
Bab 139. Burning fire of love
.
.
.
...Walau sehari ku tak berhenti...
...Untuk mencari bunga hati...
...Oh rasa cinta ...bersabarlah menantinya...
...Oh rasa cinta... bersabarlah menantinya...
...Begitu lama aku mencoba...
...Dan sampai kini tak berdaya...
...Oh rasa cinta bersabarlah menantinya...
...Oh rasa cinta bersabarlah menantinya...
...Walau tak ku punya...
...Tapi ku percaya cinta itu indah...
...Walau tak terlihat...
...Tapi ku percaya cinta itu indah...
...( Letto ~ Bersabarlah Cinta)...
...πππ...
Yudha
" Bapak tahu jalan masuk ke hutan sini?" Ia bertanya kepada pria yang baru ia ketahui bernama Rukun saat tengah fokus dengan setirnya. Merajai jalanan terjal berbatu nan menanjak.
Ia membonceng rukun dan berusaha memasuki hutan itu dengan jalan lain. Hutan itu luas dan bisa di lalui dari berbagai arah.
" Tau mas, tapi saya tadi enggak berani ngejar sendiri. Orangnya bawa pisau gitu, serem!" Pria kurus itu menjawab seraya bergidik ngeri.
" Kita bisa lewat jalan setapak nanti, saya kan udah lama nyadap disini!"
Yudha diam saat mendengar celotehan pria itu. Sifatnya yang acuh tak acuh masih setia ia pegang rupanya.
" Nah itu dia mas mobilnya!" Pria itu heboh saat melihat Xenia hitam yang masih teronggok di bawah Flamboyan. Syukurlah!
Mobil itu rupanya selain menabrak pohon Flamboyan, roda depannya juga terjebak di jalan lumpur yang agak dalam.
Mampus nggak?
Dengan cepat Yudha menarik gas motornya lalu memberhentikan kendaraannya tepat di samping mobil itu. Mengecek secara cepat.
" Kosong!" Ucap Yudha yang jelas memprediksi jika Wida dan suaminya masih di dalam hutan.
" CK! Nomer Aji gak bisa lagi!" Ia menggerutu sendiri. Si Aji benar-benar! Kini ia harus dengan apa menghubunginya kalau sudah begini coba? Jangan bilang kalau dia turut tersesat!
Huh!!!
Yudha terlihat berpikir sejenak. Semoga mereka tidak kepaling β’ didalam hutan.
" Woy, Yud!!!" Dari kejauhan, suara lengkingan dari bibir seseorang yang sangat familiar menarik atensinya. Si sableng telah tiba rupanya.
Yudha menarik senyuman. Untuk kali ini, Sakti rupanya tidak seperti Pak Ladoo Singh. Ok sip!
Ia melihat ada banyak orang yang turut bersama Sakti. Baguslah jika banyak yang ikut, mereka bisa berpencar setelah ini.
Ya, meski Yudha tahu jika semua tak akan mudah. Mengingat luasnya hutan, serat topografi tempat yang sepertinya sulit.
.
.
Ajisaka
Ia berjalan terpincang-pincang menyusuri rumput liar yang tumbuh subur di hutan itu bersama Widaninggar. Aroma lembab turut serta menjadi pengiring langkah dua manusia itu.
" Mas berhenti dulu saja. Aku kasihan sama Mas Aji!" Wida benar-benar tak mau memaksakan kehendaknya. Kaki Aji terluka, dan tentu ia tak mau egois.
" Jangan bicara begitu dong Wid. Kok kesannya aku jadi lemah banget!" Aji berengut.
Ia tak setuju akan hal itu. Entahlah, pria itu selalu ingin terlihat nomer Wahid bagi Wida.
Wida tak menggubris ucapan pria keras kepala itu. Dua netranya melihat sebuah batang kayu Pinus yang tumbang, ia berpikir untuk istirahat saja dulu sementara disana.
" Kamu mau kemana?" Tanya Aji yang menatap Wida kini berjalan ke arah samping.
" Mas duduk aja di sana dulu!" Menunjukkan batang kayu besar dengan wajahnya.
" Aku nyari obat buat mas dulu!"
" Obat?" Aji mengerutkan keningnya. Dimana ada obat di hutan macam begini?
Aji melepaskan jaketnya. Ya sudahlah, toh ia senang-senang saja jika di perhatikan Wida seperti ini. Ya...meski sebenarnya kakinya memang semakin ngilu saja.
Kini ,tubuh liatnya hanya terbungkus kaos polos warna abu-abu dan sudah sedikit basah karena serapan keringat. Terlihat begitu jantan sekali. Aji ganteng.
Ia meringis kala meraba luka di betisnya itu. Lumayan dalam, dan kini rasanya sedikit nyeri dan terasa panas.
" Sialan! Sakit juga ternyata!" Aji menggerutu. Luka yang awalnya tak ia rasa, lantaran tertutup rasa hati yang berbunga-bunga, kini perlahan mengusik. Sakit dan semakin membuatnya tak nyaman saja.
" Tuh kan, gitu di di suruh istirahat enggak mau!" Wida mendengar Aji yang bergumam kala melihat luka yang berada di betis bawah, yang nyaris menuju tumit.
Aji menoleh, tak mengira jika wanita itu telah kembali.
" Apa itu Wid?" Aji mendongak kala melihat Wida yang datang dengan membawa tumbuhan merambat berdaun hijau.
" Tadinya aku mau nyari getah pohon pisang buat ngobatin luka kamu, tapi kebetulan ada daun binahong ini, ya udah aku ambil aja."
"Siniin kakimu!" Wida duduk di tanah, sedangkan Aji diatas batang pohon Pinus itu. Wanita itu menarik kaki Aji dan terlihat serius.
Aji pasrah, pria itu teramat happy, ia tak mengira jika Wida tahu menahu soal hal tanaman berkhasiat seperti saat ini. Ia melihat Wida memelintir beberapa lembar daun binahong hingga layu, sejurus kemudian wanita itu menempelkan daun yang sudah menjadi lebih lembab itu ke lukanya. Menutup lukanya dengan tiga lembar daun binahong.
Terasa dingin. Ah enaknya!
Aji tekun memandangi wajah Wida yang memang cantik alami. Hidungnya yang tidak terlalu mancung, namun berukuran pas menjadi daya tarik tersendiri. Alisnya tebal dan hitam , kulitnya tidak terlalu putih namun bersih, cenderung ke kuning langsat , dan bulu matanya juga lentik. Terdapat bintik-bintik merah di sekitar pipinya.
Wida cantik!
" Aku dulu waktu jatuh dari motor sama bapak di balut ini. Tiga hari langsung kering!" Ucapnya sambil terus menempel daun beribu khasiat itu.
" Rejeki kamu ini mas. Nemu binahong di hutan!"
Aji tekun memandangi jemari lentik Wida yang sibuk mengurus lukanya. Lagi dan lagi, desiran aneh itu muncul. Entahlah, rasanya Aji ingin tinggal di sana saja selamanya bersama Wida.
Aji merasa tenang tiap Wida merawatnya. Hal sederhana dan penuh keterbatasan. Tapi jujur, Aji benar-benar kagum dengan wanita itu.
" Gimana rasanya?" Tanya Wida sembari mendudukkan dirinya diatas tanah.
" Dingin. Makasih ya!" Aji tersenyum penuh ketulusan. Tak selalu kesialan itu merupakan hal mengesalkan. Kalau di tanya, jelas Aji lebih suka seperti sekarang ini. Berdua bersama Wida.
KRUK!!!
KRUK!!!
Wida kini mendongak menatap Aji yang terlihat belingsatan.
" Kamu laper mas ?"
Aji malu. Dasar perut sialan! Niat ingin terlihat sok kuat, pria mudah nesu itu malah di khianati perutnya sendiri.
Aji mengangguk. Wajahnya kini bahkan mirip dengan Damar yang meminta susu kepada ibunya. Mendadak menjadi manja.
" Aku belum makan sejak semalam Wid. Nungguin kamu engga ada balas pesan. Belum tidur juga!" Wajah Aji muram. Kemana pria tegas yang mudah memarahi anak buahnya itu?
Wida mengernyit, astaga pria itu!
" La kamu ngapain mas enggak makan, enggak tidur juga?" Benar-benar tak habis pikir. Wida mendengus.
" Ya...kan aku nungguin kamu bales. Aku resah Wid. Sejak kamu dari pabrik ku dan ngelihat aku sama Desinta, kamu jadi kayak marah ke aku!"
" Sumpah Wid, itu bukan siapa-siapa nya aku!"
Wida mengembuskan napas tak mengerti. Ia juga memutar bola matanya malas. Sungguh, ia memang tidak mau tahu soal itu. Tapi kenapa pria itu bersikap ketakutan seperti itu?
" Tolong buka hati kamu buat aku Wid?" Aji menyentuh lengan Wida yang masih duduk di tanah sembari membereskan dedaunan itu. Membuat Wida lagi-lagi tertunduk dan menelan ludah dengan susah.
.
.
Matahari sudah melorot ke barat dan sepertinya senja sudah menyapa. Dua manusia itu sudah berjalan jauh sekali. Mereka juga sudah mengikuti arah Kompas. Namun, mengapa mereka seolah-olah kembali ke titik awal mereka terperosok?
" Mas, kok kita kayak kembali ke sini lagi ya?" Wida benar-benar lelah. Terlihat putus asa.
" Wid, ini hutan. Semua pohon terlihat sama. Kita juga berada di bawah. Kita istirahat dulu saja. feeling ku ini jalan udan bener menuju ke timur!" Tutur Aji yang yakin jika ia tengah mengarah ke Timur.
" Antaboga ini luas Wid. Selain kita udah masuk ke dalam, ini kita ada di bawah. Kawasan ini jelas belum pernah di jangkau orang. Itu kamu lihat, pinusnya aja belum ada yang di sadap!"
" Aku yakin, mereka pasti lagi nyari kita juga. Makanya ini aku ngarah ke Timur!"
Wida terduduk lesu bersandarkan pohon. Ia lelah dan merasa tipis harapan. Tak mungkin ia membelah belantara di malam hari. Ia juga kasihan melihat Aji yang mungkin sebenarnya juga sudah lelah.
" Mas mau ngapain?" Wida mendongak melihat Aji yang mematahkan ranting dan kayu panjang, lalu mengikatnya dengan sebuah simpul.
Berniat menjadikan sebuah gubuk sederhana tanpa alas.
" Kita enggak mungkin berjalan lagi. Sebentar lagi hari sudah gelap, kita terpaksa harus bermalam disini!"
Aji kini berbicara dengan raut lebih serius. Ia tak mau keselamatan Wida tergadaikan. Terlebih, ia takut jika ada ular atau hewan buas lainnya menghadang perjalanan mereka, saat minim penerangan seperti saat ini.
Ia melihat Aji yang juga sibuk mengumpulkan dahan kering yang sudah lapuk dari beberapa jenis pohon. Wida kehilangan semangat juang, wanita itu menatap nanar julangan pohon yang tinggi sambil menitikkan air mata.
Sama sekali tak membantu Aji kali ini.
Aji yang melihat Wida bersedih, hanya bisa diam. Ia kini melihat sesuatu. Talas.
Pria itu menuju ke sebuah tanaman dengan batang berair itu, lalu mencabutnya sekuat tenaga. Urat serta otot lengannya bahkan menjadi timbul kala pria itu melakukan tarikan.
Aji terlihat kuat.
Satu
Dua
Ti...
BRULL!!
Ia tersenyum puas kala talas degan ukuran besar itu berhasil ia cabut. Napasnya kini terengah-engah. Malam ini, ia akan membakar tanaman dari keluarga umbi- umbian itu, bersama Wida untuk makan malam.
.
.
Widaninggar
Ia menatap jilatan api yang menyala dan membakar kayu-kayu itu. Beruntung dalam tas pinggang mas Aji , terdapat rokok beserta koreknya.
Di sampingnya ada mas Aji yang sibuk membolak-balikkan talas yang dibakar untuk di jadikan santap malam mereka. Benar-benar survival yang nyata.
" Gimana luka kamu?" Ia memecah keheningan dengan bertanya.
" Lumayan, daun itu bereaksi sepertinya!" Aji tersenyum menatap Wida.
Wida mengangguk " Baguslah, nanti aku balut lagi. Daunnya masih ada kok!"
Kesederhanaan, mereka berdua kini benar-benar saling melengkapi. Siapa sangka, dua pasang anak manusia itu merupakan pribadi asing yang terseret arus cinta terlarang.
" Udah matang, nih. Masih panas. Sini biar aku bukain!" Tutur Aji dengan wajah sumringah.
Wida senang, ia juga lapar sekali malam itu. Ia melihat Mas Aji yang lihai mengupas talas di atas daun pisang meski dengan tangan berjingkat- jingkat karena kepanasan.
" Pelan, panas itu!"
Mereka menikmati sajian alam itu dengan tawa. Aneh saja, mereka kena musibah namun terasa seperti tengah berpetualang.
Survival in the forest.
Malam semakin larut, ia berkali-kali menguap. Mengisi malam itu dengan bercerita, cerita apa saja. Wida jadi tahu jika Mas Aji rupanya yatim piatu dan sudah terbiasa hidup sendiri sejak dulu.
Tak mengira jika pria keras kepala dan mudah marah itu, juga memiliki sisi melankolisnya.
" Aku terbiasa mencapai sesuatu dengan enggak mudah Wid. Makanya kalau ada anak buahku yang kerjanya sak karepe dewe aku enggak suka!"
Wida mengangguk, benar-benar berjiwa entrepreneur.
Mereka kini duduk berdampingan, hanya beralaskan selembar daun pisang. Duduk menghadap api yang menjadi sumber penerangan juga sumber kehangatan mereka berdua.
Suasananya begitu tenang dan menentramkan. Meski hati mereka masing-masing menyimpan kegundahan. Wida yang memikirkan anaknya, serta Aji yang memikirkan gejolak dalam diri yang sedari tadi ia tahan.
" Pakai ini, enggak bau kok!" Ia mengangsurkan jaketnya pada Wida yang sedari tadi memeluk dirinya sendiri.
" Enggak us...!"
Terlambat, Aji sudah melingkupi tubuh Wida dengan jaketnya sebelum wanita itu menuntaskan ucapannya.
Benar, jaket itu enggak bau. Justru wangi tubuh Aji tertinggal disana. Harum yang khas.
Wida tersenyum. Entahlah, ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan yang saat ini merasuk kedalam dirinya. Sesuatu yang membuatnya senang. Hampir 24 jam bersama pria itu, rupanya membuat Wida menemukan sisi lain Mas Aji.
Sisi yang hanya bisa ia rasakan. Tanpa mau membagi apalagi menceritakan.
Pria itu penuh perhatian. Wida merasa dirinya berharga kala pria itu memperlakukannya. Entahlah, mungkin dia hanya terbawa suasana saja. Euforia sesaat yang mungkin hanya singgah dan tak akan bertahan lama. Begitu pikirnya.
Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon dan memejamkan matanya. Biarlah ia melalui malam ini dengan rasa ikhlas. Ia memejamkan matanya berharap hari cepat berganti.
Berganti dengan sebuah kenyataan yang lebih membahagiakan.
.
.
Ajisaka
Aji menatap Wida yang lekas terlelap. Di hadapan jilatan api yang menyala, di saksikan rembulan yang sedang dalam fase sabit, Aji menatap mesra wajah teduh Wida yang lelap.
You're so beautiful!
Pria itu beringsut mundur dan mensejajarkan posisinya. Ia memberanikan dirinya untuk merangkul tubuh letih itu kedalam dekapannya.
" Bukalah hatimu sedikit untukku Wid!"
Aji bahkan kini mencium kening Wida yang masih terlelap. Dasar pencuri ciuman! Terselip rasa sayang dan ingin melindungi. Merasa ingin membahagiakan raga yang sedari dulu di tempa penderitaan itu.
"Oh Tuhan, ijinkan kami bersama!"
Merasa tidurnya terusik, Wida mengerjapkan matanya perlahan. Sedikit terkejut karena mengapa ia ini berada dalam rengkuhan tubuh pria itu. Apa dia bermimpi?
" Mas!" Ia mulai tak nyaman. Ini bukan mimpi rupanya.
Namun tatapan mesra Aji membuatnya terdiam. Sebagai manusia biasa yang sarat dengan kekurangan, Wida tak bisa menepikan gejolak dalam dirinya.
Ia terbuai alunan cinta.
Wida yang telah lama tak mendapatkan sentuhan lembut, maupun perhatian penuh kasih seperti ini, jelas merasa terlena. Salahkah?
Dia hanyalah segelintir mahkluk Tuhan yang bernasib kurang beruntung. Manusia diberi naluri dicintai dan mencintai, lalu siapakah yang bisa menahan hasrat kasih sayang yang di tawarkan di saat dunia seolah hanya berisikan mereka berdua?
Perlahan namun pasti Aji mendaratkan bibirnya ke bibir Wida dengan posisi masih merengkuh tubuh wanita itu dalam dekapannya. Seolah melindungi, seolah mengaskan jika dialah lelakinya.
Sedapat mungkin menciptakan rasa. Keinginan ingin memiliki.
Wida yang benar-benar tak bisa menahan segala tawaran indah itu, kini memejamkan matanya. Sayup-sayup terdengar bunyi binatang malam yang menjadi saksi ciuman panas dua insan itu.
Aji melu*mat serta menyapu bersih tiap inci bibir lembab Wida yang rupanya begitu terasa menggairahkan.
Dalam temaram cahaya api, dan suara ledakan ranting yang terbakar, dua anak manusia itu larut dalam pembuktian cinta. Meski tiada yang tahu, esok atau lusa akan menjadi seperti apa.
Mereka hanyalah mereka, manusia dengan sejuta nestapa, yang tak bisa menolak tawaran indah dunia.
.
.
.
.
.
Bab ini udah panjang banget ya...
Maaf ya gengs, sebenarnya pingin up banyak. Tapi sama seperti kalian, jelang Idul Fitri author rempong sama Bang Eng dan Pap Engππ.
Selamat menyambut Idul Fitri semuanya π€π€π€.
Semoga pas lebaran, Mas Aji udah balik ya sama mbak Wida. Masak mau lebaran Nang alasπ€£π€£
.
.
.
.
Keterangan
β’ Kepaling : Sebuah kejadian saat kita tersesat di hutan, dan sulit kembali alias berputar- putar di daerah situ saja dan sulit menemukan jalan keluar. Banyak orang yang mengaitkannya dengan kejadian magis atau mistis. Mengingat hutan merupakan salah satu tempat yang notabene kerap mendapat julukan angker bagi sebagian orang.
Ladoo Singh : Polisi bertubuh tambun dalam serial kartun yang tayang di stasiun televisi swasta. Karakternya kerap datang terlambat saat meringkus penjahat.