
Bab 110. Romansa kawula muda
^^^" Kata cupatkai, cinta itu deritanya tiada akhir!"^^^
.
.
.
...πππ...
Serafina
Happy? Sudah pasti lah. Ibaratnya meskipun seharian ketemu juga bakalan kurang. Haish!!!, jatuh cinta selalu saja membuat manusia lupa segalanya ya. Apakah ini buah dari kelegowoaannya? Atau ia kini telah bisa menarik kesimpulan, jika Tuhan sedang mengambil sesuatu dari kita, tak lain hanyalah karena kita akan mendapatkan yang lebih baik.
Ya, itu benar dan telak.
Yes, jelas Pandu lebih baik dari Riko. Dalam segala hal lagi. Pokoknya paket komplit deh. Udah ganteng pakai banget, baik iya, dan yang pasti...emmmm Fina merasa di cintai banget pas di tindih pria itu. Ah muda itu memang selalu berbahaya ya? hihihi.
Otak seronoknya itu makin hari makin berimprovisasi saja.
Ia cekikikan sendiri sambil bersiap dengan mengganti pakaiannya. Bisa kena damprat mama kalau nanti ia keluar hanya memakai celana cekak dan tengtop. Orang tua kan selalu ribet dan rempong. Begitu pikirnya.
" Duh aku udah cantik belum ya?" Ia bergumam seraya mematut dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya harus oke saat itu.
Haduh Fina- Fina, kenapa dia jadi insecure begini sih? Toh Pandu udah lihat pas dia lagi rembes sewaktu mereka di RTH kemaren kan? Dasar.
" Fin..itu Pand...!"Ucapan mama seketika menguap tatkala melihatnya yang malah senyam-senyum sendiri di depan meja riasnya. Ya salam!
" Kamu ngapain? Itu di depan Pandu sampai bosen nunggu. Lama amat kamu itu ngapain aja sih?" Suara mama jelas kesal. Apa dia memang terlalu lama? sorry!
" Iya- iya, ya kan habis mandi!" Ia berengut, masih sempat mengelak. Dia kan hanya ini tampil maksimal.
.
.
Pandu
Entah mengapa sambutan Bu Lidia malam itu lebih hangat. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Ia juga tak tahu penyebabnya.
Tapi, entah mengapa ia merasa Fina lama sekali. Apa ada masalah?
" Duh nak Pandu, maaf ya. Fina nih kalau mandi emang suka lama!" Suara Bu Lidia terdengar kembali. Namun, ia justru terpana dengan sosok di belakangnya. Fina terlihat hot dan sexy malam itu dengan rambut basahnya.
" Malam-malam begini mandi?"
" Oh..tidak apa-apa Buk, eh Tante!" Lagi-lagi ia gelagapan. Membuat Fina terkekeh.
Grogi ya pak?
" Kalian ngobrol dulu ya, mama tinggal nengok papa ke dalam ya. Tunggu mbak Waroh buatin minum dulu!"
Pandu merasa, ia mendapatkan hoki secara combo. Ia merasa bahagia sekali malam itu. Urusannya telah beres, dan entah mengapa ia mendapat sambutan yang baik dari mama Fina.
Cihaaaa!
" Maaf lama!" Menjadi kata pertama yang meluncur dari bibir menggoda Fina.
Pandu mengangguk " Jangan sering mandi malam!"
" Kalau tua bisa kena rematik!" Ucapnya penuh keyakinan seraya menatap Fina yang lekas mendaratkan tubuhnya ke sofa di depannya.
" KKD!" Tukas Fina menyebikkan bibirnya. Menatap Pandu tak percaya.
" Apa KKD?" Pandu mengerutkan keningnya tak mengerti. Istilah apa lagi itu?
Fina mencondongkan tubuhnya dan terlihat akan mengatakan sesuatu, membuat Pandu segera memasang indera pendengarannya dengan saksama.
" Kemeruh Koyo Dukun!( Sok tahu kayak dukun)" Ucapnya tepat di depan telinga Pandu.
Fina tergelak puas sesaat setelah mengatakan hal itu. Membuat Pandu gemas dan langsung menggelitiki perut Fina.
" Udah bisa ngomong Jawa kamu ya!" Ucap Pandu yang terlihat gemas karena bisa-bisanya Fina mencibir nasihatnya dan malah mengatakan jika ia sok tahu seperti dukun.
Dasar Fina!
Benar-benar kemajuan yang pesat.
" Ayo pah, kita masuk kedalam. Biarkan mereka ngobrol!" Lidia tahu jika semua ini akan membuat mata suaminya tercelik. Kebahagiaan anak, jelas kebahagiaan orang tua.
Guntoro mengangguk seraya tersenyum. Kini, sekelebat niatan untuk berbicara kepada kemal menyelinap di otaknya. Memang benar, zaman sudah berubah.
Jika dulu anak yang manut ( menurut) kepada orang tua, tapi saat ini sepertinya mereka yang akan menurut kepada anak. Jelas kebahagiaan Fina, kebahagiaan mereka juga.
Tak mau sampai kejadian yang terjadi pada kakak Fina, turut menimpa adiknya itu. Never ever!
.
.
Dua sejoli itu berjalan mengelilingi rumah Fina sambil mengobrol penuh arti. Mengupas hal terkait Hartadi, terkait urusannya dengan Bayu yang masih harus ia rampungkan.
Tak terasa langkah mereka sampai di pinggiran kolam renang yang berada di belakang rumah Fina. Suasana yang pas untuk mengobrol.
Mereka berdua duduk di bangku panjang lebar dengan spons merah diatasnya yang begitu nyaman.
Fina menyenderkan kepalanya ke dada Pandu, dan pria itu terlihat memeluk Fina. Begitu intim dan dekat. Saling menyayangi dan saling mengasihi.
" Jadi...apa rencanamu setelah ini?" Fina berucap sambil memejamkan matanya, menikmati rasa bahagia kala bersama Pandu. Menghirup aroma Pandu dalam-dalam.
" Entahlah, yang jelas aku akan tinggal disini beberapa hari dulu sampai pengadilan memutuskan hukuman buat Radit!"
" Aku meminta Ibu untuk bersamaku disini dulu sementara waktu. Aku akan mencari rumah kontrakan atau sejenisnya!"
Fina bahkan bisa menghirup napas segar Pandu. Membuat otak nakalnya mulai bereaksi. Duh, bisa gak sih sepertinya ini selamanya?
Fina melepaskan pelukannya lalu meraih jemari Pandu yang besar. Menyatukannya sembari tersenyum dan saling melempar tatapan penuh cinta.
" Ayu pasti bangga banget punya kakak seperti kamu!" Fina jujur dan tulus saat mengatakan hal itu.
Pandu tersenyum, ia menyibak rambut dan memasukkan rambut itu ke cuping telinga Fina. " Aku sekarang sudah lega, terlebih....aku bahagia karena kamu...!"
Mereka berdua saling menatap. Fina sangat merasa bersyukur karena di pertemukan dengan Pandu. Andai, Shila tak merebut Riko kala itu, mungkin ia tak akan pernah bertemu Pandu. Pria yang awalnya begitu dan sangat mengesalkan ,yang saat ini justru membuatnya berkali-kali merasa bahagia.
" Aku kenapa?" Fina lekat menatap netra jernih Pandu. Tersenyum-senyum penuh arti.
" Karena kamu mau dengan pria misk..!"
Ucapan Pandu terjeda lantaran Fina dengan cepat mengecup bibir Pandu. Ia tak suka jika Pandu selalu menyebut dirinya dengan sebutan a poor man. Sama sekali tak suka.
Pandu terkaget demi mendapat kecupan kilat yang membuat perkataannya menguap percuma ke udara. Fina oh Fina!!!
" Aku gak mau denger lagi kamu nyebut diri kamu kayak gitu. Aku gak peduli Ndu. Aku gak butuh ketenaran dan materi yang berlimpah!" Fina menatap lekat dua netra jernih Pandu.
" Aku butuh orang seperti kamu yang mau sayang, melindungi dan mau setia sama aku!" Fina berucap dari relung hatinya yang terdalam.
"Mau sama aku yang..."
" Nakal!" Sahut Pandu cepat seraya tersenyum penuh arti. Kini skor mereka satu sama satu.
" Fina yang nakal!" Ucap Pandu lagi seraya terkekeh demi mengingat tindakan absurd wanita di depannya itu.
Ishhh! Fina mencubit kecil perut Pandu yang tersenyum menggodanya. Apaan sih!
Tenangnya riak air kolam malam itu, menjadi saksi dua sejoli yang terbakar indahnya cinta. Dengan di saksikan cahaya bulan yang sedang purnama, juga dinginnya angin yang kian menusuk kulit, mereka melebur kasih dengan menyatukan bibir mereka.
Ya, mereka berciuman malam itu.
Cinta memang indah jika menghampiri dua insan yang tepat. Mengubah hari-hari suram menjadi penuh warna.
Have you falling in love today?
.
.
.
.
.