Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 161. Dinamika Kehidupan



Bab 161. Dinamika Kehidupan


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


" Empat kata mendatar, pernyataan mengabulkan, kotak terakhir huruf N!" Sakti mengetuk-ngetukan pulpen biru itu ke kepalanya dengan raut wajah berpikir.


Mirip orang yang mengikuti ujian kesetaraan.


" AMIN!" Sahut Dino siang itu yang turut istirahat siang di warung ternyaman seantero Kalianyar. Kedai Cak Juned.


" Maksudnya?" Tanya Sakti tak mengerti.


"CK, pertanyaannya tadi apa? Pernyataan mengabulkan, empat kotak mendatar, huruf terakhir N kan?" Ulang Dino menatap Sakti yang berwajah bloon.


Sakti mengangguk, "Iya!"


" Ya, itu jawabannya AMIN!" Dino mendengus sebal.


Ia masih hanyut dalam lamunannya saat Sakti dan Dino yang berada di sampingnya, tengah ribut mengisi teka-teki silang. Buku dengan slogan penghilang stres, namun pada kenyataannya justru makin membuat stress. Lantaran sulitnya menebak jajaran isi kotak yang kadang tidak relevan.


Membuat mumet saja.


" Ah iya, encer juga otak lu Din!" Sahut Sakti dengan mata berbinar kala huruf demi huruf itu match dengan kotak itu.


Aji masih tertegun dengan perkataan yang diucapkan oleh Pak Atmojo. Tak menyangka jika waktunya akan selama itu. Disinilah titik kesabarannya benar-benar akan di uji. Seketika ia meneguk ludahnya sendiri. Apa bisa kuat dia menahan dirinya?


" Kalau begitu doang, kecil Mas. Mana yang lain pertanyaannya apa?" Sahut Dino jumawa. Membuat Sakti menyebikkan bibirnya.


" Kopinya biasa atau gimana mas?" Cak Juned bertanya dari meja kerjanya yang berada di belakang dengan nada sedikit berteriak karena meja favorit Aji and the gank berada di sisi paling barat.


" Iya lah kayak biasanya aja!" Sahut Sakti.


" Aku susu jahe aja Cak, lagi kurang enak badan!" Dino menyahut dengan gerakan memeluk tubuhnya sendiri yang seperti orang meriang.


" Kurang enak badan jangan minum susu jahe, minum susu yang lain Din, dijamin langsung waras, hahahaha ya nggak Ji?" Sakti terkekeh seraya menyenggol Ajisaka yang duduk di sampingnya.


" Ji!" Ucap Sakti mengulang ucapannya karena merasa sahabatnya itu tak jua menyahut.


" Ah elah, malah ngelamun!"


Kini, Sakti dan Dino saling adu pandang demi melihat Ajisaka yang terlihat tercenung. Entah apa yang di pikirkan pria berusia 28 tahun itu. Wajahnya terlihat ditekuk.


Benar-benar membuat mereka berdua penasaran.


.


.


Kediaman Bu Asmah


" Gimana Fin, udah kamu hubungi papa kamu. Jangan lupa selalu kasih kabar!" Ucap Bu Asmah yang kini menata menu sarapan untuk mereka.


Fina mengangguk, " Aman Oma, hari ini aku mau nemenin Jenita buat interview beberapa pelamar!"


" Jenita?" Tanya Bu Asmah kepada cucunya, sembari turut mendaratkan tubuhnya ke kursi makan itu.


Bu Asmah mengangguk, tak mengira jika cucunya saat ini bisa sudah lebih matang dalam memikirkan kelangsungan usaha mereka.


" Kamu sendiri? Pandu enggak ikut?"


Fina menggeleng usai memasukkan suapan kedalam mulutnya, " Dia hari ini juga sibuk Oma, bengkel besarnya buka perdana besok. Dia buka toko onderdil besar juga di sampingnya. Belum lagi, dia sibuk ngurusin ini itu buat persiapan Om Bayu sama Bu Amb...!"


Fina mendelik demi tersedak ucapannya sendiri.


Oh tidak, Fina keceplosan.


Bu Asmah menatap Fina dengan tatapan penuh selidik.


" Bayu? Yang kapan hari di sewa papamu?"


"Haish, dasar mulut!"


Fina meringis. Gimana dong?


"Jadi aku kalah taruhan ini!" Ucap Bu Asmah dengan bibir mengerucut. Membuat Fina membulatkan matanya heran.


" Kalah taruhan?" Ucap Fina mengulang.


Bu Asmah mengangguk " Aku taruhan sama si Yayuk, ternyata yang nikah si Ambar dulu dari pada kamu!" Sahut Bu Asmah tanpa dosa.


Dan demi apapun yang ada di jagat raya ini, Fina detik itu juga tersedak saat ia meneguk segelas air putih yang baru saja telan. Terbatuk-batuk hingga hidungnya mengeluarkan air.


" Fin, kamu ini gimana sih? Mbok ya pelan-pelan!" Bu Asmah bangkit dengan wajah cemas.


" Uhuk- Uhuk!" Bahkan batuknya masih saja terus terjadi walau Oma-nya sudah menepuk-nepuk punggungnya.


Fina menyusut hidupnya yang penuh dengan lendir bercampur cairan. Terasa panas.


Pandu mengatakan kepada Fina untuk tidak menyebarluaskan berita ini terlebih dahulu. Sebab ibunya ingin hal seperti ini tak terlalu di gembar-gemborkan terlebih dahulu. Takut mengundang aral melintang.


" Jadi Oma sudah tahu?" tanya Fina terperanjat.


" Ya tahu lah Fin, Oma tahu waktu papamu membicarakan hal ini sama Lidia. Yang namanya Bayu itu bahkan udah datang kerumah papamu beberapa waktu yang lalu cuma mau ngebahas soal ini!" Sahut Bu Asmah yang kembali menarik kursi meja makannya, lalu mendudukkan tubuhnya kembali.


Sejurus kemudian Bu Asmah tersenyum dengan tatapan menerawang. Melipat kedua tangannya sambil mesam-mesem sendiri.


" Tapi baguslah Fin. Ambar masih muda dan cantik. Selain itu, besok kalau kamu nikah biar pas itungannya. Ada wali lengkap nanti kamu!"


Kening Fina makin berkerut. Tak mengerti maksud ucapan Oma-nya.


" Masa iya pas temu manten kamu sungkeman sama mbok Rondo. Kalau Ambar nikah duluan, itu bagus. Hah, Oma jadi seneng dengernya. Apalagi, pria bernama Bayu itu sepertinya sangat dewasa!" Bu Asmah terlihat tersenyum penuh kepuasan.


" Papamu jadi punya besan lengkap nanti!"


Fina menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat wajah Oma-nya berbinar sewaktu membahas calon mertuanya.


Haishh, dasar Oma!


.


.


.


.


Lanjut nanti sore ya buebo. Mau jenguk mbahku dulu yang lagi sakit 🀟😘