Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 168. Kamu lagi!



Bab 168. Kamu lagi!


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Hujan dengan intensitas sedang, tengah mengguyur Kalianyar malam itu. Benar-benar suasana yang pas bagi sepasang pengantin baru. Ahay!


" Udah jangan khawatir, mungkin Pandu ketempat Fina. Atau kalau enggak, pasti ke rumah temannya!"


Bayu memeluk tubuh Ambarwati dari belakang sembari melayangkan kecupan mesra di pundak wanita itu. Membuat sekujur tubuhnya meremang tak karuan.


Angin bertiup cukup kencang, menandakan sebentar lagi menuju peralihan musim. Kuduk mereka berdua bahkan telah merinding saking dinginnya.


" Pandu itu sepertinya tahu dan sengaja ninggalin kita berdua, hm?" Bayu makin merekatkan pelukannya. Menggoda Ambar yang masih malu-malu.


Ambar akhirnya menutup pintu dan jendela rumahnya karena merasa mungkin Pandu memang tengah pergi keluar. Toh kalau Pandu pulang , anak-nya itu sudah memiliki kunci cadangan karena telah terbiasa.


" Aku...enggak enak sama....!" Ambar benar-benar tak enak hati dan rikuh terhadap anaknya. Pandu manusia dewasa dan ia sedikit sungkan kepada putranya.


Tanpa menunggu lagi, Bayu seketika mengangkat tubuh istrinya. Terlalu tidak sabar. Bobot tubuh Ambar yang ringan jelas menjadikan niat Bayu semakin mudah saja.


" Enakin aja. Anak kamu itu sudah jadi pria. Hal beginian mah cincau bagi dia!"


Dan demi apapun yang ada di dunia ini, Ambarwati mendecak kesal demi mendengar ucapan Bayu yang sro'ol.


" Mas!" Ambar benar-benar malu. Pria itu bahkan mengangkatnya seperti mengangkat kapas saja.


Dasar!


Pria itu meletakkan tubuh istrinya perlahan. Mirip gerakan di telenovela. Slow motion dan teriring tatapan penuh cinta. Ceileee!


" Diam disitu!" Bayu mundur kembali dan terlihat mengunci pintu kamar Ambar. Tentu tak mau segala hal indahnya akan terinterupsi gangguan dari luar.


Bayu berjanji dalam hatinya akan merehab habis-habisan rumah Ambar agar lebih lega setelah ini.


Pria itu kini terlihat merayap ke atas tubuh istrinya dan berhasil membuat Ambarwati bak di terkam Harimau yang lapar.


" Mas!" Ambar menjeda niat suaminya yang sudah hendak mendaratkan ciuman kepadanya.


Apalagi sih?


" Lampunya!" Ucap Ambar sedikit malu. Ini benar-benar terang benderang.


Bayu menyeringai " Tidak usah, aku ingin melihatmu dengan jelas sayang!" Bisik Bayu yang terlihat sudah sangat bergelora.


Ambar menelan ludahnya, jelas ia akan habis dan tak akan pernah bisa lari dari mangsa pria itu. Otot tubuh Bayu yang pernah ia sentuh, jelas mengindikasikan jika pria yang tengah berada di puncak kekuatannya itu pasti memiliki stamina yang oke.


Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Ambar. Wanita itu kini terlihat memejamkan matanya. Bersiap menunaikan kewajiban pertamanya malam ini.


Sayup-sayup suara hujan masih menjadi original soundtrack setia kegiatan mereka. Ciuman panas yang menggelora.


KREK


Konsentrasi Bayu sedikit terganggu saat ia mendengar decitan tak biasa. Namun ia berusaha menepis hal itu. Mungkin suara hujan atau beberapa perkakas yang terkena sapuan angin.


KREEEK


Bayu seketika melepaskan pagutannya. Suara apa sih itu? Benar-benar mengganggu sekali. Kedua alis Ambar bahkan turut menyatu demi memasang telinga betul-betul, guna memastikan suara apa itu.


BRUUUAAAKK!!!


Dua manusia itu seketika jatuh terjerumus secara bersamaan, kala dipan yang mereka naiki itu ambruk dan runtuh tanpa pemberitahuan.


Benar-benar naas dan apes.


.


.


Pandu


Ia memutar anak kunci itu dengan cepat. Tubuhnya sedikit kuyup lantaran hujan masih gencar turun. Ia sangat lelah dan mengantuk. Seharian ini fisiknya terforsir untuk kelancaran acara ibunya.


BRUUUAAAKK!!


Sebuah suara keras dan terdengar gaduh saat ia baru saja menutup pintu rumahnya. Membuatnya sontak terkejut dan mematung seketika.


Matanya langsung menatap ke arah kamar ibunya dimana sumber suara itu berasal. Ada apa itu? Mengapa suaranya seperti suara benda jatuh.


Dengan cepat kini ia berlari tunggang langgang menuju kamar Ibunya. Takut kalau-kalau terjadi seseorang yang membahayakan keselamatan ibunya.


TOK TOK TOK!


" Buk! Ibuk?" Ada apa Buk?"


.


.


Ambarwati


Dipan di kamarnya itu sudah ada sejak Pandu ia bawa ke Kalianyar. Dipan dari kayu jati buatan Sarip itu dipercaya awet. Begitu kata di pembuatnya. Namun, siapa sangka jika kejadian diluar kendalinya itu terjadi.


Amben itu kini luluh lantak akibat pemanasan mereka yang bahkan belum sempurna. Benar-benar sial.


Kini Ambarwati meringis menatap wajah suaminya yang masih terlihat bingung, menelaah apa yang baru saja terjadi. Bagiamana rasa kepalanya? Oh jangan di tanya lagi. Jelas pusing dan juga nyut-nyutan.


Bayu masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Dipan itu patah saat mereka gunakan untuk menahan bobot tubuh keduanya. Bahkan saat mereka belum sempat indehoy.


Asem tenan!


Bayu tak bisa lagi berpikir bagaimana jika seandainya dipan itu patah, sewaktu ia tengah asik menggenjot Ambar. Jelas makin brabe urusannya.


Ambarwati benar-benar ingin tertawa saat itu juga ,demi melihat wajah konyol mas Bayu yang sudah pias.


TOK TOK TOK!


" Buk! Ibuk?" Ada apa Buk?"


Belum juga mereka move on dari kesialan yang melanda. Kini, mereka tersentak saat mendengar ketukan yang rupanya berasal dari anaknya.


Haduh gimana ini?


" Biar aku aja!" Ucap Bayu bangkit dari gulungan kasur yang sudah ringsek itu, dengan kepala yang pusing. Sudah di ujung gelora, tidak taunya malah harus menahan nestapa.


CEKLEK


Ia bisa melihat keterkejutan Pandu demi melihat dipan yang semula menjadi tumpuan kasur ibunya itu, kini ringsek dan patah bahkan njeglong ( desok) ke bawah.


Mulut Pandu menganga demi melihat hal itu. Oh astaga, apa yang sebenarnya telah terjadi?


Apakah Pandu turut berkontribusi dalam kejadian naas itu, karena lupa memasukkan kasur ,sebagai daftar furniture yang urgent untuk ia ganti selain sofa dan satu set meja makan beserta lemari pakaian?


Tidak!!!!


.


.


.


.


Yudhasoka


Suara lantang mamaknya selalu menjadi alarm dahsyat yang sukses membuatnya kesal di waktu sepagi itu. Ini hari Sabtu, waktunya untuk bersantai dan bangun siang.


Namun nampaknya harapannya itu hanya menguap percuma.


" Ku hancurkan juga hape kau itu nanti ya. Kutengok makin hari makin enggak ada takutnya kau sama mamak!"


" Bangun tidor hape, pulang sekolah hape, mau makan hape!"


Kerak air liur Arju bahkan sudah mirip dengan siung milik buto Cakil. Membuat mamaknya geram. Arju hari ini tak masuk sekolah karena semalam demam. Namun pagi hari ini bukannya disambut dengan sebuah bubur hangat, ia justru mendapat malapetaka berupa Omelan luhur mamaknya.


" Bangun kau mandi sana, itu tai matamu sudah sebesar biji Ketapang itu!"


" Heran betul aku ini dengan kau Arju!"


Yudha bahkan menggunakan penutup bantal demi menghalau suara menggelegar mamaknya. Tiada hari tanpa ribut.


Ia masih berusaha memejamkan matanya kembali saat ponsel yang ia charger itu tengah bergetar.


" CK, Asu!" Ia mengumpat lantaran hidupnya benar-benar tak bisa tenang. Tak bisakah ia sehari saja hidup dalam kedamaian?


Dengan malas ia meraih benda pipih itu.


" Apa Hes?" Dengan nada malas pula, ia menjawab panggilan dari Hesti. Hadehhh!


" Kamu masih tidur? Jadi ngantar aku kan?" Suara Hesti di ujung teleponnya benar-benar membuatnya makin pusing.


Semalam ia tak cukup tidur, usai terlibat perkelahian dengan copet perempuan semalam itu wajahnya ngilu dan kini sedikit nyeri.


Ia melirik jam di sebelah nakas tempat tidurnya. Menunjuk pukul delapan kurang sepuluh menit.


" Iya-iya tunggu, aku mau mandi dulu!"


Badannya benar-benar lelah. Pekerjaannya di kantor akhir-akhir ini lebih runyam. Banyak nasabah yang macet dalam mengangsur, belum lagi belakangan ini ia juga turut sibuk saat para sahabatnya tengah dirundung persoalan.


" Tumben pulak kau udah bangun jam segini?" Mamak bertanya kepadanya saat ia tengah menuju dapur dan berniat minum. Tenggorokannya kering dan sepertinya mengalami dehidrasi.


" Mobilnya Bapak pakai enggak Mak?" Tanya Yudha sambil mendudukkan dirinya diatas meja makan. Menatap mamaknya yang kini sibuk menata sarapan.


" Enggak, mau kemana memangnya? Libur sama enggak gak ada bedanya kamu ini!" Tukas Pak Agus yang muncul dari dalam seraya menggandeng tangan Arju.


" Ada perlu sebentar. Malas bawa motor!" Sahutnya demi mengingat jika membawa motor, maka potensi orang yang melihat Hesti akan semakin besar.


Dan benar saja, satu jam kemudian Yudha sudah terlihat menjemput Hesti di depan rumahnya.


" Tolong tutup dari salam Bik!" Ucap Hesti kepada pembantunya. Wanita itu merupakan anak tunggal yang hidupnya berkecukupan. Kedua orang tua Hesti sudah bercerai dan ia kini tinggal bersama ayahnya yang kerap keluar kota karena pekerjaan.


Hesti menutup pintu mobil Yudha lalu memeluk lengan pria itu dengan manja. Terlihat binal sekali.


" Aku kangen! Kamu kenapa sih akhir-akhir ini beda banget!" Hesti memanyunkan bibirnya merajuk. Namun Yudha sama sekali tak menanggapi. Pria itu masih sama. Cuek.


" Banyak kerjaan...mau beli dimana? Aku enggak bisa lama-lama. Habis ini diminta mamak buat nganter ke rumah temannya!"


Ia beralibi. Entah mengapa Yudha menjadi tidak senang saat berlama-lama dengan Hesti. Lagipula, ia kini juga masih tengah menyelidiki bayi di dalam perut Hesti itu secara diam-diam.


Kecurigaannya semakin bertambah lantaran Rafi yang merupakan rekan seprofesinya, pernah melihat Hesti berbicara dengan seorang pemuda di seberang jalan dan terlihat cek cok.


Namun sekali lagi, tuduhan tanpa bukti jelas merupakan kelemahan. Sebab bagaimanapun juga, ia juga kerap menindih wanita itu.


Mobil berwarna putih itu ia lajukan ke sebuah Departemen store yang terkenal di Kalianyar. Ia tak mau bertele-tele. Yang lebih dekat saja agar cepat selesai.


" Ayo!" Ajak Yudha pada Hesti. Wanita itu kini menggamit lengan Yudha dengan posesif.


Mereka berdua terlihat berjalan menuju lantai dua, tempat dimana stand pakaian dewasa berada. Yudha sama sekali tak bersemangat. Hanya sesekali mengangguk dan mengiyakan kala Hesti dengan antusiasnya menunjukkan pakaian bagus kepadanya.


" Bagus!"


" Iya"


" Boleh"


" Yang warna merah saja!"


Yudha benar-benar bosan. Ia kini menatap wajah Hesti yang sedang sibuk berbicara kepada pegawai disana, untuk mencarikan ukuran lain.


" Awas saja kalau mau berani menipuku!" Lirihnya menatap Hesti dengan wajah penuh maksud.


BRUK


Seorang pegawai terjatuh berserta dengan tumpukan baju yang ia bawa. Hendak melewati jalan tersebut namun tak di nyana tersandung kaki jenjang Yudha.


"Kamu lagi!" Ucap Yudha dengan mata mendelik.


.


.


.


.