Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 220. Gift from Mr. Sableng



Bab 220. Gift from Mr. Sableng


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kediaman Ajisaka


Riuh rendah suara tamu yang saling bercengkrama menikmati sajian lezat bercitarasa tinggi itu, membuat Ajisaka tersenyum puas. Tak salah ia menggelontorkan dana yang fantastis untuk penyelenggaraan acaranya kali ini. Ia mengucap syukur sebab gelaran acara itu sudah sesuai ekspektasi.


Rara tak menyanyi sebab Yudha tak mengijinkan. Pria itu kini tahu arti cemburu sejak memacari Rara. Dia yang dulu cuek dan sama sekali tak mempedulikan perasaan wanita yang menggandrunginya, kini bagai terkena karma karena cemburu itu rupanya cukup menyiksa rasanya.


" Kita pindah!" Ucap Yudha seraya menarik lengan Rara yang asik menikmati makanan lezat di mejanya. Pria itu kesal sebab ada salah satu rekan Aji yang sedari tadi melirik Rara dengan penuh maksud.


" Loh mau kemana sih?" Rara bahkan kebingungan demi merasai sikap Yudha. Pria itu semakin aneh saja.


Pandu dan Fina tengah berbincang dengan beberapa tamu serta teman mereka yang tidak tahu kabar pernikahan mereka yang juga baru tergelar beberapa bulan yang lalu.


" Kami menikah di kota, jadi maaf kalau teman-teman semua tidak kami undang. Semua karena keterbatasan kami!" Pandu memohon maaf kepada teman-temannya yang seangkatan dengan dirinya dan Ajisaka, yang melayangkan protes sebab tidak di undang.


Sementara itu di suatu tempat di lokasi lain, tempatnya di dalam rumah Yudha yang berisikan para pegawai yang menghias kamar pengantin terlihat ketegangan terjadi.


Sukron diduga berbuat onar karena tanpa sengaja merusak bunga sedap malam yang akan di pasang di kamar pengantin itu. Membuat seorang wanita murka.


" Kamu ini gimana sih!! Aduh!!!" Wanita itu frustasi dan terlihat stress manakala melihat bunga putih berbau harum itu, yang sudah terpisah dari tangkainya.


" Apa? Memangnya kenapa?" Tanya Sukron yang masih tak menyadari jika bunga yang ada di depannya itu merupakan bunga asli.


Wanita itu memasang wajah penuh permusuhan, Sukron momong Damar sedari dari. Dan ia tidak tahu jika Damar memainkan bunga itu.


" Kamu ini aneh sekali, kalau copot kan tinggal pas ....!" Sukron mendelik demi mengetahui jika itu merupakan bunga asli. Astaga, ia terbiasa dengan alat berat di pabrik dan perintilannya, jadi mana tahu soal bunga.


Wanita itu kesal dan seketika berjalan maju seraya menabrak pundak Sukron. " Wong edyan!" Maki wanita itu dengan perasaan marah.


.


.


Sementara itu di belahan bumi lain,


" Bagiamana?" Tanya seorang pria yang kini menghubungi seseorang yang menjadi anteknya.


" Sudah bang, tadi sudah saya bawakan!"


" Bagus. Terimakasih banyak ya!"


Sakti menatap hamparan perkebunan anggur dari lantai tiga kamarnya dengan tersenyum senang. Pandangannya menerawang. Hari ini hari bahagia sahabatnya, namun ia tak bisa hadir karena posisinya saat ini.


Namun mendengar paketan dari miliknya sudah mendarat dengan selamat atas campur tangan anteknya itu, membuat ia bernapas lega.


" Maafkan aku Ji, aku bahagia dengar kamu menikah!" Ucapnya bermonolog sambil menyusut air matanya dengan senyum kecut.


Namun sejurus kemudian,


BRAK!!!


Ia berjingkat kaget saat pintu kamarnya terbanting dengan kerasnya. Menampilkan Anjana yang membawa dua koper dan terlihat kesulitan masuk.


" Wanita itu? Untuk apa kemari?"


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Sakti yang kini berjalan menyongsong kedatangan Jana.


" Aku tidur disini!" Ucap wanita itu datar. Melempar tubuhnya yang benar-benar terasa lelah.


What?"


" Apa kamu bilang?" Sakti tentu saja mendelik. Wanita mengerikan itu benar-benar membuatnya ingin mengumpat.


" Aku menggantikan James dan akan mengawalmu kemanapun kau pergi. Jika kau keberatan, kau bisa menanyakannya kepada bos. Oh ya satu lagi...tolong bereskan lemarimu yang itu, karena aku akan menempati kasur yang ini!" Tunjuk Anjana tanpa rikuh seraya mengangkat kopernya menuju ranjang Sakti.


" Apa? Enggak-enggak, aku lebih senang dekat dengan jendela!" Sergah Sakti mendebat wanita kuat itu.


Anjana menatap Sakti dengan tatapan elang. Membuat pria itu meneguk ludahnya dengan tatapan ragu.


" Astaga wanita ini!"


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sukron mengumpat berkali-kali karena apa yang pernah terlontar dari mulutnya terjadi juga. Dino tergelak saat ia melihat wajah Sukron yang monyong, sebab Damar nyatanya ingin ikut bersama paman rambut blue fire malam itu.


Membuat Ajisaka Double win, karena ia akan melenggang ke jalan bebas hambatan. Ahay!


" Damar kenapa enggak ikut Ayah sih?" Tanya Sukron mencoba berdiplomasi.


" Kamarnya bau wangi Damar pusing, om Sukron tadi di marahin Tante rambut jagung ya?"


Sukron mendelik, demi mendengar ucapan Damar yang rupanya tahu jika ia sempat adu mulut dengan wanita cerewet yang bertanggung jawab soal kamar pengantin tadi.


" Kok kamu tahu?"


" Damar minta maaf ya Om, habis tadi bunganya wangi banget. Damar pusing!" Ucap pria itu memanyunkan bibirnya.


" Udah jangan pada manyun, jadi Damar mau nginep dirumah Om Sukron enggak?" Tawar Sukron.


Damar mengangguk, " Mau om. Besok pagi kita gowes ya? Kan hari Minggu. Tadi Kakung bilang enggak boleh ganggu Ayah sama Ibuk dulu, katanya mereka pasti capek!"


Sukron tergelak dalam hati. "Tentu saja mereka akan capek Mar. Orang mereka pasti langsung tancap gas buat bikini adonan adik kamu"


.


.


Widaninggar


Ia baru saja mandi dan menggosok rambutnya yang masih basah menggunakan handuk. Ia hanya mengenakan handuk kimono yang membungkus tubuh polosnya.


Kamar Aji sangat luas, tiga kali lipat dari ukuran kamarnya. Kamar yang sudah di desain sangat cantik. Tidak kalah dari sentuhan ajaib kamar hotel kelas kakap itu membuat Wida senang.


Wida tersenyum melihat bunga mawar merah yang berada di pojok kamar itu. Wida sangat menyukai bunga dengan aroma yang alami.


Tapi, dimana mas Aji? kenapa suaminya itu tidak ada di kamarnya. Padahal pria itu kan sudah mandi tadi.


Wida membuka pintu kamar rumah Aji lalu menjengukkan kepalanya keluar. Dan benar saja, ia menemukan suaminya yang duduk menekuni sejumlah kado yang barusan di usung oleh para pekerja yang masih berlalu lalang disana.


" From SS?" Gumam Aji yang tak menyadari jika istrinya telah berada di belakang punggungnya.


" Siapa itu mas?" Tanya Wida yang heran dengan naman SS yang terpahat diatas kertas yang bertengger rapih diatas bungkusan besar itu. Membuat Aji terperanjat.


" Kamu sudah sekali, astaga!" Ucap Aji yang memegangi dadanya karena terkejut.


" Dari siapa?"


" Enggak tahu, enggak ada namanya" Aji terlihat berpikir namun sejurus kemudian membuka sepucuk surat yang ada di diatas tempat note itu.


...Jangan khawatirkan aku, sebab aku baik-baik saja....


...Jangan marah padaku sebab aku tidak pantas mendapatkan itu....


...Jangan mengatakan aku lebay, sebab kamu juga kadang alay....


..."Selamat karena telah resmi menjadi Ayahnya Damar. Aku bahagia mendengar hal itu."...


...Pelukku untukmu yang mudah nesu....


^^^Pria yang sering kau sebut sableng.^^^


Mata Aji mengabur sebab air bening itu kini bertumpuk di pelupuk matanya. Ia tahu itu merupakan tulisan dari Sakti. Tapi... siapa yang mengantarkan bungkusan ini?


Dan, darimana Sakti tahu jika ia menikah hati ini padahal ia sama sekali belum mengirimkan undangan kepada pria itu, karena memang tidak tahu kemana rimbanya.


Wida terlihat melangkahkan kakinya dan kini duduk sembari mengusap punggung suaminya yang tengah mencoba menguatkan diri, akibat tulisan di secarik kertas itu.


Aji terharu demi sepucuk surat yang berasal dari sahabatnya yang entah berada dimana.


" Dari Mas Sakti?" Tanya Wida lirih.


Ajisaka mengangguk dengan dada sesak " Tapi siapa yang tadi mengirimkan ini?" Aji masih penasaran, jelas orang yang mengirimkan bingkisan ini pasti tahu menahu soal keberadaan Sakti.


" Isinya apa mas?" Wida menjadi sangat penasaran akan isi kotak besar itu.


" Kita buka!"


Aji melipat sepucuk surat itu, lalu meletakkannya diatas meja. Lengan pria yang hanya mengenakan kaos oblong dengan celana joger panjang itu kini terlihat mengetat, demi membuka bungkusan yang membuat dua pasutri baru itu penasaran.


" Hah?" Ucap Ajisaka yang terkaget karena rupanya muncul satu kotak lagi saat ia berhasil membuka bungkusan kotak itu.


" Sialan si Sakti!" Aji sempat mengeluarkan umpatannya sebab ia merasa Sakti telah mengerjainya.


Dan benar saja, kotak diatas segala kotak yang rupanya banyak sekali menimbulkan sampah itu sukses membuat Aji sebal.


" Ni anak benar-benar niat banget ngerjain kita deh Wid!" Gerutu Aji yang membuat Wida tergelak manakala pria itu terlihat kesulitan membuka jalinan selotip terakhir.


Akhirnya, delapan bungkus kotak itu telah selesai ia acak-acak. Mata Aji dan Wida membulat saat melihat sebuah benda yang kini terlihat mengisi kota terkahir yang berukuran kardus setrika.


" Astaga!" Wida merinding manakala ia melihat pakaian seronok tipis dengan warna merah menyala yang jelas di tunjukkan untuk dirinya.


" Sialan si Sakti!" Ucap Aji yang kini terkekeh saat menyerahkan lingerie seksi itu kepada istrinya.


Namun, Aji mendadak mendecak kesal saat ia mengambil benda lain dari dalam kotak itu, yang tak lain merupakan sebuah botol bertuliskan obat kuat yang terbungkus sebuah kertas.


" Jangan kasih kendor, pastikan aku sudah memiliki keponakan baru saat aku kembali nanti!"


Membuat Wida kini sangat malu bukan main, astaga bagiamana bisa pria sableng itu mengirimkan mereka hadiah macam ini.


Oh ya ampun!!


.


.


.


.


.


.


.