan Riko. Hatinya masih sakit.


Namun, dengan pergerakan yang cepat, Riko berhasil mencekal lengan Fina dan membuat langkah wanita itu terhenti.


" Tunggu Fin, kita harus bicara!" tukas Riko yang rindu dengan Fina.


" Lepasin gue!" Fina melempar tangannya, membuat tautan tangan mereka terlempar dengan paksa.


" Ok Ok, tapi tolong elu dengerin gue dulu. Please kita harus bicara Fin, kita hanya salah paham!" Riko berusaha menjelaskan.


" Salah paham elo bilang? gue lihat dengan mata kepala gue sendiri elu nyipok itu bibir perempuan sialan!" Fina berucap dengan suara menggebu.


"ekarang bilang dari sisi mana elu bisa mengatakan jika itu hanya sebuah salah paham, elu gila ya ko!" ucap Fina dengan wajah bersungut-sungut, nafasnya memburu. Wanita itu hampir saja menangis karena menahan buncahan emosi.


" Fina, dengerin gue!" Riko berusaha menarik tangan Fina, membuat wanita itu meronta.


Dita langsung menjadi cemas saat itu, apalagi Bu Asmah tengah bersama Yayuk pergi ke pasar. Oma Fina itu ingin ikut ke pasar pagi ini.


" Heh, jangan kasar sama wanita!" suara berat seseorang membuat mereka bertiga menoleh ke arah belakang dengan wajah pias.


.


.


.