Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 120. Apa yang terjadi padamu Ajisaka?



Bab 120. Apa yang terjadi padamu Ajisaka?


^^^" Jika wajah seseorang terus dan terus mengusik pikiranmu bahkan membuatmu tak nyenyak tidur, percayalah jika engkau tengah dilanda jatuh cinta!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Ambarwati


Apa putranya itu tengah melakukan lelucon dengan menitipkannya kepada pria itu? Haishh! Pandu ini bagiamana sih? Hampir saja ia menyergah ucapan Pandu. Namun, raut wajah penuh semangat kala menyebutkan nama Fina seketika membuat niatnya urung.


Ia teramat menyadari jika dirinya tak bisa memberikan putranya kebahagiaan sedari dulu, dan jika semua ini membuatnya senang dan bahagia, sebaiknya ia mengikuti iramanya saja. Itu jelas lebih baik.


" Aku pergi dulu Buk!"


" Ibuk bisa ngobrol sama Pak Bayu dulu ya. Pandu sayang sama Ibuk!" Ucap Pandu sembari memeluknya.


Iya mengangguk usai pelukan itu telah melonggar, mencoba menyuguhkan senyum terbaik sebagai bekal mengiring anaknya yang hendak keluar itu.


" Hati-hati!"


" Ingat, jangan macam-macam!"


Kini, menit-menit kedepannya benar-benar terasa canggung. Dikamar hotel hanya berdua dengan pria. Ah tidak!!


" Kamu jangan tegang gitu, saya sudah bukan bos Pandu lagi. Jadi...jangan terlalu kaku!"


" CK, bisa-bisanya dia sesantai itu!" Ia mendecak dalam hatinya seraya menyuguhkan wajah murung karena canggung.


" Kalau kamu merasa rikuh karena cuma berdua, lebih baik kita pergi. Kamu beberapa hari lagi akan pulang kan? Rugi kalau kamu enggak jalan-jalan. Atau...mungkin kamu mau pergi ke suatu tempat mungkin?"


Ia sedikit berpikir kala Bayu menawarinya. Pria itu benar , rupanya Bayu pria yang pengertian. Pasti masa mudahnya dulu dia pria yang asik.


Lebih baik pergi keluar memang, ia tidak mau membuat masalah untuk dirinya sendiri.


.


.


Pandu


Agak lucu dan tak masuk akal sih sebenarnya. Bagiamana tidak, ia menitipkan ibunya kepada pria yang baru di kenalnya kurang lebih dua Minggu belakangan ini. Namun , Ia merasa itu jauh lebih baik dari pada ia tak bisa menemui Fina. Selain itu, ia tak perlu khawatir lagi soal ibunya.


Lagipula, ia percaya jika Bayu merupakan pria baik dan pengayom. Cincailah!


Ia menaiki taksi menuju ke sebuah tempat yang telah mereka jadikan tempat untuk bertemu. Cafe Pandawa.


" Mudah-mudahan Fina gak marah karena aku terlambat!" Ia sempat resah, ini sudah molor lebih dari setengah jam dari schedule yang ia janjikan.


Ia mencoba menghubungi nomer Fina yang baru. Nihil, tidak di angkat. Membuatnya resah.


" CK, mas lebih cepat ya...!" Pandu menepuk bahu pengemudi taksi online itu dengan sedikit cemas.


.


.


Serafina


Ia baru saja tiba di cafe berdesain industrial itu. Ia pikir akan terlambat, sebab terlalu lama bersolek agar membuat Pandu tak kecewa. Namun, saat ia sampai di lokasi tempat yang sudah mereka sepakati itu malah masih kosong melompong.



" Pandu belum datang rupanya!" Gumamnya saat menjadi orang pertama yang hadir di tempat itu pagi ini. Harusnya berdua dengan Pandu, sebab Fina sengaja membooking lantai dua untuk dirinya dan Pandu saja.


Wow amazing girls!


Ia membawa serta lukisan yang ia buat dengan dedikasi tinggi itu. Ia ingin ini menjadi kencannya yang romantis.


Ia duduk di sebuah meja yang paling dekat dengan dinding yang terbuat dari kaca lebar transparan itu . Usai meletakkan lukisan berukuran sedang itu pastinya.


Fina engaja menggerai rambutnya yang bergelombang dan berwarna coklat, ia mengenakan dress selutut dengan warna peach yang match dengan kulit bersihnya, sepasang flatshoes membungkus kaki jenjangnya. Overall Fina cantik.


Dan sepuluh menit kemudian,


" Fina!" Ia mendengar suara pria yang sedari tadi ia nanti. Pria itu terlihat ngos-ngosan. Jelas yang ia nanti sudah tiba.


Ia tersenyum penuh rasa senang, menyambut pria gagah yang terlihat tampan sekali pagi itu. Pandu keren sekali meski terlihat terburu-buru.


" Sory telat..!" Pandu segera menarik kursi dan duduk lurus di depan Fina. Napasnya tersengal lantaran harus berlari dari lantai dasar.


Fina terkekeh " Dari mana aja pak, kok bisa telat?" Tanya Fina bertopang dagu menatap wajah Pandu yang berpeluh.


" Tadi Riko datang ke hotel!"


" What??" Fina seketika memindahkan posisi tangannya ke atas meja. Syok bukan main.


" Bukannya dia harus ke pengadilan?" Fina tak percaya dengan yang barusan ia dengar.


" Aku sendiri juga tidak tahu, tapi yang jelas sepertinya dia takut jika aku akan meminta harta mereka!" Pandu tersenyum sumbang, membuat Fina menatap Pandu muram.


Fina memegang tangan Pandu dengan lembut.


Pandu mengangguk " Yang terpenting mereka gak nyakitin Ibukku aja Fin, aku enggak peduli untuk yang lain. Lagipula, aku udah menganggap Bapakku meninggal dari dulu!" Senyum kecut kembali tersungging dari bibir Pandu.


Fina menatap Pandu muram tanpa berkata apa-apa lagi. Fina sangat kasihan dengan pria yang sangat ia cintai itu.


" Udah jangan sedih-sedih, udah pesen makanan belum? Aku belum sarapan nih!" Ucap Pandu tak mau ceritanya barusan merusak quality time mereka berdua.


" Udah kok, tenang aja!" Fina terus menatap Pandu yang sibuk melepas jaketnya. Fokus menatap otot lengan Pandu buang terlihat menggoda.


Pandu wangi.


Wow!


" Eh, kok sepi banget sih disini?" Pandu heran, padahal di bawah sedang banyak pengunjung. Ia sibuk melepas jaketnya hingga tak tahu jika Fina kini fokus menatapnya dengan tatapan nakal. Dasar Fina!


Fina langsung tersenyum licik " Kalau rame aku gak bisa ehem ehem sama kamu!" Wanita nakal itu terkikik dalam hati.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kalianyar


***


Ajisaka


" Baiklah kalau begitu saya pamit dulu Pak, dan mohon maaf jika kedatangan saya tadi mengganggu njenengan!" Aji tersenyum menatap Pak Atmojo.


" Kenapa si bos? Tadi datang marah-marah begitu, nah sekarang? Kayak ada yang gak beres!"


Sukron sampai bergumam dalam hatinya, mana pernah bosnya itu mau berucap lembut kepada karyawannya, biasanya di memberlakukan sikap yang sama kepada semua pegawainya.


Benar-benar ada udang di balik batu!


Tujuannya sudah rampung, ya... meski ia mendapat sebuah keuntungan lain, lantaran kini telah mengetahui jika wanita yang ia cari selama ini merupakan anak pegawainya.


Sungguh kebetulan yang tak ia sangka. Aji merasa ada hal lain yang terus bersemayam di hatinya.


"Mohon maaf sekali lagi ya Pak, saya benar-benar mohon maaf!" Ucap Pak Atmojo sungkan.


" Tidak-tidak, tidak apa-apa. Memangnya tadi Bapak mau buat apa?" Ajisaka terlihat tenang kala bertanya, bisanya alis pria itu tiada berhenti bertaut saat sedang berbicara dengan orang lain.


Sukron mendelik, helo....kenapa bos-nya jadi kepo begitu sih?


" Saya mau buat warung untuk Wida, anak saya tadi pak!" Tutur pak Atmojo masih dengan sikap sungkan.


Aji mengangguk- angguk. Namanya Wida.


" Kalau begitu saya pamit. Oh iya, jangan sungkan jika ingin kembali bekerja kembali pak!" Ajisaka tersenyum menatap wajah pak Atmo yang nampak bingung. Pun dengan Sukron.


" Pasti si bos lagi demam deh ini!"


Usai pamit, raut sumringah itu terus saja terkembang di wajah Ajisaka. Sukron yang penasaran namun tak berani bertanya itu hanya bisa membatin. Semenjak pulang dari kota, bosnya itu memang terlihat aneh.


.


.


Widaninggar


" Kamu kok kenal sama pria tadi?" Ucapnya saat menyuapi Damar di bangku halaman belakang rumahnya yang langsung berhadapan dengan sawah yang luas. Sawah milik orang lain pastinya.


Damar menerima suapan itu dengan wajah murung.


" Kemaren aku hampir di tabrak om tadi Buk, kalau om yang satunya yang ngasih aku buah naga putih kemarin!" Damar mengunyah sambil menunduk, bersiap menerima Omelan sang ibunda.


" Apa?"


Ia semakin mendudukkan kepalanya kala mendengar sendok yang terbentur piring. Menandakan jika ibunya jelas berhenti menyuapi dirinya.


" Damar gak nakal kok Buk, kemaren Damar cuma pingin main, Damar bosan!" Bocah kecil itu terus saja menunduk dengan wajah murung.


Wida menjadi muram tatkala menatap wajah putranya, terselip rasa kasihan lantaran selama ini anaknya di kota tak memiliki teman bermain.


" Sini!" Wida merengkuh tubuh putranya, hatinya sesak. Ia paham jika putranya itu pasti ingin bermain.


" Lain kali jangan keluar tanpa pamit ya..Ibuk cuma punya kamu le. Ibuk gak mau Damar kenapa-kenapa, ngerti?"


Bocah itu mengangguk dalam dekapannya.


"Nanti kalau kerjaan Ibuk udah ada hasil, ibuk janji bakal ajak kamu berenang di kolam renang yang besar ya?"


Interaksi sendu itu rupanya tak luput dari pandangan mata Pak Atmo. Hatinya sesak. Entahlah, setidaknya saat ini anak dan cucunya aman. Entah esok hari, entah lusa nanti.


.


.


.


.



Ajisaka kurang lebih seperti ini ya readers. Jika kurang cocok, readers bisa mengganti sesuai imaji readers masing-masingπŸ€—