Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 207. Nerveous



Bab 207. Nerveous


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Ia tergugu dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ibunya. Ia tahu, kedua orangtuanya beberapa minggu ini sering memberondong dirinya dengan pertanyaan- pertanyaan yang sejenis.


Kenapa jarang keluar? Terus kenapa Aji dkk sering nanyain kabar kalau ketemu beliau?


Semua memang ada saatnya. Titik mula perubahan sikap Sakti adalah saat tanpa sengaja, Yudha menjadi rivalnya secara diam-diam. Dan disaat persoalannya telah clear, ia kini justru merasa ketiga sahabatnya telah memiliki kehidupan yang lebih sibuk dibanding dengan dirinya.


" Mereka wong sibuk, lagian habis acara aku musti cepet-cepet balik. Mau ketemu seseorang, udah janjian dari kemaren lusa!" Sahut Sakti yang kini lebih sering murung. Membuat kedua orangtuanya bingung.


Kemana anak-nya yang dulu periang dan suka ngomong ngawur itu?


Menjadi dewasa benar-benar Membuatnya harus mengganti mindsetnya juga. Ia tentu tidak mau begini- begini aja. Dan untuk soal Rara, hatinya tersenyum kecut manakala mengetahui jika Yudha telah meminjamkan uang kepada wanita itu dalam jumlah yang besar.


"Tentu saja, sebab aku tidak akan mampu!"


" Kalau ada masalah jangan lari Sak, di selesaikan baik-baik. Kamu dari kecil udah sama mereka, aku aja yang ngelihat jadi rikuh, apalagi kalian yang menjalani!" Tutur Bapak. Merasa sedih.


Sakti tertegun, andai mereka berdua tahu bila masalah sebenarnya bukan itu.


" Aji punya pabrik...Pandu sekarang udah punya bengkel dan yang kudengar di bakal sering riwa- riwi ke kota karena kantor kijang kencana bakal dia pegang, dan Yudha...." Ia tersenyum sumbang saat menjawab hal itu " Yudha memiliki posisi yang bagus di kantor tempatnya bekerja, selain itu ia juga memiliki usaha yang besar dirumahnya, sedangkan aku?"


Kedua orang tua Sakti menatap muram anaknya. Ya...semua itu memang kebenarannya


" Aku bukan siapa-siapa!"


.


.


Pandu


Ia tengah di dalam kamar yang berbeda dengan Fina saat ini. Telah selesai mengenakan setelan jas beserta tuxedo juga dasi kupu-kupu yang bertengger gagah di bawan jakunnya.


Pandu ganteng.


Hati berdebar namun senyum dipaksa untuk bersinar. Astaga, apa kebahagiaan yang terkadang berlebih bisa membuat orang seperti spot jantung?


Oh ya ampun, Pandu belum pernah segrogi ini.


" Ndu!" Suara Ibu membuatnya menoleh. Matanya berbinar menatap Ibu yang sangat cantik dengan kebaya elegan yang membuat ibunya terlihat lebih muda.


" Ibuk!" Pandu menyongsong kedatangan Ibunya dengan sedikit berlari " Ayah mana?" Tanya Pandu kembali.


" Ayahmu sedang menemui anak buahnya yang bertugas!" Ibu terlihat membetulkan kerah jas yang ia kenakan. Membuat hati Pandu menghangat.


" Perlakukan istrimu dengan baik sama seperti kamu memperlakukan Ibuk selama ini!" Ucap Ambarwati dengan terus sibuk membetulkan posisi dasi yang dikenakan putranya.


Membuat Pandu menelan ludahnya. Hatinya mudah sekali tersentuh jika Ibu susah memulai berbicara serius seperti saat ini.


" Kalau ada salah musti kamu betulkan. Jangan main kasar!" Suara Ambar tercekat saat mengatakan hal itu. Membuat mata Pandu berkaca-kaca.


" Jangan pernah mengangkat ini ( meraih tangan besar Pandu) sama wong wedok yo le?" Ibu menatap Pandu dengan mata yang mengembun.


" Ibuk!" Pandu merengkuh tubuh ibu yang lebih pendek darinya dengan erat. Pria itu menangis bahagia.


" Selalu ingat bagiamana sulitnya kamu mendapatkannya, saat roda kehidupan tengah di bawah yo le...semoga rumah tanggamu nanti diberkahi yang kuasa!"


Mereka berdua menangis haru.


" Makasih Buk....makasih sudah merawat Pandu dengan baik sampai sekarang!" Pandu menitikkan air mata manakala ia memeluk erat tubuh ibunya yang juga sudah bergetar karena menangis bahagia.


Bayu yang berada di ambang pintu tanpa sengaja mendengar hal itu, menjadi menghentikan langkahnya. Pria itukini terlihat turut mengusap kedua ujung matanya dengan jari.


Huft, astaga. Terlalu bahagia rupanya juga bisa membuat hati sesak.


.


.


Serafina


Menjadi raja dan ratu semalam, adalah kiasan yang selalu tersemat bagi pengantin yang akan menggelar pesta. Yeah!


Ia sedari kemarin telah di temani oleh Dita, bestie yang sudah teruji klinis, baik dari luar maupun dari dalam.


" Okey udah selesai!" Ucap pria bencong yang menjadi anggota team MUA Fina pagi jelang siang itu.


Fina mengenakan dress dengan punggung tertutup untuk akad nikah, sementara akan berganti lagi untuk acara resepsi nanti.


" Duh aku nerveous banget Dit!" Fina langsung menyambar memegangi tangan Dita saat mengatakan hal itu.


" Ngapain Nerveouse? Tinggal duduuak aja lagi!" Sahut pria bencong dengan suara sengah.


Membuat Dita dan Fina saling tukar pandang.


" Eike capcuss dulu yah... melek dari ayam mulai berkokok belum sempet tidur cin...dah....!" Ucap manusia yang mengakui namanya adalah Titik.


Dita bergidik ngeri, " Dapat begituan dari mana sih lu. Untung bagus make-upnya!" Gerutu Dita yang sebenarnya merinding. Kenapa manusia setengah komposisi itu selalunya bagus sewaktu mendandani manten.


" Namanya kak Titik!" Tukas Fina.


Dita mengerutkan keningnya, " Titik? Totok kali...!" Dita tergelak, sungguh manusia ini...banyak sekali ragamnya.


"Bus lambemu! Enggak tau juga sih Dit, dia udah join sama MUA yang aku pesen kemaren kok. Gimana, catering aman?" Tanya Fina memastikan.


" CK, elu itu manten ngapain mikir catering segala. Udah ada yang ngurus!" Dita mendengus. Bisa-bisanya Fina itu.


" Ya...aku kan memastikan, jangan sampai kayak kejadian yang di Rita kapan hari itu. Bisa malu kita!"


" Aman! Sahut Dita yang kini selesai merapikan baju Fina.


Suasana hening, kini hanya terdengar suara langkah Dita yang mendekati Fina yang baru saja selesai memasang giwang.


" Selamat ya Fin, gue seneng akhirnya elu nikah hari ini!" Mata Dita berkaca-kaca saat ia menatap wajah cantik Fina.


Ia tahu bagaimana perjalanan cinta Fina yang tidak begitu beruntung di awal-awal.


" Duh, elu jangan gitu dong. Gue bisa di marah sama orang tadi kalau make-up ku luntur gegara nangis!" Fina nampak sangat terharu. Bagiamanapun juga, Dita merupakan orang yang tahu perjalanan cinta mereka.


" Bahagia selalu yang sayangku?" Ucap Dita. Mereka berdua akhirnya berpelukan seraya tertawa dalam tangis.


.


.


Tepat jam 11 siang, para tamu terlihat mulai memadati ballroom hotel. Para kolega dan sahabat dari kedua keluarga, tumpah ruah memadati gedung luas nan megah itu.


Susuan meja kursi dengan aksen elegan, makin membuat suasananya semakin nyaman.


Di ujung gedung itu, terdapat pelaminan dengan panjang lebih dari lima belas meter. Terdapat stage besar, yang digunakan MC dan juga pemain musik untuk mengisi acara disana.


Event organizer yang menangani acara ini juga tidak main-main. Fina benar-benar definisi dari perfeksionis yang nyata.


Sebuah meja yang sudah di itari oleh kursi-kursi mewah terlihat menunggu kedatangan mempelai, yang akan melaksanakan ijab kabul.


Riuh rendah suara tamu mulai terdengar lebih padat. Para bodyguard dari Kijang Kencana juga di terjunkan langsung guna mengamankan jalannya acara.


Para leader ; Abimana, Rendy, Theodor, Andhika, Andreas, Harimurti, dan juga beberapa anak buah lainnya yang menduduki kursi penting di kijang kencana turut hadir. Terlihat tampan dengan pakaian terbaik mereka masing-masing.


Bahkan Mansur, pria tambun yang menjadi penolong Pandu di awal-awal pencariannya untuk membalas dendam itu juga terlihat hadir.


Pandu benar-benar orang yang tidak lupa kacang akan kulitnya.


Yudha yang terlihat gagah dengan jas yang lebih casual, namun wajah galau yang masih tak jua memudar. Sangat berbeda dengan Sukron yang saat ini sumringah, karena telah mengecat warna rambutnya menjadi hitam kembali. Pria itu berdalih, jika wanita akan lebih suka dengan pria yang rapih.


" Emang ada yang mau sama kita?" Ucap Dino mencibir.


" Ya kali aja itu ada pelayan hotel yang ayu- ayu, ada yang kecantol ama kita Din!" Sukron terkekeh- kekeh sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru gedung yang d lekas di padati tamu.


Lain lagi dengan Aji yang kini berbinar-binar demi melihat Widaninggar yang terlihat sexy dan cantik.


Astaga!! Sebuah dress tanpa lengan membebat tubuh ramping wanita itu. Rambutnya ia sanggul sederhana, dengan aksen yang tidak mencolok, serta makeup tipis yang makin membuat Wida segar.


Wida cantik sekali jika di make up begitu, membuatnya makin resah saja. Bagiamana bisa Aji membiarkan Wida berjalan seorang diri, bisa di sikat orang lain kalau begini caranya.


"Aku kesana dulu!" Ucap Aji menyongsong Wida yang masih terlihat bingung untuk mencari mejanya. Membuat ketiga pria itu mencibir seraya menggelengkan kepalanya.


" Kayaknya habis ini, elu yang bakal jadi tim mumet mas Kron!" Cibir Dino saat menatap punggung Ajisaka yang telah menjauh dari mereka.


" Ya...bener, palingan bulan depan mereka udah ngacir manggil penghulu!" Sahut Sukron terkekeh.


Dalam hati Yudha senang, tapi entahlah. Seraut wajah penuh kegalauan itu makin tak bisa ia sembunyikan. Ia rindu kepada Rara.


.


.


.


.


.


.


.


Udah pada masuk belum? Di meja pinggiran aja yak, yang nyempil biar enggak kelihatan. Entar kita grebek si Aji sama si Wida. Enak aja mereka enak-enakan sementara yang dua masih ongosh...Kel Kel Kel 🀣🀣🀣