
Bab 28. Mengapa harus datang
^^^" Kadangkala ketidaktahuan itu justru lebih menenangkan!"^^^
...☘️☘️☘️...
.
.
.
Berita tak menyenangkan dari Dita tersebut sukses membuat selera makan Fina hilang. Kenyang secara mendadak meski ia sebenarnya suka dengan citarasa sambal buatan Ambarwati.
" Kenapa?" Pandu bertanya sambil memasukkan suapan terakhirnya.
Fina tertegun, tentu saja ia tak akan menceritakan hal ini kepada Pandu. No way!
" Emmm, aku musti cepet balik ke sawah. Tadi aku mau bayar kuli soalnya. Maaf ya, nanti sampaikan salam ke Bu Ambar!" Fina meneguk segelas air itu dan langsung terburu-buru keluar.
Pandu tak bisa menahan apalagi mencegah. Ia mengangguk seraya masih memamah biak. " Aku antar?" tawar Pandu membuat langkah Fina terhenti.
" Enggak usah, aku bawa motor kok!"
Membuat Pandu mengangguk mengerti.
.
.
" Halo?" Fina kembali menghubungi Dita saat ia sudah berada di sawah. Rupanya para kuli belum merampungkan pekerjaan mereka.
" Duh Fin, gawat. Si Riko mau kesini!" ucap Dita cemas dari seberang.
Fina tertegun, untuk apa Riko datang ke Kalianyar. " Ngapain?" tanyanya sejurus kemudian.
" CK, ngapain lu bilang. Ya nyari elu lah!"
" Kok bisa tahu?" Fina mendengus.
" Gue lupa hidden story' gue ke kontak dia. Gue post yang waktu semalam kita di lapangan itu, elu lagi duduk gak sengaja kejepret!"
Fina merasa ada yang salah dengan dirinya. Ia sama sekali tak memiliki respect kepada Riko.
" CK, ya udah biarin aja. Bukan urusan gue lagi. Gue udah udah mutusin dia sewaktu di Daipoeng!"
" Duh Fin, gue yang kena. Dia nyalahin gue terus nih. Dia keukeuh pingin ketemu sama elu. Dia bilang dia gak ngerasa hubungan elu sama dia berkahir . Gila tua anak emang!" suara Dita terdengar bersungut-sungut.
Fina terdiam sembari memperhatikan para kuli yang bertubuh legam karena kena sengatan matahari, silih berganti memanggul karung-karung gemuk berisi gabah.
" Ah udahlah, terserah dia. Gue sibuk banget!"
Tut
Hati Fina kembali goyah. Benarkah Riko ke Kalianyar hanya untuk mencari dirinya?
" Argghhhh!" Fina mengacak rambutnya frustasi. Membuat Ajiz dan beberapa kuli disana menoleh ke arah Fina.
Kril krik krik
Seketika Fina menjadi kikuk karena semua orang memperhatikan dirinya. " Kenapa pak, udah lanjut aja!" ucap Fina membuat kesemua yang disana menjadi menelan ludah.
Cucu juragannya benar-benar aneh.
...☘️☘️☘️...
Senja berganti malam. Kegelapan desa itu tersuluh oleh pendaran cahaya lampu lintas Watt yang menyala di tiap rumah-rumah warga. Tak terkecuali rumah Pandu.
" Adik mas cantik banget, pangling jadinya!" ucap Pandu yang kini duduk di ruang tengah rumahnya seraya menoel pipi adiknya.
" Mbak Fina itu kayak siapa mas? kayak mbak Desinta kah?" ucap Ayu sembari tersenyum. Ia tentu ingin tahu seperti apa perangai Fina yang ia rasa pasti sangat cantik.
"Kayak apa ya..." Ucap Pandu sengaja menggantung ucapannya.
" Pasti cantik, tinggi, putih. Parfumnya aja wangi banget mas. Ayu malu sebenarnya pas mbak Fina masuk ke kamar Ayu!" ucapnya.
" Kenapa malu, kamar Ayu kan bersih. Mbak Fina gak gimana-gimana kan buktinya?"
Pandu selalu memperlakukan Ayudya dengan manja. Ia merasa sejak kecil nasib adiknya itu kurang beruntung.
Saat masih asyik membicarakan Fina, terdengar suara motor besar yang datang kerumah mereka.
" Emmm mas, antar aku kedalam!" Ayu seketika bangkit dan ingin kembali ke kamar, begitu mengetahui itu adalah suara motor Yudha.
Ia minder dan tak percaya diri dengan kondisinya saat ini. Apalagi, Ayu sudah menaruh perasaan kepada sahabat kakaknya itu sedari duduk di bangku SMA kelas sepuluh.
" Kemana? itu si Yudha kok!" ucap Pandu memberitahu Ayu.
" Enggak, aku... ngantuk mas!" Ayu tergagap.
Akhirnya Pandu mengantarkan Ayu untuk masuk ke kamar.
" Pandu, Ndu..!" Ucap Yudha sembari masuk kedalam rumah. Pria itu sudah biasa keluar masuk rumah Pandu.
" Benar Yud, masuk aja!" sahutnya dari dalam kamar Ayu.
" Mas tinggal dulu ya!" ucap Pandu setelah menundukkan adiknya ke kamar dan langsung di balas anggukan oleh Ayu.
Andai ayu dapat melihat, tentu saat ini ia pasti akan turut menyambut Yudha. Pria yang sedari dulu kerap membuatnya gelisah.
" Mas Yudha!" ucap Ayu dalam hati.
Kini, ayu tengah pasang telinga untuk mendengarkan suara Yudha. Tak apa, baginya itu sudah bisa membuatnya senang.
.
.
" Tumben sendiri, mana si Sakti?" tanya Pandu.
" Belum pulang, gak tau dia tuh. Kerja apa di kerjain. Tiap hati pulangnya gak jelas!" ucap Yudha terkekeh.
" Ada apa?"
" Motor gue rewel tuh, besok elu lihat deh. Aku gak sempet. Besok pagi mau ngantar mamak ke saudara!" Yudha terlihat muram.
" Masalah motor aja bikin elu monyong begitu. Gak mungkin gak ada apa-apa!" cibir Pandu.
" Taulah, urusan sama kaum hawa bikin pusing aja!" ucap Yudha menyenderkan kepalanya ke sofa milik Pandu. Menyuguhkan raut wajah kesal.
"Kenapa ngambek lagi si Hesti ?" tanya Pandu seraya mengambil rokok dari bungkusnya.
" Siapa lagi. Posesif banget Ndu. Ya kali waktuku cuma buat dia aja, aku juga perlu kerja, belum lagi kadang mamak minta dibantuin ini itu, belum lagi Bapak minta ngambilnya kedelai!" Yudha mendengus.
" Nasib anak juragan Tahu!" Pandu terkekeh.
Dari mereka berempat, Yudha memang cenderung lebih memiliki sikap acuh tak acuh. Meski kerap gonta- ganti pacar. Tapi Yudha berpembawaan paling cuek dari ketiga sahabatnya.
" Tapi elu cinta kan?" goda Pandu.
" Cinta taik, kalau begitu modelnyagak tahan aku Ndu. Ya emang sih si Hesti ..."
Mereka berdua tergelak demi menyadari ucapan absurd soal body Hesti yang menjadi perbincangan hangat mereka.
Ayudya yang berada di dalam kamar seketika tertunduk lemas. Tentu saja Yudha pasti sudah memiliki kekasih. Pria ganteng itu mustahil tak memiliki daya tarik untuk wanita diluar sana yang memiliki alat indera lengkap.
Ia kini cukup tahu diri. Ia hanya wanita buta yang tak akan pernah dilirik oleh pria manapun. Batinnya mendadak nelangsa dengan sendirinya. Ayudya menangis dalam kesendiriannya.
...☘️☘️☘️...
Dita
Meski hari telah berganti, namun ia masih saja merutuki kebodohannya yang seolah tiada habis. Otak encer namun tak di barengi dengan sikap yang hati-hati.
Ia jelas sudah pernah mengatakan kepada Riko, bila ia tak tahu menahu soal Fina. Tapi, sialnya ia yang terlalu senang malam itu malah memposting foto yang memperlihatkan Fina di dalamnya.
" Elu jangan bohong Dit, gue kesana sekarang juga. Antar gue ketemu Fina!"
Ucapan Riko kemaren sukses membuat dirinya merasa tak tenang. Ia tak mau sahabatnya itu kembali bersedih. Secara pribadi ia juga tak suka dengan Riko yang mempermainkan perasaan Fina seenaknya.
Apalagi, si brengsek itu malah berselingkuh dengan sahabat mereka juga.
Dita rupanya memiliki satu pembantu disana. Memudahkannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Beberapa hari ini ia masih di antar jemput oleh teman satu profesi yang bertugas disana, sambil menunggu mobilnya diantar oleh orang tuanya ke desa.
" Mbak Sri, aku berangkat dulu ya. Nanti gak usah masak . Aku mau kerumah temenku!" ucap Dita seraya menyambar tasnya.
" Iya mbak, kuncinya jangan lupa bawa yang satunya kalau begitu!"
Sri adalah wanita berusia kepala empat, yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah dinas Dita. Membuat Sri bisa pulang sewaktu-waktu.
" Udah kok, ya udah ya mbak..."
Dita senang, Sri adalah orang yang supel dan bisa diajak bekerja sama.
Handle pintu itu telah terbuka, dan betapa terkejutnya Dita saat melihat seseorang yang membuat pikirannya kesal, kini telah berdiri di ambang pintunya.
" Bagus lah kau sudah keluar, aku jadi tidak perlu susah-susah mengetuk pintumu!" ucap pria itu seraya melipat kedua tangannya sembari menaikkan satu alisnya.
.
.
.
.