Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 7. Tambahan poin kekesalan



Bab 7.Tambahan poin kekesalan


.


.


.


^^^" Modal utama untuk di benci adalah sebuah kesalahan. Namun, seringkali pembenci tak memerlukan alasan untuk itu. Mereka kerap bersikap seenak udelnya!"^^^


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


.


.


.


Sakti


Ia adalah member of empat sekawan, Pandu, Ajisaka, Yudhasoka dan dirinya. Menjalin tali sekawan sejak duduk di bangku sekolah dasar.


Pria itu berperawakan jenaka, dengan tinggi yang sama rata dengan ketiga kawannya. Dan tentu saja memiliki wajah yang manis. Tak jemu bila di pandang, hanya saja ia memiliki kulit yang lebih coklat. Ia bekerja di salah satu toko elektronik terbesar di toko itu.


Kebetulan, Bu Asmah memesan sebuah AC dan memintanya untuk memasangnya, dengan tarif yang sudah di sepakati. Ia tidak tahu, mengapa mendadak Wanita tua yang bisa dikatakan paling kaya itu, baru saat ini memasang AC.


" Kamu aja yang bawakan sekaligus pasang ya, saya tahu beres aja!" ucap Bu Asmah.


" Nggeh Bu, saya tapi minta tolong sama Pandu buat bantuin. Dia kan ahlinya ahli soal apapun!" jawab Sakti dengan meringis.


"Besok saja kamu pasang ya. Fina kebiasaan pakai AC, takutnya dia gak nyaman!"


Fina, siapa Fina?


" Mbak Fina kenapa nempel- nempel ke dinding begitu?" Sayup-sayup terdengar suara haduh dari dalam.


Ia , Pandu dan Bu Asmah sontak menoleh ke sumber suara.


" Fina!" Panggil Bu Asmah sejurus kemudian.


" Sini sebentar!"


Ia terperanjat dan tak mengira bila wanita yang adu mulut dengan Pandu dan Ajisaka di Len Voli tadi sore adalah cucu dari wanita tua kaya itu.


Ia melongo, terpana dengan kecantikan wanita bernama Fina itu. Namun tidak berbanding lurus dengan sikap beserta ucapannya.


" Ndu, galak amat sih. Cantik tapi galak bener!" bisiknya kepada sahabatnya yang memiliki wajah paling ganteng itu.


" Diem, entar elu di terkam. Tuh lihat galak kan!" Balas pandu seraya terkekeh.


" Ngomongin apa kalian?" wanita itu menatapnya tajam. Seolah menuduh.


"Enggak kok, cuma mau bilang itu resletingnya belum di tutupi!" ucapnya karena melihat hotpants yang menggoda iman itu, terlihat tidak tertutup rapat.


.


.


Pandu


Pandu sebenarnya memiliki pekerjaan tetap, ia memiliki bengkel sendiri yang terbilang sederhana. Namun, dari empat sekawan Pandu adalah pria yang begitu multitasking, alias opo-opo iso ( serba bisa).


Membuatnya kerap di mintai tolong oleh sahabatnya yang lain.


Usai mendapat telpon dari Sakti, pria itu diminta untuk menemaninya ke tempat Bu Asmah. Wanita dermawan yang menjadi panutan di desa itu.


"Kancanono aku gene Bu Asmah, cek lokasi masang AC ( temani aku ke Bu Asmah, mengecek lokasi pemasangan AC)" Begitu pean Sakti melalui aplikasi pesan singkat.


Obrolan di rumah tetua itu berjalan mulus, namun ia terkejut saat mendengar suara dari arah dalam. Bu Asmah memanggil seseorang. Sejurus kemudian ia sempat terkejut sebenarnya. Pasalnya, wanita yang mengenakan baju seksi itu adalah wanita yang mendampratnya sore tadi.


" Kamu!" Wanita itu menunjuk ke arahnya.


" Kalian sudah saling kenal?" Bu Asmah menatap mereka berdua bergantian.


" Belum!" ucapnya dengan nada segan


" Enggak!" Jawab wanita itu dengan nada ketus.


Bu Asmah menyunggingkan senyuman" Sama tapi beda!"


Ia, Sakti dan wanita angkuh itu sama sama menatap Bu Asmah, dengan alis berkerut.


" Yang satu bilang belum. Itu artinya akan mengenal?" ucap Bu Asmah memandangnya dengan santai.


" Yang satu bilang enggak. Berarti..." Bu Asmah melirik wanita itu


.


.


Dunia seakan hanya selebar daun kelor. Belum juga usai kemarahan yang meluap di hatinya, kini si penyebab sudah berdiri di depan mata.


" Ndu, mending besok kita pasang di sebelah sana aja!" Tunjuk Sakti mengamati kamar Fina yang rapih.


" Kita tanya saja sama yang punya kamar, jangan lupakan nilai estetika!" sahut Pandu dengan wajah datar.


Fina sepanjang mereka disana hanya bermuka masam. Sama sekali tak ada keramahan apalagi senyuman.


" Gimana Mbak?" tanya Sakti seraya menelan ludah.


" Terserah, aku gak tau dan gak mau tahu!" ucapnya ketus.


Sakti menggeleng dengan mensugesti dirinya agar lebih bersabar lagi. Terbukti, kesabarannya itu bertahan hingga pagi ini.


Pagi itu mereka sudah berada di rumah Bu Asmah. Dan seperti yang beliau katakan, Bu Asmah sedang berkunjung ke areal sawahnya yang hendak di panen.


" Selamat pagi!" Sakti mengetuk pintu rumah itu, terlihat mbak Yayuk membuka pintu dengan tergopoh-gopoh.


" Mas, silahkan. Ibu tadi pesan langsung di kerjain saja, mari!" Mbak Yayuk cukup mengenal dua pemuda itu.


Namun titah Bu Asmah berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Fina belum bangun di saat mentari sudah meninggi.


" Mbak! Mbak Fina!" Mbak Yayuk memasang wajah sungkan kepada Pandu dan sakti, karena yang punya kamar masih terlelap di saat matahari sudah menyingsing.


" Kenapa Mbak?" Pandu angkat bicara.


" Anu mas Pandu, mbak Fina nya masih belum bangun!" Mbak Yayuk belingsatan. Ia tentu merasa tak enak kepada Pandu dan Sakti, terlebih kepada Fina.


" Ya sudah kami tunggu saja!"


.


.


Pandu memantau Sakti mempersiapkan beberapa perlengkapan penunjang. Diantaranya,


Pipa Refrigerant. Benda ini adalah material yang paling penting untuk disiapkan sebelum anda pasang AC, kemudian Bracket Outdoor.


Kabel Listrik yang wajib ada, karena bagaimana mau menyala bila tak ada listrik yang mengalir


Duct Tape Lem dan Non Lem. Fungsi dari material ini adalah untuk membungkus pipa refrigerant agar supaya terlihat rapih. Selain itu duct tape ini juga bisa berfungsi untuk mengurangi kondensasi, yang mungkin terjadi pada pipa refrigerant meskipun sudah terbungkus insulasi.


Terkahir selang Drain. Untuk selang drain ini anda bisa pilih pakai selang fleksibel atau pakai pipa tergantung dari anda sendiri. Fungsi dari selang drain adalah untuk membuang air yang dihasilkan dari unit indoor AC.


" Ndu, kalau lama begini gimana? habis ini aku ada orderan kulkas lagi!" Sakti menggerutu. " Perawan kok suka bangun siang sih!" pria itu mendengus kesal.


" Loh, kok belum selesai?" Bu Asmah bahkan sudah kembali dari sawah.


" Emmm anu Bu, mbak Fina belum bangun!" Yayuk menjadi kikuk sendiri.


" Apa???"


.


.


Badan Fina kini basah kuyup karena satu ember air dingin sudah melumuri tubuhnya, yang masih bergulung selimut diatas ranjangnya.


" Heyyhhh!!!" denga gelagapan bercampur bingung, Fina bangun karena sesuatu yang dingin mengguyur tubuhnya.


" Kamu ini keterlaluan Fina! lihat jam berapa ini, mereka berdua bahkan sudah menunggu kamu sejak pagi. Kelewatan kamu ini!"


Kemarahan nampak jelas di wajah Bu Asmah " Mandi sana kamu, kalau begini terus kapan kamu ngertinya!"


Hati Fina dongkol, ia tak mempermasalahkan guyuran air. Ia semalaman asik chating dengan Dita hingga lupa waktu, membuat dia terlambat tidur. Tapi yang ia sesali, mengapa Oma-nya itu memarahinya di depan dua pria yang nampak terkejut itu.


" Kalian sama aja, gak ada yang benar-benar sayang sama aku!!" Fina menabrak pundak Pandu yang berada di depan pintu. Ia kesal dengan Oma-nya namun melampiaskan kekesalannya pada orang lain.


Bu Asmah memejamkan matanya " Maafkan cucu saya!" ucapnya sungkan kepada dua orang yang sedari tadi menunggu dalam kesia-siaan.


.


.


.


.