Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 132. Keributan di pagi hari



Bab 132. Keributan di pagi hari


^^^" Kesabaran ialah perhiasan jiwa!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Pandu


Untung saja mereka berdua berada di tepi kolam Fina yang berada di halaman belakang kediaman Guntoro. Coba jika tidak, Haishh. Bisa hamsyong mereka.


Ia masih mendelik dengan diri yang mendadak gelisah. Fina benar-benar nakal sekali pikirnya. Astaga, rasanya ingin sekali Pandu menggulingkan tubuh Fina saat itu juga. Menindih wanita itu dan meminta pertanggungjawaban segera.


Tapi...haduhh, ia bisa di gorok Tuan Guntoro jika ia ngawur disana!


" Awas kalau berani macam-macam!"


"Berani genit- genit sama cewe cewe disana!"


" Killl!"


Tutur Fina lagi seolah tanpa dosa dan langsung memeluk erat pinggang lebar pria itu. Membenamkan kepalanya dan menghirup aroma khas pejantan ganteng yang menjadi miliknya itu.


Membuat Pandu sedikit tergelak sebenarnya.


Kini Pandu menjadi semakin tak rela saja untu melepas Fina yang benar-benar lain dari pada yang lain . Nakal, cantik, liar, baik, penuh kejutan, agresif, keras kepala, impulsif, apalagi ya. Duh pokonya nano- nano deh rasanya.


" Tega banget sih kamu Fin, jadi mumet nih aku sekarang!"


Pandu memejamkan matanya seraya mencoba menetralisir gejolak aneh dalam dirinya. Semua ini gara-gara Fina.


" Kenapa? Aku cuma kasih warning aja kan?"


" Atau...kamu mau?"


Oh ya ampun Fina. Lihatlah wanita itu, dia justru menggoda coba!


" Udah stop. Makin ngawur aja kamu?" Pandu harus mengehentikan Fina yang akan semakin merajalela jika tidak di cegah. Benar-benar wanita top markotop.


.


.


Sementara itu di ruang tamu,


" Saya turut prihatin ya Mbar. Saya tahu dari Gun kalau ternyata Pandu...!" Bu Asmah sengaja menggantungkan kalimatnya karena merasa tak enak hati.


Ambarwati tersenyum " Sudah jalan hidup saya Bu. Mungkin yang kuasa ingin menunjukkan siapa bapak kandungnya kepada Pandu!"


" Seperti inilah saya Bu, Pak!" Kini Ambarwati menunjukkan keadaan apa adanya kepada keluarga Guntoro. Tak mau menutupi jika ia dan masa lalunya yang sedemikian adanya.


Nyonya Lidia terlihat meriah jemari Ambarwati yang sedari tadi ia pangku. Mengusap lembut seakan memberikan kekuatan.


" Kamu wanita hebat yang melahirkan pria luar biasa seperti Pandu. Jika Tuhan merestui, kami ingin sekali menjadi bagian dari keluarga kalian nanti. Iya kan Pah?"


Nyonya Lidia kini menatap wajah suaminya yang juga tersenyum. Membuat Bu Asmah senang akan hal itu. Ia setuju.


" Benar, kita serahkan saja sama anak-anak baiknya gimana nanti!" Jawab Guntoro.


Ambarwati menatap ketiga orang di depannya dengan wajah bingung, apa mereka membicarakan Pandu dan Fina?


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Kalianyar


***


Ajisaka


Ia duduk seorang diri mencari angin di kedai Cak Juned. Menunggu dua sahabatnya yang sudah ia kirimi pesan untuk menyusulnya kesana.


Ajisaka : @Cak Juned, merapat!


Sakti : Otewe, bentar ya.. lagi boker. Naggung!


Yudha : Otewe


Ia tersenyum saat membaca balasan dari Sakti. Pria itu kapan warasnya sih? Pikir Aji tak habis.


Namun, ia terlihat frustasi saat pesan yang ia kirim kepada seseorang tidak mendapatkan balasan sama sekali.


" Laopo mas kok ngelamun ae?"


( Kenapa mas kok melamun saja?)


Juned memperhatikan wajah kusut Aji yang tak seperti biasanya. Pria itu terlihat murung dan rona wajahnya tak ceria.


" Enggak onok Cak, biasah mumet penggawean!"


( Enggak ada Cak, biasa pusing soal kerjaan!)


Cak Juned berputar mengitari meja yang mirip mini bar dari susunan semen yang telah di lapisi keramik, menghidangkan secangkir kopi hitam dengan gula sedikit kepada Aji. Kopi murni dengan tingkat kepekatan tinggi. Ah mantap!


" Kerjaan opo kerjaan mas?" Goda cak Juned yang tentu saja tidak percaya akan penuturan Aji.


Aji terkekeh, pria yang lebih tua darinya itu agaknya bisa membaca pikiran Aji.


" Dari roman- romannya sampean itu pasti mumet karena wong wedok ( wanita)" Tukas Cak Juned sembari sibuk membereskan sisa cangkir kosong bekas pelanggannya yang baru saja pergi beberapa detik yang lalu.


Aji menggeleng tak percaya sembari tersenyum, bagiamana bisa tebakan pria itu bisa sangat jitu. Aji menaikkan kakinya sebelah ke bangku kayu dengan tingkat artistik yang tinggi itu, lalu menghisap rokoknya dengan begitu syahdu.


" Saya dulu waktu PDKT sama si Sumi juga begitu mas!" Ucapnya sambil mencuci gelas kotor itu ke tempat pencucian.


" Lek pas enek masalah rasane ra enak mangan, turu ora kesirep, megawe ora pokus!"


( Kalau pas ada masalah rasanya enggak enak makan, tidur enggak nyenyak, kerja enggak fokus)


Aji terus mendengarkan ocehan pria yang kini meniriskan gelas itu, sambil terus menghisap rokoknya dalam-dalam. Memang benar itu adanya yang ia rasakan saat ini.


" Tapi.. ngomong-ngomong, perawan endi sing wani nggawe galau sampean mas?"


( Tapi.. ngomong-ngomong, perawan mana yang berani membuat galau anda mas?)


" Uhuk...Uhuk...Uhuk!!" Aji tersedak asapnya sendiri kala cak Juned menanyai dirinya hal itu.


Masalahnya yang membuatnya galau ialah bukan perawan, melainkan jandes. Oh tidak, lebih tepatnya calon janda. Huft!


.


.


Ia tengah sibuk menata tokonya, kala sebuah pesan masuk ke ponsel yang layarnya sudah retak sebagian karena tak sengaja tertindih Damar itu.


" Saya pingin ketemu kamu, bisa?"


" Aji!"


" CK!" Ia mendecak dalam hati kala membaca pesan dari pria itu. Darimana Aji mendapatkan nomernya?


Ia segera menghapus chat itu dan segera meletakkan ponselnya kembali dengan kasar. Ia hanya berusaha melindungi dirinya sendiri dari stigma negatif yang bisa saja tersematkan kapanpun, jika ia terus berhubungan dengan pria lain. Mengingat ia masih menunggu kabar dari pengadilan.


" Buk!" Damar dengan mata mengerjap mencarinya ke warung.


" Loh, kok bangun. Kenapa?" Ia menyambut putranya dan merengkuh tubuh Damar untuk sejurus kemudian ia letakkan ke pangkuannya.


" Damar gak bisa tidur, susunya masih ada Buk?" Suara parau anaknya membuat Wida terkekeh.


Wida tersenyum " Ada, ayok ibuk buatin susu!" Wida menggendong anaknya ke belakang. Ia sebenarnya lelah, tapi pekerjaan masih menantinya.


Ia menyodorkan segelas susu coklat hangat kepada Damar. Dan dalam beberapa tegukan saja, susu itu telah licin tandas tak bersisa.


" Ayo sini ibuk usap punggungnya!" Wida menepuk bantal dan meminta anaknya untuk berbaring.


Damar membelakangi ibunya, ia memeluk guling kecil yang sudah sedikit usang. Merasakan sentuhan lembut jemari lentik ibunya.


Terasa nyaman.


Wida mengecup kepala Damar, harta satu-satunya yang ia miliki. Sebulir air mata jatuh. Entah sampai kapan ia harus menguatkan bahunya sendiri seperti ini.


Tanpa terasa, ia yang lelah justru ikut lelap dalam mimpi. Raga letih tak lagi bisa ia tahan, Wida tertidur dengan posisi masih memeluk tubuh kecil anaknya.


.


.


Sepasang netra yang masih terasa lengket kini terlihat berusaha mengerjap kala mendengar suara ribut-ribut dari luar.


" Mana dia, suruh dia keluar!"


" Jangan gila kamu, cepat pergi!"


Wida membetulkan selimut Damar yang melorot dengan sedikit tergesa. Astaga, ia bahkan tak sempat mengganti bajunya saat tidur semalam. Dengan cepat ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka.


" Inggar! Keluar kamu !"


DEG


Jantungnya seakan berhenti berdetak kala mendengar panggilan itu. Panggilan yang hanya biasa ia dengar, dari bibir mas Pram.


Dengan dada berdebar, ia memberanikan diri keluar dan melihat kegaduhan sepagi itu. Ingin segera memastikan apa gelombang suara yang ia tangkap tadi adalah benar suara mas Pram.


Dan betapa terkejutnya kala ia melihat pria yang kemarin hari sempat menyerahkan dirinya kepada Joni.


" Berani-beraninya kamu ngajuin cerai ya?" Mas Pram terlihat berwajah merah.


" Heh, pergi kamu dari sini!" Pekik Bapak.


" Saya enggak Sudi anak saya kamu bawa lagi!" Ia juga melihat Bapak tengah mendorong-dorong tubuh mas Pram.


" Saya mau ngambil Damar!" Ucap Mas Pram yang membuat hati Wida seolah terbakar saat itu juga. Apa pria itu gila karena membuat kegaduhan di rumah orang di jam sepagi ini.


Kepanikan juga melanda diri Wida kala para tetangga perempuan yang selalu bangun lebih pagi dari suaminya itu, mulai terganggu dengan suara berisik yang di timbulkan oleh mas Pram.


" Minggir kamu!"


BUG


" Pak!!" Teriak Ibu dan juga dirinya yang melihat Mas Pram meninju wajah Bapak. Membuat Kakung Damar itu terhuyung.


BUG


" Tolong!"


" Tolong!"


Ibu berteriak, ketakutan benar-benar melanda karena melihat hidung bapak yang mengeluarkan darah usai di pukul oleh Pram. Bapak yang sudah berusia lanjut, tentu saja tak bisa mengimbangi tenaga mas Pram.


" Sini kamu wanita kurang ajar!" Pram menarik tangan Wida saat Ibu tengah sibuk menolong Bapak yang kesakitan.


Para tetangga terlihat tak berani mendekat. Sialnya, tak ada pria lagi yang ada disana. Para wanita itu terlihat sama takutnya dengan Wida dan Ibu.


" Lepas mas, lepas!" Wida berontak, pria gila itu begitu menyakitinya.


" Mas jangan begitu mas, ini masih pagi loh!" Terdengar suara salah satu tetangganya mencoba melerai keributan itu. Mereka hanya bisa menatap cemas.


" Gak usah banyak bacot! Ini urusan Keluarga gue!" Mas Pram membentak para tetangga yang mencoba melerai sambil menodongkan pisau. Membuat Wida mendelik.


" Pram!" Bapak berteriak kala melihat dirinya yang kini diancam oleh pisau.


" Ikut!" Teriak Pram sambil menyeret Wida menuju depan. Pria itu benar-benar gila.


Ibu hanya bisa menangis dengan wajah gemetar.


" Buk, masuk cepat kedalam kunci pintunya buk. Jangan biarkan Damar pergi Buk!"


Mendengar teriakkan Wida, membuat Ibu berlari kedalam dan meningkatkan Bapak yang kini masih kesakitan. Damar jauh lebih penting.


" Wanita sundal!"


PLAK


Pram menampar wajah Wida karena ia merasa geram.


" Sini kamu!" Pram menyeret Wida dan memasukkannya ke mobil. Membuat kesemua yang disana hanya menatap hal itu dengan ketakutan.


" Wida!!" Bapak terlihat mengejar Wida dengan langkah terseok-seok. Para tetangga pria yang baru bangun , lebih tepatnya dibangunkan para istrinya yang ketakutan terlihat terkejut begitu melihat Wida yang sudah di masukkan kedalam mobil secara Paksa.


Sial!


.


.


.


.


.