
Bab 23. Misunderstanding
^^^" Jika kau sudah terbiasa dengan Badai, lantas mengapa engkau kini goyah hanya karena rintik hujan?"^^^
...πππ...
.
.
.
Semburat jingga di ufuk barat perlahan berganti dengan rona gelap yang menentramkan. Malam kini menemani Fina yang merasa kesepian. Entahlah, labirin di hatinya mendadak merumit kembali.
Sebagai wanita normal, dikaruniai rasa suka terhadap lawan jenis itu adalah naluri yang alami. Apalagi dengan Pandu. Ya, meski harus ia akui, ia memang agak sedikit memaksa dirinya agar bisa melupakan Riko.
" Fin, jalan yuk. Besok gue udah sibuk banget dan bakal jarang ketemu kamu!" Dita sudah berdandan cantik malam itu.
Dita merasa bosan, ia yang terbiasa nongkrong di kota, kini harus agak susah menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang desa.
" Kemana? gue belum tahu daerah sini!" sergah Fina yang males melakukan apapun.
" Ya kemana kek, kan ada google map. Urusan tempat sama jalan cincay lah!" eyel Dita.
" CK, elu yang bawa mobilnya kalau gitu!" Fina benar- benar malas sekali malam itu.
"CK, iya deh!" Dita memanyunkan bibirnya. Tidak masalah, asal ia bisa keluar malam ini.
Dari rumah Bu Asmah, Dita dan Fina melihat lapangan bola voli yang berjarak empat rumah dari kediaman neneknya itu, terang benderang. Terlihat juga suara sound yang mengalunkan lagu dengan volume sedang namun masih bisa terdengar dari sana.
" Ada apa itu Fin, rame banget!" Dita memanjangkan lehernya agar bisa melihat riuh rendah para kawula muda di lapangan.
Fina baru ingat, sebentar lagi kan akan di adakan turnamen Voli di lapangan itu.
" Gak tau juga, tapi bentar lagi mau ada turnamen!" ucap Fina seraya menguncir rambutnya asal.
" Fin, bawa ini ke lapangan, sisanya biar di bawa mbak Yayuk!" Bu Asmah mendadak muncul dari belakang. Wanita tua itu memang sibuk di dapur bersama Yayuk sedari sore. Entah apa yang dibuat.
Fina dan Dita tertegun melihat satu ember tahu walik lengkap dengan sausnya. Membuat Fina dan Dita saling menatap.
" Buat yang lagi kerja bakti itu, mereka benerin lapangan itu sampai malam!" Tutur Bu Asmah yang melihat dua gadis itu malah melongo.
Kini Fina tahu, sejak sore neneknya itu rupanya sibuk membuat panganan untuk orang kerja bakti
" Ayo mbak, saya tak bawa buahnya. Mbak Dita bantuin bawa teko yang isinya kopi ya!" Yayuk muncul dengan kerempongan yang ia buat.
Dita justru senang bila ia dilibatkan dalam hal seperti itu. " Boleh mbak, ayok!"
" Kenapa gak beli aja sih, ribet banget begini!" gerutu Fina. Dari kesemua orang disana, hanya dia yang tidak senang.
"Lain ladang lain belalang. Ini desa Fin, umumnya begini!" Bu Asmah menggelengkan kepalanya tak mengerti.
Tiga orang wanita lintas usia itu berjalan beriringan, dari kejauhan Fina bisa melihat Pandu beserta para teman-temannya sudah berbadan mengkilap karena peluh.
" CK, dia disana juga ya!"
Rupanya tak hanya Oma-nya saja yang memberikan makanan dan minuman untuk para pemuda dan semua yang terlibat dalam acara itu, beberapa warga juga terlihat berbondong-bondong memberikan yang mereka punya.
Ubi, singkong, kerupuk bahkan aneka buah-buahan lokal juga terlihat menggunung di meja itu. Mirip seperti sebuah sesajen untuk gelaran acara pentas kuda lumping.
" Wah, rame banget Fin. Gak jadi pergi ah, lihat ini aja. Rame banyak orang!" Dita malah kegirangan, tapi tidak dengan Fina.
" Huh, ni anak!" Gerutu Fina.
" Mas Pandu, ini kopi sama tahu waliknya, kasih tahu yang lain ya!" tukas Yayuk sambil meletakkan barang bawaannya ke meja panjang yang tersedia di sana.
" Makasih Mbak Yayuk!" sahut Pandu dari jarak tak lebih dari sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.
Pandu tetap saja ganteng, Fina mendadak menjadi insecure. Apakah dia menyukai kekasih orang? begitu pikirnya. Buru-buru ia menepis perasaannya. Ia tentu tak mau menjadi seperti Shila.
" Mbak Yayuk!" sapa Sakti dari tempatnya berjongkok, tengah merajut net.
" Ya mas!" sahut Yayuk untuk Sakti. Membuat Dita dan Fin turut memandang pria berwajah manis itu.
" Tahu gak mbak kenapa langit diatas gelap?" ucap sakti.
Yayuk mendongak ke atas memandang langit yang malam itu memang gelap tak berbintang, sejurus kemudian ia menggeleng menatap sakti " Enggak tahu mas!"
" Karena Bintang yang menerangi langit ada disini!" ucap Sakti menatap kehadiran dua wanita cantik.
" Di samping mbak Yayuk!" Sakti terkekeh usai mengucapkan kalimat mautnya.
" Taik lu Sak, gak bisa lihat yang bening dikit!" cibir Yudhasoka sembari sibuk mengecat garis lapangan.
" Mulai tu bedebah!" tukas Ajisaka yang bersama Pandu tengah sibuk menulis angka untuk skor.
Sementara Pandu hanya terkekeh " Jangan kasih kendor Sak!"
Dita tertunduk malu tapi senang, sementara Fina memutar bola matanya malas.
" Ih Fin, ini di desa tapi orangnya ganteng-ganteng banget!" Dita kegirangan, gadis itu bahkan senyum-senyum sendiri melihat puluhan orang yang di dominasi pemuda itu.
" Elu tuh ya! Celeng ( babi hutan) di kasih Pomade aja, juga elu kata ganteng Dit..Dit!" Fina mendengus.
" Yeee!" Dita menyebikkan bibirnya semi mendengar ucapan Fina yang tak pro dengan dirinya.
Pandu menatap Fina dengan tersenyum, tapi Fina berwajah biasa. Ia ingat dengan gadis yang di peluk Pandu tadi.
" Ndu, ada salak ni. Mau gak?" ucap seorang pria yang menuju meja tempat berkumpulnya para makanan dari warga.
" Sisain ya, buat kesayangan!" sahut Pandu teringat akan Ayudya yang suka sekali dengan buah berkulit seperti sisik ular itu.
" Beres, buat kesayangan ini yang satu janjang!" sahut pria yang usianya lebih tua dari Pandu.
Fina langsung menatap Pandu yang mengatakan hal itu. " Cih, kesayangan!" hatinya langsung mencelos.
" Fin, ayo kesana itu lihat warga yang lagi pasang stand untuk official pemain itu!" Dita senang dengan keadaan di desa itu.
" Ogah ah, ngapain!" Fina terlanjur malas.
" Saya antar aja yuk Mbak, sambil beli cimol itu disana. Saya kok kepingin!" ucap Yayuk.
" Ayok...ayok mbak, saya yang traktir!" Dita kegirangan. Agaknya pembantu Bu Asmah itu, saat ini lebih mengasyikkan ketimbang sahabatnya itu.
Ya, kerumunan orang yang banyak itu membuat beberapa pedagang skala mikro turut menjajakan jualan mereka disana. Praktis, kini Fina mendecak sebal karena disana seorang diri.
Fina memilih duduk di bangku yang terbuat dari susunan bambu yang di paku rapih. Ia lebih memilih menyibukkan diri dengan menggulir ponselnya.
Matanya membulat saat melihat akun baru dengan foto Riko yang men-Dm ( Direct Message) dirinya melalui Instragram.
"Kamu dimana Fin, please kita perlu bicara"
" Aku bakal cari kamu, aku harus menjelaskan yang kamu lihat kapan hari!"
" Aku sayang sama kamu!"
Fina mengeraskan rahangnya saat membaca kalimat pesan dari Riko." Menjijikan!" ucapnya dalam hati.
Anak Guntoro itu langsung ingin memblok akun baru itu, tapi urung. Sejenak ia berpikir. Bagiamanapun juga Riko adalah pria yang ia sukai dari dulu, tapi sekelebat bayangan Riko yang berciuman dengan Shila membuatnya kesal.
" Brengsek!" akhirnya kata yang ada dalam hatinya , kini malah justru terlontar. Membuat Pandu yang tak sengaja melintas di samping Fina karena hendak mengambil tali itu menjadi terperanjat.
" Siapa yang brengsek?" tanya Pandu menatap Fina.
" Hah, oh...enggak. Emmm!" Fina belingsatan sekaligus terkejut, karena Pandu tiba-tiba muncul disana.
Pria itu diminta untuk mengambil tali yang tertinggal di bawah dudukan yang kini di tempati Fina. Sementara teman-temannya beserta warga lain, sudah berpindah ke sisi barat.
Pandu dan Fina kini saling menatap, ada debaran aneh yang Fina rasa kala mata elang Pandu bertemu dengan dua netranya.
" Kamu kenapa? apa aku ada salah lagi?" Pandu mendadak mengajukan pertanyaan itu. Membuat Fina bingung.
" Maksudnya?" tentu saja Fina harus mengatakan hal itu, lantaran ia benar-benar tak mengerti maksud Pandu.
" Kamu jadi ketus lagi dan pasang wajah gak ramah. Aku gak tahu salah apa lagi sama kamu, tapi jika aku ada salah aku minta maaf!" sejurus kemudian Pandu berlalu dari hadapan Fina.
Pria itu kembali berkumpul bersama Ajisaka dan yang lain, untuk segera menyelesaikan gawean mereka.
Fina tertegun, kenapa pria itu malah berkata-kata seperti itu.
Ketus?
Wajah gak ramah?
.
.
.
.