Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 238. It's a dream?



Bab 238. It's a dream?


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Anjana


Ia masih menjalankan tugasnya sebagai penjaga tuan muda, atas perintah tuan Liem. Bagaimanapun juga kewajiban serta tanggung jawabnya musti tertunaikan dengan baik.


Sekalipun ia sebenarnya menyimpan rasa lain di dadanya.


Anjana terburu-buru sebab ia tak mau Sakti menunggunya lama. Mengingat ia mendapatkan kamar yang sedikit jauh dari tuan mudanya itu. Sebab musti ada hal yang harus ia kerjakan.


Dan saat melewati koridor panjang deretan kamar kelas eksekutif , ia tak sengaja menabrak seseorang yang mendadak muncul manakala ia berjalan.


BRUK!


" Hey! Bisa hati-hati?" Tatapan tajam seorang pria yang terlihat begitu mencemaskan wanita yang ia pegang itu, membuat dirinya terperanjat.


" Wajah mereka tak asing sekali!"


Anjana langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik yang mengenakan dress tanpa lengan, dengan rambut yang di curly bagian ujungnya. Terlihat familiar. Tapi, dimana ia pernah melihatnya.


" Maaf Tuan, nyonya. Sekali lagi saya minta maaf!" Ucapnya manakala wajah pria itu terlihat kesal. Namun Anjana tetaplah Anjana, wanita datar yang jarang memasukkan sikap seseorang kedalam hatinya.


"Permisi!" Anjana seketika berjalan dengan langkah cepat seusai memberikan anggukan kepada dua orang itu. Ia tak peduli jika orang lain menganggapnya apa.


Ia kini menuju sebuah kamar yang di dalamnya terdapat seseorang, yang pasti telah menunggunya. Bahkan mungkin sudah menggerutu.


CEKLEK


" Lama sekali, aku sampai jamuran disini tau!" Pria ganteng namun bermulut santer itu terlihat berwajah berengut. Membuatnya menarik napas panjang.


"Padahal baru buka pintu. Huft!"


" Aku hanya terlambat beberapa menit saja!" Ucap Anjana kepada Sakti yang kini memeluknya posesif.


" Kau ini senang sekali menyiksaku!" Anjana diam dengan perlakuan pria itu. Tak pernah memiliki riwayat berpacaran, atau menjalin kasih dengan seseorang sebab ia menyadari, jika ia tak seperti perempuan pada umumnya yang bersikap manis. Tempaan hidup menjadikan dirinya memiliki sifat yang badas.


Tak pernah mengenal rasa bahagia karena kisah asmara. Namun, hal manis yang selalu Sakti tawarkan membuatnya mengerti arti jatuh cinta. Ya, Anjana kerap merasakan hatinya berbunga-bunga manakala Sakti berada di dekatnya.


" Bagaimana?" Tanya Anjana kepada Sakti yang masih memeluknya dari belakang seraya menancapkan dagu di pundaknya yang tegap.


" Bagaimana apanya?" Ucap Sakti seraya menciumi pipi Anjana yang masih diam dengan wajah kaku itu.


" CK, katanya tuan muda akan..."


" Berhenti memanggilku tuan muda!" Sakti melepas pelukannya karena sebal. Wanita itu formal sekali pikirnya." Tidak enak sekali di dengar rasanya!" Sakti mendudukkan tubuhnya ke atas kasur empuk berwarna putih dengan wajah manyun.


" Kau memang tuan mudaku kan? Lantas aku harus memanggil apa coba?"


Anjana menatap Sakti bingung. Ia juga tak mahir dalam mengekspresikan rasa cinta. Sebab dari pria penggombal itulah, dia belajar.


" Panggil....sayang mungkin!" Ucap Sakti tersenyum seraya menaikturunkan kedua alisnya dengan wajah cabul. Membaut Anjana terkaget-kaget.


"Sayang?"


" Di depan semua orang?"


" Jangan ngaco. Bagiamanapun juga aku ini pelayanmu. Orang pasti akan berfikir jika aku ini..."


" Menggodaku?" Sahut Sakti demi memangkas keresahan Anjana. Pria itu kini bangkit dan terlihat berjalan tiga langkah menuju ke arah Anjana yang tengah berdiri.


Anjana mengangguk mengiyakan tebakan Sakti. Menatap muram wajah pria parlente di depannya itu.


" Kau ini wanita tangguh, keahlianmu berkelahi. Bukan menggoda!" Jawab Sakti yang membuat wajah Anjana mendengus. Itu memuji atau menghina sih? Sialan.


" Jangan marah dulu!' Imbuh Sakti yang menahan tawa kala ia melihat perubahan raut wajah wanita yang menurutnya sexy itu.


" Aku jatuh cinta sama kamu Ja...!"


DEG


" Kamu tahu, sikapmu yang seperti ini yang membuat aku terus penasaran dan merasa enggak mau kehilangan"


Sakti beberapa waktu terakhir memang kerap berlaku manis kepadanya. Namun, baru malam ini pria itu mengucapkan sesuatu yang membuatnya merasakan pelangi bermunculan di hatinya. Membuat warna sanubarinya menjadi lebih merona.


" Aku tidak sempurna, kau pasti tahu itu. Tapi.... bersediakah kamu untuk mau saling dekat denganku?" Sakti meraih tangan Anjana.


" Aku tidak peduli Ja mau aku sekarang jadi tuan mudamu atau tidak, yang jelas aku ingin kamu mau mencintaiku sebagai Sakti yang pertama kamu kenal. Pria miskin yang...."


CUP


Anjana sedikit berjinjit kala mengecup bibir Sakti. Wanita itu sama sekali tak suka jika mendengar Sakti yang selalu merendahkan diri sendiri.


Sakti yang setengah terkejut itu kini terlihat memejamkan matanya lalu menekan tengkuk Anjana. Kapan lagi dicium?


Ia yang dulu menjadi kaum kusam dan tidak percaya diri, kini memiliki makna karena seorang wanita yang sebenarnya memiliki sifat dan sikap yang jauh berbeda dengan dirinya.


Namun dari kesemuanya itu, justru menjadi pelengkap satu sama lainnya. Ya, Sakti kini tahu mengapa Tuhan tak memberikan apa yang ia mau, sebab Tuhan mengerti apa yang ia butuhkan.


Anjana yang tumbuh menjadi orang dingin kaku serta jarang tertawa, kini bagai mendapat sesuatu yang teramat membuat hidupnya berwarna.


Pria bernama Sakti namun tidak pakai mandraguna itu, nyatanya berhasil memikat dirinya lewat sikap dan caranya yang konyol namun ia suka.


Ya, semua orang berhak untuk jatuh cinta.


.


.


Ballroom hotel


Impian Yudha terealisasikan sudah. Selain hampir seluruh warga dusun tempat ia tinggal, teman kantor, para sahabat, sanak saudara, handai taulan, rekan bisnis keluarganya, juga pejabat setempat yang telah ia undang, terlihat memenuhi ruangan lebar dan besar itu.


Meja-meja bundar diatur lengkap dengan kursi yang mengitarinya. Di ujung ruangan itu terlihat pelaminan dengan gaya kekinian yang menyegarkan mata, tak lupa band yang dulu menemani Rara menyanyi juga standby di sana.


Semua tertata rapih dan mengundang decak kagum para pemirsa.


Mamak Mariana serta pak Agus terlihat menjadi orang yang paling repot disana. Arju menghilang, sepertinya menuju ke sebuah tempat dan entah apa yang akan dilakukan oleh bocah besutan generasi menunduk itu. Terlihat mencurigakan.


" Selamat ya Fin!" Widaninggar yang baru tiba, terlihat memeluk istri Sabahat suaminya itu penuh kerinduan. Pun dengan Pandu dan Aji yang saling mengeratkan pelukannya, sebab Semenjak sama-sama menjadi suami, mereka kini jarang bisa bersua.


Definisi dari segala sesuatu memang ada waktunya.


" Kenapa wajah lu keruh gitu?" Tanya Pandu yang kini mendudukkan tubuhnya ke atas kursi yang telah diberikan aksen bunga-bunga di belakangnya.


" Tadi ada orang nabrak Fina, untung perempuan. Kalau enggak...!"


" Sabar!" Fina malah menyahut, ia merasa Pandu sangat mudah emosi jika menyangkut dirinya. Membuat Aji dan Wida saling melirik.


Kenapa kini yang menjadi pemarah justru Pandu ?


" Gimana? Enggak ada kabar dari Sakti bos?" Tanya Sukron yang kini membetulkan posisi duduk Damar di sampingnya. Best friend nya itu harus ia layani dengan baik.


" Negatif!" Sahut Aji dengan wajah lesu. Terlihat kehilangan harap. " Entahlah Kron. Tiap kita ngumpul begini, terus sadar kalau dia enggak ada di tengah-tengah kita, kok rasanya jadi nyesek gitu!"


Semuanya tercenung usai mendengar ucapan Aji. Ya, mereka semua merindukan Sakti. Bahkan sangat.


Acara demi acara berjalan wajar dan normal. Mulai dari pemotongan kue pernikahan, sambutan keluarga, acara jamuan makan hingga performa dari penyanyi papan atas yang sengaja Yudha undang.


" Selamat bro, akhirnya!" Pandu dan Aji menyongsong kedatangan Yudha yang saat ini menuju ke meja mereka. Saling memeluk dan turut merasakan kebahagiaan yang teramat kentara.


Dia pengantin baru itu benar-benar terlihat serasi, meski ada hal yang tak luput dari pandangan pria-pria itu.


" Itu si Rara kenapa kok meringis- meringis waktu jalan kemari tadi?" Bisik Aji kepada sahabatnya itu.


" Itu, emmmm!" Yudha gelagapan. Astaga, rupanya kelihatan ya?


" Gila lu, gak bisa nahan sampai malam ini apa? Emang maniak ni anak!" Pandu meninju lengan kekar Yudha seraya tergelak.


" Alah kayak kalian bisa sabar aja!" Dengus Yudha yang membuat Aji dan Pandu kini tekrikik-kikik.


Membuat Sukron melongo.


" Apa, ada apa?"


Dan saat ketiga sahabat itu saling tertawa saat menikmati wajah bodoh Sukron.


" Makanya kawin biar ngerti!" Ucap ketiga pria itu dengan kompak.


" Mentang-mentang dah pada kawin ya, beraninya menindas kaum tak laku!"


" Sabar Kron, jodohmu belum lahir kali!"


Ketiga pria itu makin tergelak. Membuat tiga wanita yang saling berbincang itu kini mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Para suami mereka itu kalau sudah kumpul, pasti berujung jadi tukang bully bagi kaum nestapa. Sukron.


" Sukron ( Terimakasih) mas Pandu, mas Aji dan mas Yudha...!" jawab Sukron seraya mendengus sebal. Entah kapan penderitaannya berakhir.


Dan saat ketiga pria itu masih tekun tertawa hingga sakit perut, demi melihat Sukron yang bersungut-sungut, suara seorang pria yang saat ini hendak melantunkan lagu romansa, seketika mengalihkan atensi mereka bertiga.


Rara, Wida bahkan Fina yang sangat terkejut, kini tertegun dengan tubuh mematung demi melihat sesosok yang tak asing itu.


Benarkah?


Tubuh Pandu bergetar, bibir Aji pun sama serta mata Yudha kini terasa mulai memanas, mata mereka bertiga mendadak berkaca-kaca demi melihat seseorang yang terlihat berkilau di depan sana.


Tuhan, apa ini mimpi?


.


.


.