Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 144. Belatung Nangka



Bab 144. Belatung Nangka


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Ajisaka


Ia tertidur usai diberikan suntikan anti nyeri juga beberapa obat untuk mengobati bisa kalajengking yang telah merasuk kedalam tubuhnya. Benar-benar bisa beristirahat.


Selama itu pula, Desinta juga turut berbaring di ranjang Aji dengan perasaan berada di atas angin. Benar-benar licik.


Pandu, Sakti dan Yudha terpaksa pulang karena Mak lampir telah menutup rapat pintu rumah keponakannya itu. Praktis, kini kendali tempat itu bersumbu pada titah Bibi Arning.


Haduh!


Beberapa waktu kemudian, Aji terlonjak kaget sesaat setelah ia berhasil membuka matanya. Terkejut demi melihat Desinta yang tertidur di sebelahnya. Sialan!


" Ngapain kamu disini?" Ucapnya demi melihat Desinta yang memeluk dirinya dengan posisi sama berbaring. Damned!


" Mas! Udah bangun?"


"Aku dari tadi nungguin kamu disini. Gimana udah enakan?" Jawab wanita yang mengenakan pakaian minim itu. Sama sekali tak risih dengan tatapan tak suka dari Ajisaka.


" CK!" Aji mendecak kesal, dimana Wida dan sahabatnya? mengapa malah belatung nangka itu yang ada di sana.


CEKLEK


Aji membulatkan matanya kala melihat Sukron yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Namun, reaksi yang sama justru juga di tunjukkan oleh pria yang telah mengabdikan diri kepadanya selama bertahun-tahun itu.


" Kenapa si bos bisa begitu?"


" Bos?" Sukron berkata spontan demi melihat Ajisaka yang seranjang dengan Desinta. Aji menatap kesal Sukron dan berusaha bangkit. Jangan sampai kamu bicara aneh-aneh Kron!


" Argghhhh!" Ringis Aji yang lupa jika kakinya terluka. Membuat kekhawatiran nampak di wajah Desinta dan Sukron.


" Mas! Hati-hati! Kamu masih belum pulih betul loh. Udah mas baring aja dulu!" Ucap Desinta yang menarik lengan Aji dengan perlahan. Mencoba mencari muka.


" Lepas!" Aji menarik lengannya dengan kasar, seolah enggan di sentuh oleh wanita itu. Membuat Desinta mendengus. Begitu sekali sih!


" Maaf Bos saya barusan masuk tanpa mengetuk, saya...cuma mau lihat kondisi sampean."


Sukron berbicara penuh dengan sungkan. Pasalnya, dokter yang memeriksa Ajisaka tadi mengatakan jika Aji mungkin akan tertidur selama kurang lebih tiga jam, dan ini masih belum habis dua jam namun pria itu sudah sadar.


" Ngapain kamu disini?" Bik Arning yang tiba-tiba menyembul dari arah belakang membuat Sukron terlonjak. Pun dengan Aji.


" Saya kerja lah, ngapain lagi!" Sahut Sukron sekenanya. Ia juga tak suka dengan wanita sialan itu.


" Kamu!" Jawab Bik Arning mengeraskan rahangnya. Tak suka dengan kekurangajaran Sukron.


" Udah- udah!" Ucap Aji dengan kening berkerut. Sudah ingin marah saja jika nenek sihir itu tengah berada diantara dirinya.


Kini baik Bik Arning maupun Sukron saling melempar tatapan sengit. Membuat kesemuanya terdiam.


" Kron! Tadi Wida kemana? Kok enggak ada disini?" Ajisaka lebih tertarik mencari tahu dimana wanita itu berada, ketimbang menanyai bibinya.


" Tadi.."


" Dia pulang . Anak nggak tau diri, udah di tolongin malah main pulang aja. Dia diajak bapaknya pulang. Bagus udah di tolong, malah enggak ada terimakasihnya!"


Sahut Bik Arning seraya ngeloyor masuk dan meletakkan makanan untuk Aji diatas nakas. Benar-benar kurang ajar.


Membuat Sukron mendecak kesal dalam hatinya. Benar-benar wanita sundel.


Ajisaka menatap tajam bibinya dengan rahang mengeras. Tak bisakah wanita itu tak mengganggu hidupnya sekali saja?


" Gimana Kron?" Aji lebih memilih ingin mendengar penjelasan dari anteknya itu dari pada bibinya.


" Tadi saya lihat, Bu Wida di ajak pulang Pak Atmo bos?" Sukron menundukkan kepalanya saat menjawab. Yang ia lihat dari kejauhan memang begitu tadi.


Ajisaka tertegun. Benarkah demikian?


" CK, kamu kenapa gak tanya, atau cegah dulu kek!" Entah mengapa Aji malah kepikiran dengan Wida. Hati, otak, dan pikirannya hanya berisikan Wida.


Sukron tertunduk, ia tadi tengah sibuk dengan urusan lain. Terutama mengurus pekerjaan Ajisaka yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Membuat dirinya tak mengetahui informasi seputar Wida.


.


.


Desinta


" Begitu banget sih mas Aji!" Desinta mendengus sebal.


" Udah kamu sabar dulu. Yang penting kita bisa disini dulu. Kita memang harus sama-sama membasmi wanita kere itu!" Ucap Tante Arning yang kini tengah bersamanya di ruang tamu. Meninggalkan Sukron yang entah sedang mengobrolkan apa bersama Aji.


Malam menjelang, di jam enam itu ia dan Tante Arning tengah makan malam di meja makan Ajisaka. Dua wanita tidak tahu malu itu, kini bertingkah seenaknya disana.


TING TONG


Dentang bel membuat kegiatan santap malam mereka terhenti.


" Biar aku aja Tan!" Desinta bangkit meninggalkan meja makan dan bergegas menuju ke arah ruang tamu. Arninggara hanya menjawab dengan anggukan.


Sesampainya di luar, ia terkejut demi mendapati Wida dan Pak Atmo yang sudah berdiri di ambang pintu. membuatnya berang.


" Ngapain kesini?" Ucapnya ketus. Tak suka akan kehadiran Wida.


Wida dan Pak Atmojo saling menatap. Apa wanita itu tidak bisa bersikap baik walau sebentar saja? Mengapa selalu ketus kepada mereka.


" Kami..."


" Siapa Des?" Tante Arninggara menyusul dirinya yang telah berada di ambang pintu. Menatap tajam dua manusia yang tak ia sukai itu. Membuat ucapan Wida menguap ke udara.


" Selamat malam Bu, saya mau bertemu Pak Ajisaka!" Pak Atmojo kini menjawab ramah.


Tante Arninggara keluar lalu menatap tajam Widaninggar juga bapaknya. Menunjukkan raut ketidaksukaannya.


" Mau apa?" Tanya yang Arning ketus.


" Pak Ajisaka sudah tidur! Kalian mau bilang apa? Biar saya yang kasih tau nanti!" Ucapnya tak suka.


" Saya cuma mau ngasih ini!" Wida mengangsurkan masakan buatannya yang sudah ia susun kedalam rantang putih. Ia ingat akan permintaan Ajisaka yang ingin makan masakannya jika mereka telah kembali ke desa.


Desinta menyaut rantang itu dengan kasar. Membuat Pak Atmojo menggandakan kesabarannya lebih dan lebih lagi. Astaga wanita itu!


" Saya ini calon istrinya mas Aji!" Ucap Desinta sombong.


"Kalau kalian pikir dengan menyogok mas Aji menggunakan makanan kampung kayak gini bisa bikin dia suka sama kamu, kamu salah besar!" Desinta tersenyum licik.


Wida mendadak tersulut emosi. Siapa juga yang mau berbuat seperti itu?


" Oh ya satu lagi...!" Desinta kini berbalik dan menunjuk wajah Wida.


" Orang miskin kayak kalian itu pasti cuma mau ngejar harta orang kaya macam Mas Aji kan?"


" Perempuan enggak tau malu!"


" Lihat siapa kamu! Udah enggak jelas statusnya, sekarang berani-beraninya mau goda mas Aji. Sadar orang kayak mas Aji itu enggak mungkin juga mau sama kamu kali. Lagian, mas Aji emang enggak mau nemuin kamu!"


Desinta tersenyum sinis menatap dua manusia di hadapannya.


" Desinta!" Terdengar suara Ajisaka yang memanggil wanita itu. Membuat Desinta tersenyum penuh kemenangan.


" Lihat! Kau dengar kan?"


Wida merasa dirinya telah dihina habis-habisan oleh perempuan itu. Dan..mengapa Ajisaka memanggil Desinta? Tunggu dulu, apa sedari tadi wanita itu memang bersama Aji?


" Pria kaya seperti mas Aji bebas mau bersama wanita manapun. Nih kalau enggak percaya!"


Desinta memutar video Ajisaka yang tengah mabuk bersama para rekan sesama pembisnis yang sama-sama berkecimpung di dunia pertanian.


Ya, Desinta memutarkan video Ajisaka yang mabuk bersama seorang pemandu lagu yang tempo hari di bawa oleh bik Arning. Membuat Wida dan Pak Atmojo menggelengkan kepalanya tak percaya.


" Ayo nduk kita pulang saja. Kita udah buang-buang waktu karena datang kemari!" Pak Atmojo menggeret lengan anaknya dengan cepat. Ia tak tahan lantaran putrinya dihina seperti itu.


.


.


Dengan berat hati dan dengan dada yang sesak, Wida melangkahkan kakinya pergi. Sungguh, ia hanya ingin menepati janjinya untuk memasakkan makanan untuk Ajisaka.


Sungguh, ia berhutang Budi dan juga berhutang nyawa kepada pria itu. Namun, sebagai orang yang gak berpunya, melawan orang seperti Arninggara dan Desinta jelas merupakan hal yang harus mereka hindari.


Mengapa kecil selalu kerdil?


Mengapa besar selalu menang?


.


.


.


.