Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 87. Menjadi Sandera



Bab 87. Menjadi Sandera


^^^" Laku nista selalu dekat dengan petaka!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Matahari seolah-olah berada tepat diatas kepala. Terik dan begitu menyengat, terasa bagai membakar tapak kaki. Namun semua itu tak menyurutkan niat para karyawan Riko yang harus bekerja ekstra, demi memindahkan para wanita yang gencar meronta untuk dibawa sebuah mobil besar siang bolong itu.


Adalah Riko, pria itu kini mengawasi mobil-mobil yang datang menjemput para wanita yang akan ia dibawa seorang saudagar kaya raya untuk dijadikan pekerja.


Entah pekerja apa sebutannya. Yang jelas, mereka akan masuk kedalam kubangan lumpur hitam dunia malam.


" Bos ada telpon!' Joni mengangsurkan sebuah ponsel kepada Riko.


Tanpa bertanya, Riko langsung menggulir ponselnya. Menggeser tombol hijau sebagai tanda menjawab telepon.


" Ya!"


" Dimana kamu Riko?'' Terdengar suara yang begitu meradang.


" Mama!" Riko terlihat menatap Joni. Kesal mengapa anak buahnya itu tak memberitahu. Atau mengapa ia sendiri tidak berinisiatif bertanya.


" Mama tanya dimana kamu?"


Seketika Riko memijat keningnya.


.


.


Serafina


Ia mencoba membuka matanya yang masih terasa lengket dan kepala yang begitu berat. Mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih berhamburan.


" Auwhhh!"


Pusing, pening. Ia melihat ke arah kaca jendela yang besar dengan gorden warna abu-abu yang tebal. Kamar itu luas sekali.


Ia juga menyapukan pandangannya ke segala penjuru kamar itu. Kamar yang terlalu bagus untuk ukuran penjahat atau penculik.


Tempat yang sungguh asing. Pertanyaannya. Ini dimana?


Kepalanya terasa sakit saat ia gunakan untuk berfikir lebih keras. Ia langsung terlonjak kaget begitu mengingat dia yang di todong oleh orang asing.


" Astaga, jadi....!" Ia bermonolog sembari merasa gelisah. Teringat dengan tiga orang yang pasti telah membawanya kemari.


Fina langsung beranjak dari tidurnya. Ia melihat ke arah bawah melalui kaca jendela itu. Tempat yang benar-benar asing. Jelas ia telah menjadi sandera.


Tapi mengapa ia harus di culik?


Di tatapnya beberapa orang asing yang mencekal tangan wanita yang tengah meronta dari atas jendela kamar itu. Kesemuanya menolak untuk di masukkan ke dalam sebuah mobil.


DEG


Jantungnya berdetak kencang. Apakah ia juga akan mendapatkan giliran untuk dijual? Fina yang ketakutan kini langsung menuju arah luar. Tasnya masih terlihat mengait sempurna di bahunya. Sejenak ia berpikir untuk mengaduk isi tasnya lalu mencari ponselnya.


Negatif. Alias benda itu tidak ada.


" Astaga dimana ponselku!" Fina panik bukan kepalang. Apakah pria tadi telah merampas ponsel miliknya?


Ia berniat menghubungi Pandu. Ya, hanya pria itu yang selalu bersemayam di hati dan pikiran Fina.


CEKLEK


Saat ia tengah sibuk dalam kebingungannya, pintu itu terlihat mengayun. Menampilkan sosok yang sangat membuatnya terperanjat.


" Riko!"


.


.


Riko


Riko terlihat terkejut kala dua bola matanya menangkap sosok Fina yang kini sudah siuman. Lalu dengan gerakan cepat, ia kini menutup dan mengunci pintu kamar itu.


Entah mengapa panggilan itu kini terasa begitu menjijikkan saat telinga Fina menangkap suara itu. Fina sepertinya benar-benar telah kehilangan perasaannya terhadap Riko.


Fina kini menatap sengit ke arah Riko.


" Jadi bener elo yang ngelakuin semua ini!" Fina tertawa sumbang. Kemana dia selama ini. Mengapa ia tak tahu akan sisi Riko yang seperti ini.


" Sudah aku katakan, jika cara halus kau masih keukeuh. Aku pasti akan menggunakan cara lain!" Riko tersenyum licik kearah Fina.


" Menikahlah denganku sayang. Kita akan menjadi pasangan yang ideal. Bukankah itu benar?"


" Lebih baik aku mati dari pada harus hidup sama pria kayak elo!"


Fina benar-benar seperti tak mengenal Riko. Mengapa pria itu berubah menjadi pria lain yang begitu....Oh astaga!


Riko tersenyum. Meski hatinya mencelos lantaran ucapan Fina yang menohok hatinya. Tapi ia masih bisa menahannya.


"Siapa wanita-wanita di bawah itu?" Dengan dada memburu karena luapan emosi, Fina malah tak tahan untuk tak bertanya.


Riko berjalan mendekati Fina, membuat langkah wanita itu mentok ke tembok dengan wajah yang menyuguhkan raut sinis.


Riko tertawa " Jadi kau sudah tahu, hm?" Riko berbicara dengan posisi sangat dekat. Membuat Fina langsung menoleh ke samping, saat Riko seperti hendak menciumnya. No way!


" Gue benar-benar muak sama lu Riko!"


" Apa sih mau elu hah sebenarnya?" Fina mendorong tubuh Riko kebelakang dengan sekuat tenaga. Membuat pria itu meradang.


"Kembali kepadaku atau aku bakal buat hidup pria miskin itu sengsara!"


" Mari kita buat segala sesuatunya menjadi lebih mudah sayang!"


" Aku benar-benar mencintai kamu. Aku sudah menghempaskan Shila. Mari kita mulai semuanya dari awal!" Riko kini berucap dengan nada serius. Giginya bahkan terdengar gemelutuk. Definisi dari menyuguhkan kegeraman.


Fina tersenyum sumbang" Jangan mimpi! Udah gue bilang, lebih baik gue mati daripada balik ke orang brengsek kayak elu. Oh iya, elu gak cuma brengsek. Tapi juga bajingan!"


" Fina!!!" Riko berteriak karena kesal. Kesal mengapa wanita di depannya itu, sangat susah untuk di atur. Mata Riko memerah, nafasnya memburu menahan emosi.


Apalagi tatapan Fina yang jijik itu, sukses membuat Riko tersulut emosi. Mengapa semuanya berbalik seratus delapan puluh derajat begini?


" Apa kamu buta sehingga memilih pria seperti pria miskin itu hah?"


" Ya benar gue emang buta. Tapi bukan karena Pandu. Tapi buta karena dulu dengan bodohnya gue sempet suka sama pria bajingan kayak elu. Pria jahat yang gak tah..."


" Fina!!!" Riko berteriak seraya mencengkeram rahang Fina. Membuat bibir wanita itu mengerucut. Hati Fina sudah mati. Ia muak dengan pria di depannya itu.


Sejurus kemudian Riko dengan kasar mencium bibir Fina dan mengunci pergerakan langkah Fina. Membuat Fina memberontak. Kini Riko tak hanya menyakiti Fina dengan lisannya, namun juga dengan perbuatannya.


" Cuma aku yang bisa memilih kamu Fin. Ingat itu!'' Riko masih saja menciumi Fina yang terus memberontak.


"Mmmmmm!" Fina memukuli leher liat Riko dengan cepat.


Riko tak mempedulikan, ia masih terus menciumi bibir Fina dengan kasar, penuh luapan kemarahan karena harga dirinya tersentil oleh ucapan Fina.


" Mmmmmmm!"


TOK TOK TOK!!


" Bos!"


TOK TOK TOK!!


" Bos!"


" Bos!"


" Anda di dalam?"


Interupsi datang dari gedoran pintu yang membabi-buta.


" Dicari sama Tuan Zack!"


" CK, brengsek!" Umpat Riko saat mendengar suara Joni yang terus saja gencar menggedor pintu itu.


Sial!


.


.