Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 36. Mengkhawatirkanmu



Bab 36. Mengkhawatirkanmu


^^^"Cermin isi hati ada pada perbuatan!"^^^


...☘️☘️☘️...


.


.


.


Pandu


Ia buru-buru mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih pantas. Entah mengapa ia malah kepikiran dengan Fina. Bayangan Fina yang mencium bibirnya tanpa permisi kemarin benar-benar mengusik hati dan pikirannya.


" Mas mau kemana?" ucap Ayu yang berjalan memegangi dinding kamarnya.


" Ayuk? Mas mau ke tempat mas Aji dulu, kamu mau kemana?" Tanya Pandu yang melihat adiknya seperti ingin menuju ke satu tempat.


" Oh enggak, tadi aku pingin duduk di depan aja. Tapi kalau mas mau pergi, aku tak masuk lagi aja kalau gitu, sambil nunggu ibuk mas"


Pandu menatap iba adiknya. Ia ingin menemani Ayudya, tapi hatinya resah mendengar kabar soal Fina. Pandu berada di ambang ambigu.


" Ndu, buruan si Aji udah stres nih! Barusan nelpon aku dia!" Sakti berucap begitu ia masuk dan melihat Pandu. Pria bar-bar itu terkejut demi melihat Ayu yang tumben mau keluar.


" Eh ada dek Ayuk, apa kabar dek?" Sakti menyapa gadis itu dengan ramah. Ini kali pertamanya bagi Sakti melihat ayu keluar kamar sejak kejadian kecelakaan yang menimpanya.


" Mas Sakti ya, saya baik mas!" jawab Ayu yang memang hafal dengan suara parau sahabat kakaknya. Ia sebenarnya malu bertemu dengan sahabat kakaknya. Apalagi Yudha.


" Mas pergi aja, aku mau ke kamar dulu!" Ayu tau bila mungkin sesuatu sedang terjadi. Ia melesat masuk dan menutup kembali pintunya seraya meraba.


.


.


" Adik elu cantik banget Ndu, gak pernah lihat sekarang makin cantik aja sama rambut model gitu!" Sakti terus saya ngeremon. Sementara Pandu fokus degan motornya.


" Ndu! ah elah, mingkem aja itu bibir diajak omong juga!" Sakti mendengus. Pandu tak merespon sama sekali ucapannya.


"Adik gue cantik, tapi dia kehilangan kepercayaan diri Sak!" jawab Pandu akhirnya dari depan. Meski tersalip angin kencang, tapi sakti masih bisa mendengar dengan jelas.


Sakti tertegun mendengar ucapan Pandu, mendadak ia menaruh rasa iba kepada Ayudya. Ia juga sangat kasihan kepada Ayudya.


.


.


" Gak ada kerjaan lain apa selain nesu- nesu ( marah-marah)!" cibir Sakti yang melihat Aji membasuh wajahnya dengan kasar usai melampiaskan emosi kepada anak buahnya.


" Hus, mulutmu Sak. Jangan mulai!" Sergah Pandu kepada sakti si mulut combe. Ia mengingatkan Sakti soal Aji yang memang tempramental.


" CK, iya-iya!"


Mereka lantas berjalan mendekati meja kerja Ajisaka. Dari kejauhan sudah terlihat jika Aji masih menyuguhkan raut kekesalan.


" Gimana Ji?" tanya Pandu yang bersama Sakti siang itu ketika sudah sampai ke tempat usahanya Ajisaka.


" Akhirnya kalian datang juga!" tukas Aji merasa lega.


" Ya kita susul kesana dulu, baru kita jenguk Bu Asmah. Aku juga belum tahu kronologi kejadiannya kayak gimana!" raut wajah Aji terlihat gusar. Pria itu memang kerap tersulut emosi.


.


.


Saksi mata di lokasi cukup banyak ternyata. Saat Ajisaka, Pandu dan Sakti tiba disana, mereka melihat beberapa anggota polisi yang melakukan olah tempat kejadian perkara.


Mulai dari memasang garis polisi, hingga menginterogasi beberapa saksi. Termasuk Sukron dan beberapa pedagang.


" Tadi saya lihat mobil hitam itu nyeleot- nyeleot dari sejak di pertigaan itu pak, ini tadi mbaknya sama anaknya juga hampir ketabrak!"


Terdengar suara pedagang cilok yang menuturkan apa yang ia lihat tadi. Dari kejauhan, Aji melihat Sukron yang juga di tanya- tanya oleh petugas kepolisian yang lain. Membuat Pandu dan dua orang sahabatnya langsung menuju ke tempat Sukron.


" Saya kaget pak, dari depan ada mini bus , kok oleng. Saya kurangi kecepatan, nah setelah mobil mini bus itu sempat zig zag di depan saya, pas mau saya salip gak taunya dari depan mobil hitam itu nabrak saya. Ya saya gak sempat menghindar terus bresss! gitu wes!" Sukron menerangkan versinya.


" Nah itu bos saya datang Pak!" tukasnya kemudian.


Aji yang di tunjuk Sukron seketika tahu bila ia akan di butuhkan disana. Beruntung ada CCTV yang bisa di lihat sebagai bukti disana. Aji masih setia menemani Sukron juga memantau para anak buahnya yang lain, yang memunguti tumpahan buah naga di jalan raya itu.


Sejurus kemudian Pandu terlihat mendatangi salah satu petugas polisi yang sibuk mengatur arus lalu lintas yang menjadi macet karena kejadian tersebut.


" Pak, korban yang pakai mobil hitam itu sekarang dimana ya?"


" Oh, tadi dua wanita pemilik mobil itu di bawa petugas kami ke puskesmas Karanganyar. Salah satu korbannya tidak sadarkan diri tadi!"


Membuat Pandu tersentak.


.


.


.