
Bab 61. Mencari pelaku (Part 2)
^^^" Ada banyak persolan yang tak akan selesai hanya karena emosi!"^^^
.
.
.
...πππ...
KLAK KLEK
Pandu seketika terdiam sembari mengangkat kedua tangannya ke atas saat mendengar sepucuk senjata yang di kokang oleh seseorang.
Ia tak takut apalagi sekedar merinding. Namun, ia hanya melakukan gerakan yang sesuai prosedur saja.
Rupanya pria berkaos hijau botol itu yang melakukanya. Meski dengan tangan gemetaran. Karena jelas jika suasana hati orang itu tengah diliputi oleh ketakutan.
" Jangan macam-macam!" Ucap orang itu dengan suara takut yang tak bisa di sembunyikan.
" Atau akan aku tarik pelatuk ini?" Ucapnya makin gusar. Benar-benar payah.
Pandu berdiri dengan posisi masih sama. Tangannya masih ia angkat ke udara. Menyuguhkan wajah datar dan tak bergeming.
Pandu membalikkan badannya, ia menatap wajah pria yang menodongkan senjata ke arahnya itu, rupanya sudah berwajah pucat. Pria itu benar-benar ketakutan. Mungkinkah jika dia bukan salah satu bodyguard itu?
" Kenapa kau tidak menembakku?" Kini Pandu menatap wajah pria itu malas. Cenderung muak.
Pria itu menelan ludahnya dengan sangat susah. " Kalau kau mendekat, maka akan aku tembak!" Ancam pria itu sembari mundur ke belakang.
Pandu menarik senyuman dari sudut bibirnya.
Dug
BRAK
Pandu dengan gerakan cepat menendang tangan pria itu dan membuat sepucuk pistol itu terpelanting ke lantai.
Membuat pria itu terkejut dan berwajah makin pucat. Kini ,Pandu meninju wajah pria itu dengan begitu keras.
Bug
" Ampun! Ampun! Jangan bunuh aku!" Pria itu memohon dengan sangat.
" Dasar Sampah!" Maki Pandu sembari hendak melayangkan tinju yang kedua
" Jangan tolong jangan sakiti aku, aku hanya cleaning servis!" Ucap pria itu ketakutan sembari mengatupkan kedua tangannya dengan gerakan memohon dan memejamkan mata kepada Pandu.
Membuat Pandu seketika teringat akan Mansur. Pandu kini menatap wajah ketakutan pria itu dengan geram. Ia membatalkan aksinya.
Sungguh pria itu bahkan bisa mencium aroma kegarangan seorang Pandu yang masih kembang kempis mengatur napas.
Badas dan sangat liar.
" Antar aku menemui bosmu!"
.
.
BRAK
Suara Pintu yang terbuka lalu di banting oleh Pandu itu sukses mengundang atensi dari penghuni ruangan itu. Pandu juga masih setia mencengkeram kerah pria berkaos hijau botol itu dengan geram.
Tiga orang pria di sebuah ruangan itu sontak terkejut dengan kehadiran Pandu. Lebih tepatnya terkaget.
" Ma-maaf bos! Mas ini ma-mau bicara!" Pria berkaos hijau botol itu kini dengan terbata-bata mencoba berbicara kepada seroang pria yang duduk di kursi kebesarannya.
Pria dengan kewibawaan yang kentara.
Dua pria seusia Pandu segera berdiri dan menodongkan pistol ke arah Pandu. Namun Pandu masih bergeming.
" Turunkan pistol kalian atau aku robek leher pria ini!" Ancam Pandu yang kini menarik sebuah belati dari balik punggungnya.
Membuat dua orang itu saling melempar tatapan bingung.
" Turunkan!" Ucap Pria paruh baya yang Pandu pastikan pasti merupakan bos mereka. Membuat dua anak buahnya itu menurut.
" Apa maumu?" Tanya pria itu. Pria yang ia ketahui namanya lewat tulisan yang terpahat serta terpajang di ukiran memanjang diatas mejanya.
...Bayu Arsyanendra...
...Direktur Utama...
CLRAARK
Pandu melempar sebuah kalung yang menjadi cikal bakal dirinya datang ke tempat itu kepada Bayu. Membuat Bayu dengan gerakan tergopoh menangkap benda itu lalu melihatnya dengan cermat.
" Dimana dia?" Tukas Pandu tak mau berbasa-basi.
" Apa kalian sengaja memerintahkan pria itu untuk menghabisi nyawa adikku. Katakan, siapa yang memerintah anjing seperti kalian?"
Pandu benar-benar geram.
Dua anak buah Bayu terlihat mulai mengeraskan rahangnya, kala mendengar Pandu yang mengucap kata anjing kepada mereka.
Bayu terperanjat saat melihat benda yang di lemparkan Pandu kepada-nya. Namun, ia terlihat menarik seulas senyum sejurus kemudian. Siapa pria di depannya itu. Selain aura yang begitu mengintimidasi, mengapa ia juga kenal dengan Raditya.
" Maaf, tapi kamu tidak bisa memberikan informasi apapun kepada orang asing!" Jawab Bayu dengan raut wajah tak bisa di tebak.
Membuat buncahan emosi di dada Pandu, kini terpantik kembali. Membuncah dan kian membara.
" Brengsek!"
Bug
Pandu langsung memukul tengkuk pria yang ia sandera itu dengan kerasnya. Seketika pandangan pria itu kabur lalu merasa penglihatannya gelap.
Bruk
Pria itu kini telah tak sadarkan diri. Limbung dan terkolek tak berdaya ke lantai mengkilat kantor itu.
Dua pria berseragam bodyguard di depan Pandu kini langsung menyerang Pandu secara bersamaan. Bayu kini bersidekap dan lebih mengamati ke cara Pandu dalam berkelahi.
Sungguh berbeda. Siapa pria itu pikirnya.
Pandu terlihat menghindar, lalu sesekali meninju wajah dan menendang kaki dua bodyguard itu.
Perkelahian benar-benar tak terelakkan.
" Dhika, Satya! One by one!" Titah Bayu yang membuat dua anak buahnya itu mendelik. Mengapa bosnya itu memerintahkannya untuk berkelahi secara Single?
" Maju!" Andhika lebih dulu memerintahkan rekannya Satya untuk melawan Pandu. Menunjuk ke arah Pandu dengan menggunakan dagunya.
Ya, mereka kini berkelahi dengan tangan kosong.
Dengan gerakan cepat Pandu menyerang Satya. Meski sesekali ia juga terkena tendangan di perutnya, namun pantang bagi Pandu untuk menyerah.
Dan kini Pandu terlihat memiting leher Satya lalu membantingnya dengan keras ke atas meja kaca itu.
Pryaaang
Kaca itu kini telah pecah. Hancur berkeping-keping seperti hati Pandu yang semakin geram. Mengapa mencari satu orang pria itu saja susahnya minta ampun.
Satya terlihat meringis kesakitan saat tubuhnya menimpa meja kaca itu.
" Tahan!" Titah Bayu yang melihat Dhika akan maju karena sahabatnya itu kini kesakitan.
" Cepat katakan dimana pria itu!" Dengan terangah-engah Pandu menatap Bayu dengan kobaran kemarahan di matanya.
" Hey, sopan lah sedikit kepada bos kami!" Dhika langsung menendang wajah Pandu dengan gerakan Capoeira. Membuat Pandu kini terjerembab ke lantai.
" Sudah aku katakan, kita tidak bisa menginformasikan apapun kepada orang asing!" Tutur Bayu meski dengan tatapan lain kepada Pandu.
Pandu hanya mengeraskan rahangnya kala mendengar suara Bayu.
" Keparat!" Pandu kini mengumpat kala ia merasakan cairan asin yang kental yang bersarang di mulutnya.
Ya, bibir Pandu robek karena tendangan Dhika.
Pandu kini bangun meski dengan rasa kepala yang begitu pusing. Mulai memasang kuda kuda, dan..
Bug
Pandu menyerang Dhika dengan gerakan cepat yang hampir tak bisa di baca oleh Dhika. Dhika seketika mundur ke belakang dengan menabrak berbagai lemari yang memuat berbagi file penting disana.
" Brengsek!"
Bug
Pandu meninju rahang kiri Satya. Membuat wajah pria itu kini terlempar ke arah kanan. Kini mereka bisa merasakan seberapa besar kekuatan seorang Pandu.
Satya yang lekas bisa berdiri kini turut menyerang. Namun Bayu terlihat membiarkan dua anak buahnya melawan Pandu.
Brak
Dug
Bug
Suara yang nyaris seperti biasa terdengar saat ini. Keadaan disana pun sudah sangat kacau balau. Nyaris tak berbentuk.
Dhika mengait leher Pandu dengan kencang sampai wajah pria itu memerah. Pandu mengeraskan rahangnya, pikirannya ingat akan wajah pucat adiknya, tangis ibunya, dan keadaannya di desa. Mengingat itu semua membuat Pandu seolah mendapatkan kekuatan lebih.
Dug
Pandu menendang wajah Satya dengan kakinya saat pria itu hendak mendekat. Sejurus kemudian dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ada Pandu menjadukkan kepalanya ke wajah Dhika.
" Argggggghhh!" Dhika meringis kesakitan seraya memegangi hidungnya yang kini terasa pedih dan berdenyut.
Dan saat pria itu lengah, Pandu yang tengah dilanda emosi yang memuncak kini terlihat mengangkat tubuh Dhika, lalu membanting tubuh pria itu dengan sangat keras.
Braaak!
Dhika menggeliat saat tubuhnya dibanting dan menimpa beberapa rak dokumen yang berada disana. Benar-benar kalah telak.
Bug
" Brengsek!"
Bug
" Apa kalian sama sekali tidak memiliki hati, hah!" Pandu kini menangis demi merasakan kekecewaan dan rasa lelah di hatinya. Pria itu terus menghujani wajah Dhika dengan kepalan bogem mentah dari tangannya yang kekar.
Wajah Dhika sudah babak belur. Kini Pandu yang juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya menyenderkan kepalanya sejenak saat melihat musuhnya telah terkapar.
Pandu menangis.
Ia lelah.
Bayu kini nanar menatap wajah Pandu yang sepertinya begitu berbeban berat. Ia juga melihat anak buah terbaiknya yang kini sudah terkapar.
Bayu seperti menangkap sesuatu di otaknya. Cara berkelahi dan juga tangis serata emosi saat mencari Raditya, jelas menggambarkan jika Pandu benar-benar tersulut dendam.
Bayu kini terlihat berpikir. Mereka kalah dengan Pandu yang tanpa persenjataan. Benar-benar luar biasa.
Pandu kini menatap sengit ke arah Bayu. Pandu bangkit dengan rasa sakit yang menjalar di perut dan bagian punggungnya. Wajahnya pun juga terlihat memar di sana sini.
Ia berniat pergi sebelum pria di depannya itu memanggil polisi pikirnya.
Namun terlambat dari luar mendadak terdengar derap langkah orang. Pandu tersentak kala melihat tiga orang bersenjata lengkap menatap tajam ke arahnya.
KLAK KLEK
Mereka mengokang senjatanya dan di arahkan kepada Pandu.
" Tahan!" Ketiga bodyguard itu terperanjat saat Bayu justru menahan mereka. Membuat Pandu yang kini memegangi perutnya menatao bengis ke arah Bayu lalu melesat keluar dengan keadaan kacau. Pandu lebih baik pergi dulu, meski hatinya masih diliputi pertanyaan, mengapa Bayu membiarkannya pergi dan tidak menangkapnya?
Persetan dengan itu. Ia merasakan kepalanya mulai berat. Darah di bibirnya juga tak mau berhenti mengalir.
" Tapi bos?" Sergah salah satu anak buah Bayu.
Bayu mengangguk seolah memastikan untuk membiarkan Pandu pergi. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh Bayu. Pria itu merasa telah memiliki sebuah pemikiran.
" Biarkan dia pergi, all unit tolong pergi dari semua tempat!" Titah Bayu ketika menekan tombol earpiece kepada seluruh anak buahnya yang ada.
Membuat kesemua yang disana menatap bos-nya dengan wajah tak mengerti. Mengapa demikian.
.
.
Diluar gedung
Pandu
Otaknya masih ingat dengan wajah Bayu yang menatapnya tak biasa. Ditambah, mengapa kini keadaan diluar sangat sepi. Harusnya saat ini banyak dari mereka yang tahu jika ia telah membuat kekacauan.
Atau menyerbunya mungkin. Tapi mengapa dia dengan mudahnya melenggang menuju luar.
" Auwhh!" Pandu meringis kala merasakan sakit di perut dan punggungnya. Benar-benar nyeri tak terperi.
Pandu berjalan agak gontai dengan keadaan kacau dan wajah babak belur. Jelang tengah malam itu suasana di kota masih sangat ramai.
TIN TIN
Berkali-kali Pandu nyaris saja tertabrak oleh kendaraan yang malam itu berlalu lalang disana.
Kepala Pandu benar-benar pusing.
" Woy cari mati lu!"
" Minggir brengsek!"
" Woy, gila lu ya!"
Suara-suara sejenis yang memaki dirinya menjadi hal yang mendadak ia rasakan begitu menghujam relung hati.
Ia tak boleh mati konyol disana. Tidak boleh.
Dan saat ia hendak menyebrang.
CIT!!!
Suara decitan mobil yang nyaris menabraknya bahkan menari-nari di telinganya. Hampir saja ia tertabrak. Namun sejurus kemudian.
Bruk
Pandu merasa tak sanggup lagi berjalan. Sepertinya kepalanya yang tadi terhantam oleh tendangan Dhika benar-benar serius.
Disaat yang bersamaan, ia mendengar pintu mobil yang nyaris menabraknya itu terbuka bersamaan dengan derap langkah seseorang yang menghampirinya
" Pandu?" Suara seorang wanita yang terdengar sangat terkejut membuatnya menoleh.
Oh sial, bolehkah ia untuk tak bertemu dulu dengan wanita itu disaat yang seperti ini ?
.
.
.