Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 167. Manusia dengan segala ceritanya



Bab 167. Manusia dengan segala ceritanya


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Yudha


Ia kini mengibaskan bajunya yang kotor akibat tertempeli debu dan tanah legam di pasar itu. Ia menatap kesana kemari demi melihat situasi. Benar-benar sepi dan hanya tersuluh cahaya temaram dari lampu ber-watt rendah warna kuning di pojok bangunan.


Dengan perasaan kesal, ia kini terlihat kembali menuju motornya. Pria itu mengusap wajahnya kasar.


" Sialan, bisa kalah gitu aku!" Rutuknya pada diri sendiri.


Sejurus kemudian ponsel di sakunya bergetar. Siapa yang menghubunginya?


Hesti calling...


Belum juga rasa amarah di dadanya hilang, kini Hesti terlihat menghubungi dirinya. Membuat suasana makin badmood saja.


" Apa?" Sahutnya ketus. Benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan kekesalan di hatinya.


" Aku minta maaf!"


Yudha menarik napasnya dan terlihat membasuh wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar sumpek bin mumet saat ini.


" Ada apa Hes?" Tanya Yudha yang sebenarnya kasihan dengan wanita itu. Meski jauh di relung hatinya, ia masih ingin menyelidiki terkait kehamilan friend with benefitnya itu.


" Besok antar aku beli baju ya. Bajuku udah pada enggak muat!"


Yudha terlihat memijat- mijat keningnya. Benar, perut wanita hamil makin lama akan makin membesar. Ia tak boleh melupakan hal itu.


" Besok kamu libur kan?"


.


.


Pandu


Ia meninggalkan Ibunya berdua dengan Bayu dirumahnya. Pria itu kini terlihat menemui Fina di rumah Bu Asmah. Baru saja seharian bersama kini rindu susah berani menyerangnya.


" Kamu serius?" Tanya Fina yang terlihat membawa dua gelas berisikan coklat hangat untuk menemani obrolan mereka di gazebo belakang rumah Bu Asmah yang lebar.


" Aku udah mikirin ini jauh-jauh hari Fin. Pak Bayu...maksudku Ayah, tidak mungkin akan tinggal disini. Pekerjaannya ada di sana!" Ucap Pandu yang kini meraih cangkir berisikan coklat hangat buatan Fina itu, lalu meminumnya. Terasa hangat di tenggorokan.


Fina lekat menatap wajah kekasihnya yang selalu memiliki pemikiran idealis itu. Selalu berhasil menawan hatinya.


" Tapi...kamu bakal sendiri disini?" Ucap Fina muram.


Pandu meletakkan cangkirnya lalu beralih menggenggam tangan Fina sembari mendaratkan kecupan lembut ke punggung tangan wanita itu.


" Untuk itulah aku mau bekerja keras Fin. Biar aku bisa segera nikahin kamu dan enggak sendirian lagi. Gimanapun juga, aku enggak mau bikin hidup kamu sama anak-anak kita nanti kayak hidupku dulu!"


Pandu membelai wajah Fina dengan tatapan sendu. Membuat hati Fina berdesir bercampur rasa haru karena Pandu yang terlihat semakin maskulin akan ucapannya barusan.


Pandu terlihat sangat gentle.


" Aku sayang banget sama kamu Fin!" Pandu memeluk tubuh Fina dengan erat. Meresapi rasa kebahagiaan yang kini merasuk ke relung kalbunya.


" Aku juga sayang banget sama kamu Ndu. Aku sabar buat nanti hari itu!" Ucap Fina yang juga semakin mengerutkan pelukannya.


.


.


Ajisaka


Ia sama sekali tak konsen saat Dino dan Sukron tengah sibuk menjelaskan beberapa hal penting seputar laporan laba milik usahanya.


" Jadi begitu bos, kita bulan ini untung dua kali lipat karena harga sewa murah namun harga jual naik!" Tutur Dino yang kini dibuat bingung karena bosnya itu malah melamun.


" Bos!" Panggil Sukron menepuk lengan pria itu. Membuat Ajisaka seketika tersentak dari lamunannya.


Oo dasar gemblung!


" Sory..sory...gimana tadi?" Pria itu membasuh wajahnya dengan kasar. Astaga, kenapa memikirkan Wida bisa membuat dirinya bloon begini sih?


Kini Dino dan Sukron saling menatap. Bosnya itu waras enggak sih?


" Omset kita bulan ini naik bos. Besok lusa ada satu orang yang meminta kerja sama lagi dengan kita. Tapi mereka minta jenis produk baru dari olahan lain. Untuk sementara ini, saya sepertinya tertarik dengan jamur tiram bos, kita bisa memberdayakan para petani jamur di dusun sebelah jika bos berminat. Karena kalau mau buat keripik nangka, kita masih terkendala bahan baku bos. Varian baru siapa tahu mendapat tempat juga di hati pelanggan!"


Ucap Dino panjang lebar. Pria itu selain loyal juga cerdas dan inovatif.


" Oke saya setuju. Atau kalau tidak, kita juga buat saja saja sendiri Din. Besok kamu pilih orang-orang buat ikut pelatihan untuk membuat jamur tiram!"


" Kamu atur berdua sama Sukron, kebetulan saat ada teman yang udah lebih dulu produksi jamur!"


" Kalau kurang tenaga kerja, ya kamu rekrut orang baru lagi. Yang penting pasin aja sama dana. Biar semua lancar!"


Sukron mengangguk senang, bosnya itu sangat cekatan dan yang paling ia suka adalah sikap bosnya yang suka menolong meski mudah marah. Ya namanya orang punya kelebihan dan kekurangan bukan?


" Sebenarnya...tadi pagi Bu Wida kemari bos!" Ucap Sukron sejurus kemudian. Terlihat takut.


" Apa? Kok kamu enggak ada bilang ke saya?" Aji terlihat protes kepada anak buahnya itu.


Sukron meneguk ludahnya. Enggak ngomong salah, ngomong ya jadi begini ini.


" Tenang dulu bos. Tadi pagi sampai siang bos kan kerumahnya mas Pandu acara nikahan Bu Ambar. Sore tadi bos istirahat, baru ketemu kita sekarang!" Ucap Dino yang berusaha melakukan gelar perkara.


" Bener bos, tadi...Bu Wida nitip ini!"


" Ya kan kamu bisa telpon saya! Kenapa Wida juga nggak ada nelpon ke saya?" Gerutunya sembari menyaut benda yang di angsurkan oleh Sukron.


Aji seketika menatap sebuah bungkusan berwarna putih dengan mata berbinar. Apa itu?


"CK, harusnya kamu ngomong dari tadi sebelum kita rapat!" Ucap Aji masih saya tidak mau kalah. Padahal benda sudah di tangan. Dasar Aji!


Ajisaka berniat membuka bungkusan putih itu namun urung. Melirik dua anak buahnya yang sepertinya turut penasaran dengan isi kotak itu " Keluar kalian, kita lanjut besok lagi!"


"Hadehhh! Giliran dapat sesuatu dari Bu Wida aja langsung berubah gitu wajahnya. Dasar!" Gerutu Sukron dalam hati. Dino yang mengetahui isi hati Sukron seketika terkikik geli. Jelas rekan sejawat itu tengah mengatai bosnya.


Sepeninggal Sukron dan Dino, kini Aji menekuni sebuah bungkusan dengan ukuran sedang itu dengan hati sumringah.


Ia membukanya lalu mendapati sebuah kotak di dalamnya. Membuat hatinya makin meledak dibuatnya.


Mata Ajisaka berbinar kala menemukan sepucuk surat dalam kotak itu.


...Salam...


... Aku baru tahu kalau pinjamanku di Agung Wilis sudah mas tutup. Kenapa repot sekali mas?...


...Apa enggak berlebihan?...


... Ini aku buatin kemeja sama kue buat Mas. Maaf belum bisa beli kain yang lebih bagus, tapi aku jamin bajunya nyaman di pakai kok!...


...Ponselku rusak, aku dua Minggu ini mau nemenin kang Darman ke kota. Sekali lagi terimakasih banyak mas!...


... Widaninggar....


Kembang api di hati Ajisaka kini meletup-letup menimbulkan ledakan kebahagiaan. Ia segera menjenguk isi kotak yang rupanya benar berisikan kue dan sepotong kemeja warna hijau Army.


Kemeja yang halus dengan jahitan rapih dan model yang Aji suka. Ah benar-benar calon istri idaman.


" Astaga, bagiamana bisa dia tau ukuran ku?" Aji bahkan senyam-senyum sendiri demi melihat pakaian buatan Wida tersebut.


Ah indahnya jatuh cinta!


.


.


.


.