Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 86. We are team!



Bab 86. We are team!


^^^" Tak lekang oleh panas. Tak lapuk oleh hujan!"^^^


^^^( Tetap tegar walau dalam hidupnya banyak cobaan)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Dengan terheran-heran, ia menatap Bu Ambar yang serius akan ucapannya. Bukankah beliau sendiri yang mengecap jika lebih baik menunggu Pandu. Lantas, mengapa kini harus berubah lagi.


Sepertinya ia lupa, bahwa seorang ibu selalu memiliki naluri yang tak akan dimengerti oleh orang lain.


Perasaan was-was. Perasaan yang sangat sensitif.


" Buk...!" Ucap Aji menatap muram wajah Bu Ambar.


" Kamu tahu sendiri Ji...cuma Pandu yang ibu miliki di dunia ini!" Dua netra Bu Ambar mengeluarkan cairan bening. Membuatnya resah dan tak kuasa menahan haru.


Ia kasihan.


Aji melempar pandangannya ke lantai rumahnya, seraya mengembuskan napasnya pasrah. Malang betul nasibmu Bu.


Bagiamana pun juga, beliau merupakan orang baik. Tapi menepikan hal itu , sebenarnya ia takut jika Pandu akan salah paham jika ia menyusul nanti. Mengingat ia telah membuat kesepakatan sebelumnya.


Ambigu.


Bimbang.


Bingung.


Perasaan semacam itu kini datang menyerang diri dan hati Ajisaka. Keteguhan hatinya benar-benar tertantang.


Perasaan yang selalu ingin melindungi wanita cantik, bersahaja serta berusia matang itu, tak pernah lekang dari hati Ajisaka. Bu Ambar sudah seperti ibunya sendiri.


Selain ia menyanggupi permintaan Bu Ambar, ia kini terlihat meminta Sukron untuk mengantarkan beliau kembali ke rumah Lik Sarip.


" Antar sampai rumah Kron. Jangan sampai kenapa-kenapa!" Titahnya jelas.


Sementara ia sendiri? Ia kini menghubungi dua sahabatnya. Yudha dan Sakti. Meminta mereka untuk datang menemui dirinya di warung kopi langganan mereka. Warung kopi Cak Juned.


" Aku akan menyusul Pandu. Aku tak bisa membiarkan Bu Ambar sendiri disana!" Ia berucap kepada Yudha yang selalu on time. Mungkin Yudha bershio ayam. Soalnya selalu saja on time sih.


Yudha hanya pasrah, ia tekun menatap kepulan asap rokok hasil produksi bibir Ajisaka ,yang kini membumbung ke udara. Seketika udara disana berubah menjadi pekat.


Dasar si Aji! Tukang kontaminator bakaran tembakau.


Namun, belum sempat menjawab. Interupsi datang secara mendadak. Interupsi sialan yang berasal dari sahabat bar-bar.


" Wah sory-sory aku telat. Belum terlalu ketinggalan kan?" Sakti datang tergopoh- gopoh usai mencampakkan sepeda gunung-nya dan terlihat bersimbah keringat.


Mengkilat dan ngos-ngosan.


Alasannya lumayan masuk akal. Selain bisa hemat, ia juga bisa sehat. Ya meski sebenarnya itu cuma dalih.


Fakta sebenarnya, ia pasti kelamaan nunggu motor yang di pakai ibunya untuk mengantarkan laundry yang telah kering pagi itu. Owner laundry gitu loh. Ihiiiirr!


" Kebiasaan!" Sahut Yudha mencibir.


Sakti tidak tahu jika Yudha bahkan harus terpaksa berbohong kepada managernya jika ia diare pagi itu, demi menemui Ajisaka dan Sakti. Sesekali bohong itu perlu lah. Begitu pikirnya.


" Lagian si Aji ni..kasih info mendadak banget! Sakti menggerutu. Kesal tak karuan."


" Mana matahariku tengah asyik-asyiknya pas nyetak kue cipir lagi!'' Sakti ngeloyor duduk, lalu mencomot bakwan hangat di depannya yang begitu berminyak.


PLETAK


" Jorok banget sih lu Sak!" Yudha menyentil dahi Sakti. Membuat pria dengan perawakan jenaka itu, mengusap dahinya seraya mercing.


" Sakit banget tau Yud..ni anak!" Sakti memeberengut. Belum hilang mulas di perutnya, ia kini dibuat kesal dengan jidat yang terasa panas akibat sentilan Yudha.


" Bisa pada diem enggak?" Ajisaka pusing melihat Sakti yang membuat Onar. Selalu saja mereka itu.


" Cak, teh angetnya dong satu!" Ucap Sakti yang malah meminta Cak Juned untuk membuatkan segelas minuman hangat.


" Bisa mati kesedak bakwan nih aku. Ada makanannya gak ada minumannya!" Sakti memggerut tiada henti. Membuat Yudha dan Ajisaka menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dasar Sakti! Orangnya malah gak se-sakti namanya.


"Jadi ada apa Baginda Ajisaka? Mengapa hamba diminta untuk datang ketempat paduka?" Kembali Sakti berucap namun justru membuat Yudha terkekeh.


Wong edan!


" Matamu Sak!" Ajisaka mengembuskan napasnya pasrah usai mengumpat. Sakti oh Sakti.


"Aku mau nyusul Pandu!" Ucap Aji seraya kembali menghisap batang rokoknya yang semakin memendek.


" Ke kota?" Sakti menjengukkan kepalanya mendekat ke arah Yudha.


Yudha menggoyangkan pundaknya Membuat Sakti nyaris saja nyungsep karena Yudha tiba-tiba menarik pundaknya dengan cepat.


" Jancok arek Iki!( Brengsek anak ini)" Umpat Sakti mendengus kesal. Membuat Yudha kembali terkekeh.


Rasain lo!


" Bu Ambar minta tolong ke aku. Dan gak mungkin aku ninggalin dia sendirian disana!" Sahut Ajisaka sembari menggerus batang rokoknya yang telah tamat.


Kini, baik Sakti maupun Yudha saling menatap. Mereka selalu menghadapi semuanya bersama. Suka, duka. Kurang lebih. Mereka selama ini sudah menjadi empat sekawan.


Kesulitan Pandu jelas kesulitan mereka juga.


" Aku ikut!" Ucap Sakti menenggerkan lengan kirinya ke pundak Yudha dengan menatap wajah Ajisaka serius.


" Hah?" Ucap Yudha dengan terkaget.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Gedung Kijang Kencana


" Kau mau kemana?'' Sergah Bayu yang melihat Pandu berjalan menuju luar. Kini, Abimana selaku leader dari team Charlie turut menatap Pandu dengan lekat.


" Aku tidak bisa menunggu lagi!" Sahut Pandu tak sabar.


" Jangan gegabah. Aku tahu kau pasti geram saat ini. Tapi kita harus mengatur siasat!" Theodor yang tadinya hanya diam, kini turut angkat bicara.


" Benar! Salah sedikit. Jelas Nona Fina menjadi taruhannya!'' Ucap Andhika dengan wajah lelahnya.


" Fina akan tetap aman!" Jawab Pandu menatap satu persatu leader dan bosnya disana.


Aman? Maksudnya?


" Riko tak mungkin menyakiti Fina!"


" Fina adalah wanita yang dia inginkan. Sementara Raditya? Jika aku tidak segera kesana. Pria itu pasti akan kabur lagi usai menjalankan tugasnya!"


Membuat semua yang di sana tertegun. Bayu masih tekun mendengar penuturan Pandu yang selalu saja memukau.


" Aku hanya tidak ingin kehilangan pria bernama Radit itu!''


" Dan untuk hal ini. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri!"


Pandu merasa ia harus menuntaskan pria bernama Raditya itu. Bayang-bayang wajah Ayudya yang pucat masih saja terus menghantuinya.


" Tidak!" Sahut Satya. Leader team Bravo itu kini terlihat berdiri. Ia adalah pria yang sebenarnya masih kesal dengan Pandu. Kesal lantaran sempat di hajar, dan tak bisa melawan.


Bayu sempat menatap Satya dan Pandu bergantian. Membuat suasana menjadi canggung.


" Kita semua team. Tidak peduli urusan pribadimu seperti apa!"


" Jika harus maju. Maju bersama!"


Satya menepuk pundak Pandu. Ia tahu, Pandu sebenarnya pria baik yang terbungkus luapan emosi waktu itu.


" We are team!"


Pandu menyapukan pandangannya kepada seluruh jajaran penting di Kijang Kencana itu. Theodor bahkan menganggukkan kepalanya menyatakan persetujuan atas ucapan Satya.


Andhika juga Abimana pun demikian. Terakhir, ia menatap Rendy dan Bayu. Kesemuanya mengangguk setuju.


Mata Pandu memanas. Tapi jelas pantang baginya untuk menangis. Pandu merasa terharu, lantaran ia merasa menemukan keluarga baru.


" Terimakasih!"


" Kawan!"


.


.


.


.


.


.


Readers, maaf ya slow up nya.


Biasa ibu-ibu jelang puasa pasti riweh di dapur.😁😁😁 Jadi, ibu-ibu di manapun anda berada, gimana nih persiapan jelang puasanya?


.


.


.