
Bab 170. Ada dimana-mana
.
.
.
...πππ...
Yudhasoka
Otaknya tengah disibukkan dengan kegiatan memikirkan sesuatu. Sepanjang perjalanan menuju rumah Hesti, ia hanya banyak diam dan mengunci mulutnya.
" Sayang...kita enggak jalan dulu?" Hesti memanyunkan bibirnya. Merasa bahwa Yudha sangat tak perhatian kepadanya.
" Aku kan udah bilang, aku di tunggu mamakku dirumah. Kamu istirahat saja!" Sahut Yudha datar.
Hesti berengut seraya mendecak kesal. Kenapa Yudha mendadak acuh begitu. Biasa-biasanya mereka jalan dulu kemana gitu, atau bahkan berujung check ini di sebuah hotel. Ya meski itu sudah lama sekali.
DRRRT!!
Hesti terdiam saat ponselnya bergetar. Melirik Yudha di sampingnya dan mengabaikan ponselnya yang sebetulnya cukup menganggu itu.
DRRRT!!
Ponsel itu terus bergetar. Membuat Yudha kini turut menaruh atensi pada benda yang terus berdengung itu.
" Kenapa enggak di angkat?" Tanya Yudha tanpa mengalihkan perhatiannya ke jalan raya. Merasa risih.
" Emmm biarin aja lah. Cuma temanku, males!" Ucap Hesti meringis.
Yudha terdiam dengan alis memicing. Jelas ada udang di balik batu.
.
.
Rizal
" Brengsek!" Ia berkali-kali mengumpat saat nomer yang ia tuju tak jua mau menjawab.
Pria itu usai di tolak mentah-mentah oleh Fina kini terlihat kembali ke habitatnya di Karanganyar. Tak mungkin lagi bisa melawan Pandu yang rupanya merupakan anak seorang Hartadi Wijaya.
Terlebih, Fina rupanya merupakan sosok wanita yang keras kepala dan sulit di taklukan.
Sebelum ia tertarik kepada Fina, ia sudah menjalin hubungan dengan Hesti. Singkat kata, wanita itu telah mendua dan tertarik akan pesona Yudha karena merasa di abaikan oleh Rizal.
Sementara Rizal sendiri juga tak kalah brengseknya, karena berniat menghempaskan Hesti, saat ia berhasil mendapatkan Fina.
Namun sayang seribu sayang, nasib rupanya tak pernah salah pada alamat tuannya.
Kini pria itu ingin kembali menjalin hubungan dengan Hesti. Wanita yang sudah bolak-balik ia tunggangi.
.
.
" Makasih ya sayang!" Hesti mencium bibir Yudha namun pria itu sama sekali tak membalas. Tak menolak namun tak menyambut. Apa sebutannya? Pasrah begitu?
" Kamu enggak mampir dulu?" Hesti meraba paha kekar Yudha dan mengusapnya sensasional. Berniat menggoda pria dengan wajah tampan itu.
" Masuklah!" Yudha memindahkan tangan genit Hesti yang sudah merayap dan hampir mencapai letak juniornya.
Hesti mendengus. Kenapa Yudha terlihat beda sekali.
" Kapan kamu akan bilang ke orangtuamu kalau aku sudah mengandung anakmu?" Ucap Hesti yang membuat rahang Yudha mengeras. Wanita itu selalu saja mengatakan hal itu jika sudah merasa tak suka dengan sikap acuh Yudha.
Namun sejurus kemudian, pria itu menurunkan emosinya. Baiklah, jika begini caranya, mau tidak mau ia akan membuat segala sesuatunya berakhir dengan elegan.
Yudha meraba pipi Hesti dengan tersenyum, " Sabar dulu ya... Aku lagi cari waktu yang tepat. Arju baru sembuh, dan keluarga kami masih banyak acara. Aku akan mengurusnya dengan segera!" Ucap Yudha menatap Hesti yang kini juga tersenyum.
" Kau ingin mengajakku bermain-main rupanya!" Batin Yudha.
Yudha tak boleh grusa- grusu dalam mengambil sikap. Ia takut jika wanita itu akan langsung berbicara kepada orang tuanya terkait kehamilannya. Riwayat mamaknya yang memiliki hipertensi, jelas tak bisa ia sepelekan.
Ia akan berusaha membereskan masalah ini dengan caranya. Harus!
.
.
Kedai Cak Juned
Sakti, Ajisaka, dan dua antek Aji yakni Dino dan Sukron tengah ngopi di tempat ternyaman sejuta umat itu. Warung sederhana yang bersih dan nyaman.
" Tumben mas Yudha enggak gabung mas!" Tukas Cak Juned yang menghidangkan tahu walik dengan bumbu petis pedas yang membuat ludah mereka kemecur.
" Gak tau Cak, sibuk mungkin. Pabrik tahu mereka kan mulai besar sekarang!" Sahut Sukron.
" Iya dengar-dengar udah kerjasama dengan rumah produksi makanan dari olahan tahu di ujung sono no!"
" Nah itu dia, panjang umur juga tu bocah!" Sahut Sakti saat melihat mobil putih yang kini berbelok ke kedai dengan aksen bambu itu.
" Mobil Mas Yudha baru?" Tanya Dino mengahadap kepada Sukron.
" Udah agak lama, tapi jarang dia pakai. Mereka sukses dari tahu!" Sahut Aji kepada anak buahnya.
Pertemanan mereka murni dan tulus, sekalipun tingkat kemakmuran anggotanya berbeda-beda. Tapi mereka semua memiliki ikatan batin yang kuat.
Secara finansial, Aji lebih unggul sementara kehidupan keluarganya berada di urutan terkahir.
Sakti, keluarganya hangat dan ramah. Pria itu tak kekurangan kasih sayang sejak menjadi embrio. Namun, hingga detik ini ia masih harus mengencangkan pinggangnya lantaran masih merenda usaha yang belum ketemu jalan suksesnya.
Pandu, hidupnya semrawut sejak kecil. Ketidakjelasan siapa bapaknya kerap membuatnya menyalahkan takdir. Namun pria itu lahir dengan memiliki keahlian yang beranekaragam. Membuat pria itu mampu mengembangkan usaha dengan kemampuan yang dimiliki.
Sementara Yudha, pria itu berasal dari keluarga yang awalnya sulit namun mau berusaha. Dan diantara ke empat kawannya, ia memiliki otak yang paling encer, sehingga bisa mendapat pekerjaan yang terbilang enak dan nyaman, dan yang paling penting sesuai passionya.
Orang-orang yang berkecimpung di dunia perbankan semi perkreditan memang harus memiliki sikap mentolo (tega) seperti Yudha. Apalagi jika sudah berurusan dengan orang yang ruwet dan sulit di tagih. Jelas akan di lahap oleh Yudha.
" Itu wajah atau koran bekas sih? Lecek amat!" Cibir Sakti saat Yudha kini mendudukkan tubuhnya dengan lesu persis di sampingnya.
" Mumet Sak!" Sahutnya langsung menyambar es sirup markisa milik Sakti. Menyedotnya dengan kecepatan maksimal. Ah segarnya!
Ajisaka terkekeh demi melihat Yudha yang seperti baru saja dari gurun pasir karena terlihat sangat kehausan.
" Dari roman- romannya. Kayaknya bakalan kamu duluan yang nikah Yud!" Ucap Aji seraya tergelak.
" Matamu Ji!" Sahut Yudha yang kini mengembalikan gelas milik Sakti yang telah kosong. Membuat Sakti mendengus.
" Cak esnya lagi. Gelasku bocor!" Teriak Sakti kepada Cak Juned sambil menatap sebal Yudha.
" Mas Yudha kenapa sih? Kok baru kali ini kelihatan kusut banget!" Dino yang notabene pria lurus itu bahkan sampai menaruh atensinya demi melihat wajah Yudha yang blangsak.
" Mending jangan tahu dulu Din. Belum cukup umur kamu. Belum waktunya mumet!" Jawab Yudha yang membuat Dino memanyunkan bibirnya.
Enak aja!
" Si Pandu enggak ikut?" Tanya Yudha, mencoba mengalihkan obrolan.
" Dia ke bengkel. Mulai rame bengkelnya. Jadi owner beneran dia sekarang!" Sahut Sukron senang.
" Baguslah. Elu apa kabar?" Kini Yudha ganti bertanya kepada Sakti. Menyenggol lengan pria yang kini memasukkan sepotong tahu hangat ke mulutnya dalam satu suapan.
"Itu sih definisi dari hasil mengkhianati proses kalau begitu Sak!" Sahut Yudha terkekeh. Membuat kesemuanya turut tergelak demi mendengar selorohan Yudha.
" Apa iya ya?"
" Atau kayaknya aku harus nurutin saran emakku buat brand produk sesuai titahnya!" Ucap Sakti yang teringat dengan saran ibunya untuk membuka bisnis kuliner.
" Coba aja mas. Doa ibu itu doa yang paling mujarab. Siapa tahu usaha Mas Sakti selama ini belum tembus, karena ibunya Mas Sakti enggak rela mas kerja lain!"
Aji, Sukron dan Yudha mengangguk menyetujui ucapan Dino. Pria itu rupanya selalu bisa menjadi insan yang memberikan saran luhur bagi orang lain.
" Elu mau aku ajak gabung juga enggak pernah mau. Aku heran sama kalian, kenapa enggak ada yang mau gabung sama aku!" Aji melayangkan protes. Bahkan Pandu pun, di saat susahnya juga enggan mengeluh soal uang kepada dirinya.
" Kalau soal itu aku jaga banget Ji. Belajar dari pengalaman orang. Aku enggak mau persahabatan kita rusak karena uang!" Sakti berbicara dengan nada serius kepada Ajisaka.
" Biar kata aku masih susah. Asal kalian masih berteman sama aku, itu udah lebih dari cukup!"
Ya...itulah kebenarannya. Uang merupakan hal tabu dan paling mereka hindari. Hal riskan yang kerap menciderai persahabatan adalah karena uang.
" Kok aku jadi ngeri kalau si Sakti lagi berbicara serius begitu ya? Merinding- merinding gimana gitu?" Yudha terkekeh dan sejenak lupa anak kepenatan hidupnya.
Thanks Sak!
.
.
Rarasati
Udara sore hari yang gerah lantaran telah terkontaminasi kemunafikan dunia, kini berganti dengan hawa sendu malam yang syahdu.
Seorang wanita dengan sikap tegar dan tak mau berpangku tangan itu, terlihat menyiapkan makan malam untuk bapaknya.
" Besok kita cek ke dokter ya pak. Pokoknya bapak harus sabar. Nanti kunci dari dalam pintunya. Rara pulang malam banget. Hari ini malam Minggu, pasti rame banget tamunya!"
Tukas Rara yang kini menyuapi bapaknya yang sudah hampir setahun terakhir mengalami stroke ringan.
Bapaknya kena tipu habis-habisan saat ia tengah melebarkan sayap di sektor pertanian cabai. Kerugiannya tak main-main. Beberapa kendaraan yang mereka miliki baik roda dua maupun roda empat telah raib mereka jual demi menutup pembayaran kepada para petani.
Begitulah resiko saudagar besar seperti Pak Suwito. Ancaman orang-orang licik tak bisa ia hindari.
Ibunya meninggalkan mereka karena tak sanggup hidup melarat dan banyak hutang. Mengajak serta adiknya yang memang memiliki gaya hidup Hedon seperti ibunya.
Belakangan ini mereka mendengar kabar jika ibunya menikah lagi dengan seseorang pengusaha tambang di kota lain. Dan hal itu, menjadi titik balik dirinya yang tak mau lagi tahu menahu soal ibu dan adik perempuannya itu.
Sudah cukup. Meskipun pepatah mengatakan jika darah lebih kental dari pada air, namun ia sama sekali tak mempercayai hal itu. Ia sangat merasa kecewa dengan sikap ibu dan adiknya.
" Bapak enggak usah nangis. Ini sudah tanggung jawab Rara Pak. Yang penting Bapak doakan Rara selamat, sehat supaya terus bisa cari uang buat kita hidup!"
Rara menyusut air matanya dengan lengannya saat ia mengatakan hal itu. Berusaha tegar saat bapaknya yang kesulitan bicara itu terlihat nelangsa.
Pasti Bapaknya itu sangat merasa bersalah sekali. Karena di usianya yang harusnya bisa bersenang-senang, ia justru terbelenggu menjadi tulang punggung di bawah gempuran roda nasib yang tengah turun.
Bersabarlah Pak!
Rara menghembuskan nafasnya sebelum menjalankan motornya. Ia tak boleh membawa segala kepenatan hidupnya ke dalam pekerjaannya. Ia harus profesional. Sekalipun ia hanya seorang pelayan.
Setiap malam ia bekerja di sebuah cafe milik kakak temannya sebagai pelayan. Namun tak jarang, Rara juga mengisi acara disana sebagai penyanyi gitar akustik jika diminta oleh pemiliknya untuk menggantikan singer yang alpha.
Semua demi menyambung hidup. Dunia semakin menginjak mukanya kala ia tak memiliki apapun. Untuk itulah ia tak boleh lama-lama mengenal gengsi. Sebab gengsi itu merusak tabungan.
Ia bersyukur karena di karuniai Tuhan dengan suara yang bagus dan kepiawaian memainkan alat musik. Kenapa tidak ia manfaatkan saja.
" Kebetulan elu udah datang. Si sundel itu enggak ada datang malam ini Ra. Itu mas Surya udah ngamuk-ngamuk di dalam. Mana tamu lagi banyak banget lagi!"
Ratna yang notabene teman sekaligus adik dari pemilik cafe itu langsung mengadu kepadanya. Bahkan sengaja menunggu Rara di parkiran khusus karyawan.
" Terus aku lagi ini yang ngisi?" Tanya Rara sembari melepas helmnya.
" Tolongin gue dong. Kalau gini caranya, gue ogah make si sundel itu lagi. Sok Sokan banget dia main ninggalin acara disini demi ngamen di tempat lain. Baru segitu aja udah sombong banget dia!"
Ratna terus mengeluarkan unek-uneknya seputar penyanyi yang sudah biasa manggung di live musik cafe kakaki itu.
" Tapi beneran gapapa ini?" Tanya Rara memastikan. Ia takut jika terjadi masalah nanti.
" Aman! Gue yang jamin. Lagian ya, kalau di minta voting, gue lebih memilih elu buat jadi singer disini dari pada si sundel itu. Beneran Ra!"
Rara hanya tersenyum dan saat ini telah siap untuk masuk. Ratna wanita yang blak-blakan namun cerdas. Dan ia suka menjalin pertemanan dengan orang yang apa adanya seperti itu.
Cafe La Amor merupakan cafe baru yang berdesain industrial cafe dan memiliki nuansa outdoor yang di gemari kawula muda dalam presentasinya.
" Udah? Masuk deh. Udah rame banget itu. Lagunya terserah elu aja!" Ratna kini masuk ke belakang stage tempat dimana Rara masih membetulkan ikat rambutnya.
" Bentar lagi!" Sahutnya yang terlihat membetulkan kancing kemejanya.
Rara senang berpakaian cassual dan tidak terlalu feminim. Ia mengenakan singlet hitam yang ia tutup dengan kemeja kotak-kotak flanel cewek yang ia gulung sebatas siku, celana jeans juga sepasang sepatu yang cocok dengan tampilannya yang manis.
Rambut pendeknya ia biarkan terikat. Menampilkan leher dengan kulit kuningnya yang mencerminkan kecantikan khas wanita Asia.
Overall Rara tampil manis malam itu.
" Oke, menemani satnight kita malam ini, langsung saja yuk kita undang singer kita...Rara!"
Ia terlihat masuk dan membawa gitar berukuran sedang yang pas dengan tubuhnya yang tidak terlalu tambun, saat Ratna telah melimpah acara selanjutnya kepada dirinya.
Wanita itu tersenyum seraya menyapukan pandangannya ke setiap meja yang kini telah penuh kawula muda. Ramai banget!
" Halo semuanya.... selamat malam...kita malam mingguan bareng ya!" Intermezo ia haturkan sebagai pembuka aksinya.
" Yang di depan, di tengah ,di belakang Wellcome to La Amor cafe!"
" Entar kalau ada yang mau request , cuss langsung aja sama kak Ratna ya...dan buat kakak-kakak sekalian yang malam ini happy, yang malam ini sedang merasa bahagia bareng pasangan kalian...let's enjoy this song!"
Ia terlihat menyetel guitar akustik yang akan ia mainkan. Membuat kesemua yang berkunjung di sana menaruh atensi kepada Rara.
πΆ Rasa..cinta.... yang dulu telah hilang kini bersemi kembali....
" Whuuuuuu!" Seketika riuh rendah suara tepuk tangan pengunjung menggema memenuhi atmosfer ruangan terbuka disana, saat suara merdu Rara lekas mengalun dengan indahnya.
Membuat hati Ratna puas akan performance temannya itu.
πΆ Telah kau coba...lupakan dirinya hapus cerita lalu...
Suara khas Rara yang ia padukan dengan dawai gitar yang ia petik, benar- membuat suasana disana menjadi syahdu. Banyak pasangan muda-mudi yang baper dibuatnya.
πΆ Dan lihatlah... dirimu bagai bunga di musim semi..yang tersenyum...
πΆ Menatap indahnya dunia...yang seiring menyambut... jawaban segala gundahmu...
( Ada band- Masih)
Namun, saat ia hendak memasuki reffrein dari lagu yang ia bawakan sebagai opening song . Matanya dibuat terkejut demi melihat sosok lima pria dengan seorang wanita yang salah satu dari pria itu ia kenal, berdiri menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
" Sialan, kenapa dia ada dimana-mana sih?" Batin Rara kesal dalam hati.
.
.
.
.