
Bab 134. Info dari pria penyadap Pinus
^^^" Baiklah! Mungkin kau ingin melihat cara utuhku dalam menunjukkan cinta. Bersiaplah! kau akan melihatnya nanti!"^^^
.
.
.
...πππ...
Sepasang netra milik salah seorang penyadap Pinus yang kebetulan pagi itu berada di hutan, terlihat membulat demi melihat seorang pria yang berteriak- teriak, sambil membawa sebilah pisau. Terlihat mengejar seseorang.
Ia juga melihat wanita yang dikejar pria itu telah melesat jauh di depan pria tinggi itu. Benar-benar seperti adegan dalam TV yang pernah ia tonton.
Pria penyadap Pinus itu ketakutan. Takut jika terjadi pembunuhan atau sejenisnya. Tak berani menolong karena selain tak mengetahui duduk perkaranya, ia juga takut jika itu semua malah akan menjadi boomerang untuknya.
Definisi dari sayang nyawa.
" Enek opo iku?"
(Ada apa itu?)
Pria itu kini bersembunyi dan mengintip dari balik pohon Pinus besar. Ia takut dengan apa yang ia lihat, apalagi disana jelas belum ada orang lagi selain dirinya. Pria itu berada di sana lantaran ia memang tengah ndarung.
Sebenarnya matahari sudah meninggi. Tapi lebatnya jajaran pohon Pinus yang menjulang tinggi jelas membuat tampilan hutan itu masih terlihat gelap. Mencekam bagi orang yang tidak terbiasa.
Perlahan tapi pasti, pria itu kini terlihat beringsut mundur dan berlari. Pria tua yang terlihat kuno itu agaknya takut. Ia lari dan berniat segera menyampaikan hal itu kepada orang-orang di desa yang ada di bawah.
Jelas telah terjadi aksi kejahatan di dalam hutan.
.
.
Ajisaka
" Kita ke Antaboga Yud!" Tukas Ajisaka mencoba menuruti instingnya usai berbicara dengan Yasir
" Lah, kok kesana?" Protes Yudha yang merasa titah Aji tidaklah relevan.
" Yasir baru bilang kalau dia lihat Xenia hitam yang jalan cepat ke sana. Udah buruan! Kalau enggak ada, nanti kita puter balik!"
" Si Dino sama yang lain kan juga masih nungguin di gapura perbatasan!" Ajisaka benar-benar di tuntut berpikir taktis dalam waktu sepersekian detik.
" Kalau bisa bilang salah satu dari anak buahmu buat nyusul kita Ji. Kalau sampai bener mereka kesana, takutnya suaminya Bu Wida bawa orang!"
Pikiran Yudha malah berimprovisasi dengan cepat.
" Aman, udah aku bilang ke mereka kok!" Sahut Aji dengan wajah tegang.
Stang Gas itu terlihat di tarik dengan maksimal oleh Yudha. Hutan Antaboga merupakan hutan lindung di bawah naungan Perhutani. Komoditas utamanya merupakan getah Pinus, yang di sadap oleh para pekerja yang kebanyakan berasal dari orang-orang di desa itu.
Yudha dan Aji terlihat melaju kencang, melewati jembatan, jalan berbatu serta kini lekas melewati jalan yang menanjak menuju hutan.
Dua pria itu sama tegangnya kali ini, antara percaya dan tidak percaya. Namun entah mengapa, insting Aji malah lebih menuruti ucapan Yasir.
Saat mereka telah berada di tempat yang tinggi, di sebelah tanjakan menikung, tangan kanan Yudha dengan tiba-tiba terlihat menarik rem depan, dan kaki kanannya menginjak rem bawah.
Membuat Aji terbentur punggung kokoh sahabatnya itu.
Rupanya seorang pria tua bertubuh kurus tiba-tiba muncul dari arah kiri, dari arah semak krenyong yang lebat. Berwajah pias dan bertubuh gemetar.
" Jancok arek Iki!" Aji mendengus seraya mengumpat detik itu juga, karena saat tegang- tegangnya, Yudha malah membuatnya kaget.
" Woy! Laopo mblayu- mblayu Pak ?"
( Woy! Kenapa lari-lari Pak ?)
Bukannya menjawab omelan Aji, Yudha malah bertanya dengan sosok yang menjadi alasan dirinya menarik remnya secara mendadak. Membuat Aji mengalihkan atensinya.
" Onok wong di uber- uber mas. Wong wedok. Mlebu nang njero alas mas. Kae engko lek di pateni gek pie?"
( Ada orang di kejar-kejar mas. Perempuan. Masuk ke dalam hutan mas. Itu nanti kalau di bunuh gimana?"
Tubuh Aji mendadak tegang, membuatnya mematung demi mendengar penuturan pria penyadap Pinus itu. Jantung Aji seketika berdetak tak karuan. Jelas yang di tuturkan itu adalah Wida dan suaminya yang saat ini tengah ia cari.
" Hah? Sing genah sampean Pak? ( Hah? Yang benar anda Pak?)" Tanya Yudha yang tak percaya jika orang yang mereka cari benar-benar masuk ke hutan.
Pria itu mengangguk dengan cepat dengan sisa kepanikan yang masih kentara " Iyo mas, Iki mau aku weruh onok mobil ireng nyungsep nabrak wit Flamboyan Ning kono, aku gak wani nyedek soale dewe. Engko lek enek opo- opo lak aku sing coto mas!"
( Iya mas, aku tadi lihat ada mobil hitam nyungsep karena nabrak pohon Flamboyan mas disana. Aku enggak berani mendekat karena saya sendiri. Nanti kalau ada apa-apa saya yang susah!)
Tanpa membuang waktu lagi, Yudha terlihat mengurangi gigi persneling dan berniat akan segera tancap gas. Namun diluar dugaannya, Aji malah melompat dari sadel motornya.
" Pak, tadi masuknya ke arah mana sampean lihatnya. Maksud saya mereka berlari ke arah mana?" Aji bertanya kepada pria penyadap Pinus itu. Mengabaikan wajah Yudha yang kini menatapnya bingung.
" Wau kadose ngidul Pak. Mboten wantun nulungi kulo wau ( Tadi sepertinya ke arah selatan Pak. Enggak berani nolong saya tadi) " Jawab pria itu yang mengetahui jika pria yang bertanya kepadanya adalah pemilik lahan perkebunan naga terbesar di desanya itu.
" Mau kemana lu?" Yudha kini menatap bingung Aji yang sudah membalikkan badannya usai mendengar jawaban dari pria penyadap itu.
" Kalau mereka ke selatan, berarti pasti nanti tembus ke jalan sebelah kali. Aku mau nyusul lewat jalan ini Yud!"
" Eh Ji!!! Lu gila ya? Motorku terus gimana?" Yudha kini benar-benar tidak mengerti dengan Aji.
" Kita berpencar. Aku lewat sini, aku yakin kita bisa lebih cepat nemuin kalau berpencar.
" Bener mas! Lek wonten rencange, kulo wantun nulungi!"
( Benar mas! kalau ada temannya, saya berani menolong!)
Yudha tertegun mendengar ucapan pria penyadap itu. Aji jelas cukup familiar dengan topografi dan teritorial wilayah hutan itu, karena ia sejak kecil memang sudah berada di Kalianyar. Apalagi pria Kalianyar sudah tidak asing lagi dengan hutan Antaboga.
Ajisaka terlihat berlari masuk kedalam hutan detik itu juga, usai ia menyahuti ucapan Yudha.
" Ji!"
" Aji!!"
Yudhasoka berteriak memanggil sahabatnya yang sama sekali tak menggubrisnya itu. Ia benar-benar tak habis pikir, kenapa mitigasinya malah runyam seperti ini?
Dari hal yang tersaji, bisa Yudha pastikan jika sahabatnya itu benar-benar peduli dengan wanita bernama Widaninggar itu. Karena jika tidak, mustahil Aji mau bertingkah hingga sejauh ini.
.
.
Widaninggar
Betisnya terasa perih. Sepertinya akibat tergores akar kayu Pinus yang tumbuh disana tadi. Peluh yang membasahi tubuhnya ia biarkan begitu saja. Ia terlihat membuang napasnya yang terengah-engah.
Ia telah berada di dalam hutan. Seorang diri, dan tanpa tahu mana barat mana timur. Wida kehilangan arah.
Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru hutan itu. Tak terlihat sama sekali tanda-tanda kemunculan Mas Pram. Suara milik pria itu juga sudah tak terdengar seperti tadi.
" Berhenti kamu woy!!! Wanita sialan!"
Baru juga ia merasakan kelegaan, suara pria brengsek itu kini kembali terdengar. Meski terdengar sangat jauh, tapi hal itu jelas sangat mengintimidasi dirinya.
Ia kini bingung dan tak tau arah, yang jelas Wida kini telah berada di dalam hutan yang jauhnya sudah tak bisa ia katakan lagi. Ia lantas terus berlari menerjang tanaman talas yang telah meninggi. Yang dia butuhkan hanya lari dari kejaran dan buruan pria gila itu.
" Auuwwhhh!!" Rintihnya yang tak sengaja menabrak sarang tawon yang berada di wajah daun talas itu. Sakit dan kini terasa ngilu.
" CK, sialan!" Wida kini mengumpat. Benar-benar definisi dari sudah jatuh tertimpa tangga. Ia mulai kehilangan kesabarannya.
Wida terlihat sampai di sebuah persimpangan jalan setapak namun dengan rumput lebat juga tanaman pohon pisang yang begitu rapat. Dari prediksinya, jelas ia telah berada di tempat yang sama sekali tak pernah ia ketahui. Hutan terdalam.
Suara Mas Pram tidak terdengar lagi. Kini, ia memegang lututnya seraya mengatur napasnya yang semakin ngos-ngosan. Ia memejamkan matanya sambil hendak menangis. Merasa sudah tidak kuat lagi untuk berlari.
" Aku enggak kuat!" Ucapnya sambil memejamkan mata dengan posisi rukuk.
Dan saat ia masih gencar membungkuk seraya mengolah napas, sebuah tangan kokoh milik seorang pria menarik lengannya dengan kuat dan membuatnya terkejut detik itu juga, demi melihat wajah pria yang kini berada di hadapannya.
.
.
.
.
Maaf slow up gaes, Author kemaren sibuk acara malam 25 ( malam ganjil). Insyaallah nanti up lagi ya. Jangan lupa Krisan, like dan komennya ya πππ
Big hug from me
Mommy Engπ€π€π€π€
.
.
.
Keterangan :
Ndarung : ( Bahasa Jawa) yang berarti kegiatan bermalam di hutan. Biasanya dilakukan oleh seseorang karena lokasi rumahnya yang jauh dari kebun/ladang yang mereka miliki.