Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 22. Ada apa denganku?



Bab 22. Ada apa denganku?


^^^" Kebohongan adalah ketenangan sesaat. Apabila tidak segera di selesaikan, akan menjadi kegelisahan seumur hidup!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Serafina


Kecanggungan mendadak tercipta. Andai ia tak melihat Pandu yang berboncengan dengan seorang wanita cantik tadi, mungkin ini akan menjadi momentum paling menyenangkan untuk Serafina.


" Emmm Bu Ambarnya ada?" Fina mencoba bersikap biasa saja.


" Ada ada!" Pandu sedikit tertegun demi melihat raut wajah Fina yang kembali tak ramah. Fina mendadak menjadi wanita yang sama yang ia jumpai saat Sakti mengajaknya kerumah Bu Asmah tempo hari.


" Emmm silahkan masuk!" ucap Pandu kemudian.


" Silahkan duduk dulu ya, saya panggilkan Ibu dibelakang!" Pandu tersenyum kepada dua wanita itu.


.


.


Dita


Pria ganteng yang mengeluarkan aroma sabun pria itu terlihat begitu menyegarkan mata. Dita bahkan memandang tak jemu saat Pandu kini berjalan melewati tembok yang menghubungkan ruang tamu ke arah dapurnya.


Ia menyapukan pandangannya ke ruang tamu sederhana namun terasa nyaman itu. Sebuah sofa warna abu-abu ukuran sedang, dengan desain modern menjadi penegas kenyamanan.


Dita menarik sebelah bibirnya begitu melihat Fina yang manyun. Tak menampilkan aura ramah.


" Manyun aja lu, ada apa sih?"


" Perasaan kemaren muka berplower- plower (Berflower- flower/ berbunga-bunga), pas ketemu orang ganteng itu!" Dita tak tahan untuk tak bertanya.


" Apaan sih!" elak Fina.


" CK, CK gak jelas ni anak!" cibir Dita.


" Siapa juga yang peduli!" ketus Fina.


" Fin, elu itu kayaknya aneh deh. Elu gak beneran suka kan sama anak itu?" Dita kian penasaran dan curiga.


" Aku?... ya enggak lah...gila aja!" Ia secara tak langsung sepertinya menipu dirinya sendiri.


.


.


Menunggu biasanya selalu saja sarat dengan kata membosankan. Namun, tidak bagi Fina saat itu. Ia justru memburu waktu menunggunya dengan menikmati bingkai foto yang menarik perhatiannya.


Fina memperhatikan beberapa foto yang terpajang di sana. Ada foto pria gagah yang mengenakan seragam dengan baret hijau. Jelas itu adalah prajurit berani dari Matra Angkatan Darat. Pria di dalam foto itu dalam keadaan tersenyum ,namun wajahnya sama sekali tidak mirip dengan pemuda yang membuatnya gelisah beberapa waktu ini.


Kemudian foto Pandu yang tersenyum lebar, mengenakan seragam berwarna putih, sepasang safety shoes hitam dan lengkap dengan topinya ,seraya melipat kedua tangannya tegap. Pria itu terlihat mengenakan apron merah khas, yang bertuliskan one heart. Jelas menerangkan bila Pandu dulu pernah bekerja di bengkel motor yang terkenal seantero Nusantara itu.


Dalam foto itu, Pandu masih terlihat sedikit kurus. Tanpa sengaja seulas senyum terbit dari bibir Fina. Fina merasa Pandu sudah memiliki wajah tampan sedari dulu.


" Manis juga dia!" ucapnya dalam hati.


Namun, saat ia hendak melihat foto perempuan yang ada di samping foto Pandu, suara seorang wanita membuatnya mengurungkan niatnya.


" Astaga mbak, maaf ya. Mbak cucunya Bu Asmah ya!" Ambarwati datang dengan tergopoh-gopoh lalu menyalami Fina dan Dita secara bergantian.


Jelas Pandu pasti sudah memberitahu wanita itu, perihal kedatangan Fina.


Fina tersenyum, Ambarwati terlihat begitu mirip dengan Pandu. Kini ia bisa menyimpulkan bila pandu memiliki wajah rupawan, karena sang ibu yang juga cantik.


" Iya Bu, tadi saya di minta Oma untuk memberikan ini. Terus sama di minta bawa lontong yang hari ini di pesan!" Fina menyerahkan amplop berisikan uang, yang baru saja ia ambil dari dalam tasnya.


" Astaga, tadi saya mau minta tolong anak saya Pandu untuk mengantarkan sebenarnya mbak. Aduh, maaf loh ini ya!" Ambarwati sungkan.


Ambarwati tersenyum, ia merasa Fina adalah wanita yang terlihat cerdas dan sopan. " Ini siapa, saya juga belum pernah ketemu?" tanya Ambarwati menanyakan Dita.


" Oh, saya Dita Bu. Saya temannya Fina!" jawab Dita lengkap dengan senyuman yang tak luntur.


" Dia dokter baru Bu, kebetulan mulai besok dia tugas di Puskesmas Karanganyar!" imbuh Fina melengkapi kalimat informatif itu.


" Wah, bisa kebetulan begini ya. Dokternya cantik, nanti pemuda disini pada kerasan periksa kesana dong!" Ambarwati berkelakar karena dia gadis itu juga terlihat humble.


Membuat mereka semu larut dalam gelak tawa.


Dan saat mereka tengah asik tertawa, Pandu terlihat menuntun adiknya menuju ke kamar. Hal itu tak luput dari perhatian Fina.


Ayudya bertubuh tinggi semampai, wajahnya yang tak mirip dengan Pandu memang gen dari bapaknya. Membuat siapa yang tak tahu, jelas akan berpikir jika mereka bukanlah saudara.


"Astaga, apa mereka itu suami istri? Kenapa bisa satu rumah dan ibunya biasa saja!"


.


.


Telah lebih dari sepuluh menit mereka berbasa-basi. Kini, Fina harus memungkasi obrolan ringan namun menyenangkan itu.


" Ya sudah kalau begitu Bu, saya pamit dulu. Keburu di tunggu nanti sama Lik Ajiz!" Fina bangkit dari sofa itu. Begitupun dengan Dita.


" Saya terimakasih banyak ya Mbak!"


Fina keluar rumah itu dengan sedikit melirik arah lorong yang sempat di lewati Pandu bersama gadis tadi. Aneh bukan, ia masih bisa berharap melihat pria itu saat ia akan pulang.


Ambarwati mengangguk hormat saat Fina menelan klakson mobilnya. Wanita itu benar-benar telah pergi dari kediamannya.


Ia tertegun melihat Fina dan Dita tadi. Sejenak ia teringat dengan masa mudanya dulu yang juga memiliki sahabat yang kini pasti telah membencinya karena suatu hal.


Membuatnya mendadak merasakan sesak di hatinya.


" Buk!" ucap Pandu tiba-tiba.


" Astaga Pandu! kamu ngagetin Ibuk aja deh!" Ambarwati memegangi dadanya karena kemunculan Pandu yang tiba-tiba.


" Ibu ngelamunin apa?" tanya Pandu sedikit terkekeh.


" Gak ada ada, gak ngelamunin apa-apa. Kenapa?"


" Itu si Ayu minta rambutnya di potong, Pandu gak bisa!" Ucap Pandu.


Ambarwati terhenyak " Di potong?"


Pandu mengangguk. " Yang dua tadi udah pulang?" tanya Pandu.


" Siapa? cucunya Bu Asmah?" tanya Ambarwati.


" Iya, siapa lagi!" sahut Pandu sambil menyenderkan kepalanya di ambang pintu.


" Udah pulang, mau ke sawah dia. Kenapa, tumben kamu nanyain kaum hawa!" cibir Ambarwati sembari membuka jendelanya karena terasa panas.


" Ya gak ada sih!" Pandu tersenyum penuh arti.


Ambarwati menggelengkan kepalanya " Dia anak orang kaya Ndu. Ibuk cuma mau pesen sama kamu , kalau naksir orang ataupun nyari istri yang sepadan aja. Biar lebih enak perjalannya!" Ucap Ambarwati sambil berlalu dari hadapan Pandu, dan terlihat menuju kamar putrinya.


Pandu tertegun demi mendengar ucapan ibunya. Ia tak bisa menyebut dirinya suka, atau tertarik dengan Fina. Lantas mengapa hatinya nyeri mendengar ucapan ibunya yang mungkin saja hanya sekedar mengingatkan.


Dan, mengapa ibunya langsung menyimpulkan hal itu? Apakah raut wajah penuh keingintahuannya itu begitu kentara?


Entahlah, sejenak Pandu menjadi tau diri akan hal itu. Ucapan ibunya barusan memukul telak harga dirinya sebagai pria yang memiliki keadaan finansial yang tidak berlebihan.


Damned!!!!


.


.


.