
Bab 35. Cemas
^^^" Bilur- bilur cinta nyata ada kala hatimu mengenal takdirnya..."^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Ajisaka
Siang itu ia tengah sibuk menghitung totalan pengiriman barang. Baik buah naga segar, maupun keripik buah naga buatan home industri miliknya yang harus ia distribusikan ke kota lain.
Keseharian Ajisaka memang begitu. Sibuk tiada henti. Ia adalah pria yang paling berduit diantara empat sekawan. Namun, menjadi yang paling minim dalam urusan asmara.
" Bos, dari Sukron!" ucap seorang pegawai yang menginterupsi kesibukannya, sembari menyerahkan ponsel nit not jaman bahulak yang ukuran baterainya sudah membengkak.
" Kenapa?" sahut Ajisaka dengan masih memencet kalkulator miliknya.
" Kurang tahu bos, dia cuma bilang mau bicara penting!" jawab pria itu lagi.
Dengan kening berkerut, Ajisaka meraih benda itu. " Ya Kron?"
" Kacau bos, kirimnya telat ini, banyak yang rusak juga barangnya. Saya terlibat kecelakaan sama pengendara mobil bos. Perempuan semua lagi"
Aji seketika memejamkan matanya seraya memijat keningnya yang mendadak terasa pening.
.
.
Pandu
Ia tengah kedatangan seorang tamu yang baru saja menyandang status menjadi pengangguran tetap beberapa jam yang lalu.
Sakti Buana, pria itu mengundurkan diri lantaran sudah tak merasa cocok bekerja di toko elektronik. Berangkat pagi pulang tak pasti. Hal itu terjadi lantaran ia kerap ditugaskan untuk mengantarkan barang beserta pemasangannya.
Yang lebih parahnya, upah yang kian tak bisa memberikan janji.
" Udah sabar aja, kerja apa aja bisa!" ucap Pandu seraya memasang baut dek motor milik pelanggannya yang baru saja selesai ia benahi.
Sakti numpang ngopi siang itu di rumah Pandu. Sahabat yang paling mudah ia temui keberadaannya. Yudha di jam segini pasti masih berada di kantor koperasi. Sementara Ajisaka, bisa di pastikan jika masa panen tiba seperti saat ini, pria itu pasti sibuk. Sakti ogah menjadi bahan pelampiasan kekesalan pria berduit itu.
" Kerja di tempat Aji aja. Kamu kan dulu pernah di tawari!" ucap Pandu kini pindah posisi sembari masih bergelut dengan obeng dan baut.
" Ogah lah Ndu!"
" Lah, kenapa?"
" Aneh aja Ndu kalau jadi buruh sahabat sendiri!" wajah Sakti bermuram durja. Hal itu ia hindari sejak dulu. Itu juga bisa meminimalisir kerenggangan antar sahabat.
Sakti kerap bergonta-ganti pekerjaan. Pria jenaka itu selama ini yang paling sering berkelana dalam urusan pekerjaan. Mulai dari pramuniaga hingga tukang servis TV.
" Buka warung kopi aja. Modalnya pinjam ke Bank dulu. lu bosen pasti kan ikut orang terus?" ucap Pandu kini mendudukkan tubuhnya ke samping Sakti yang masih muram.
Pandu mengangsurkan sebungkus rokok kepada Sakti. Namun pria itu menggeleng tak berselera.
" Nanti gak boleh sama emak ku Ndu. Tahu sendiri emakku pinginnya aku kerja kayak si Yudha. Otakku mana nyampek!" dengus Sakti.
Kini Pandu tergelak " Aku juga gak bisa bantu, tahu sendiri bengkel ku kadang sepi Sak. Ya dari kita berempat cuma Aji yang mending keadaannya!" ucap Pandu menaikkan sebelah kakinya, seraya menghisap rokoknya dalam-dalam.
Mereka berdua kini terdiam. Di takdirkan hidup sebagi lelaki memang harus memiliki tulang yang keras untuk di banting, demi mencari sumber penghidupan.
Drrrrtttt
Ponsel Pandu bergetar saat mereka masih larut dalam pemikiran masing-masing. Membuat dua pemuda itu kini fokus kepada benda pipih milik Pandu.
Aji Calling...
" Panjang umur dia, baru kita omongin!" Pandu tersenyum menunjukkan nama Aji yang sedang menghubunginya.
" Ya Ji?" jawab Pandu sembari menyesap rokoknya, sementara Sakti menopangkan dagunya ke atas lututnya seraya menatap wajah Pandu yang kini terlihat serius.
" Si Sukron nabrak Bu Asmah sama cucunya Ndu. Mobilnya ancur, orangnya di bawa ke Puskesmas. Kalau elu gak sibuk temenin aku bisa gak? Bisa Panjang ini urusannya!"
Pandu seketika mematung saat Aji mengucap cucu Bu Asmah. Entah mengapa hatinya mendadak di jalani perasaan khawatirkan yang membuncah.
" Kenapa Ndu?" tanya Sakti panik demi melihat raut wajah Pandu yang tegang.
" Kamu ikut aku sekarang Sak!"
.
.
.