
Bab 162. Rugi akibat emosi
.
.
.
...πππ...
Kedai Cak Juned
***
Sakti
Beberapa saat kemudian, ia berbicara ke arah Dino namun dengan mulut yang komat-kamit. Nyaris tanpa suara. Menggunjing pria yang jelas-jelas masih ada di hadapan mereka.
" Biarin aja dulu!"
" Paling masalah mbok Rondo !" Bisik Sakti pada Dino saat ia baru saja melirik wajah Aji yang dua alisnya masih bertaut. Terlihat berpikir keras.
" Nah, itu emaknya Damar, sama siapa tuh?" Namun mulut lemes itu kembali berkoar kala melihat Widaninggar yang berboncengan dengan seorang pria, dengan posisi kedua tangannya berada di atas paha pria itu. Membuat Ajisaka kini mengarahkan atensinya kepada wanita itu.
" Wes lha Iki! ( Waduh lha ini!)"
Dino kini menelan ludahnya dengan cemas demi melihat wajah Aji yang langsung mengeraskan rahangnya.
Apakah perang dunia akan terjadi?
.
.
Darman
Ia sedang menolong adiknya siang itu. Baru tahu persoalan yang menimpa adik satu-satunya. Tak di nyana, ia dan adiknya rupanya memiliki nasib busuk yang tak jauh berbeda.
Wida baru saja mengurus urusan perceraiannya. Birokrasi rumit yang sepertinya akan ia lalui beberapa bulan kedepan soal dirinya sebagai pihak penggugat.
Kang Darman pulang ke Kalianyar bukan tanpa sebab. Istrinya kepincut dengan pria lain saat mereka tengah di tempa ujian ekonomi.
Pria akan di uji saat ia bergelimang materi. Namun sebaliknya, wanita akan di uji kala suaminya kekurangan materi.
Begitulah hidup, saat dunia mengecewakan kita, hanya orangtua lah tempat kita kembali. Itu jelas dan pasti. Mutlak dan tak terbantahkan. Kepada siapa lagi kita akan mengadu? Ibu, satu-satunya orang yang pasti akan menjadi tempat kita bernaung dari sombong dunia yang semakin menginjak muka.
Pria berusia kepala empat itu pulang dan mendapati rumahnya kosong melompong. Bermodal info dari teman masa kecilnya yang tahu tentang kepindahan Pak Atmojo dan keluarganya, ia mencari dimana keberadaan keluarganya.
Beruntung, ia bertemu dengan ketua RT tempat dimana Wida tinggal, dan menginformasikan jika mereka semua berada di rumah sakit.
Mereka sengaja lewat jalan rumah lawas mereka, lantaran dirasa lebih cepat.
" Masuk dulu aja Kang, aku mau ngambil baju ganti punya Ibu sekalian, iya kalau sore jadi boleh di bawa pulang. Kalau enggak?" Ucap Widaninggar sembari membuka pintu rumahnya.
Darman mengangguk dan pria itu terlihat menyandarkan motornya untuk sejurus kemudian berniat masuk.
" Kamu atur aja gimana baiknya!"
Namun, sesuatu yang tidak ia sangka kini terjadi. Sesuatu yang membuat semuanya menjadi runyam dalam waktu sekejap saja.
BUG
Tubuhnya di tarik oleh seseorang yang ia rasa bertenaga kuat dan langsung meninju rahang kirinya. Membuatnya seketika memegangi pipinya yang terasa pedih. Brengsek!
" Siapa kamu?" Ia tentu saja bertanya kepada pria yang tiba-tiba menyerangnya tanpa tedeng aling-aling itu
Darman menahan gemuruh di dadanya demi rasa terkejut yang tiada terkira. Menatap bengis ke arah pria dengan rambut yang tersurai rapih itu.
Merasa mendengar keributan, Widaninggar seketika melesat menuju ke arah luar. Dan begitu terkejutnya ia, kala melihat Ajisaka yang sudah berwajah merah, dengan napas memburu dan tangan terkepal menatap sinis ke arah Darman.
" Mas Aji?"
.
.
Suasana kini canggung dan mencekam. Tak seorang berniat apalagi berminat untuk angkat bicara.
Sunyi merobek hati.
Ia tak bisa berkutik kala tatapan bengis dari pria yang rupanya merupakan calon kakak iparnya itu, terus tekun menelanjangi dirinya.
Sial! Aji kini memetik buah sikap ngawur dan impulsifnya.
Terlalu memikirkan Widaninggar, membuat ia lupa akan perkataan Pak Atmojo soal kepergian Wida yang bersama kakangnya. Sial sial!
" Saya minta maaf Kang!" Tutur Ajisaka mendudukkan kepalanya. Jelas pria itu tak memiliki muka lagi saat ini. Bahkan suaranya saja mirip dengan sebuah gumaman.
Payah!
" Aku tunggu diluar Wid, setelah ini kita sebaiknya segera kembali ke rumah sakit!"
Tutur Kang Darman yang tentu saja masih kesal dengan tingkah impulsif Ajisaka. Sama sekali tak menanggapi apalagi menyahuti ucapan Ajisaka yang benar-benar malu.
Pria itu berlalu tanpa mengucapkan apapun kepada Ajisaka. Sangat manusiawi sekali bukan jika pria itu masih kesal.
Wida menatap ke arah Ajisaka dengan wajah berengut dan penuh sesal " Bisa nggak sih semua-muanya jangan pakai emosi dulu?" Ucap Wida mendudukkan tubuhnya tepat di samping Ajisaka. Membuat pria itu kini menatapnya wajah keruh Wida yang kecewa.
Sejurus kemudian Aji mendudukkan kepalanya. Yes, that's my bad!
" Aku udah enggak bisa berpikir lagi waktu ngelihat tangan kamu parkir manja di paha seorang pria Wid!" Aji masih memasang wajah marah. Marah kepada kebodohannya sendiri.
Wida mengembuskan napasnya pasrah. Pria di depannya itu agaknya benar-benar tipikal pencemburu. Lebih tepatnya ngawur.
" Kamu kenapa enggak ada kirim pesan ke aku dulu sih?" Tanya Aji protes. Pria itu kini sungguh mirip seperti Damar yang merajuk sewaktu meminta sesuatu. Dasar!
" Mas Aji sendiri yang bilang ke aku mau balik kemarin. Tapi buktinya?"
Aji tak bisa lagi mendebat Wida saat wanita itu memukul telak pribadinya. Ah sial, ia jelas telah ingkar.
" Aku enggak ada kewajiban juga kan mas buat laporan ke kamu? Mas orang sibuk, aku juga enggak berani ganggu kamu mas!" Wida merasa kerdil dan sama sekali tak memiliki hak jika sudah menyangkut soal kesibukan usaha Ajisaka.
Dan itu benar adanya.
" Lagipula, kang Dar..." Niat hati ingin memberikan klarifikasi. Namun ucapannya menguap saat dengan cepatnya Aji menarik Wida lalu menyambar bibir yang tengah nyerocos itu dengan sekali raupan. Melahapnya tanpa ampun.
" Mmmmm!" Wida memukul- mukul dada Ajisaka karena ia merasa takut. Takut jika kakangnya atau orang lain ada yang masuk.
" Mmmmm!" Aji malah semakin erat menekan tengkuk Wida. Melupakan rasa kesal, marah, cemburu dan rindu dalam waktu bersamaan. Benar-benar pria licik.
Bruk
Wida mengerahkan segenap tenaganya untuk mendorong Aji. Membuat ciuman mereka akhirnya terlepas.
Aji tersenyum menyeringai saat melihat wajah kesal Wida yang juga masih sibuk mengusap bibirnya. Membuat hati Aji puas.
" Sepertinya enam bulan kedepan kamu harus di karantina biar enggak kecantol orang lain. "
.
.
.
.
.
.
Udah bab 160 an ini, gimana kesannya?
Biar author bisa belajar lebih baik lagi Readers π€π€π€π€