
Bab 64. Namanya Pandu
^^^" Bagai Harimaumu menyembunyikan kuku ( seseorang yang merendah, dengan menyembunyikan kepadanya kelebihannya!)"^^^
.
.
.
...πππ...
Kantor Kijang Kencana
"Gimana?" Tanya Bayu dengan mimik serius malam itu. Pria dengan usia matang itu kini terlihat mengusap dagunya berulang kali sembari menunggu Rendy yang sibuk melihat, mengotak-atik dan meneliti rekaman CCTV.
Satya dan Andhika bahkan sudah terlihat duduk dengan wajah bonyok. Sibuk meredam nyeri secara bergantian.
" Dapat!" Ucap Rendy yang puas saat bisa melihat rekaman ruangan dimana Doni dan empat orang lain termasuk pria dengan kaos hijau botol itu, tengah asik berpesta.
" Kumpulkan mereka semua sekarang juga!" Titah Bayu dengan geram. Membuat Satya dan Dhika saling menatap.
Ada apa?
Doni mabuk berat. Pria berkaos hijau botol yang tak lain adalah teman Mansur yang bagiannya sama. Sementara tiga orang lain ialah bodyguard yang terhitung masih belum lama bergabung disana. Anjar, Dollar, dan Ucok.
Sama-sama babak belur dengan duduk menghadap di bawah gempuran mata Bayu, yang mengandung kilatan kemarahan.
" Katakan yang sebenarnya atau kalian harus enyah setelah ini!" Bayu benar-benar berada di titik kemarahannya saat itu.
...πππ...
Serafina
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali kala sorot fajar menembus kaca bening hotel itu. Mengusik tidurnya yang terasa nyaman. Bahkan sangat nyaman.
Fina menguap seraya meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dan saat bangun, " Astaga! Diamana aku?" Ucapnya dengan wajah celingak-celinguk karena bingung.
Ya seperti kebanyakan orang, kita sering tak sadar atau bahkan cenderung lupa dengan kejadian semalam, saat otak kita belum sepenuhnya normal usai pulang dari bermimpi.
Fina mengedarkan pandangannya, matanya membulat demi mengingat jika ia semalaman telah membuat kesepakatan bersama Pandu.
Lebih tepatnya ia ingat jika ia dan Pandu berada dalam satu kamar hotel.
" Aku tidur di sofa, kamu di kasur aja. Punggung kamu masih luka itu!"
Ia bahkan ingat anggukan kepala Pandu yang menurut usai ia mengucap perkataan tersebut.
Namun, pertanyaannya mengapa ia kini yang berada di kasur? Dan tunggu dulu, kemana perginya Pandu?
Apakah Pandu yang ....
Oh no!
.
.
Pandu
Kendati ia bukan merupakan golongan orang taat dan orang suci yang mungkin kuat dan tahan melawan hasrat terlarang, tapi agaknya otaknya benar-benar masih bisa diajak kerja sama kala itu.
Ia kini tengah berada di hotel melati tempatnya menginap. Ia berniat akan check out dari tempat itu.
Mandi dan mengganti baju dengan sisa baju bersih yang ia bawa. Ia kini harus pergi dari tempat itu, takut jika Bayu dan anak buahnya menuntut balas.
Begitu pikirnya.
Meski dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya akibat perkelahian antar sesama pria bertenaga kemarin, ia tetap harus melangkahkan kakinya pagi itu.
" Loh mas Pandu kok udah mau check out?" Minceu memasang wajah muram. Hilang sudah penyegar matanya saat itu.
Minceu yang pagi itu merubah rambutnya bak jilatan api yang berkobar membuat Pandu syok. Ia terlihat seperti lava girls versi ngondek.
Lunyu dan kemayu.
Sejak kapan?
" Iya, makasih ya ceu. Ini kuncinya!" Seperti biasa, ia selalu tersenyum ramah kepada setiap makhluk hidup. Tak terkecuali mahkluk jenis tulang lunak macam minceu.
Minceu memanyunkan bibirnya " Emmm aku masih belum rela deh!" Ucapnya menyerahkan kembali kartu tanda pengenal milik Pandu yang memang harus berada di sana selama Pandu menginap.
" Tititdije ya mas!" Ucap Mince kemayu, membuah Pandu terkekeh seraya memasukkan card resmi dari pemerintah itu, kedalam dompetnya.
" Aman!" Ucapnya sembari terkekeh.
.
.
Dipersimpangan jalan ,Pandu sempat merenung dan menatap nanar aliran sungai yang keruh dari atas jembatan.
Bagiamana sekarang? Ia sudah sejauh ini, tapi berjuang seorang diri benar-benar membuatnya menyadari. Ekspektasi seringkali tak berbanding lurus dengan kenyataan.
Agaknya Bayu benar-benar tak akan memberikan informasi apapun perihal Raditya. Membuatnya kini mengacak rambutnya frustasi.
Mengapa hidupnya terlalu sulit. Bahkan sejak masa kanak-kanak. Nyaris tak merasakan indahnya hidup bahagia dalam arti sebenarnya.
Orang tua lengkap, keadaan cukup, atau pekerjaan yang baik. Tapi persoalan sebenarnya bukan itu. Ia hanya ingin hidupnya tenang. Itu saja sudah lebih dari cukup.
" Maafin Mas Yuk!" Ia kini menatap wajah cantik Ayu yang tersenyum , foto yang masih ia simpan di galery ponselnya.
Setetes air mata terlihat keluar dari sudut netra Pandu.
Haruskah ia menjadi kriminal agar dendam yang membara dalam hati tersalurkan?
Otaknya kini tak bisa di ajak berpikir taktis. Oh jelas, nasibmu bukan nasibku! Sh it!
Dalam hitungan sepersekian detik, bersamaan dengan hatinya yang masih gundah gulana. Sebuah mobil hitam dengan isi beberapa orang mendadak berhenti di bahu jalan tepat di depan Pandu meratap.
" Hey kalian mau ap....!"
Bug
Sebuah pukulan mendadak terlayangkan ke wajah Pandu. Membuat pria itu mendelik. Ada empat orang berpakaian serba hitam disana.
Dan seorang pria yang mengenakan kacamata hitam, terlihat menunggu di dalam mobil.
Pandu meraba sudut bibir yang kini kembali koyak. Terasa asin dan pedih kala cairan kental itu tak sengaja masuk ke mulutnya.
" Brengsek!" Ucap Pandu geram. Baiklah, terlanjur basah sekalian saja menyelam. Begitu pikirnya.
Meski lambung dan organ dalamnya belum terisikan oleh apapun pagi itu, namun jangan di tanya kekuatan seseorang yang tengah dilanda emosi.
Dalam beberapa detik saja, keempat pria itu kini sudah tergeletak terkapar dengan wajah meringis kesakitan. Pandu dengan napas memburu menatap ke empat pria asing itu.
" Apa mau kalian?" Pandu terlihat mengusap bibirnya ke lengan atasnya dengan sekali gerakan.
Dan sejurus kemudian.
Prok Prok Prok
ia malah mendengar suara tepuk tangan dari dalam mobil. Bersamaan dengan kaca mobil yang kini turun dengan sempurna.
" Wow! Lihat!" Pria itu tersenyum penuh kebanggaan, menatap Pandu yang masih kembang kempis dengan wajah bingung.
" Pria itu kan?" ucap Pandu menatap wajah seseorang dengan lekat.
.
.
...Flashback...
Bayu
Ia telah menghajar tiga orang yang turut mabuk bersama Doni menggunakan tangannya sendiri. Sementara Doni tengah mereka rendam ke dalam bak mandi besar di kantor mereka.
Pria silan itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya setelah ia sadar nanti.
Mabuk berat dan terus meracau di kantor adalah perpaduan yang menjijikan. Doni benar-benar di ujung tanduk karirnya.
" Siapa sebenarnya pria itu?" Bayu mengamati cara Pandu berkelahi dari layar monitor yang kini di tampilkan oleh Rendy.
Degan saksama ia memperhatikan cara Pandu membuat Doni dkk remuk redam beberapa jam yang lalu.
" Ren, bisa kau cari identitasnya?"
Rendy terlihat menggeser video lain. Selain menjadi orang kepercayaan Bayu, pria itu ahli dalam bidang IT.
" Ia kemaren datang dan bertemu SPV CS, aku dapat dari rekaman yang di depan!" Jawab Rendy menatap Bayu.
Muncul keyakinan dalam hati Bayu " Panggil SPV itu!"
.
.
Mansur
Dengan wajah bingung Mansur pagi itu diminta mengahadap keruangan direktur. Ada apa pikirnya. Apa dia baru membuat kesalahan?
Harap - harap cemas ia berjalan menuju ruangan atas. Tempat dimana tulisan yang kerap membuat semua karyawan ngeri.
...Bayu Arsyanendra...
...Direktur Utama...
Mansur tertegun kala melihat video yang di tunjukkan oleh Rendy. Pria yang kemaren duduk di bangku sebelahnya sewaktu di dalam bus, kenapa terlihat seperti pemain di film-film begitu.
Asli ngeri.
" Yang saya tahu namanya Pandu pak!"
" Saya tahu juga Kemaren, kenal waktu di bus!"
" Saya sebenarnya tidak mengenalnya Pak. Tapi dia berasal dari desa yang sama dengan saya. Dia orang baik, kemaren bertanya ingin menemui...!" Ia terlihat mengingat-ingat nama yang terpahat dalam kalung stainless steel itu.
" Raditya?" Sahut Randy cepat.
" Ya benar, itu. Tapi kemaren pas saya mau tanyakan ke bagian personalia ternyata mereka ga ada yang masuk!"
" Sumpah Pak saya gak tahu apa-apa!" Mansur takut. Tentu saja ia takut.
Takut jika dikira ia bersekongkol dengan Pandu.
" Makasih Sur, kamu boleh kembali!" Tutur Bayu menepuk Pundak Mansur.
Dan Dengan terheran-heran pula, Mansur mengangguk.
Hanya nanya itu?
" Ren, siapkan mobil. Bawa anak buahmu yang lain. Aku perlu mencari pria itu!" Titah Bayu mantap yang kini membuat Rendy heran. Apa yang tengah di rencanakan bosnya itu.
.
.