Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 196. Di satu siang bersamamu



Bab 196. Di satu siang bersamamu


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rarasati


Plong, lega, rileks lalu kata apalagi yang bisa mewakili perasaan Rara saat ini?


Ia kini menjadi lebih ringan usai menumpahkan cairan bening, dan membanjiri seragam Yudha dengan air matanya.


" Maaf!" Ucapnya malu karena sungguh kini merasa tak enak hati kepada pria itu.


Yudha mengangguk. Sesungguhnya, pria itu justru merasa riang hati manakala Rara menjadikannya sandaran kesedihan. Ya..walau sebetulnya, itu diluar kesengajaan.


" Kalau kamu enggak keberatan, masalah uang, aku bisa pinjemin kamu dulu setelah ini. Aku ada tabungan yang bisa kamu pakai!"


Rara menggeleng tak setuju demi mendengar tawaran Yudha , bagaimana bisa ia meminjam uang pada pria yang beberapa hari ini menjadi seterunya.


" Enggak. Aku mau jual motorku aja!" Sahut Rara cepat. Ia pikir Yudha tak tahu jika ia bergumam tadi.


Yudha mendesah tak percaya, " Please berhenti bersikap impulsif Ra! Gue tahu kita masih belum kenal satu sama lain dengan baik. Tapi...gue mau bantu elu!"


Rara tertegun. Ia jelas malu dan tak enak hati. Lebih tepatnya, ia masih gengsi.


" Elu bisa pakai duit gue tanpa mikir bunga. Kalau elu jual motor elu, elu bakal kerepotan pas ngantar sama riwa-riwi nebus obat buat bapakmu nanti. Dan satu lagi, gue minjmein uang karena gue merasa bersalah ke elu. Udah nuduh elu nyopet dan suudzon yang enggak- enggak, sama tadi aku sempat ngomong gak enak juga soal.."


" Gue tahu!" Jawab Rara dengan tatapan nanar ke lantai. Ia tak mau mendengar hal itu lagi. Membuat Yudha menelan ludahnya.


" Nah kalau elu tahu, sekarang dengerin gue!" Ia menangkup wajah layu Rara dan menatapnya penuh kekhawatiran.


" Habis ini kita ke bagian administrasi, kita tanya kesana. Elu bisa nyicil semampu elu ke gue ,kalau emang elu sungkan!"


Yudha terpaksa beralibi seperti itu agar Rara mau menerima bantuannya. Sebenarnya ia ingin membantu membayarkan semua biaya itu, tanpa mengharap Rara mengembalikan. Atas dasar rasa manusiawi, ia tergugah untuk menolong. hanya saja ia takut jika Rara menolak.


Alasannya sudah jelas. Mereka bukanlah siapa-siapa. Lebih tepatnya belum menjadi siapa-siapa.


Dan harus ia akui. Ia kini tertarik kepada Rara. Wanita tangguh yang benar-benar bisa mengusik hatinya.


.


.


Kedai Cak Juned


Tempat asik berkumpulnya para manusia santai itu tak pernah sepi dari kunjungan para pelanggannya. Seperti saat ini misalnya.


Siang ini Sakti yang berhasil kabur dari tataran ibunya terlihat mengepulkan asap seorang diri. Ia berhasil kabur usai berdalih mencari beberapa bahan baku yang kurang untuk produksi produk homemade mereka.


" Tumben sendirian mas?" Tanya cak Juned yang kini membersihkan meja bekas pakai pengunjung lain siang itu.


" Yang lain jelas sibuk lah mas. Dari mereka semua, kan cuma aku sendiri yang sukses jadi pengangguran?" Ucap Sakti terkekeh renyah, namun mengandung kadar ironi yang tinggi.


Nestapa sekali!


" Walah, jangan gitu mas. Mas Sakti belum ketemu aja jalan suksesnya. Waktu orang itu beda-beda mas. Kayak saya ini contohnya. Dulu sebelum warung saya rame, saya udah berkali-kali bongkar pasang tenda di trotoar yang ujung-ujungnya kena sweeping Satpol PP!"


Sakti tergeletak demi mendengar cerita yang cukup mengocok perut itu.


" Intinya kalau mau jadi sukses itu kita harus ulet mas, telaten sama banyak sabar. Terus jangan membandingkan diri kita dengan orang lain. Capek kalau begitu terus mas... Kalau tak lihat-lihat nih ya..., mas Sakti ini mumpuni di marketing. Ibunya mas Sakti pinter banget kan nyari peluang usaha, nah kolaborasi saja mas!"


Sakti tertegun. Benar kata Aji. Kadang pria kurus itu sedikit banyak mampu menjadi pemecah solusi terbaik.


Sakti mendelik seketika, dari mana pria itu tahu.


.


.


.


Yudhasoka


Ia turut berlega hati kala telinganya mendengar penjelasan dokter yang jelas itu. Meski entah mengapa, secuil rasa cemburu menyelinap saat dokter muda itu menatap Rara dengan tatapan tak biasa.


Dokter mesum! Ucapannya mencibir dalam hati. Menatap pria dengan wajah berdarah Tionghoa itu dengan tatapan tak suka.


" Terimakasih banyak dokter. Saya senang mendengarnya!"


" Semoga setelah ini segera membaik ya. Biar bisa di pindahkan ke ruang perawatan!"


" Kalau butuh apa-apa, kamu bisa cari saya di ruangan!" Dokter itu menepuk lengan atas Rara dengan ramah.


Membuat Yudha mendengus kesal demi melihat Rara yang juga membalasnya dengan penuh keramahan.


Apa-apaan mereka?


" Lihatlah, dia bahkan tidak pernah tersenyum seramah itu kepadaku?"


" Kenapa?" Tanya Rara yang melihat Yudha menatap nanar wajahnya. Membuat pria itu tersentak.


" Enggak! Enggak Kenapa-kenapa!" Ucapnya gelagapan.


" Udah mau siang ternyata. Kamu udah makan belum, kita makan yuk. Aku lapar nih. Habis itu, kita langsung ke bagian administrasi!"


Yudha bahkan mengabaikan sumpah serapah dari Buyung melalui pesan singkat, yang ngomel- ngomel karena ia dibiarkan mengerjakan sendiri tugas yang harus di selesaikan okeh Yudha. Sialan!


Yudha senang bisa duduk berdua dengan wanita di depannya itu. Meski wajah Rara, kini kembali ke mode B aja.


Hah, biar sudah. Setidaknya ini lebih baik dari pada harus melihat wanita itu berurai air mata.


" Makan disini aja biar cepat? Kamu juga biar bisa balik ke kantor!" Ucap Rara yang rupanya mengajak Yudha makan di kantin rumah sakit itu.


Yudha mengangguk setuju. That's not a problem.


" Mau makan apa?" Tanya Rara menawarkan.


" Panas-panas begini makan apa enaknya?" Yudha terlihat berpikir.


" CK, emang perlu mau makan harus lihat sikon? ( situasi kondisi)" Tanya Rara memutar bola matanya malas. Sembari meraih daftar menu di meja itu.


" Ia dong... seperti misal, kalau cuaca dingin enak makan yang berkuah, kalau kamu enggak begitu memangnya?" Tanya Yudha yang kini turut memulai membaca daftar menu yang terbuat dari kertas yang di laminating itu.


" Boro-boro mikir begituan! Ada yang aku makan aja bersyukur Yud. Aku mah orangnya enggak kayak elu, ribet!" Ucap Rara tanpa basa-basi dan terlihat apa adanya.


Yudha seolah tertampar dengan ucapan Rara barusan. Niat hati ingin berintermezo, namun yang ia dapat justru skakmat lagi dari wanita manis itu. Hamsyong banget!


" Bu, saya pesen soto babat aja sama minumnya es teh, tambahin kecambah yang banyak ya!" Ucap Rara sesaat setelah seorang wanita paruh baya datang memenuhi lambaian tangannya.


" Oke mbak, kalau mas-nya gimana ? Mau sama kayak pacarnya atau yang lain?"


Membuat Yudha seketika tersedak air mineral yang baru saja ia tenggak.


Pacar?


.


.