Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 152. Mengukuhkan niat



Bab 152. Mengukuhkan niat


^^^" Percayalah , di setiap ketekatan kau akan menemui sebuah peluang!"^^^


^^^.^^^


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Tropis Cafe


***


Serafina


" Jadi mas Aji beneran jatuh cinta sama mbak Wida sejak dia ketemu di terminal Yaksowilangun?"


Fina benar-benar tak menyangka jika wanita yang berhasil memenangkan hati pria kaku itu adalah sosok sederhana seperti Widaninggar.


Kini mereka berlima membentuk posisi saling menghadap di sebuah meja kayu persegi panjang itu. Mirip orang yang sedang briefing. Sayangnya, mereka bukan sedang briefing. Namun sedang bergunjing.


" Kaget kan? Apalagi kita yang pernah lihat mereka tumpang tin...!" Ucapan absurd Sakti menguap kala tangan besar Yudha membekap mulut lemes itu. Dasar si sableng!


" Cangkemu di kondisikan!" Yudha mendengus kesal pada Sakti. Pasalnya disana ada Dita dan Fina. Belum lagi nanti si Aji bisa marah kalau tahu dia di pergunjingkan.


Yudha tidak tahu jika dua wanita itu juga wanita dewasa kali. Alias setali tiga uang. Sama saja.


Fina terkekeh, kumpul bersama mereka semua benar-benar bisa menjadi mood booster untuk Fina. Manusia dengan segala kearifan lokalnya.


" CK, lu kenapa sih Yud, marah-marah mulu!" Dengus Sakti tak kalah sebal. Kini, Pandu , Dita bahkan Sukron turut terkekeh demi melihat dua pria yang selalu eyel- eyelan itu.


" Pasti karena si Hesti lagi!" Cibir Sakti berengut demi melihat perubahan mood Yudhasoka.


"Ndu, kayaknya si Hesti perlu kita kasih piala deh, karena berhasil buat manusia acuh ini kalang kabut!" Ucap Sakti seraya mengangguk mantap dengan bibir menyebik. Melirik Yudha yang manyun.


Jelas moodnya rusak.


" Siapa Hesti? Pacarnya si Yudha?" Tanya Fina kepo. Menatap ke arah Sakti yang masih terlihat menekuk wajahnya karena sebal.


" Kenapa elu yang kepo Fin?" Tukas Dita menatap sahabatnya yang kini menjadi kepowers.


Pandu mengangguk" Bisa jadi.. tapi... diantara kita berempat, cuma si Yudha yang kerap gonta-ganti pacar!" Sahut Pandu menyerahkan tissue kepada Fina seraya mengerlingkan matanya kepada Yudha yang terlihat badmood.


" Terus kamu?" Fina menyipitkan matanya melirik Pandu. Membuat pria itu belingsatan.


" Tenang, dia aman!" Sahut Sakti menjadi tim sukses Pandu. Membuat Fina tersenyum manja. That's my man!


" Mas Pandu paling tenang , nah mas Aji paling pemarah, Mas Yudha paling cuek, nah kamu paling apa?" Tanya Dita kepada Sakti.


Sakti seketika jumawa " Kalau itu sih gampang, aku kan paling....!" Ucapkan Sakti terjeda saat Sukron menyahutnya lebih dulu.


" Paling enggak laku!" Sahut Sukron yang membuat kesemuanya tergelak kecuali Sakti.


" Matamu Kron!" Sakti mendengus menatap Sukron yang mencibirnya. Dasar sialan!


" Nih ya...sesama orang tidak laku dilarang membuli!"


Sakti menaikkan tangannya ke arah Sukron dengan hari telunjuk yang bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Kau dengar itu kawan?


.


.


Rumah Kebun Anyar


***


Ajisaka


Ia meraih sebuah tissue lalu membersihkan ratusan ribu keroco yang bersumber dari testosteronnya, yang kini berenang bergeliat manja diatas perut rata Wida.


Benar-benar definisi dari penelantaran.


" Maaf ya sel terkuatku. Kalian belum waktunya berenang jauh!" Aji terkikik dalam hati. Oh andai Sakti tahu, jelas ia akan memiliki stok sumber pembulian yang hakiki.


Ia merebahkan tubuhnya ke sisi kanan Wida. Menarik selimut tebal itu untuk menutupi bagian tubuh Wida yang polos usai membersihkan cairan lengket nan pekat itu.


" Kau harus jadi milikku Wid. Aku benar-benar mencintaimu!" Aji mengecup bibir Wida saat wanita itu terlelap. Terlihat begitu lelah usai meladeni hasrat pria pemarah itu. Oh God!


Entah karena kelelahan atau karena apa, Wida terlihat memejamkan matanya dengan teduhnya. Usai mencium bibir Wida, Aji beralih mencium kening wanita yang baru saja ia kungkung itu penuh cinta.


" Maafkan aku karena terlambat menemukanmu!" Andai Aji di pertemukan dengan Wida jauh sebelum Wida mengenal Pram, mungkin ia sudah memiliki rumah tangga yang bahagia saat ini.


Tapi, bukankah orang memiliki masanya? Dan setiap masa, juga memiliki orang- orangnya?


Sejurus kemudian pria itu terlihat keluar lalu menyambar ponsel miliknya yang berada di meja makan rumahnya itu.


" Halo Bi, tolong gak usah datang malam ini ya. Besok pagi aja kamu beresin rumah ini. Dan..oh iya, gak usah banyak cerita ke orang kalau saya barusan dari sini, apalagi sama bik Arning!"


" Iya, pokonya jangan datang dulu!"


" Enggak..enggak, saya enggak nginep. Tapi kamu datangnya besok aja!"


Ia menelpon Habibi pengurus rumahnya itu. Tak mau sampai ia kecolongan lagi. Sejurus kemudian ia terlihat menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Ia hanya ingin membuat Wida nyaman saja. Jelas Wida akan merasa malu, tak enak hati jika ada orang yang datang kesana malam itu.


Di tatapnya lagi wajah teduh yang kini lelap akibat pertarungan panas mereka tadi. Aji tersenyum. Rasa itu, tubuh itu, gairah itu... benar-benar tak bisa ia jelaskan. Ia benar-benar ingin memiliki tubuh Wida seutuhnya. Oh astaga, ini gila... benar-benar gila.


.


.


Widaninggar


Wanita itu mendadak terbangun dari tidurnya karena merasa tubuhnya lengket dan tak nyaman. Ia benar-benar kuwalahan dalam mengimbangi stamina dan tenaga seorang Ajisaka.


Dengan tubuh yang terasa pegal di semua persendiannya, ia terlihat berusaha mengumpulkan kepingan kesadarannya yang masih berserak.


" Astaga!!!" Wida terperanjat saat teringat jika ini sudah malam. Ia buru-buru melihat jam di nakas itu.


Pukul 22.24


Oh tidak!


.


.


Beberapa menit kemudian ia terlihat lebih segar namun merasa kedinginan karena mandi di jam semalam itu. Ah sudahlah, sudah terlanjur juga. Toh mereka melakukan semuanya itu atas dasar suka sama suka dan dengan kesadaran yang penuh.


Ia masih manusia biasa yang jauh dari label orang suci.


Ia keluar kamar dan mendapati Aji yang tengah tekun memproduksi asap putih dari bakaran tembakau kelas terbaik itu diatas sofa ruang tamunya.


Menghisapnya dalam dan terlihat begitu menikmati.


" Ah..kau sudah bangun?" Aji terlihat langsung menggerus batang rokoknya saat melihat Wida sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.


Wida merasa canggung. Entahlah, pria ganteng di depannya itu kini nampak dua kali lebih ganteng jika rambutnya setengah basah seperti itu.


Terlihat begitu jantan.


" Sudah malam, aku....!" Wida benar-benar merasa bersalah kepada Damar. Terlebih kepada kedua orangtuanya karena pulang selarut itu.


Aji berjalan mendekati Wida yang mematung. Oh Astaga mau apa pria itu? Jantungnya kini kembali dag dig dug der.


Aji menyibakkan rambut Wida lalu menyempitkan rambut yang basah itu ke cuping telinga Wida. Pria itu terlihat meraba pipi Wida yang terasa dingin bekas aktivitas mandinya.


" Aku memang bukan yang pertama buatmu!" Aji menarik dagu Wida dan membuat tatapan mereka berdua bertemu. Aroma nafas Aji mengusik batin Wida.


" Tapi bisa aku pastikan bahwa aku akan menjadi yang terakhir buatmu, hm?" Aji menatap wajah Wida tak lekang.


Wida menelan ludahnya, pria pemarah dan kaku itu rupanya begitu hangat dalam memperlakukan dirinya. Wida merasa tersanjung dan merasa menjadi wanita yang berharga kala di perlakukan begitu baik oleh Aji.


" Mas udah! Ini udah malam!"


" Aku ngerasa bersalah sama Damar, sama semuanya!" Wida mendorong dada bidang Aji yang tengah asik menyedot bibir bawahnya yang kenyal. Dasar pria itu!


Aji terkekeh, oh andaikan besok ia bisa menikahi Wida. Tentu akan terasa lebih membahagiakan.


" Baiklah, ayo kita pulang. Aku udah enggak sabar pingin cepet nikahin kamu Wid!"


.


.


Lampu rumah baru Wida terlihat masih menyala. Menandakan jika Pak Atmojo masih menunggu putrinya pulang. Dalam hati Wida, terselip rasa bersalah yang penuh.


" Aku masuk dulu ya mas, terimakasih udah mau ngan..."


" Aku antar kedalam. Kalau bapakmu tanya, biar aku yang jawab!" Tukas Aji mencekal tangan Wida yang sudah hendak menarik handle pintu mobil itu.


Wida terperanjat, menjawab apa maksudnya. Mau menjawab kalau mereka baru saja enak- enak begitu?


Aji tersenyum demi melihat wajah Wida yang tegang. " Tenang saja, aku bukan bocah polos. Aman pokoknya, aku cuma mau menjadi laki-laki yang sebenarnya!"


Wida terlihat tak menolak ucapan Aji. Lagipula percuma saja dia menolak, bukankah Aji pria yang tak mau di bantah?


TOK


TOK


TOK


" Sebentar!" Terdengar sahutan bernada parau dari dalam. Jelas sahutan yang berasal dari Pak Atmo yang mungkin sudah ketiduran


CEKLEK


Pintu terayun dan menampilkan Pak Atmo yang membentulkan sarungnya dengan seraya menguap. Bahkan wajahnya sudah sangat terkantuk-kantuk.


Wida semakin merasa bersalah.


" Pak Aji?" Mata Pak Atmojo membulat kala melihat Ajisaka yang berdiri santai di belakang Wida yang terlihat canggung.


Bahkan rasa kantuknya kini telah sirna demi melihat sosok yang mengantarkan pulang anaknya.


.


.


Wida telah masuk ke kamarnya terlebih dahulu dan terlihat mengusap punggung Damar, sambil telinganya tekun mendengar obrolan Ajisaka dan Bapaknya.


Tak ada alasan khusus bagi Wida untuk berlama-lama menemui Ajisaka.


" Jadi tadi acaranya sama Pak Aji sama Mas Pandu juga?" Pak Atmojo nampak mengangguk- angguk usai mendengar pembeberan perkara dari Ajisaka.


Tak tanggung-tanggung, Aji bahkan menceritakan jika Fina tak bisa mengantarkan karena memiliki acara lain bersama Pandu. Benar-benar pembohong ulung, penipu kelas kakap.


" Fina mungkin akan menikah dengan Pandu dalam waktu dekat. Kebetulan tadi saya sendiri, jadi...saya yang antar Wida!"


Ia bahkan seketika teringat dengan Sukron saat dengan entengnya ia telah dua kali menipu orang tua. Dasar Aji!


Namun beberapa sesi berikutnya, Aji menceritakan secara jujur semua yang ia tahu, tentang korelasi pertemuannya dengan Wida, dan keterlibatan Fina dalam usaha Wida yang kabur waktu itu.


Pak Atmojo terlihat bernapas lega. Nyatanya anak-nya masih di pertemukan dengan orang-orang baik sewaktu ditempa persoalan.


" Maaf Pak, tapi...apa boleh saya tanya sesuatu?"


Wida yang berada di dalam kamar yang letaknya bersebelahan dengan ruang tamu itu, terlihat menggigit bibir bawahnya kala mendengar Aji yang kini ngobrol dengan Bapaknya, dan terdengar akan mengucapkan sesuatu yang lebih serius.


Astaga pria itu!


" Soal apa ya pak?" Jawab Pak Atmo sedikit penasaran dan sungkan.


" Kenapa Bapak mengajak pindah Keluarga Bapak kemari?"


Wida mendecak tak percaya kala pria yang beberapa jam yang lalu mengungkungnya itu, kini malah mengobrol dengan Bapaknya. Mau sampai kapan? Ini sudah malam woy!


" Apa karena saya?" Ucap Aji menatap lekat wajah keriput yang terlihat lelah itu. Aji benar-benar terlihat serius dan tak bisa lagi menunda untuk tak bertanya.


Pak Atmojo terlihat menarik napasnya. Biarlah kini Aji tahu.


" Jujur Pak, iya!"


" Karena anda!"


Pria itu menceritakan sikap Arning dan anak Widiantoro yang semena-mena dan menyebarkan gosip tak benar. Ya meskipun kebenarannya ia dan Wida kini memang tengah merajut tali asmara.


" Kami orang enggak punya, hidup kami sudah susah, kalau harus denger berita yang enggak bener soal anak saya, saya rasanya enggak kuat Pak!"


" Saya mending pergi mencari ketenangan. Hidup cuma sekali kok ya kebangetan banget kalau musti begini terus!"


Aji menelan ludahnya saat suara pria di depannya itu mulai bergetar. Terlihat bersedih. Sungguh Ajisaka berniat akan memberikan kebahagiaan bagi keluarga itu.


Wida yang di dalam kamar seketika merasa bersalah, harus ia akui, ia mulai menyukai Aji dengan segala kurang lebihnya. Hatinya yang kosong dan gersang seolah mendapatkan setetes oase cinta kasih yang berasal dari pria nekat bernama Ajisaka itu.


" Kalau nyatanya saya suka dengan anak Bapak gimana?"


Pak Atmojo langsung mendongak menatap wajah mantan juragannya itu. Apa kepala pria itu baru saja terbentur sesuatu?


" Jangan bercanda Pak. Kami wong susah, anak saya juga enggak cantik. Bapak orang terpandang, orang berada. Apa kata orang kalau ternyata yang mereka ucapkan benar. Anak saya nikah sama njenegan habis cerai dari suaminya."


Pak Atmojo sebenarnya tahu jika Ajisaka jelas menaruh rasa kepada putrinya. Jika tidak, untuk apa ia nekat menolong anaknya yang tersesat di hutan, dan kenapa juga Wida sampai begitu mencemaskan Aji saat pria itu terkena sengatan kalajengking.


" Saya serius Pak. Saya menyukai anak bapak sejak saya bertemu Wida dengan kondisi babak belur di terminal. Wajah yang selalu mengganggu pikiran saya!" Aji tersenyum sumbang kala mengingat kondisi Wida yang memprihatinkan.


" Saya enggak peduli akan penilaian orang. Yang penting Bapak merestui kami, sisanya untuk urusan orang-orang kampung biar saya saya bereskan."


" Saya ingin njenengan tahu dari saya langsung, bukan dari orang lain. Bapak kenal saya sudah lama, saya enggak mungkin main-main dengan perkataan saya!"


" Saya ingin bapak tahu lebih dulu. Bahwa saya akan menikahi Wida saat urusannya dengan suaminya dulu telah beres. Saya akan bersabar!"


" Saya butuh wanita seperti Wida pak. Wanita telaten yang sifat keibuannya nyata. Saya sayang sama anak bapak!"


Orang tua mana yang tidak terharu jika anaknya di minta dengan cara jantan seperti itu. Apalagi, pria yang memintanya jelas menyiratkan keseriusan dan juga sosok yang memiliki integritas tinggi macam Ajisaka. Ya, walau pria itu memang memiliki sikap pemarah.


" Terima saya menjadi menantu Bapak ya Pak?" Ucap Ajisaka seraya menyentuh punggung tangan Pak Atmo yang keriput.


Membuat Pak Atmojo seketika membelalakkan matanya, entah dia harus bahagia atau harus bersedih saat ini. Yang jelas, ia merasa seperti orang yang bermimpi.


...🌺🌺🌺...


Ambarwati


Pagi ini wanita itu sibuk menyiangi bunga keladi miliknya yang beraneka ragam. Mulai dari jenis amazon, tikus hingga keladi wayang.


" Nah, Mbar..tumben udah santai. Udah enggak ke pasar?" Tanya tetangganya yang terlihat melintas usai dari berbelanja dari toko kelontong.


" Eh Yu, dari belanja? Enggak..saya udah enggak jualan. Sama Pandu disuruh dirumah aja!" Jawabnya dengan senyum ramah.


" Bagus deh kalau begitu. Selamat ya Mbar habis kena musibah, kamu kayaknya bakal besanan sama anaknya Bu Asmah ya. Aku ikut seneng!" Ucap Tatik dengan ketulusan.


" Masih lama Yu, Si Pandu masih mau buka bengkelnya dulu. Ini lagi proses pengerjaan!"


" Wah...emang kalau rejeki enggak kemana ya Mbar. Ya udah aku balik dulu ya, jangan lupa undang kalau si Pandu kawin!"


Ia hanya mengangguk seraya tersenyum saat Tatik pamit pergi. Sejurus kemudian ia meneruskan kembali kegiatannya. Keramahan memang lebih mudah di dapat saat seseorang berada di atas.


" Anaknya memang masih lama nikahnya, karena ibunya yang akan nikah lebih dulu!"


Suara berat seorang pria berhasil membuatnya terkejut dan juga berhasil menginterupsi kegiatannya.


" Mas Bayu?"


.


.


.


.