Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 228. Rudal Asia



Bab 228. Rudal Asia


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Suara alarm beker yang memekakkan telinganya, berhasil membuat sebujur tubuh yang lelap itu bangun. Hari masih gelap sebenarnya, tapi Anjana sengaja memasang alarm agar pria itu tak ketinggalan jam briefing.


" Astaga, sejak kapan benda ini ada disini sih? Gak bisa apa bunyinya bisik-bisik, ribut terus!" Pria itu memarahi sebuah jam beker yang entah kapan ada di sana. Pagi-pagi sudah di buat menggerutu hanya karena sebuah jam.


Kepalanya terasa berat sekali, tenggorokannya juga terasa aneh " Astaga, wanita itu semalam benar-benar mencekokiku sampai aku bermimpi menciumnya!" Gumamnya seraya beranjak dari tempat tidurnya dengan tubuh yang sempoyongan.


" Dimana dia? Apa dia tidak tidur? Kasurnya sudah rapih begitu!" Ia berkacak pinggang seraya menggelengkan kepalanya dengan wajah masih kusut, wanita itu apa tidak memiliki rasa lelah pikirnya.


Ia membuka jendela dan merasakan aroma embun sejuk yang menyeruak hidungnya. Terasa melegakan sekali. " Nikmat mana yang kau dustakan ferguso?" Ucapnya seraya menghirup banyak-banyak udara pagi itu.


Sakti menatap tak percaya dengan apa yang di tangkap oleh dua netranya, Anjana terlihat berjoging dengan pakaian ketat, dan sebuah handuk kecil mengalung di lehernya. " Si Paijah udah lari aja pagi begini. Bangun bareng ayam jantan kali dia ya?"


Ia terlihat menyebikkan bibirnya manakala melihat Anjana yang tersenyum saat menyapa beberapa petani yang akan ke kebun. " Bisa senyum juga dia, gadis aneh. Kalau sama aku aja, kayak mau ngajak perang Branthayudha . Hah embohlah...Lebih baik aku mandi saja!" Tanpa sadar ia terus menggumamkan Anjana sedari tadi.


Pria itu sepertinya lupa akan apa yang ia lewati semalaman. Agaknya, kesadaran Sakti belum kembali seratus persen.


Entahlah, Sakti merasa aneh. Gara-gara mabuk, ia bahkan berhalusinasi dan bermimpi mencium bibir wanita itu. Membuatnya terkikik - kikik sendirian di kamar mandi. Otak cabulnya seketika berkelana.


.


.


Anjana


Pemilik shio ayam itu sepertinya benar-benar sesuai dengan aroma kedisiplinan ayam yang memang selalu on time. Anjana bangun saat hari masi gelap, wanita itu selalu menyempatkan diri untuk sekedar berlari memutari areal kebun beberapa kali putaran.


Ia sudah melakoni kebiasaan sehat itu sejak ia memasuki masa pubertas. Untuk itulah, tubuhnya benar-benar terbentuk dan yang terlebih penting, hal itu sangat menunjang dirinya yang memang jago beladiri.


Dalam diri yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Dan ia percaya akan hal itu. Bagiamana mau menjadi pribadi yang kuat, jika kita tidak sehat?


" Anjana!" Panggil Tuan Liem yang sengaja menunggu wanita itu lewat.


" Saya Tuan!" Wanita tegas itu mengangguk sopan kepada pria yang berjasa dalam hidupnya itu. Berjalan dengan langkah pasti menuju ke arah pria itu berdiri.


" Bagaimana menurutmu? Aku ingin memberikan sedikit clue pada anak itu hari ini!" Tuan Liem ingin sedikit demi sedikit membuka tabir antara dirinya dan Sakti. Ia semakin tidak tahan saja. Bagaimanapun juga, secepatnya ia harus memproklamirkan Sakti sebagai penerus SO Vineyards.


Mengingat usia Tuan Liem yang telah memasuki usia senja. Jika diibaratkan sebuah jam, jarum panjang usia Tuan Liem telah menunjuk di angka 4, yang sebentar lagi pasti akan terbenam.


Anjana tertegun, tapi ia rasa semakin cepat semakin baik. "Tuan muda sepertinya mau kemari karena sebuah pelarian Tuan..."


Anjana menceritakan apa yang ia dengar semalam, semuanya tanpa terkecuali. Bahkan tentang pria itu yang membicarakan soal titik rendah finansial yang dialami.


Tuan Liem menghela napas " Kasihan cucuku. Terimakasih Anjana, tolong maklumi sikapnya yang sangat mirip dengan ibunya dulu. Kita ketemu saat sarapan nanti!"


Anjana mengangguk hormat saat pria tua dengan hati yang begitu baik itu telah berlalu. Sikap ibunya ? Itu berarti Nyonya Feny pecicilan seperti Sakti? Membuatnya kini menarik senyuman demi mengingat pria banyak bacot itu.


Anjana kini berjalan menuju kamarnya dan hendak membersihkan dirinya, wanita itu mengedarkan pandangannya ke kamar dan nampak kosong.


" Kemana tuan muda?" Batinnya yang melihat kasur Sakti telah rapi.


Meninggalkan pertanyaan yang belum menemukan jawabannya itu, ia kini memilih mengambil sebotol air yang berada di atas nakasnya, lalu meneguknya. Terasa melegakan. Ah!


Namun sejurus kemudian,


Anjana yang masih tekun meneguk air itu, seketika mendelik saat melihat Sakti berdiri di ambang pintu kamar mandi, dengan hanya melilitkan handuk sebatas pinggangnya. Rambut pria itu basah dan terlihat tampan.


Tubuh pria itu sangat juga sangat bersih, dengan beberapa cetakan otot liat yang membuat wajahnya memerah. Oh sial!


" AAAAAAA!" Anjana seketika menutup matanya menggunakan lengannya. Jantungnya sudah tak karuan. Entah mengapa ia malu. Ia benar-benar amatir untuk urusan begini. Membuat Sakti menyeringai.


" Kau ini lebay sekali, kau saja seenak udelmu melepas kaos di sana, giliran aku begini terjerit-jerit kau!" Sakti terkekeh-kekeh manakala melihat Anjana yang keranjingan.


" Pakai bajumu" Ucap Anjana masih menutup matanya. Tak menyadari jika Sakti perlahan mulai berjalan mendekat ke arahnya.


Ia memang cuek dengan apapun, tapi sama sekali ta menyangka jika Sakti akan berani se bar-bar ini kepadanya.


Sakti maju dan semakin mendekatkan dirinya, demi mengetahui jika ia kini memiliki kesempatan untuk mengerjai wanita kaku itu. Kapan lagi mengerjai Anjana, iya enggak?


" Buka matamu!" Sakti manarik lengan yang menutupi wajah wanita itu secara paksa. Membuat Anjana langsung membuang pandangannya ke arah lain. Dada wanita kaku itu berdebar kencang ,manakala aroma sabun maskulin itu menyeruak ke rongga hidungnya. Sialan!


" Kau kenapa? Kau biasanya ketus? Kenapa kau sekarang belingsatan begini....Atau jangan-jangan....kau malu karena habis ku cium ya?"


Anjana membulatkan matanya manakala Sakti kini menatapnya dari jarak dekat, seraya menaikturunkan kedua alisnya.


Sakti meneguk ludahnya sendiri manakala ia saling bersitatap dengan wanita kaku itu. Membuat sesuatu yang di bawah sana kini bereaksi tanpa menunggu perintah, manakala dada kenyal wanita itu menyentuh dada bidangnya yang polos. " Sialan, baru nempel sedikit aja udah bangun kau Cok?" Ia menggerutui Ucok kecil kurang ajar di bawah sana.


"Pria gila!!!"


"Jadi...semalam dia sadar?"


Percayalah, kening Anjana saat ini sudah di penuhi oleh banyak sekali peluh. Pria sialan itu berhasil membuatnya mati kutu. Damned!


" Hahahaha!" Sakti tergelak dengan kerasnya demi melihat wajah pias Anjana yang bahkan tak bisa menyela ucapannya. Yes, Sakti berhasil mengerjai wanita itu. Wanita kaku itu rupanya memiliki ketakutan sendiri rupanya.


" Wajahmu bahkan sampai merah begitu, padahal kita hanya bertemu dalam mimpi!" Sakti tergelak dengan wajah yang terlihat tampan.


" Jadi dia merasa semalam itu mimpi? Syukurlah!" Anjana bernapas lega sesaat setelah mendengar ucapan Sakti. Pasalnya, ia akan sangat malu sekali bila pria itu sampai tersadar.


" Minggir!" Anjana mendorong tubuh Sakti dengan segenap kekuatannya. Ia ingin membebaskan dirinya dari jeratan yang sedari tadi membuatnya tak bisa berkutik.


BRUK


Dorongan kuat dari Anjana membuat Sakti terjerembab ke belakang detik itu juga. Dan sialnya, tanpa sengaja handuk yang di kenakan oleh pria sableng itu kini terlepas.


Membuat Sakti dan Anjana terdiam selama beberapa detik dengan tujuan pandangan yang sama. Sebuah rudal asia yang lekas bangkit dari persemayamannya.


AAAAAA!!!


Mereka berdua sama-sama berteriak.


Anjana berteriak lari ke kamar mandi dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan, sementara Sakti berteriak menutup ucoknya yang telah berkhianat kepadanya itu.


" Pria gila!!!"


BRAAK!!!!


.


.


.


.


.


To be continued....