Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 72. With You



Bab 72. With You


^^^" Intan tetap intan, walau di dalam mulut anjing. Kebaikan seseorang akan tetap baik, walau di dalam keadaan kurang baik!"^^^


^^^.^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Ia menatap Pandu lekat- pekat . Terus dan terus saja menatap pria yang terus saja makan dengan cepat, khusyu dan senyap. Benar-benar terlihat laki banget.


She's like with this man!


" Kamu kok mau makan di sini?" Ucap Pandu usai mengelap sisa minyak di bibirnya menggunakan tissue yang berada di depannya. Membuat khayalan Fina berhamburan seketika.


" CK, selalu aja!" Fina mendengus demi melihat Pandu yang selalu saja mencibirnya. Selalu mengejeknya.


Pandu terkekeh sembari menyedot es jeruk favoritnya. Benar-benar pria sederhana.


" Iya sih, miskin itu keadaan. Dan sederhana itu gaya hidup!" Tukas Pandu usai meletakkan gelas kosong ke depannya. Benar-benar lapar.


" Dua hal yang maknanya jelas beda!"


Fina takjub mendengar ucapan Pandu sembari menatap gelas kosong itu tak percaya. Kata orang, jika seseorang itu makan dengan cepat. Maka bisa di pastikan cara kerja orang tersebut juga sangat cepat.


Uh! Apa dalam urusan itu Pandu juga!


Aduh!


" Xixixiix!" Ia terkekeh dalam hati demi pikiran ngawurnya yang kerap berkelana tidak jelas itu.


Otak kotor yang perlu di sapu lantaran penuh dengan rumah spider di dalamnya. Jaring keseronokan lebih tepatnya.


" Kenapa?" Pandu menatap Fina curiga karena senyam-senyum sendiri.


" Kenapa gimana? Enggak ada. Kamu itu lapar apa doyan?" Cibir Fina.


" Lapar sama doyan lah. Nyari duit susah, minyak goreng mahal. Sayang kalau gak di habiskan!" Ucap Pandu seraya berdiri lalu menuju ke tempat cak Kadir untuk membayar.


Fina hanya senyam-senyum. Entahlah, hatinya selalu bahagia jika bersama Pandu.


" Sodah di bayar sama embaknya tade mas!" Sahut cak Kadir seraya menolak uang dari Pandu.


" Hah?" Hal yang paling Pandu hindari. Dibayari oleh seorang perempuan. Itu bukan dia!


Ia memang orang kelas menengah ke bawah. Tapi untuk hal yang satu itu, sebisa mungkin ia hindari. Kini ia menatap Fina yang tersenyum kepadanya.


" Jangan kayak gitu lagi!" Pandu terlihat tidak suka. Membuat Fina memanyunkan bibirnya.


.


.


" Kamu mau kemana sekarang?" Fina lebih ekspresif ketimbang Pandu. Entahlah, ia sendiri juga heran. Mengapa ada rasa yang sulit di jelaskan sewaktu bersama Pandu.


Semacam, suka! Senang! Dan....aduh pokonya happy banget.


" Aku mau...!" Pandu tercekat, ia tak mungkin menceritakan jika ia tengah bekerja bersama Bayu.


" Kamu tinggal dimana sih? Nomer kamu udah ganti juga ya?" Fina menatap Pandu sebal.


" Dekat kok, kamu pulang aja dulu. Aku biar jalan!"


" Enggak! Kalau kamu gak sibuk bisa antar aku enggak?"


Pandu terlihat menatap Fina yang memasang wajah puppy eyes dengan memohon. Pandu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Pukul 19.21


Bolehlah!


.


.


"Masih jauh? " Pandu diminta mengemudikan mobil milik Fina yang membawa mereka ke Pelangi Sari.


" Enggak!"


"Itu yang ada papan Pelangi Sari, aku mau kesitu!"


Pandu mengangguk paham. Ia menyalakan lampu Sen lalu membelokkan kendaraan roda empat milik Fina di depan pusat oleh-oleh yang besar di kita itu.


Parkiran yang luas sungguh menguntungkan para pengunjung tempat itu.


Mereka berdua kompak melepas sabuk pengaman, sejurus kemudian Fina terlihat turun lebih dulu sembari mengambil bungkusan nasi goreng untuk para karyawannya. Sementara Pandu menetralkan perseneling mobil Fina, lalu menarik tuas handbrake. Membuat otot lengannya mengetat.


" Kamu mau beli sesuatu?" Pandu terlihat bertanya dengan polosnya sesaat setelah ia turun dari mobil Fina.


Fina terkekeh " Ini punya papaku, aku mau ngecek aja!"


" Masuk yuk!"


Pandu tertegun, Fina benar-benar anak orang berpunya. Sejenak Pandu merasa insecure sendiri. Jelas bentangan kasta itu kian menjulang tinggi. Tinggi sekali.


Pandu terlihat mengekor di belakang Fina yang terlihat bersemangat. Pintu kaca transparan nan bersih mengkilat itu mengayun sesuai petunjuk.


Dorong.


Tarik.


Jangan sampai keliru aja!


Pandu menatap kagum tempat itu. Tempat besar nan di suluh oleh cahaya terang lampu ber Watt tinggi, dengan susunan rak besar sekali berisikan berbagai macam kue kering dan oleh-oleh.


Ada banyak pengunjung malam itu. Dan kebanyakan dari kaum ibu-ibu dan juga beberapa pasangan muda-mudi.


Rak berwarna putih itu berbaris membujur rapih, dengan sebuah meja panjang tempat pembayaran di ujung belakang. Meja bertuliskan Pelangi Sari.


Tempat yang berdesain industrial estate itu benar-benar nyaman.


" Woy! Malah ngelamun. Ayo sini!" Sahut Fina.


Para karyawan disana menatap Pandu tak lekang. Kebanyakan saling berbisik dan terkekeh kagum.


" Eh, mbak Fina sama siapa tuh?"


" Pasti cowoknya mbak Fina!"


Kasak kusuk yang justru membuat Fina tersenyum. Bisakah?


" Mel, kenalin ini Mas Pandu. Teman aku!!" Fina memperkenalkan Pandu kepada Melati, supervisi dari kesemua karyawan di sana yang standby malam ini.


Pandu hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya ramah. Sungguh Pandu bisa menjadi dua pribadi yang berbeda. Sangat badas jika berurusan dengan pria brengsek, dan sangat slow di depan mereka.


" Hah temen mbak? Aku kira pacar!" Melati menyenggol anak buahnya sembari menaikturunkan alisnya dengan terkekeh.


Dasar Melati sialan! Rutuknya kesal. Tapi sebenernya Fina suka. Ahay!


Pandu hanya celingukan disana. Apalagi ia seperti di keroyokan oleh gadis-gadis disana. Malu bukan kepalang.


" Oh iya, ini buat kalian. Laporan hari ini udah di cicil?" Fina menyerahkan satu kantong besar berisikan lima belas nasi goreng untuk semua yang ada di sana.


Melati selaku supervisi disana tentu saja kegirangan. " Ya ampun Mbak Fina, makasih ya. Tahu aja kalau kita doyan nasgor. Jen! Udah kamu taruh ruangan atas belum? Melati menoleh ke arah kiri seraya memanggil Jenita.


" Udah mbak, saya taruh di meja seperti biasa!" Sahut Jenita yang namanya di panggil. Ia tengah sibuk menata keripik buah.


.


.


Lantai Tiga


" Kamu ramah juga ya sebenarnya!" Ucap Pandu yang kini berada di ruang kerja milik Fina yang biasa di kunjungi mamanya. Ruangan yang berdesain modern dengan sofa putih berdesain minimalis, menjadi penegas sebuah kenyamanan.


Pandu menatap jalanan dari lantai tiga itu. Lantai yang berkerlip dengan indah malam itu. Padat merayap nyaris tiada terputus.


Kota yang tak pernah tidur.


" Memangnya aku enggak ramah?" Ucap Fina sembari menatap tumpukan kertas yang telah di print oleh Jenita. Hendak ia cek.


" Kalau ingat pertama kali ketemu kamu, aku malah ngira kamu ini wanita songong!" Pandu terkekeh demi mengingat Fina yang marah-marah sewaktu tak terjaduk bola voli.


" Hih, bisa-bisanya mikir begitu!" Fina mendengus.


" Don't judge book based on cover!"


" Kadang apa yang terlihat itu bukan yang sebenarnya!"


Sahut Fina masih sibuk dengan kertas di tangannya.


Pandu menatap lekat Fina yang terlihat sibuk menekuni laporan anak buahnya. Menatap dengan tatapan tak biasa.


Fina cantik.


Fina orang yang cerdas dan terlihat bisa di andalkan.


" Udah gak usah dilihat terus, entar kepincut!" Tutur Fina dengan tanpa menatap Pandu. Membuat Pandu tersenyum dengan posisi masih melipat kedua tangannya ke dada.


" Mana ada tuan putri mau dipincuti sama anak singkong!" Cibir Pandu. Membuat gerakan menulis Fina terhenti.


" Mulai lagi!' Fina memanyunkan bibirnya kala Pandu selalu saja mencibirnya.


Yang ini lah, yang itu lah.


Pandu terkekeh. Entah mengapa wajah Fina yang cemberut justru membuatnya gemas. Imut banget sih!


" Bener kan?" Tukas Pandu seraya berjalan.


" Aku gak gitu yah!" Dengan alis berkerut Fina menjawab dengan kesal.


Pandu kini berpindah posisi dan duduk di sofa. Suasana mendadak senyap.


Kril Kril Krik.


" Kamu mau kopi? Biar aku minta si Amel buat nyeduhin!" Tawar Fina yang kini menyalakan komputernya. Memecah kesunyian.


" Boleh, tapi maunya kamu yang buatin!" Ucap Pandu sembari menidurkan dirinya ke atas sofa. Menjadikan kedua tangannya sebagi bantal. Otot lengan bersih Pandu kini terekspos. Membuat Fina kembali gelisah kala tak sengaja meliriknya.


Pandu memang sedikit lelah sebenarnya. Jelas lelah, lihat saja ringkasan kegiatannya hari itu. Belum lagi rasa badan yang belakangan ini kerap adu jotos dengan anak buah Bayu.


Remuk redam.


" Ngelunjak ya?" Fina menatap Pandu sembari tersenyum.


" Takutnya kamu gak bisa buat kopi!" Ucap Pandu seraya memejamkan matanya. Dengan terkekeh pula pastinya.


" Iye lah, kejap e!" Ucapnya menirukan ucapan dua bocah botak dalam serial kartun yang di putar tiga kali sehari itu. Membuat Pandu terkikik geli.


.


.


Serafina


Fina menyeduh sebuah cofee mix di gelas mono use berwarna cokelat. Entah mengapa senyuman tak luntur dari wajahnya. Bisakah malam ini lebih lama. Ia tak ingin menyudahi kebersamaannya dengan Pandu walau hanya diisi oleh obrolan ngalor-ngidul.


Sangat berbeda sewaktu dia suka dengan Riko dulu. Ini lebih ke....ah entahlah, sulit sekali di definisikan.


Ia membuka pintu dengan segelas kopi istimewa buatannya. Namun senyumnya kini hilang kalau melihat Pandu yang malah tertidur.


Ia meletakkan kopi itu ke atas meja di samping kirinya. Kini, ia duduk berjongkok di bawah sofa dan sibuk menatap wajah Pandu yang teduh kala tidur.


" Apa kau lelah?"


" Apa yang kau lakukan setelah seharian ini?"


" Tinggal dimana kamu sebenarnya?"


Fina menatap bekas luka Pandu yang masih terlihat di sudut bibirnya. Tetap ganteng meski habis bonyok disana- sini.


Fina menatap iba Pandu. Entah sebuah takdir atau hanya kebetulan semata, mengapa ia kerap di pertemukan dengan pria itu dalam beberapa situasi.


Ia meraba wajah Pandu dengan menelan ludahnya. " Apa sakit?"


Tangan bersih Fina menyusuri rahang kokoh Pandu. Ia terlihat kasihan. Namun, mendadak tangan Fina di cekal oleh pria yang ia kira tidur itu.


" Kau tidak tidur?" Ucap Fina gelagapan.


" Bagiamana aku bisa tidur jika kau...."


Pandu membuka matanya, sejurus kemudian ia menatap Fina yang wajahnya kini sudah memerah. Keranjingan dia!


Suasana mendadak menjadi senyap. Fina menatap Pandu dengan wajah sendu. Ludahnya mendadak susah ia telan.


Oh tidak! Dasar jantung sialan! Kenapa kamu malah berdetak tak karuan!


.


.


.