Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 51. Melawan Hasrat



Bab 51. Melawan Hasrat


^^^" Berani konsekuen, pertanda jantan!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kediaman Keluarga Wijaya


" Dari mana saja kamu Riko?" tanya Rengganis mama Riko yang melempar majalahnya, sembari menatap bengis kepada putranya.


Wanita itu kini tengah berdiri sembari berjalan ke arah Riko yang membuang mukanya malas.


" Mau sampai kapan kamu begini terus. Kapan kamu bisa berpikir maju, hah?"


Rengganis geram, selama ini Riko lebih banyak menghabiskan waktunya dengan kamera dan ngalor ngidul tak jelas. Tak mau ambil pusing soal papanya yang sibuk bak politikus.


Rengganis selalu memaksa Riko untuk mengikuti jejak papanya. Seorang pengusaha terkenal yang menaungi banyak sekali grup dan bidang usaha.


Usaha terselubung maybe.


" Aku capek ma, jangan bikin Riko tambah kesel!" dengus Riko yang jelas tak berminat meladeni ucapan mamanya.


" Kamu capek ngapain? kerjaan cuma keluyuran sama ngabisin uang kok capek!" Rengganis berang.


" Sekarang jawab Mama, apa yang kamu sama papa kamu lakukan beberapa hari ini?"


" Kamu habis ngapain di desa hah?"


Riko menatap mamanya terperanjat. Dari mana mamanya itu tahu bila dirinya telah meminta bantuan Papanya.


" Kamu gak bisa jawab kan?" Rengganis makin berang. Jelas ini membahayakan integritas keluarganya.


" Kalau sampai ada wartawan yang tahu kalian nyelakain orang, bisa habis reputasi keluarga kita. Mau kamu jadi miskin. Jadi orang pinter dikit kenapa sih kamu!"


Rengganis berucap dengan nada kemarahan yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Ia sangat sensitif dengan kehormatan keluarganya.


" Pokoknya mama gak mau sampai nama baik keluarga kita hancur. Ingat itu Riko!"


Rengganis pergi dengan kemarahan. Wanita itu merupakan orang yang sangat rentan terhadap integritas yang dipertaruhkan. Apalagi, dia dan keluarga Riko termasuk jajaran orang yang berpengaruh dan selama ini terkesan baik di mata publik.


Termasuk di kancah politik.


Jelas ia tak mau tindakan impulsif Riko, menjadikan ancaman bagi keluarganya yang sudah terkenal terhormat dan kaya.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Dunia memang tak sempurna, surga tahu itu. Begitu juga dengan dua anak manusia, Pandu dan Serafina. Hanya insan biasa yang terkadang tak mampu menahan godaan dunia.


Namun, agaknya Pandu masih memiliki kewarasan malam itu. Nalurinya masih membimbing ia kearah waras.


" Cukup Fin!"


Pandu menarik bibirnya saat Fina masih larut dalam *******. Membuat ciuman itu terlepas sebelum waktunya. Kesadarannya mendadak kembali.


Rupanya logikanya belum aus. Hatinya berkata jelas ini merupakan hal yang tak benar.


Membuat Fina menatap bingung ke arah Pandu. What's wrong with him?


" Maafkan aku!" Ucap Pandu kini menggeser tubuh Fina agar duduk kembali ke tikar. Membuat suasana double canggung.


"Twice!"


" Ndu?" Fina menatap Pandu tak mengerti. Mereka sama-sama dewasa, dan jujur Fina suka akan sentuhan Pandu.


" Maaf Fin, aku....!"


" Sory Fin!" Pandu benar-benar merasa menjadi pria brengsek. Mereka bahkan tak memiliki ikatan.


Nafasnya memburu menahan gejolak. Jelas ini tak bisa di benarkan. Untung saja logikanya masih bekerja dengan baik. Jika tidak, ia pasti akan lebih menyesal.


Berada di dalam gubuk saat suasana mendukung bersama seorang wanita cantik benar-benar suatu ujian hidup yang sesungguhnya.


Pandu nyaris saja kebablasan.


Ya , meski tak bisa ia sangkal jika bibir Fina benar-benar aduhai. Pesona seorang Serafina benar-benar tak bisa di nafikkan begitu saja.


.


.


Entah sudah berapa lama mereka berdua terdiam. Larut dalam pemikiran masing-masing usai dengan gilanya mereka saling berciuman.


" Aku benar-benar minta maaf!" Pandu sepertinya tak memiliki stok kalimat lain saat berbicara dengan Fina. Pria itu terus saja meminta maaf.


Benarkah godaan wanita itu berat, ataukah dirinya yang tak becus untuk sekedar menahan diri.


Agaknya ucapan the Changcuters yang mengatakan jika wanita itu adalah racun dunia memang benar adanya.


" Emmm!" jawab Fina asal dengan wajah berengut.


Fina mendadak merasa insecure. Apa Pandu tak tertarik kepadanya, sehingga dengan mendadak ia menghentikan ciuman mereka.


" Sudah agak terang, aku antar kamu pulang!" Pandu mencoba berbicara mengalihkan perhatian. Meski jantungnya seolah melompat saat itu juga.


" Emmmmm!" sahut Fina yang masih bingung dalam bersikap. Sungguh Fina kesal dengan Pandu.


.


.


Fina memakai kembali kaosnya yang sudah setengah kering meski Pandu melarangnya. Ia tipikal orang yang keras kepala dan bebal. Apalagi ia sangat badmood malam itu.


Dalam perjalanan menuju rumah Bu Asmah kebisuan masih melanda. Pandu merutuki dirinya yang benar-benar kehilangan kendali atas dirinya.


" Kuharap kamu tidak menganggap ku melecehkanmu... maksudku...!" Kejadian di luar kendali tadi benar-benar menggerus keberaniannya bahkan untuk sekedar berucap.


" Tenang aja, anggap saja kita gak pernah berada dalam gubuk tadi!" sahut Fina ketus. Fina kesal, masih belum terima atas sikap Pandu yang usai mengajaknya terbang tinggi ke langit, namun langsung melemparkan dirinya ke hamparan bumi.


Rasa konyol yang benar-benar sialan.


Pandu meneguk ludahnya bingung. Jelas itu salahnya.


" Masuklah!" Pinta Pandu kepada Fina.


" Emmmmm!"


Wanita itu pergi tanpa menatap Pandu. Hanya berham-hem ria. Jelas dia berhak marah.


Ya, dia kesal dengan pria itu.


Pandu mengembuskan napas. Sungguh ia tak bermaksud apapun. Tapi melawan godaan setan itu sungguh berat.


Dan saat Pandu memastikan Fina telah masuk melalui jendela. Ia langsung membalikkan tubuhnya. Ia terkikik geli demi melihat Fina yang masuk melalui jendela kamarnya bak maling.


Dan sejurus kemudian.


" Emmmmmmm!" Pandu menggeleng sembari memberontak karena tiba-tiba mulutnya di bekap oleh seseorang.


.


.


.