
Bab 116. Wanita itu
^^^" Inikah rasanya cinta, ih inikah cinta. Terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya"^^^
^^^( ME- inikah cinta)^^^
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Ia tengah bersama Sukron pagi itu, hendak membelikan sepatu untuk para anak buahnya ke toko langganannya. Ia menurut kepada saran Sukron untuk membeli boots khusus pekerja di toko Ko Ari.
" Kamu masuk dulu Kron, hitung aja berapa banyak. Kamu bayar pakai ini. Aku mau ngangkat telepon dulu!" Aji memberikan kartunya untuk di gesek. Pengusaha muda sekelas Ajisaka tentu tak mungkin tak memiliki kartu kredit.
" Beres bos!" Sahut Sukron dengan wajah sumringah.
Setelah lebih dari lima belas menit bercuap- cuap bersama agen distributor keripik buah naga miliknya, pria itu kini terlihat masuk dan hendak menyusul pria berambut jagung itu.
Betapa terkejutnya ia, saat baru membuka kini dari kaca itu ,ia melihat bocah yang nyaris ia tabrak kemaren. Bocah itu duduk seorang diri dengan wajah kusut dan lesu.
" Anak itu? Kenapa sendirian lagi?" Mendadak merasa kasihan. Ia menyapukan pandangannya dan tak melihat siapapun disana selain Sukron yang sibuk dengan salah seorang pegawai Ko Ari.
Sejenak Aji menyimpulkan, mungkinkah anak itu yang anak liar? Kenapa sendirian dengan keadaan seperti itu?
"Loh kamu kan yang kemaren hampir saya tabrak, kamu sedang apa disini? Kamu sendiri?" Ia kini berjongkok di depan anak tersebut. Mensejajarkan posisi agar sama tinggi.
Anak itu terlihat tak nyaman. Padahal mereka pernah bertemu sebelumnya.
" Kamu kesini sama siapa?" Ia masih saja memberondong pertanyaan saat wajah anak itu sudah pias. Apa hanya dengan menanyainya seperti itu membuat anak-anak takut?
Atau wajahnya memang garang?
" Damar!"
" Mar!"
Ia mendengar suara wanita yang tak asing. Berteriak dan berjalan mendekat ke arahnya.
Lagi-lagi ia merasa aneh dengan semua yang terjadi belakangan ini. Ia kemudian menoleh ke arah belakang, betapa terkejutnya ia melihat wajah wanita yang akhir-akhir ini membuatnya resah, wanita yang beberapa hari ini membuatnya gelisah.
" Wanita itu?"
" Kamu ini jangan suka pergi-pergi! Ayo kita kesana!" Wanita yang mengomeli bocah itu melewa dirinya begitu saja. Jelas ia melihat raut kecemasan di wajah betina yang tengah memarahi bocah berusia lima tahun itu.
Ia masih tertegun dan bahkan bibirnya terkunci rapat. Apa ia bermimpi? Wanita yang tadi menggeret lengan bocah yang baru saja ia tanyai tadi merupakan wanita yang ia temui saat di kota tempo hari?
Ya Tuhan!
" Bos!" Panggil Sukron kepada dirinya.
" Bos!"
" CK!" Ia mendecak kesal, si Sukron ini apa enggak tahu apa kalau ia sedang senang.
" Bos di panggil ko Ari!" Sepertinya ia akan memiting leher Sukron setelah ini karena berani-beraninya menginterupsi dirinya.
Sialan!
Ajisaka terpaksa menunda untuk mengejar wanita tadi.
.
.
Widaninggar
Ia telah menemukan harga dan model yang cocok. Ia bahkan sampai mencari di etalase yang berada di ujung barat bersama sebuah pegawai. Ia terkejut saat melihat Damar tak berada di dekatnya.
Astaga, dimana anak itu? Ia mencari sampai ke tempat awal ia mencoba sepatu tadi. Dan rupanya benar, ia melihat putranya disana. Di lajur sandal anak-anak. Namun, ia merasa takut dan curiga dengan pria yang berjongkok menatap putranya.
"Jangan-jangan penculik!"
"Damar!"
" Mar!"
" Kamu ini jangan suka pergi-pergi! Ayo kita kesana!" Ia bahkan tak segan mengomeli Damar di depan pria asing itu. Takut jika pria itu akan berniat jahat kepada anaknya.
Ia ngeloyor begitu saja melewati pria yang mematung di depannya. Tak menoleh sedikitpun.
Usai menemukan Damar bersama pria asing tadi dan membayar semua belanjaannya, Wida dengan terburu-buru pergi meninggalkan toko itu. Jantungnya deg-degan kala melihat pria asing yang mengajak ngobrol putranya.
Pikirnya ialah, saat ini banyak sekali modus penculikan anak-anak. Berdandan rapi, dan bersikap ramah kepada anak-anak merupakan satu cara yang digunakan penculik untuk mengelabuhi korban.
" Kamu jangan mau diajak ngobrol sama orang yang gak dikenal Mar. Nanti kalau kamu di culik gimana?"
" Kamu harus belajar hati-hati sama orang asing!"
" Ayo cepat!" Wida terus menggeret tangan anaknya dengan cepat. Ia sangat trauma dengan kejadian buruk yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Baginya, pria baik hanyalah bapak seorang.
.
.
Damar
Ia lega karena om tadi tidak sempat berbicara dengan Ibu, meski ia kini malah kena marah ibu lagi. Padahal dia tidak bicara apapun dengan om itu.
Ia sempat menangkap raut wajah om tadi yang menatap lekat wajah ibunya sambil tersenyum. Tapi ibu malah sibuk memarahi dirinya. Ia tak tahu, apa arti di balik senyum om tadi. Yang jelas, sepertinya om tadi bukanlah penculik seperti yang dituduhkan ibu kepadanya.
"Bu aku pingin beli ayam krispi itu!" Ia menunjuk sebuah warung makan cepat saji dengan menu sepotong ayam dengan teman sambal dua rasa, yang harga sepaketnya sama dengan harga satu liter minyak goreng saat ini.
Kapan lagi diajak belanja, iya kan?
" Di bungkus aja ya? Ibuk banyak kerjaan dirumah!"
Ia mengerucutkan bibirnya kecewa. Ia ingin melalui hari itu berdua bersama ibu sebenarnya. Makan di tempat itu seperti anak-anak lainnya. Tapi ibu selalu berdalih jika dirinya repot.
.
.
Ajisaka rupanya dicari oleh owner toko sepatu yang terbilang besar itu untuk membahas hal penting tentang informasi pelanggan baru yang akan memesan olahan keripik buah naga produksinya. Usaha yang digeluti Ajisaka memang membuat dirinya dikenal banyak orang.
" Elu kapan punya istli?" Ucap Ko Ari sembari menyerahkan kartu kredit kepada Ajisaka.
" Belum Ko, belum waktunya!" Aji terkekeh. Mengapa orang-orang selalu menanyakan hal itu kepada dirinya.
" Jangan lama-lama, elu olang ganteng. Oe khawatil nanti jangan-jangan elu juga suka sama yang ganteng!" Ko Ari tergelak. Pria itu mengira jika Ajisaka tak doyan perempuan.
Entah mengapa ia tak marah jika Ko Ari yang mengajaknya bercanda. Pria keturunan Tionghoa itu sangat ramah dan hangat.
" Saya normal lah Ko. Belum berpikir ke sana. Tau sendiri, sibuk banget tiap hari!" Ajisaka tergelak. Ya emang benar juga sih, jaman sekarang banyak orang ganteng yang pacarnya juga ganteng. Ia malah bergidik ngeri sendiri kala membayangkan.
"Bos, saya bawa ini dulu ke mobil ya!" Sukron pamit membawa satu karung sepatu boots khusus untuk para pemetik buah naga di tempat Ajisaka.
" Ok!" Sahut Aji cepat.
Ia kini celingak-celinguk mencari sosok wanita yang kini membuatnya bersemangat itu. Sosok wanita yang belum ia kantongi identitasnya. Berharap wanita itu masih ada disana.
" Elu nyali siapa?" Ko Ari rupanya membaca gelagat aneh Ajisaka.
" Tadi...ada anak-anak yang...!"
" Udah balik, sama emaknya tadi!"
Ajisaka tertegun, jadi anak yang nyaris ia tabrak kemaren adalah anak wanita itu. Astaga! Berarti wanita itu orang daerah sini dong? Tapi, kenapa mereka bisa ada di kota ya? Wajahnya babak belur lagi. Apa anak tadi juga anak yang di gendongnya kapan hari?
Sejenak Ajisaka berpikir, mengapa dirinya menjadi mau tahu akan hal itu? Dan mengapa dadanya berdesir kala berjumpa kembali dengan wanita itu.
Ia harus mencari tahu dimana wanita itu tinggal. Apalagi, ia masih menyimpan rapi benda berharga milik wanita itu di dalam dompetnya.
Ko Ari menggelengkan kepalanya demi melihat Ajisaka yang senyam-senyum sendiri. " Haiiyaaa! elu olang kenapa ketawa-ketawa sendiri begitu!"
Ajisaka langsung kembali ke model awal. Apa tadi dia benar-benar terlihat bodoh?
Kini, ia menjadi makin penasaran dengan wanita itu. Benarkah jika ia telah merasakan tanda-tanda poling in lop seperti yang pernah di gaungkan oleh si sableng Sakti?
Wadiaaaww!!!!
.
.
.