Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 90. Serangan tengah malam



Bab 90. Serangan tengah malam


^^^" Bagai kucing dibawakan lidi"^^^


^^^( Seseorang yang sangat ketakutan karena suatu hal)^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Raditya


Ia tengah berpesta pora lantaran menganggap pekerjaan yang di bebankan kepadanya terlampau mudah. Lagipula, ia sudah mensabotase ponsel Fina yang ia sadari terdapat alat pelacak di belakang ponsel Fina.


Pria sekelas Radit tentu sudah paham birokrasi seperti itu. Mengingat ia sendiri juga mantan anak buah Bayu yang sebenarnya cukup berkompeten.


Selain itu, berita dari Rexa yang menginformasikan jika anak buahnya itu telah melaksanakan tugasnya dengan baik membuatnya bak berada di atas angin.


It's time to celebrate!


Ya, Radit lah yang memerintahkan Rexa untuk membumihanguskan gedung Kijang Kencana petang itu. Terlalu jumawa dalam bersikap, membuatnya tak menyadari, jika bahaya tengah mengintai dirinya sendiri.


Diruangan luas dengan aroma alkohol menyeruak itu, Radit terlihat memangku seorang wanita binal berbaju terbuka dengan tubuh padat yang ia sewa demi menemani ia dan anak buahnya. Mereka menghabiskan waktu tengah malam itu untuk bersenang-senang. Yeah!!!


" Tuangkan lagi sayang!''


" Kita bersenang-senang malam ini!" Ucap Radit setengah mabuk sembari meremas bokong wanita dengan pakaian ketat itu. Benar-benar lupa daratan.


Wanita dengan rambut bak jilatan api yang berkobar itu , terlihat bangkit dari paha Radit yang sedari tadi memangkunya. Menunaikan titah si bos dengan sigap.


BRAK!


Belum juga satu cawan itu terhidang dengan sempurna, mata Radit beserta seluruh komplotannya dikejutkan dengan dobrakan pintu yang membuatnya mendelik.


Membuat para wanita sewaan itu kini berwajah pias. Ketakutan dengan tubuh gemetar.


Oh tidak!


Markus dan Yusuf mendobrak pintu itu sembari menodongkan senjata api ke arah gerombolan Radit yang kini terlihat berwajah kaget.


" Bos!" Rexa berwajah muram. Ia yang masih di bawah intimidasi Andhika dan Pandu saat ini benar-benar dibuat takut saat menatap muram wajah Raditya. Sory bos!


Radit menatap geram wajah Rexa. Namun sejurus kemudian, ia mencoba menenangkan diri meski otaknya sudah sedikit tak waras.


" Jadi kau yang bernama Radit!" Pandu tersenyum sumbang menahan geram. Ternyata pria itu yang selama ini ia cari. Sedikit berbeda dengan yang ada di foto sewaktu ia bersama Mansur tempo hari.


Ia benar-benar nyaris tak dapat menahan diri jika Andhika dan Satya tak menahannya. Damned!


Para wanita binal itu kini mundur dengan cara wajah ketakutan. Apalagi, sepucuk senjata yang masih mengarah ke kepala Rexa jelas membuat anak buah Radit kini merasa turut terancam.


" Wah! Wah! Aku kedatangan tamu rupanya...." Radit rupanya berusaha bersikap mengecoh. Ia yang di bawah pengaruh alkohol jelas berbicara dengan kadar kewarasan yang kian di pertanyakan.


" Apa kabar rekan sejawat?" Radit menatap Andhika dan Satya yang sedari tadi menatapnya geram.


" Tutup mulutmu bangsat!" Pandu yang tak tahan kini terlihat menarik senjata dari balik punggungnya. Benar-benar tak tahan lagi.


" Pandu!" Satya menahan Pandu yang sudah terlihat mengatur nafasnya dengan memburu. Menggelengkan kepalanya seolah menandakan untuk tidak terpancing. Raditya sedikit mabuk.


" Kita perlu dia untuk bersaksi kepada publik!" Bisik Andhika mengingatkan Pandu untuk meredam emosinya. Mengingatkan Pandu, jika mereka harus meringkus Raditya dalam keadaan hidup-hidup.


" Tahan!" Dhika terus menatap Pandu sembari membagi fokusnya kepada Rexa.


" Arrgghhh!!!''


DOR!


DOR!


DOR!


.


.


Ajisaka


Ia mengambil kendali atas kemudinya saat ini. Di kursi belakang ,Bu Ambar terlihat tidur dengan lelap bersama Sakti yang juga sudah molor. Bibir pria itu bahkan sedikit terbuka.


Menandakan lelah yang hakiki.


Dia lebih baik tertidur daripada jika melek selalu saja membuat keributan. Kini, tinggal Yudha yang masih terjaga bersamanya.


" Jadi kita harus kemana? Ponsel Pandu tidak bisa dihubungi!'' Yudha terlihat cemas.


" Kita cari hotel saja nanti. Satu jam lagi kita akan sampai!"


" Untuk besok, kita bisa cari sama-sama. Perusahaan itu kan perusahaan terkenal. Pasti banyak orang yang tahu!" Tukas Aji sembari menguap. Tentu saja dengan sikap yang santai. Tetu saja santai, uang selalu bisa menjadi penolong segala kesulitan bukan?


Dengan menggunakan mobil pribadi, Ajisaka bersama rombongan menempuh perjalanan kurang lebih enam jam. Sengaja memilih perjalanan malam agar terhindar dari kemacetan.


Ia telah mempercayakan kebun dan usahanya kepada Sukron. Berjanji akan segera kembali jika urusannya beres.


Persetan dengan reaksi Pandu nanti. Yang jelas, ia tak mau lagi mengingkari hati nurani.


.


.


Serafina


Ia memanfaatkan Joni yang terlelap malam itu untuk membantu Widaninggar kabur. Ia juga sudah mengalihkan perhatian beberapa anak buah Joni yang berseliweran kesana-kemari itu.


" Mbak, bawa ini ya. Ini lebih dari cukup untuk ongkos naik bis sama untuk pegangan mbak Inggar!" Fina mengambil semua uang cash yang ada di dompetnya dengan cepat sebelum aksinya ada yang memergoki.


Ia tak tahu.


" Fin..ini banyak sekali!" Widaninggar sampai gemetaran saat menerima uang sebanyak itu. Ia benar-benar merasa berhutang Budi kepada Fina. Jika ia tak bertemu Fina, tentu ia tak akan bisa berada dalam situasi tersebut.


" Aduh enggak kok mbak. Aku malah takut kalau ini kurang!" Fina menyahut sembari terlihat celingak-celinguk.


"Mbak gak bawa tas ya? Gini aja deh...Mbak pakai tasku ini aja ya? Ini dompet biar aku bawa begini aja. Maaf ya mbak aku cuman bisa bantu sampai sini!" Fina terlihat melepas tas selempang hitam yang ia kenakan, untuk kemudian ia pasangkan ke tubuh ideal Widaninggar.


Membuat wanita itu tertegun. Benar-benar Dewi penolong.


" Mbak hati-hati ya nanti. Jaga Damar ya mbak!" Entah mengapa Fina benar-benar merasa sedih saat itu. Merasa kasihan dengan nasib mereka.


Meski tak rela berpisah dengan sosok lembut nan bersahaja itu, tapi semua yang Fina lakukan jelas membawa dampak baru bagi Widaninggar.


" Fin!"


" Fina!" Suara Riko terdengar mendekati mereka. Astaga, gimana ini dong.


" Fin, itu suara bosnya Joni!" Wajah Widaninggar seketika menjadi pias.


" Udah mbak cepetan. Itu suara Riko bisa bikin Joni bangun. Mbak hati-hati ya. Aku yakin kita pasti akan ketemu lagi suatu saat nanti."


Dengan mata berkaca-kaca, Widaninggar menggendong Damar dan berjalan keluar melalui pintu belakang. Meski gulita membentang sejauh mata memandang, namun ia akan membelah kegelapan itu demi kehidupannya. Menepikan rasa takut, menantang sendirinya.


" Sayang!!''


" Sayang kamu jangan main-main!" Suara Riko sudah terdengar mendekat.


" Udah mbak sana cepet!" Fina mengibaskan tangannya meminta Widaninggar untuk berlari secepat mungkin.


Fina mengiringi Widaninggar dengan tatapannya. Wanita itu kini terlihat tertelan kegelapan. Berharap nasib baik segera mereka jumpai.


" Sampai jumpa mbak!" Ucapnya dalam hati sembari mengiringi langkah tergesa wanita itu.


Saat merasa Widaninggar sudah agak jauh, Fina segera kembali kedalam dengan cepat.


" Sa..." Ucapan Riko menguap.


" Kamu dari mana?" Riko terlihat menatap Fina dengan wajah penuh selidik. Curiga dengan apa yang dilakukan Fina disana.


" Gue... gue..!" Fina tergagu.


" Bos..!" Ucap Joni tergopoh-gopoh.


" Bos!" wanita itu bersama anaknya hilang bos!" Joni datang setengah berlari usai menyadari Widaninggar dan anaknya telah tidak ada di tempat. Joni menatap Fina dengan tatapan penuh kemarahan. Jelas Fina pasti tahu persoalan ini.


Saat Fina dan Joni masih saling Pandang, ponsel Riko bergetar. Membuat perhatian pria itu teralihkan sejenak. Yes!


" Sebentar!" Tukas Riko membuat Fina sedikit lega. Pasalnya itu menguntungkan untuk dirinya. Tapi tidak dengan Joni yang terlihat menahan geram kepada Fina.


" Bagus, mbak Inggar pasti udah sampai kejalan raya!" Batin Fina dengan pikiran yang masih terfokus dengan ibu dari Damar itu. Tak memusingkan tatapan Joni yang begitu mengintimidasi.


" Ya?" Sahut Riko sesaat setelah benda pipih itu menempel di telinganya.


" Bos, gawat!"


" Bos Radit sepertinya di serang anggota KJ bos!"


" Saya gak berani masuk. Saya dengar suara tembakan dari dalam!"


" Apa?" Dahi Riko berkerut dengan rahangnya yang terlihat mengetat. Brengsek!


Membuat Fina kini turut memasang pendengarannya dengan saksama.


" KJ? apakah itu Kijang Kencana?"


" Pandu?"


Hati Fina seperti tersuluh cahaya pengharapan. Buncahan rasa rindu tiba-tiba menyelinap ke hatinya. Pandu!


Fina tersenyum- senyum sendiri.


" Apa semua ini ada hubungannya dengan mu? Kau yang memberitahu Pandu, iya?" Riko menarik tangan Fina dengan keras usai mematikan sambungan teleponnya.


" Apa elo gila? Bahkan ponsel gue aja, gue enggak tahu ada dimana. Bagiamana bisa gue melakukan melakukan hal itu!"


" Dasar gila!" Fina mendengus, Fina tentu saja melawan Riko. Gila aja dia main menuduh.


Riko terlihat tertegun. Benar, ponsel Fina masih ada bersamanya. Ponsel yang diberikan oleh Radit sesaat sebelum Radit meninggalkan tempat terselubung itu.


Lalu siapa?


" Sini kamu!'' Riko menggeret paksa lengan Fina menuju lantai atas.


" Riko! Lepasin gue!" Fina merasa kesakitan saat pergelangan tangannya di cekal lalu di tarik paksa oleh Riko.


" Joni! Info ke yang lain. Titahkan mereka untuk bersiap-siap!" Ucap Riko masih dengan posisi mencengkeram pergelangan tangan Fina.


Meski kini Fina merasa semakin takut, namun setidaknya ia lega karena Widaninggar tak lagi menjadi perhatian bagi Joni dan anteknya. Berharap Widaninggar segera menemukan kendaraan atau sejenisnya yang bisa membawanya jauh ke desa.


Dari prediksi Fina, jelas mereka kini terlihat panik akan suatu hal. Suatu hal yang Fina yakini berhubungan dengan Pandu.


Pandu!


I Miss you so much!


.


.


.


.


.