
Bab 13.Kesempatan yang terlewat
^^^" Bisa jadi rasa aneh yang timbul saat kau berjumpa seseorang, adalah petunjuk dari hadirnya cinta!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Jika dilihat dari roman- romanya, Serafina kini nampak tidak sejutek saat awal bertemu dengan Pandu, di kesempatan yang kurang baik beberapa hari yang lalu.
Seolah terhipnotis dengan aroma Pandu yang tanpa seijinnya, masuk dan mengendap di otaknya. Membuat fantasinya berkeliaran.
" Terus mobilnya?" Fina menautkan kedua alisnya, seraya mengajukan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ia utarakan lagi.
" Mobilmu tidak dan hilang, lagipula siapa yang akan mencuri mobil mogok!" Ucap Pandu seraya mengenakan kembali kemeja yang ia sampirkan di stang motornya.
Fina tertegun mendengar jawaban Pandu yang telak menampar jiwanya sebagai wanita terpelajar. Bodoh sangat!
" Ayo cepat, ini sudah malam!" Ucap Pandu yang sudah menyalakan mesin motornya. Pria itu menggulung kemejanya sebatas siku, membuatnya terlihat ganteng dua kali lipat.
Fina meneguk ludahnya seketika, pria di depannya itu terlihat keren meski sikapnya masih sama datarnya saat perjumpaan pertama dengan dirinya.
Fina menaikkan satu kakinya, dan kini bokongnya sudah mendarat sempurna di sadel motor yang hanya muat untuk dua orang itu. Pandu harus menggeser tubuhnya maju agar Fina mendapatkan tempat.
" CK, motor ini sempit juga kalau di pakai boncengan!" gerutu Fina dalam hati, ia bahkan harus maju dengan menggeser tubuhnya agar tak jatuh.
Tak senagaja dua benda kenyal miliknya, menyenggol punggung Pandu yang terasa keras dan liat. Membuatnya tersulut gelenyar aneh.
" Sudah?" tanya Pandu.
Ia hanya mengangguk dengan kikuk, namun bisa Pandu lihat karena ia menoleh saat mengajukan pertanyaan itu.
Motor bermesin 144 CC itu kini dilajukan oleh Pandu, Fina sempat terkejut dan langsung memeluk tubuh harum Pandu saat motor itu tersentak.
Ya, motor kelas off-road itu memang garang. Cocok untuk medan terjal seperti jalanan di desa itu yang penuh kerikil dan bebatuan.
" Maaf!" Fina kembali meminta maaf saat ia menyadari telah memeluk tubuh pria itu lagi.
" Hemm.. jalannya memang berbatu, dan motorku tidak bisa dibuat pelan!" sahut Pandu.
Fina menatap kepala Pandu dari belakang. Tengkuk pria itu bersih, badannya tegap dan aroma tubuhnya khas laki banget. Oh sial.
Lamunan itu terasa membuat perjalanan kian singkat, tanpa terasa ia sudah sampai di depan rumah neneknya.
" Aku antar!" ucap Pandu.
" Tidak perlu!" dan demi apapun yang ada di dunia ini, itu adalah malam yang menjadi titik balik Fina dalam bertutur kata yang baik kepada Pandu. Meski belum sepenuhnya sih.
Pria itu tak menggubris ucapan Fina, ia terus melangkah. Terlihat Ajiz yang masih berbincang dengan Bu Asmah.
" Loh Pandu, gimana mobilnya?" Bu Asmah yang melihat Pandu muncul di ambang pintu ruang tamunya itu, seketika angkat bicara.
" Mobil itu lama tidak di pakai ya Bu, besok saya bawakan aki baru. Kebetulan dirumah ada. Saya kemari hanya mengantarkan Fina!"
Serafina yang di sebut namanya oleh Pandu itu seketika merasakan sesuatu yang aneh. Pria itu tahu namanya rupanya. Padahal, mereka tak pernah berkenalan sebelumnya. Fina menarik senyum di sudut bibirnya.
" Ya sudah, besok saja tidak apa-apa!" jawab Bu Asmah.
" Mungkin ada beberapa komponen lain yang aus, besok akan saya cek Bu!"
" Cih, sama Oma aja banyak banget ngomongnya. Lah ke aku?" ia membatin seraya mencibir.
Bu Asmah tersenyum " Terimakasih Pandu, besok kamu urus ya. Saya sangat berterimakasih!"
" Saya pamit Bu, Lik Ajiz mari!" Sapa Pandu menunduk penuh hormat.
Ia langsung membalikkan tubuhnya, pria itu menatap Fina sekilas dengan wajah biasa. Ia hanya mengangguk sebagai arti dari pamit kepada Fina.
Sementara yang di tatap mendadak grogi. What happen with me?
.
.
Fina senyam senyum sendiri demi mengingat Pandu. Pria dengan tubuh bagus itu agaknya mulai mengusik pikirannya. Membuatnya resah.
Ia membuka chat dari Dita.
Lusa aku berangkat
Pesan dari Dita tambah membuat Fina happy. Ia kemudian membuka koper berukuran sedang, tempat ia menaruh perlengkapan lukisnya dari kota. Sejurus kemudian ia mengambil sebuah easel stand ( sejenis tripod untuk meletakkan kanvas).
Imajinasinya malam itu mendadak terisi, ia tergiur untuk melukis. Ia adalah gadis yang menguasai beberapa aliran seni lukis, salah satunya Aliran Naturalisme.
Entah mengapa, sorot mata tajam milik Pandu membuatnya tertarik untuk melukis. Gambaran wajah yang terkesan jarang ia temui. Wajah khas iklim tropis, yang menyiratkan keindahan sejati.
Usai mencampur beberapa cat kedalam wadah khusus, gadis itu menuangkan apa yang ada di otaknya, dengan garis warna warni yang ia rindukan.
Tapi mendadak ia sedikit lupa dengan bentuk pipi dan bibir pria itu. Pikirannya mendadak blank . Ia baru menyelesaikan bentuk mata yang lekat dalam ingatannya.
" Huft, besok aja lah aku kerjakan lagi!" Fina tersenyum, berharap besok bisa bangun pagi dan melihat Pandu membetulkan mobilnya.
Tapi sepertinya biasa, harapan atau niat yang di gadang-gadang dalam hatinya selalu ngelawus begitu saja. Fina kembali bangun siang.
Ia terbangun saat ponselnya bergetar.
Dita Calling...
" Ya Dit?" ucapnya dengan suara parau, sembari menguap lebar.
" Lu baru bangun tidur ya, aku gak jadi berangkat besok. Aku udah di dalam kereta ini!"
Fina seketika mendelik, kesadarannya langsung terkumpul seribu persen. Gadis itu melirik jam di nakasnya dengan posisi masih menelungkup.
07.15
" Hah, sialan!" umpatnya karena ia pasti melewatkan kesempatan untuk melihat wajah serius Pandu.
" Halo Fin, kok elu ngumpat ke gue sih!" sepertinya sahabat Fina itu menggerutu.
Fina memijat keningnya " Ya udah, entar WA aku aja kalau udah mau nyampek ya. Entar aku jemput!" Benar-benar hamsyong. Kebiasaannya bangun siang benar-benar sama sekali tak menguntungkan dirinya.
Fina memukuli keningnya dengan jarinya sendiri. Tapi kenapa neneknya tidak membangunkannya jika sudah siang begini.
.
.
Fina tak mandi, ia hanya mencuci muka dan menggosok giginya. Hal itu wajib ia lakukan, karena napas mulut saat baru bangun pagi jelas amat meracuni.
Usai menutup pintu kamarnya , sayup-sayup terdengar suara orang berbicara.
" Kalau begitu saya pamit Bu, ini kunci mobilnya!" Suara itu jelas suara Pandu, membuat Fina dengan gerakan cepat menuju ruang tamu.
" Ini untuk..." Bu Asmah menyerahkan lima berisikan uang untuk Pandu.
" Egh ....tidak usah Bu, saya ikhlas membantu!" tolak Pandu sopan.
" Loh kok jadi begini, itu aki kan juga kamu beli. Ini ambil dan jangan di tolak ini rejeki!"
" Tolong kamu terima, udah ambil!" Bu Asmah memaksa Pandu dengan raut wajah cemas dan takut jika pria itu menolak.
Pandu tertegun, keadaannya memang tengah membutuhkan lembaran rupiah itu. Pria itu mengulum senyum lalu meraih amplop tebal itu.
Untung saja ia masih memiliki aki mobil baru dirumahnya. Kejarangan orang yang membetulkan mobil ke bengkelnya, membuat dia mengurangi belanja sparepart dan suku cadang mobil. Ia lebih concern ke motor. Kendaraan yang kerap memberinya rupiah.
" Terimakasih banyak Bu!" Pandu sungkan, Bu Asmah orang baik. Tapi, ia benar-benar membutuhkan itu untuk menambah simpanannya untuk mengoperasikan Ayu.
" Kalau begitu saya pamit Bu, terimakasih!"
Fina mengintip interaksi keduanya dari samping tembok. Alasan apa yang ia gunakan untuk menemui Pandu? Apalagi, mengapa dia tidak pede jika harus berpenampilan acak-acakan seperti pagi itu.
Fina hanya bisa mengintip dari jarak lima meter.
Degan napas lesu, ia harus merelakan imajinasinya tak terbayar. Ia menatap Pandu yang kini menghilang dari balik pintu itu. Sejurus kemudian, terdengar bunyi motor seseorang yang sepertinya menjemput Pandu, usai mengantarkan mobil Bu Asmah.
" Kamu ngapain disini Fin?"
Fina mendadak gelagapan karena kepergok neneknya. Jawaban apa yang harus ia beri?
.
.
.
.
.
.
.
.
Hallo Readers, alur cerita Mommy seperti biasa beralur slow ya. 😁