
Bab 166. Panggil aku Ayah!
.
.
.
...πππ...
Ambarwati
"Udah mas cepetan ganti baju dulu, terus kita makan!" Ia mendorong pelan dada suaminya agar pelukan itu bisa terlepas.
Jujur, Ambar masih harus adaptasi kembali demi mengimbangi sikap suaminya yang sepertinya mengalami puber kedua. Bayu benar-benar sosok yang di dambakan semua wanita. Dewasa, hangat, kaya dan penuh welas asih.
Bayu terkekeh " Oke-oke, ya udah....kita makan dulu sebelum aku nanti memakanmu!" Ia mengerlingkan matanya sembari mengeluarkan candaan yang justru membuatnya semakin merona.
Dasar pria itu!
Perasaan bahagia melingkupi hati Ambar. Siapa sih yang bisa menolak perhatian juga sikap baik dari seorang pria yang memang benar-benar tulus?
Semua orang pasti juga merasakan apa yang ia rasakan bukan? Bahagia dan merasa berbunga-bunga.
" Bengkel kamu gimana Ndu? Aman?" Tanya Mas Bayu saat mereka sudah berada di meja makan dan melaksanakan makan malam bersama untuk pertama kalinya.
" Aman Pak, ya... lagi dalam proses perkenalan ke orang juga melalui medsos!" Sahut Pandu sembari tekun menyuapkan nasi bercampur bala- bala udang yang lezat.
Emmm Yummy
Bayu mengangguk, sementara Ambar hanya memperhatikan dua pria di depannya itu secara bergantian. Benar-benar masih tak menyangka jika akhirnya ia bisa menyandang status sebagai istri kembali.
Terimakasih Tuhan.
" Jangan panggil dengan sebutan yang kaku begitu lah. Panggil aku Ayah !" Ucap Bayu sambil melirik Pandu.
Pandu mengangguk, itu bukan masalah. Ia pria dewasa yang tak memerlukan dikte dari orang lain. Lagipula, entah mengapa Pandu merasa senang karena setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mendengungkan nama penuh makan itu dirumahnya.
Meski yang kini berperan bukanlah Hartadi. Melainkan orang lain yang sikap dan sifatnya melebihi Ayah kandungnya.
Bagi Pandu itu tidak masalah. Hidup adalah tentang bagaimana kita mau menerima ketetapan takdir.
" Beberapa hari lagi Ayah harus kembali ke kota. Ibumu ingin Ayah aja kesana, bagaimana menurutmu?" Ucap Bayu yang kini membuatnya terdiam demi melihat reaksi Pandu.
Pandu terlihat meletakkan sendok dan garpu nya, lalu meraih segelas air putih lalu meneguknya hingga tandas. Ah kenyang!
" Pandu udah mikirin hal ini sejak Pandu menyetujui Ayah akan menikahi Ibuk!" Sahut Pandu dengan wajah santai.
Membuat Ambar kini mengigit bibir bawahnya sendiri lantaran merasa di ujung rasa bimbang.
" Ibuk sudah jadi istri, dan sudah kewajiban Ibuk untuk taat saya Ayah dan...."
" Kamu jangan khawatir!" Potong Bayu dengan tersenyum. Membuat kalimat Pandu terpangkas.
" Kami akan sering bolak-balik. Lagipula, mulai dari sekarang, Ayah harus segera memikirkan rencana dan konsep untuk melamar Fina buat kamu. Itu artinya, kita semua akan sering bolak-balik ke kota!" Ucap Bayu tersenyum tulus.
Ambar sangat merasa senang saat Bayu mengucapkan hal itu. Jujur, ia sempat resah lantaran bingung bagiamana jika Pandu benar-benar mencintai Fina dan menginginkan menikah dengan anak itu.
Namun, Tuhan rupanya tengah merenda suatu kebaikan untuk dirinya yang mau bersabar. Kini, hatinya diliputi kebahagiaan karena ia pasti bisa melaksanakan lamaran seperti yang orang lain lakukan dengan memposisikan Pandu memiliki orang tua yang lengkap.
" Kamu anak Ayah mulai sekarang Ndu. Ayah percaya kamu anak baik-baik. Nasib KJ kedepannya tentu akan Ayah limpahkan kepada kamu!" Ucap Bayu serius sembari menepuk pelan lengan Pandu dengan wajah tersenyum.
Membuat Pandu tersentak karena tak percaya jika Bayu bahkan sudah memikirkan hal sejauh ini.
.
.
Yudhasoka
Aji sibuk dengan pekerjaannya yang makin bertambah seiring dengan banyaknya orang yang menjalin kerjasama dengan pria itu. Sementara Sakti, pria itu tengah bergelut dengan usaha yang lekas di rintis oleh ia dan keluarganya di sektor panganan kekinian. Entah apa namanya, ia juga belum tahu.
Sementara dirinya , malam itu keluyuran seorang diri demi membunuh rasa sumpek yang bersarang di otaknya. Ia tak bisa tenang sama sekali, tiap mengobrol dengan Hesti dan berniat menggali informasi, ujung-ujungnya malah ribut dan bertengkar.
Damned!
Belum lagi suara menggelegar dari mamaknya, kala memarahi Arju yang kesehariannya menjadi generasi menunduk lantaran bermain gadget tak kenal waktu.
Malah membuatnya semakin stres.
" Silahkan mas!" Ucap seorang pelayan cafe yang saat ini meletakkan secangkir kopi dengan sebuah kudapan yang ia pesan. Sengaja mengasingkan diri demi mencari ketenangan.
" Makasih mas!" Sahutnya dengan wajah kusut yang ia tekuk. Benar-benar mumet.
Pria itu sejurus kemudian menyeruput kopi pesanannya. Ah mantap!
Dari kejauhan, ia melihat banyak sekali orang yang berdiri mengantri di sebuah warung waralaba yang berada di samping cafe dengan konsep outdoor itu.
" Rame banget, jual apa sih?" Gumamnya sembari menyapukan pandangannya demi mencari nama yang ada di outlet streetfood berwarna hitam dan kuning itu.
...Mafia Gedang...
" Mafia Gedang ( pisang) ?"Gumamnya lagi demi membaca brand atau nama papan waralaba yang tercetak di atas papan akrilik besar itu.
Membuatnya sedikit tertawa.
Orang jaman sekarang berlomba- lomba berinovasi menciptakan nama-nama unik untuk menarik perhatian pelanggannya.
Lihat saja, bahkan makanan itu sebenarnya merupakan aneka olahan pisang , yang sengaja di buat menjadi aneka panganan lezat yang cocok di lidah para kaum milenial.
Benar-benar trik marketing yang luar biasa.
Namun, pandangannya kini berubah demi melihat tangan seseorang yang menyelinap ke saku celana belakang seorang pria tua.
Sial copet!
Dengan mata tak lekang menatap kejadian itu, Yudha kini merasa geram saat ia menangkap basah kejadian kurang ajar itu dengan mata kepalanya sendiri. Sialnya lagi, ia malah seolah tercekat saat melihat hal itu.
Shiit!
Dengan gerakan cepat, ia kini membuka dompetnya, mengambil selembar uang lalu meletakkan selembar uang pecahan seratus ribu diatas meja cafe itu.
Berniat berlari mengejar pencopet yang kini telah kabur.
" Loh mas, kopinya belum sampean minum?" Teriak pegawai cafe itu kepada Yudha yang keburu berlari mengejar copet tadi. Sama sekali tak menghiraukan teriakan pegawai cafe yang mengundang atensi orang-orang yang tengah mengantri di depan franchise Mafia Gedang. Termasuk korban copet itu.
Yudha menstarter motornya dengan cepat dan cenderung ngawur. Melesatkan motornya kasar dengan tatapan awas dan tertuju pada orang yang kini terlihat berlari.
" Berhenti kamu!" Ia meneriaki orang yang sepertinya terlihat terkejut karena teriakannya.
Orang itu malah berlari semakin kencang dan terlihat masuk ke sebuah gang sempit karena perbuatan merasa diketahui oleh orang lain.
Jelas Yudha tahu jika ia mencopet. Begitu pikir orang itu.
Yudha tak mau berteriak copet karena takut menimbulkan kegaduhan. Ia berniat menangkap sendiri orang itu dan akan memberikan pelajaran nanti.
" Berhenti woy!" Yudha terus berteriak saat orang itu masuk ke sebuah gang yang rupanya sebuah pasar gang telah sepi. Terlihat gelap dan sunyi lantaran pasar itu hanya beroperasi pagi hari.
" Sial!" Ia mengumpat saat melihat gang sempit yang sudah tidak bisa di lalui oleh motor besarnya.
Kini, Yudha terpaksa turun lalu berlari mengejar orang yang cukup gesit itu. Jangan sampai dia lolos.
Ia berlari menyusuri konsesi- konsesi yang sudah tutup itu. Melewati jalan pengap dan bau. Bau bekas kubis busuk yang kini cukup menyiksa indra penciumannya. Brengsek!
Ia terus berlari bagai anak kijang yang lincah. Memburu orang yang rupanya tak mau menyerah juga. Dan dengan kecepatan maksimal, Yudha berhasil menarik jaket Hoodie berwarna hitam milik orang itu.
Lalu dengan tarikannya yang kuat, Yudha berhasil membuat orang itu berhenti.
SRAKK!
BUG!
Orang itu rupanya langsung menyerang Yudha dengan cara menepis tangan Yudha dengan sangat kasar.
BUG!
Yudha bahkan kini terhuyung ke belakang saat kaki orang itu berhasil menendang perutnya. Ah sial, kuat juga dia!
Orang itu mengenakan masker dan menangkupkan penutup jaketnya itu keatas kepalanya. Mengenakan pakaian serba hitam dan mengenakan sepatu senada.
Mereka kini berkelahi, saling tendang saling pukul. Dan kini, Yudha benar-benar sudah berada di batas kesabarannya. Yudha menendang perut orang itu hingga membuatnya terjerembab ke tanah.
" Argggggghhh!" Ringis orang itu yang membuat Yudha terperanjat demi menangkap nada suara yang tak biasa.
Merasa geram, Yudha seketika membalas dengan cara menarik paksa penutup kepala jaket itu, laku menarik masker orang itu dengan keras.
" Hah?" Ucapnya terkejut dengan apa yang ia lihat.
Dan benar saja, orang itu rupanya seorang wanita. Benar-benar diluar dugaannya.
" Kau perempuan?" Yudha menunjuk wajah wanita yang kini terlihat sinis itu dengan mulut ternganga sebab tak percaya akan apa yang ia lihat.
Copet itu merupakan seorang wanita.
Wanita itu bangkit dengan wajah menahan geram karena Yudha menginterupsinya. Brengsek sekali dia!
" Apa urusanmu, hah?" Wanita itu terlihat tak suka dengan Yudha yang ikut campur dengan aksinya. Menatap bengis ke arah pria dengan wajah oriental itu.
" Kembalikan dompet itu!" Ucap Yudha menatap sengit wanita berambut pendek yang di ikat satu itu. Benar-benar tak mengira jika penjahat itu merupakan seorang betina.
" Mengembalikan? Kau siapa, hah?" Ucap wanita itu tak kalah sengit. Merasa tak suka dengan sikap sok Yudha.
" Kembalikan sebelum aku berteriak dan orang akan membuatmu babak belur!" Ucap Yudha semakin tak sabaran. Dari nada ancaman yang terlontar, Yudha terlihat tidak sedang bercanda. Yudha serius.
" Bacot lu!"
" Dengar ya, enggak usah ikut campur urusan orang!"
" Aku enggak kenal kamu, lagian... bukan kamu yang yang aku copet kan?"
" Jadi...jangan sok jadi pahlawan. Karena di jaman sekarang, kau tidak akan tahu penjahat yang sesungguhnya itu seperti apa!" Ucap wanita itu ironi.
" Kau ini mencuri! Kembalikan dan kau akan aman!" Titah Yudha yang kesabarannya semakin terkikis.
Wanita itu terlihat mengeraskan rahangnya sembari menatap Yudha tak suka. Pria sialan!
" Kembalikan sekarang atau aku ak..."
BUG!
BUG!
Wanita itu meninju wajah Yudha lalu menendang perut pria itu dengan begitu kerasnya. Membuat Yudha kini terjatuh ke tanah kotor itu.
"Sialan. Kuat sekali wanita ini!"
Dengan senyum licik, wanita itu sejurus kemudian terlihat memanjat dan menaiki pagar batako dengan lincahnya. Menatap Yudha yang kini bersimpuh di tanah dengan wajah yang terasa kebas akibat di tempeleng wanita itu dengan tatapan menyeringai.
" Aku bukan mencuri, tetapi aku mengambil apa yang seharusnya menjadi punyaku. Bye!"
Wanita itu mengejek Yudha lalu dengan gerakan cepat melompat dan berlari pergi.
Sial, Yudha kalah dengan seorang wanita. Dengan napas yang memburu sembari menahan geram di hatinya, Yudha bangkit.
"Aku bukan mencuri, tetapi aku mengambil apa yang seharusnya menjadi punyaku!"
Ia terngiang-ngiang akan ucapan wanita itu. Benar-benar tak menyangka jika wanita itu mencari rezeki dengan jalan tidak benar.
Dasar manusia!
.
.
.
.