Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 55. New chapter of life



Bab 55. New chapter of life


^^^"Sebuah kepincangan keadilan. Yang terus melahirkan dendam tak berkesudahan!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sebenarnya hanya sebentar saja kita pasti akan menyusulnya. Orang tua...kakak...adik...suami. Bagiamana kau bisa sombong? Seolah kau hidup selamanya.


Budak memang tidak pernah terfikir untuk ini, untuk itu malam ini. Senangkan saja hidup! meski terlambat mencari kekayaan.


Memangnya apalagi yang bisa diperbuat oleh pria dengan keadaan ekonomi yang tak baik-baik saja macam Pandu?


Malam sudah larut. Namun Pandu masih terjaga. Matanya sama sekali tak mau terpejam. Ia terlihat menghisap rokoknya dalam dengan perasaan tak menentu. Menghembuskannya pasrah sehingga membuat udara di ruang tamu itu seketika berubah menjadi pekat.


Banyak sekali pemikiran abu-abu di otaknya. Tentang dia yang berangkat ke kota hanya dengan bermodalkan sebuah nama perusahaan bodyguard terkenal yang tercetak di balik bandul kalung bernama Raditya itu.


...Kijang Kencana Safety Group...


Ia jago bela diri dengan tangan kosong. Jika di buka, pasti dada Pandu berisikan kobaran Api kemarahan yang masih berkobar terang hingga saat ini.


Mendorongnya untuk berpikir taktis.


Ia bukannya tak menghargai bantuan teman-temannya. Apalagi Ajisaka yang berniat untuk ikut dengannya Tapi sungguh, ia tak mau membuat segala sesuatunya makin rumit.


" Astaga, dimana ponselku?"


Pandu teringat jika seharian ini dia tak membuka ponselnya. Matanya membulat demi melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab dan beberapa notifikasi pesan reguler, maupun pesan WhatsApp.


21 Missed Calling


+6285765987xxx


10 unread message


" Ini aku Fina!" Pandu tersenyum demi melihat nama yang ia baca. Padahal kemarin Yudha telah mengatakan jika Fina meminta nomer ponselnya.


Astaga kenapa dia mudah lupa begini?


" Bisa kita bertemu sebentar?"


" Aku akan berangkat sebentar lagi!"


" Pandu!!!"


Pandu mengusap wajahnya kasar. Ia seharian bahkan tak menggulir ponselnya sama sekali. Kebiasaan dirinya men-silent ponsel benar-benar membuatnya rugi.


Dia mengetik sebuah pesan, menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi. Benar-benar terlihat menjadi pria bodoh.


Namun ia menjadi ragu saat melihat jam sudah menunjukkan waktu yang terlampau malam. Jelas bukan waktu yang sopan untuk berkirim pesan. Apalagi jam tersebut sudah memasuki saat sepertiga malam. Berniat akan membalas Fina esok hari saja.


Namun niat hanyalah niat yang kerap ngelawus tanpa implementasi. Bukan tanpa alasan. Otaknya memerintahkan dengan cepat, agar hati ini dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan tuntas.


Senin pagi ini urusan Pandu agaknya lumayan kompleks. Mulai dari harus menemui Yudha perihal pencairan uang yang akan menjadi modal serta cikal bakalnya mencari orang biadab itu.


Ia juga telah memiliki serentetan rundown kegiatan di otaknya.


Termasuk mengantarkan ibu kerumah Lik Sarip.


.


.


BPR Agung Wilis.


" Nih semua udah aku transfer ke rekeningmu, itu jumlah angsuran sama tenor yang kamu minta kemaren!" Yudha menyerahkan beberapa carik kertas, berisikan beberapa informasi mengenai besaran angsuran, dan tentang waktu yang akan dijalani Pandu sebagai nasabah kredit.


" Ada potongan angsuran tiga kali. Artinya kamu baru bayar tiga bulan kedepannya!" terang Yudha dengan wajah muram.


" Makasih Yud!" Ia menepuk lengan koko sahabatnya dengan senyuman terbaik.


Pandu menangkap raut kekhawatiran di mata Yudha. Harus ia akui, ketiga sahabatnya itu benar-benar karib melebihi seorang saudara.


Ia melajukan motornya ke mesin Anjungan Tunai Mandiri yang berada di dekat stasiun. Fasilitas terdekat yang bisa Pandu jangkau di desa itu. Berniat mengambil beberapa uang, untuk ia serahkan kepada ibunya.


Matanya tak sengaja melihat sebuah tempat makan cepat saji, yang pernah ia kunjungi bersama Fina saat menjemput Dita beberapa waktu yang lalu.


Apakah cinta?


Atau hanya empati?


Tapi, entahlah. Semua terlalu rumit saat ini. Fokusnya kini adalah, tentang pria pemilik kalung dengan pahatan nama Raditya, yang Kang Joko beri kemarin.


.


.


" Untuk Ibuk!" Pandu mengangsurkan sejumlah uang kepada Ambarwati. Membuatnya tertegun menatap amplop coklat yang lumayan tebal.


Wanita itu menatap wajah anaknya di bawah gempuran sinar lampu berwatt rendah yang berada di dapur sederhana miliknya.


Menatap wajah Pandu lekat. Sejenak ia teringat dengan suaminya dulu. Ayah biologis Pandu, yang memiliki sikap dan sifat yang sama dengan putranya itu.


Nama yang tersimpan di dalam hati, meskipun ia sama sekali tak berniat apalagi berminat membagikannya kepada Pandu. Orang yang sebenarnya berhak tahu akan hal itu.


" Sepertinya Ibu gak bisa lagi menghalangi kamu buat ke kota!"


Hening.


Baik Pandu maupun Ambarwati sama-sama nanar menatap tembok dapur yang catnya sudah mulai mengelupas.


Kenyataannya yang harus dilewati memang demikian. Dan semua yang terjadi, harus ada harga yang perlu dibayar.


" Itu uang untuk pegangan ibuk selama Pandu belum kembali!" tukasnya memecah keheningan.


Ambarwati masih tertegun, seraya menelan ludah sembari melayangkan tatapan kosong. Nanar menatap tembok usang di dapurnya.


Hidup hanya soal diatas dan dibawah.


" Tunaikan niatmu, dan kembalilah dengan selamat!"


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Satu kantong restu sudah lebih dari cukup untuk mengiring langkahnya menuju kota. Sudah banyak rencana di otaknya. Yang ia perlukan saat ini adalah, cepat berangkat sebelum di ketahui oleh ketiga sahabatnya.


Ia bahkan tak sempat bermain ponsel jelang hari keberangkatannya yang agaknya harus ia rombak. Pandu memang berniat tak berpamitan kepada para sahabatnya guna menghindari salah satu dari mereka akan ikut. Yakni Ajisaka.


" Lik, aku titip ibuk!"


" Aku tidak akan lama!"


Usai mengantar Ibu dan memasrahkan Ibunya kepada Lik Sarip. Ia menyiapkan diri untuk berangkat. Tak berani menatap sorot mata ibu yang jelas akan mengguncang keteguhan hatinya untuk berangkat.


Semua ini memang harus terlewati.


Nenek Lik Sarip dan nenek ibu merupakan saudara kakak beradik. Apa sebutannya untuk menerangkan silsilah macam itu?


Sepupu kah?


Atau Misanan? atau Mindoan mungkin?


Menepikan hal itu, selain Pandu merasa lebih tenang, ia kini juga bisa fokus. Niatnya ingin menghabisi orang yang telah berbuat keji kepada keluarganya dengan caranya harus segera terealisasikan.


Pandu bahkan telah mengganti nomernya. Sengaja menghilangkan jejak dari para sahabatnya. " Maafkan aku Ji!" lirihnya dalam hati.


Siang bolong pria itu benar-benar telah meninggalkan Karanganyar. Ia menyusut sudut matanya yang berair. " Doakan aku dari sana Yuk. Mas cuma pingin cari keadilan buat kamu. Meski mas merasa semua ini terlambat!"


Ia meminta Kang Jono untuk mengantarnya ke terminal. Tak ada koper atau barang mewah lain yang ia bawa.


Hanya beberapa potong baju dan sebuah ransel hitam yang kini bertengger di punggungnya.


" Nih Kang. Tolong ingat yang tadi ya!" ucapnya menyerahkan pecahan rupiah bergambar I Gusti Ngurah Rai, sembari menepuk pundak kang Joko untuk tak mengatakan kepada ketiga sahabatnya jika ia telah berangkat.


" Gak usah lah Ndu, aku ikhlas. Udah kamu bawa aja!" tolak kang Joko halus. Ia merasa kasihan kepada Pandu.


" Udah lah kang. Rejeki!"


" Jangan di tolak!" Pandu memaksa memberi uang dengan menjejalkan rupiah itu ke kantong saku kang Joko.


Ya, permulaan akan babak hidup baru Pandu telah dimulai.


.


.