Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 171. Tahu apa kamu soal hidupku?



Bab 171. Tahu apa kamu soal hidupku


.


.


.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Malam Minggu malam yang panjang. Malam yang asik buat pacaran. Begitulah bunyi sepenggal lirik lagu lawas , yang kerap di dendangkan oleh beberapa manusia dari yang muda hingga yang tua.


Asal jangan bangka saja.


Lagipula, malam ini semua orang jelas ingin ber-quality time bersama orang-orang terkasih mereka bukan?


" Ini cafe rekomendasi dari Dita. Nanti dia nyusul, katanya makanannya enak-enak, terus ada live music nya!" Ucap Fina dengan wajah senang yang menjadi pemrakarsa tujuan mereka.


Meski dengan muka kusut yang terus di tekuk, Yudha yang duduk di jok paling belakang bersama Sakti tetap saja diam dan menurut. Ini lebih baik dari pada harus mendengarkan suara mamaknya yang selalu saja menabuh genderang perang dengan adiknya yang sudah menjadi generasi menunduk itu.


Fina sudah pasti bersama Pandu yang terus saja lengket bak perangko. Dua sejoli itu asik duduk di jok tengah tanpa mempedulikan kaum nestapa di belakang mereka.


Benar-benar kurang ajar.


Sementara Sukron yang duduk di barisan paling depan bersama orang paling kaya diantara mereka itu, tengah tekun mengemudikan mobil hitam milik pria pemuja cinta Widaninggar itu.


" Mohon bersabar ini ujian Sak!" Sukron mencibir Sakti yang ndomblong dengan bibir ngowoh saat melihat Pandu dan Fina bermesraan.


" Kalau udah begini, dunia cuma milik mereka aja Kron. Lainnya ngontrak!" Sahut Sakti dari belakang. Menyindir dua pasang manusia paling bahagia di depan mereka.


" Pertebal iman kesabaran mu ya Sak!" Sukron kian tergelak. Lantaran yang disindir sama sekali tak tersindir.


Nyahok nggak tuh?


Sakti mendengus menatap Sukron dari pantulan rear vission mirror itu, " Sesama hamsyong dilarang membuli Kron!"


"Hidup manusia jomblo!"


Pria itu mengepalkan tangannya penuh semangat. Membuat Ajisaka yang tadi diam, kini tergelak.


Manusia muda dan kesenangan adalah dua hal yang tak akan terpisahkan. Jadi, sekalian saja kita rayakan. Begitu pikir Pandu dan Fina yang di mabuk asmara.


...La Amor Cafe...


Tulisan yang terpajang di lampu neon box itu menjadi penegas jika mereka telah sampai kepada tujuan mereka.


Dari depan mereka di sambut oleh security yang ramah. Mengarahkan mereka untuk masuk. Pandangan mereka di jamu oleh beberapa pasang kursi kekinian yang unik dan melingkari tiap-tiap meja bulat besar yang ada disana.


Diatas kepala bangku itu terdapat deretan lampu balon gantung yang membuat suasana makin hangat, di beberapa sudut terdapat banyak sekali tanaman hias yang tengah naik daun yang membuat kesan tempat itu makin epik.


Sayup-sayup mereka mendengar suara seorang MC yang telah melimpahkan acara itu kepada seorang singer.


" Udah mulai itu live music- nya, aku mau request lagu ah nanti!" Tukas Sakti yang terlihat antusias.


" Bener!"


" Kesana yuk, itu mumpung ada yang kosong!" Lagi-lagi, Fina selalu menjadi navigator rombongannya. Membuat para pria ganteng itu mengekor dibelakang wanita nakal itu.


Lima orang pria yang satu wanita itu kini berjejalan di pintu masuk. Masing-masing dari mereka menyuguhkan raut wajah yang berbeda.


Ajisaka terlihat diam dan tak bereaksi apapun, Sakti dan Sukron yang tentu saja sudah takjub sedari awal masuk tadi, kini terlihat memindai para pengunjung disana, karena siapa tahu ada yang nyantol nantinya.


Hihihi, namanya juga usaha.


Sementara Pandu terlihat makin merapatkan genggaman tangannya kepada Fina. Mereka saling melempar senyum mesra kala menikmati lagu yang seolah mewakili perasaan mereka saat itu


Oh so sweet.


Dan terakhir siapa lagi kalau bukan Yudha, pria itu seketika membulatkan matanya demi melihat wanita yang saat ini menjadi sumber daya tarik pada pengunjung tersebut.


" Dia lagi?" kata-kata itu muncul dalam otaknya, namun tanpa sadar ia justru mengucapkannya dengan keras.


Membuat kelima orang di depannya menatapnya heran.


" Apanya yang lagi?" Ucap Sakti yang mendengus. Akhir-akhir ini sahabatnya itu agak sedikit aneh.


" Udah-udah ayo buruan masuk. Keburu gak dapat tempat nanti!" Fina ngeloyor terlebih dahulu dan menjadi kapten rombongan laskar mbulet ( ruwet) itu.


" Kron, pesen kayak biasanya. Hari ini aku yang traktir!" Tukas Ajisaka.


" Ciee !! Si bos lagi banyak duit nih, udah bajunya bagus banget, sekarang mau nraktir kita lagi. Uhh makin ganteng deh!" Ucap Fina menggombali pria dingin itu.


Para pria disana menatap Aji dengan tatapan lekat. Iya ya ,mereka baru sadar jika baju Aji terlihat baru. Aji belum pernah mengenakan pakaian itu sebelum- sebelumnya.


" Dari Bu Wida!" Ucap Sukron membocorkan rahasia.


" AAAAAAA!! So sweet banget sih!! Cie mas Aji!!!!" Fina heboh sendiri disana. Membuat wajah Ajisaka merona.


" Cocok kok mas, Mbak Inggar pinter banget ih bikin baju. Bagus banget loh!"


" Makasih Fin. Lain kali kita ajak dia juga ya kalau nongkrong begini!" Tukas Aji senang.


" Siap!! Pokoknya aman deh kalau sama mas Aji!"


Aji senang karena di puji Fina. Malam itu ia memang sengaja mengenakan baju buatan Wida. Membicarakan Widaninggar membuat ia rindu saja. Ah astaga, benar kata Dillan. Yang berat itu rupanya menahan rindu. Ahay!


" Mbak Inggar emangnya kema...?"


" Auwhh sakit!" Fina mengaduh kala Pandu mencubit kecil punggung tangan Fina. Membuat pertanyaannya menguap.


" Jangan genit!" Bisik Pandu yang tak terdengar oleh para sahabatnya.


" Ada yang cemburu ni ye!" Bisik Fina seraya meremas benda favoritnya yang berada di balik celana Pandu. Membuat wajah pria bertato itu seketika merah karena menahan rasa sialan.


Kalau mereka ngelihat gimana, astaga. Dasar Fina!


" Kenapa wajah lu Ndu?" Sakti tak sengaja melihat waja Pandu yang memerah.


" Aa...emmm aku..haus. Iya haus, buruan pesan minum Kron!" Ucap Pandu gelagapan yang membuat Fina terkikik.


๐ŸŽถ Walau badai menghadang...


Yudha sedari tadi tak menyimak obrolan renyah para sahabatnya. Ia masih lekat menatap wajah wanita yang lihai memainkan gitar dengan jari lentiknya itu.


Ia juga heran. Apa pemilik tempat usaha dimana wanita itu bekerja tak curiga. Wanita itu kan kriminal?


๐ŸŽถ Berdua kita lewati jalan..yang berliku tajam...


" Kok diem aja sih Yud!" Tanya Sakti di sela-sela mereka menikmati performance wanita ayu itu. Diam-diam melirik Yudha yang tekun menatap sang singer.


๐ŸŽถSetiap waktu...wajahmu yang lugu slalu Bayangi langkahku...


" Cantik ya yang nyanyi? Yudha sampai enggak kedip dari tadi!" Sukron terkekeh saat mengucapkan hal itu.


Ya, duo S itu tengah menciduk Yudha yang kedapatan curi-curi pandang dengan penyanyi itu.


๐ŸŽถTelah lama...kunanti dirimu tempatku kan berlabuh...


" Iya dia cantik loh, dan lihat...cewek bisa main gitar itu keren man!" Sakti menimpali. Lebih tepatnya memancing Yudha.


๐ŸŽถCahya hatiku... yakinlah kekal abadi selamanya... Seperti bintang...


Yudha tertegun. Mereka semua tidak tahu jika sedari tadi ia menatap Rara bukan karena kagum. Tapi karena heran, mengapa kriminal macam wanita itu bisa bekerja bebas tanpa di takuti.


๐ŸŽถ Walau badai menghadang


Ingatlah ku kan slalu setia menjagamu


Berdua lewati jalan yang berliku tajam...


( Ada band-Masih)


.


.


Rara


Usai membawakan opening song, ia meminta break sebentar karena moodnya rusak demi melihat pria sok yang rupanya menjadi salah satu pengunjung di La Amor.


" Kenapa sih?" Tanya Ratna kepo demi melihat wajah Rara yang terlihat tak nyaman, sembari mengangsurkan sebotol air mineral kepada temannya itu.


" Blank tiba-tiba. Bentar ya, suruh Kiki ngisi dulu. Aku mau ke toilet dulu!"


Ratna menatap bingung Rara yang sudah melesat menuju arah ke toilet. Rara merupakan wanita tangguh, dan tak biasanya wanita itu bersikap seperti ini.


Wanita itu mengisi perjalanannya menuju ke toilet dengan memikirkan ucapan pria sok itu.


"Ini tempat punya Ko Bian ya?"


" Baguslah, siap-siap kamu!"


Ia teringat akan ancaman yang terlontar dari mulut pria itu. Dan sialnya, ia justru bertemu kembali di tempat ini. Ia hanya tak mau jika Ratna sampai kena tegur Mas Surya kalau dia terlibat perseteruan kembali dengan pria itu.


Rara suka kehilangan kendali jika sudah menyangkut harga dirinya.


" CK, mana aku gak bisa fokus lagi kalau ada dia. Pingin aku tonjok aja muka si brengsek itu!"


Perempuan pengunjung lain yang kebetulan berada di sampingnya bahkan mendelik takut, demi mendengar Rara yang bermonolog di depan kaca. Seketika wanita itu keluar dengan muka tegang.


Ah masa bodoh. Rara susah terbiasa di pandang sebelah mata oleh orang lain. Asal tak mengganggu, cincailah! Urusan perut masing-masing.


Rara harus kembali, ia harus profesional. Ia butuh uang untuk memeriksakan Bapak besok. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, agar rupiah yang menjadi haknya bisa ia bawa pulang malam ini.


" Aduh!"


Ia mengaduh saat tanpa sengaja terdorong oleh tubuh besar seseorang yang berbau wangi. Lebih tepatnya mereka bertabrakan.


" Elu lagi!" Ucap pria itu yang terkejut demi mendapati dirinya yang berada di toilet.


" Apa?" Sahut Rara menatap kesal Yudha. Memijat lengannya yang sedikit sakit akibat dorongan siku pria itu.


" Elu mau apa nyelinap di toilet begini, mau nyopet lagi lu?"


"Gue heran deh sama elu. Manusia kayak elu kok bisa di terima kerja dimana-mana. Orang kayak elu itu berbahaya kalau dibiarkan beg..."


BUG


Rara langsung menempeleng mulut kurang ajar Yudha ,bahkan saat itu belum menyelesaikan seluruh ucapnya. Membuat Yudha kini memegangi hidungnya yang terasa nyut-nyutan dan menebal seketika.


" Tahu apa lu soal hidup gue hah?" Mata Rara mendelik tak terima.


" Emang elu udah suci bisa ngatain gue begitu?"


Rara kini berkacak pinggang dan melangkah menantang Yudha. Membuat pria itu menatap tajam mata Rara yang mengandung kilatan kemarahan.


" Denger ya sialan!"


" Gue enggak ada urusan sama elu, jadi gue peringati jangan ngurus hidup orang lain. Urus aja hidup elu sendiri! Udah bener apa belum elu jadi orang!"


Rara menabrak pundak Yudha dengan keras, sesaat setelah ia merampungkan ucapannya. Entah mengapa air mata Rara langsung keluar usai mendapat hinaan dari Yudha.


Yudha melihat wanita itu kini sibuk mengusap matanya menggunakan lengannya saat berjalan menuju luar.


Rara benar-benar merasa sedih.


Tahu apa orang lain akan hidupnya hah? Selama ini ia makan juga nyari sendiri. Apa hanya karena malam itu Yudha melihatnya melakukan sesuatu hal yang tanpa diketahui kebenarannya oleh pria itu, terus pria itu boleh memvonis dia dengan seenaknya begitu?


Dalam perjalanan menuju stage, Rara masih berusaha mengusap air matanya yang tak mau berhenti. Bagiamanapun juga, ia juga seorang wanita yang memiliki sisi rapuh.


Tidak ada wanita yang benar-benar kuat jika sudah menyangkut soal perasaan. Karena sejatinya, wanita merupakan mahluk lembut yang mudah rapuh.


.


.


.


.