Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 235. Tabir yang tersingkap



Bab 235. Tabir yang tersingkap


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sakti


Relung - relung hatinya kini penuh dengan rasa haru. Untuk pertama kalinya, ia menangis di hadapan banyak orang seperti saat ini. Entahlah, ucapan Anjana beberapa waktu lalu, sukses menampar kesadarannya akan kadar kedewasaan yang masih minim.


Dan benar, jika hidup selalu memiliki keadaan yang bersanding dengan kenyataan. Dan kenyataannya ialah, ia harus menerima jika ia memang manusia yang terlahir dari rahim wanita yang memiliki nasib nestapa, walau gelimang harta melekat pada mereka.


" Kakek senang dengan pengakuan kamu nak. Kita akan segera ke Kalianyar dan membicarakan masalah ini!" Ucap tuan Liem senang. Kesesakan di hatinya seketika berkurang.


" Kakek istirahat saja dulu. Nanti kita bicarakan hal ini lagi. Yang penting kakek sehat dulu!" Ucap Sakti yang kini malu sebab menangis dihadapan banyak orang. Jelas itu bukan dirinya.


Setelah meninggalkan tuan Liem untuk beristirahat di bawah penjagaan Ve dan Feng. Ia yang mini kembali ke kamarnya, terkejut saat melihat Anjana yang berkemas-kemas.


" Apa yang kau lakukan?" Tanya Sakti bingung. Ia sudah melakukan apa yang dikatakan Anjana, kenapa wanita itu masih marah?


" Tugasku sudah selesai!" Ucap Anjana datar dan kini terlihat mengeluarkan seluruh isi lemarinya. Membaut Sakti makin bingung.


" Tugas apa?" Tanya Sakti yang mengekor kemana arah tubuh Anjana bergerak. Terlihat seperti penari daerah yang ada di Indonesia barat.


Anjana memejamkan matanya lalu membalikkan badannya seraya menatap Sakti yang nampak kaget. " Aku di perintahkan tuan Liem untuk menjagamu agar tidak kabur selama kau belum mengetahui kebenarannya. Kau tahu...kakekmu benar-benar khawatir kalau kau kabur!"


Sakti sebenarnya terkejut. Sesayang itukah tuan liem kepadanya?


" Apa? Ja-jadi?"


" Karena kau sudah tahu siapa dirimu sebenarnya, dan tuan Liem juga sudah berlega hati. Maka...aku ak..."


" Tidak bisa!" Sergah Sakti yang membuat Anjana mendelik. Sakti tak rela jika wanita yang berhasil menyembuhkan lukanya itu kini hendak pergi. No way!


" Tidak bisa kenapa?" Tanya Anjana kini menatap bingung Sakti yang maju ke arahnya. Terlihat ketakutan.


" Kau masih memiliki hutang tanggungjawab denganku!" Sakti menyeringai seraya bersidekap.


" Jangan gila, aku mau pergi. Masih banyak pekerjaan lain. Setelah ini kau juga harus belajar banyak soal pengelolaan perkebunan , minggir!"


Tangan Sakti mengetat saat menahan gerakan Anjana yang mendorongnya. " Berani melawan tuan muda?" Sakti memeluk Anjana dengan posisi saling berhadapan dan ucok yang menyerempet perut Anjana. Sialan!


" Lepas, kau jangan gila!" Anjana kembali ke mode awal demi menutupi rasa takutnya. Sekuat apapun wanita, ia pasti kalah dengan tenaga seorang pria.


" Aku memerintahkanmu unik tetap disini!" Ucap Sakti tersenyum penuh kemenangan. " Bukankah aku tuan mudamu?"


Anjana mendelik. Pria itu licik sekali rupanya. " Mana bisa begitu, aku ada disini karena sebuah tugas. Jangan ngawur kamu!"


" Aku tidak ngawur, ini juga tugas kan?" ucap Sakti masih menatap Anjana yang semakin ketakutan. Membuat Sakti terkikik geli demi melihat wajah pias Anjana.


" Bukankah kau yang bilang jika aku ini adalah cucu pemilik perkebunan ini. Jadi artinya, kau juga harus tunduk dengan titahku bukan?" Sakti makin menyeringai.


" Dalam aturan, tuan muda hanya bisa satu kamar dengan istri, ataupun pengawalnya selama beberapa hari saja, mana boleh seenaknya begini. Aku juga punya privasi! Belajar dulu sana biar kau tahu aturan disini." Ucap Anjana panjang lebar karena benar-benar takut akan benda di bawah sana, yang kini mulai membuatnya ngeri.


" Kalau begitu jadi saja istriku!"


DEG


Entah itu hanya sekedar banyolan atau ucapan ngawur, yang jelas Anjana mendadak terkejut manakala mendengar ucapan gila itu. Dia baper.


" Anjana..." Ucap Sakti terdengar serius dengan raut wajah tegang. Membuat Anjana kini menatap lekat pria berbibir lembab itu.


" Saat Pieter mengatakan jika dia menyukaimu aku menjadi tidak terima!"


DEG


" Jadi benar, tuan muda mendengar pembicaraanku !"


" Aku tidak tahu ,apa jika aku masih miskin kau juga masih berlaku sama baiknya kepadaku. Sebab aku menyadari jika wan...."


CUP


Anjana seketika meraup bibir Sakti detik itu juga. Wanita itu teringat akan cerita Sakti yang memiliki keadaan paling minim diantara ketiga sahabatnya, juga sering menemui kesialan karena di tolak banyak wanita. Membuat hatinya sesak dan tak mau mendengar kisah sedih itu kembali.


Anjana menyukai sikap konyol Sakti yang selalu bisa membuatnya tertawa, meski tak jarang Anjana masih bertahan dengan sikap kakunya.


Ia membungkam mulut Sakti agar pria itu berhenti berbicara dan mengatakan jika ia sama dengan wanita lain. Ia menyukai Sakti secara pribadi tanpa melibatkan posisi pria itu. Bahkan jika Sakti miskin sekalipun, Anjana masih memiliki penilaian sendiri terhadap pria konyol itu.


Ia sama nestapanya dengan Sakti yang tak memiliki orang tua kandung. Tapi apa manusia seperti mereka tak boleh bahagia?


Sakti mengusap punggung Anjana lebih dalam, pun dengan ciuman yang saat ini terjalin mesra itu, semakin menegaskan jika Anjana tak menolak Sakti.


" Kau harus ikut aku ke Kalianyar! "


.


.


Satu pekan kemudian


Bu Sukma tengah sibuk menata pesanan brownis orang , saat sebuah mobil mewah kini berhenti di depan rumah mereka. Membuat suaminya seketika meletakkan koran yang baru ia baca,demi melihat siapa tamu yang datang di jam sepuluh pagi ini.


Mereka mengerutkan keningnya saat melihat wanita muda berpenampilan tegas dengan sepatu boots dan rambutnya terkuncir rapih, tengah membuka pintu mobil yang mengeluarkan sesosok pria tua yang mengenakan pakaian mewah.


" Siapa mereka pak?" Ucap Bu Sukma yang tak mengenali satupun dari mereka. Namun, mata mereka membulat sempurna demi melihat sosok jangkung yang kini melepas kacamata hitamnya, yang keluar dari pintu sisi kanan.


Terlihat lebih tampan dengan gaya yang berubah parlente.


" Sakti?" Ucap mereka kompak dengan mata membulat.


.


.


Semua orang duduk terpekur menatap meja kotak berwarna putih di depan mereka. Anjana duduk bersebelahan dengan tuan Liem dan seorang pengacara, sementara Sakti duduk di tengah-tengah dua manusia yang telah merawatnya sejak bayi itu.


" Kami sudah menganggap dia anak kami sendiri!" Isak tangis terdengar dari bibir Bu Sukma, manakala tuan Liem membeberkan maksud dan tujuannya datang kesana.


Pak Antasena juga Bu Sukma awalnya terkejut demi mendengar penuturan mencengangkan itu. Mereka hanya tahu jika Sakti merupakan anak yang dibuang orangtuanya ke panti. Sama sekali tak mengira jika Sakti merupakan cucu konglomerat pria yang dari antah berantah itu.


" Tolong jangan berpikiran buruk kepada kami..!" Ucap Bu Sukma yang ketakutan sebab mereka juga membawa pengacara.


Sakti tersenyum di sela tangisnya dan kini meraih tangan wanita yang selama ini membesarkan dirinya itu. " Ibuk ngomong apa. Sakti bangga jadi anak ibuk sama bapak. Terlepas dari siapa Sakti saat ini, saat sangat berterimakasih karena selama ini kalian sudah merawat sakti dengan baik!"


" Sakti masih anak ibu dan bapak. Bukan begitu kek?"


" Benar. Tolong jangan ragukan hal itu!" Sahut tuan Liem dengan sikap berwibawanya.


Selama seminggu ini Sakti bahkan merasa lebih sering menangis ketimbang ngebanyol. Matanya sampai panas demi merasakan efek tabir kehidupan yang telah tersibak.


" Atas nama pribadi saya sangat berterimakasih. Terimakasih untuk segalanya yang diberikan untuk cucu saya!" Ucap tuan Liem kemudian.


Pak Anta mengusap punggung istrinya yang bergetar hebat. Ia benar-benar tercekat dan tak mampu berucap.


" Kalian jangan sedih. Aku masih anak bapak sama Ibuk. Sakti janji, akan sering-sering kemari nanti!"


Anjana tersenyum lega saat merasa semuanya berjalan dengan baik. Entah mengapa, melihat senyum yang merekah di wajah tuan Liem, membuat wanita tegas itu merasa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Meski ia merasa, kebaikan tuan Liem dalam hidupnya tak akan pernah bisa terbayarkan oleh apapun.


.


.


.


.


.