
Bab 97. Sudah cukup!
^^^" Baik, buruk. Semua ada upahnya!"^^^
.
.
.
...πππ...
Kediaman Guntoro
" Mbak, apa sudah ada kabar soal anak saya?"
Lidia sedari kemarin hanya bisa menangis. Bingung dengan semua kejadian yang menimpa keluarganya. Tanjung tak mengijinkan mereka untuk keluar. Terlalu bahaya.
" Belum Bu, tapi rekan kami tengah berusaha saat ini!"
Guntoro hanya diam sembari menyimak yang di obrolkan oleh istrinya. Keadaannya benar-benar seolah tiada berguna saat ini.
Tanpa mereka sangka, dari depan Rizal bersama Kemal datang dengan langkah terburu-buru.
" Om ...Tante..apa yang terjadi?" Rizal menghubungi ponsel Fina namun tak bisa sedari kemarin. Ia mengetahui semua ini melalui Guntoro yang meminta istrinya untuk memberitahukan semua ini kepada pria yang ia gadang- gadang akan dijadikan menantu itu.
Dengan terpaksa istri Guntoro itu mengabari dua pria itu.
Lidia yang sebenarnya tidak menyukai Kemal dan Rizal itu tentu saja malas untuk angkat suara. Bahkan enggan untuk menatap wajah mereka.
" Rizal tenanglah dulu nak!" Guntoro hanya bisa berbicara tanpa bisa bergerak, membuat pria itu mirip manekin yang bisa berbicara.
Hah ya ampun!
Guntoro lantas menceritakan semuanya kepada Rizal. Bahkan tentang alasan Riko yang geram kepada Pandu.
" Sumber masalahnya lagi-lagi anak itu!" Kemal terlihat geram kepada Pandu, membuat Lidia langsung menatap sengit ke arah Kemal yang menurutnya berbicara ngawur.
" Anda jangan asal bicara! Pandu lebih baik dari anak anda. Bahkan saya yakin, saat ini pasti Pandu sedang berusaha menyelamatkan Fina. Tapi anak anda?"
Lidia benar-benar sudah ada di titik muaknya.
" Ma!" Guntoro memperingati istrinya lantaran cara bicaranya yang sudah tak sopan kepada sahabatnya itu. Astaga!
" Biar Pa. Semua ini juga gara-gara papa yang malah jodoh- jodohin Fina!"
" Fina itu mencintai Pandu pa!"
Tanjung dan Diah Ayu hanya bisa saling melirik satu sama lainnya. Pertengkaran intern itu tak terelakkan. Mereka juga terkejut, tak mengira jika Pandu memiliki hubungan spesial dengan anak client mereka.
Mendengar calon mama mertuanya yang berbicara seperti itu membuat Rizal tersinggung " Dimana Fina sekarang?"
" Heh, kalau kita tahu gak mungkin kita nyewa bodyguard buat cari!" Lidia benar-benar sudah muak. Tak bisa lagi berpura-pura baik kepada dua orang itu.
" Mama! " Wajah Guntoro terlihat memerah.
"Argghhhh!" Emosi Guntoro tersulut tatkala mendengar istrinya yang kehilangan kendali atas ucapannya kepada calon besannya itu.
" Papa!" Kini, Lidia panik. Ketidakmampuan dalam mengontrol dirinya, kini justru berakibat fatal akan kondisi suaminya yang sebenarnya membutuhkan ketenangan itu.
Tanjung terlihat segera menggulir ponselnya lalu menghubungi dokter. Keadaan menjadi sangat tegang. Sementara Diah ayu terlihat membantu Lidia mengurus Tuan Guntoro.
...πππ...
Pandu, Willy dan Kadek tengah bersiap lantaran mendengar derap langkah yang mendekat ke arah mereka. Saat pintu itu terlihat mengayun, Pandu langsung menodongkan senjatanya ke arah depan.
" AAAAAAA!!!" Membuat ART yang bekerja di rumah Riko itu kini menjerit lantaran terkejut dengan sambutan sepucuk pistol.
" Oh sial!' Pandu bergumam seraya mendengus saat mendengar wanita itu menjerit , yang jelas akan mengundang kegaduhan di tempat itu.
" Hey tolong diam dulu!" Kadek tentu saja tak berani menyakiti wanita tak berdosa itu. Tapi, kini ia bingung bagaimana cara menenangkan wanita itu untuk diam.
" Kalian siapa?" ART itu rupanya tengah akan mem-vacum kamar tamu yang digunakan Radit untuk menyekap Kadek dan Willy. Sialnya, pembantu itu tak mengetahui jika rumah itu digunakan oleh Raditya untuk hal tidak benar.
Namun, terlambat. Lengkingan dari suara wanita itu telah membuat para penjaga dan seisi rumah itu berlari menuju ruangan itu.
" Ada apa...." Ucapan Riko terjeda kala melihat sosok yang ia benci kini ada dirumahnya.
Anjing!
.
.
Riko
Ia sedang berbicara serius dengan Raditya di lorong samping kamarnya.
" Maaf bos saya mengganggu anda?"
" Jadi...." Riko menceritakan alasan dia kemari. Tak memiliki pilihan lain untuk bersembunyi dari kejaran anggota KJ yang kian tak terkendali.
" Tapi saya terpaksa membawa dua kacung Bayu itu kemari. Mereka membuntuti saya tadi. Untung saja Joni datang diwaktu yang tepat!" Tukas Raditya seraya tersenyum licik.
Riko terlihat mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa Radit menggadaikan aspek penting seperti itu " Kau ini bodoh atau apa?" Kalau sampai mama tahu, habis kita!"
Riko kini terlihat semakin stres. Jelas semua yang ia miliki ini merupakan usaha terselubung yang ia bangun bersama sang papa.
Papa berdalih, jika semua ini demi dirinya.
"Jadi apa rencanamu?" Tanya Riko sembari menyenderkan kepalanya ke dinding dengan gusar.
"Saya ..."
"AAAAAAAAA!"
Obrolan mereka terinterupsi lantaran mendengar jeritan suara pembantu Riko. Membuat dua orang itu saling menatap dan langsung berlari menuju lantai dasar.
Ada apa lagi ini?
.
.
Ia menghembuskan napas lega saat mendengar ketukan dari seseorang sewaktu Riko mulai membuatnya ketakutan. Pria sinting!
Ia menguping pembicaraan dua pria di depan kamar itu. Benar biadab. Rupanya pria bernama Raditya yang berbicara dengan Riko.
Fina dibuat geram kala itu.
" Jadi mereka membawa siapa?" Ia bergumam dengan suara yang nyaris tak terdengar. Menerka-nerka tentang siapa anak buah KJ yang dibawa Raditya.
Fina mendadak menjadi resah, anak buah Bayu yang di sekap itu siapa? Mungkinkah Pandu?
Astaga, kini keresahan mendadak menguasai diri Fina.
Ia hendak keluar dan memastikan sendiri. Namun, niatnya tersebut menjadi urung lantaran satu detik kemudian ia mendengar jeritan yang kencang dari lantai dasar.
" AAAAAAA!!!!"
Membuat degup jantung Fina kini semakin kencang karena sedikit takut.
.
.
Pandu
Dengan gerakan cepat , ia menarik pembantu wanita itu sembari mengarahkan pucuk senjatanya ke kepala wanita berusia paruh baya itu. Membuat Riko dan Raditya kini membulatkan matanya.
" Letakkan senjata kalian atau kutembak kepala wanita ini!" Pandu terlihat serius dengan ucapannya. Membuat Kadek dan Willy terperanjat. Tak mengira jika Pandu menggunakan pembantu itu untuk dijadikan alat.
" Den tolong saya....!" Wanita itu memohon kepada anak majikannya. Menangis mengiba meminta pertolongan.
" Maafkan aku mbak, tapi aku terpaksa!" Ucap Pandu dalam hati yang sebenarnya tak berniat menyakiti wanita tak berdosa itu.
" Kurang ajar!" Riko geram dan berniat maju.
KLAK
Pandu bersiap menarik pelatuknya. Membuat wanita itu makin menangis karena ketakutan.
" Taruh atau kutembak sekarang juga!" Pandu berteriak dan meminta Riko maupun Raditya untuk meletakkan senjata yang mereka bawa.
Mau tidak mau dia pria itu kini menurunkan senjata mereka ke lantai.
" Kadek! Ambil itu!'' Titah Bayu yang langsung memungut dua senjata milik dua pria di depannya.
" Willy!" Ucap Pandu masih dengan tatapan tak lepas dari dua netra Riko.
" Ya!"
" Bawa dia!" Padamu meminta Willy untuk mengambil alih wanita itu. Wanita itu hanya diam ketakutan seraya terus memantau Riko dengan tatapan memohon.
Kini, pembantu Riko tersebut ada di bawah intimidasi Willy.
Riko terlihat gusar, tak mengira jika situasinya akan berubah seperti itu. Dari arah depan, datang segerombolan pria yang bertugas menjaga. Mereka masuk kedalam lantaran mendengar suara jeritan dari wanita yang mereka kenal.
" Bos, ada ap...." Ucapan Basuni menguap keudara. Ia terkejut begitu mengetahui jika pembantu Riko kini telah menjadi tawanan. Lebih terkejut lagi, saat ia melihat pria dengan seragam ekspedisi itu rupanya biang kerok dari kegaduhan disana. Menatap Pandu dengan tatapan bengis.
" Ada apa kau bilang? Kau yang berjaga di depan dan kenapa bisa dia masuk kemari!" Riko berang, ia memarahi anak buahnya itu habis-habisan.
Rimo terlihat mengeraskan rahangnya. Ia heran, anak buah sebanyak itu mengapa tak ada satupun yang bisa memfilter kedatangan Pandu.
Pandu tersenyum licik seraya melepaskan seragam Archipelago express, lalu melemparkannya ke wajah Basuni. Membuat semua yang disana menatap Pandu dengan terkesima akan tubuh Pandu.
Kini, pria itu terlihat hanya mengenakan kaos dalam berwarna hitam. Menampilkan tubuh liatnya yang dihiasi gambar abadi bertuliskan angka Ibunya yang sakral.
" Pecat saja dia, karena tak becus bekerja!" Cibir Pandu melempar tatapan sinis kepada Riko seraya menyurai rambutnya dengan tangan kirinya, lantaran tangan kanannya masih ia gunakan untuk memegang senjatanya.
" Kau!" Basuni geram lantaran di ejek. Ia juga merasa dihina karena Pandu melemparinya pakaian yang baru saja ia gunakan.
Brengsek!
Basuni yang dirundung kekesalan seketika maju dan berniat menyerang Pandu.
DOR
" Argghhhh!" Basuni mengerang kesakitan lantaran Pandu melepaskan timah panas ke betis Basuni. Sudah cukup semua drama ini.
DOR
DOR
Pandu juga menembaki kaki Raditya saat itu juga. Sudah cukup bagi pria itu untuk mengecohnya selama ini.
" Arrrghhh!"
" Bajingan!" Raditya mengerang lantaran kini pergerakannya benar-benar lumpuh.
Membuat Riko kini semakin tak bisa lagi menahan kegeraman. Riko terlihat tersulut emosi.
" Pandu!" Suara seorang wanita yang berlari membelah belasan manusia yang tengah berdiri itu, membuat Pandu terperanjat.
" Fina!" Gumamnya lirih.
Fina bahkan langsung menubruk Pandu sesaat setelah itu melewati Riko yang masih tertegun dengan kondisi Basuni dan Raditya.
Fina memeluk Pandu dengan erat. Harum tubuh pria yang sangat ia rindukan itu benar-benar membuatnya menitikan air mata.
Kini, Kadek dan Willy saling menatap. Oh astaga, dua sejoli itu benar-benar menodai mata suci mereka.
" Pandu!" Fina menangis seraya memeluk pria yang ia idamkan itu.
Mata Riko membulat demi melihat apa yang tersaji, membakar seluruh sisi kelelakiannya. Benar-benar tak bisa di tolerir.
" Fina!!!!"
.
.
.