
Bab 104. Seulas senyum
" Gejolak itu pasti akan ada. Tak perlu dilawan, ikuti saja iramanya. Niscaya akan membuat langkah kita semakin ringan!"
.
.
.
...πππ...
Kediaman Guntoro
Papa dari Fina itu kini terlihat lebih baik meski sempat kumat karena ucapan Lidia yang menohok hati Kemal, sahabatnya sewaktu kecil beberapa jam yang lalu.
Mungkin benar kata orang, jika hati yang gembira adalah obat yang manjur. Sekuat hati Guntoro melawan semua rasa itu. Ia mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
Lidia sudah tak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya, atas sikap sak Karepmu dewe ( semaunya sendiri) yang di lakukan oleh suaminya itu.
" Nyonya, apakah anda sudah membaca berita?" Dyah Ayu datang dengan wajah tegang. Membuat kedua orangtua Fina itu menatap wajah Bodyguard wanita itu penuh tanya.
" Berita apa ?" Balas Lidia.
Dyah Ayu mengangsurkan ponselnya kepada Lidia. Wajah wanita itu terlihat datar dan biasa saja sewaktu menerima ponsel milik Dyah, namun sejurus kemudian ia membulatkan matanya kala membaca artikel yang memuat berita jika pria itu kini tertangkap polisi atas dugaan human trafficking. Oh my God!
" Pah! Lihat!" Lidia menunjukkan berita yang termuat di layar ponsel Dyah dengan tak sabar.
" Ada apa ma?" Guntoro yang kini duduk diatas sofa kamarnya itu turut penasaran.
" Astag, jadi selama ini...!" Guntoro tak percaya jika sosok yang selama ini terkenal dermawan malah terlibat kasus kejahatan besar macam itu.
" Info yang saya dapat semua ini karena Pandu. Dan...putri Anda juga sudah aman bersama Pandu!"
Mata Lidia berkaca-kaca " Jadi benar Pandu yang menyelamatkan Fina. Lihat Pa! Apa jadinya jika Pandu tidak datang tepat waktu. Pokoknya mama gak mau tahu, Perjodohan Fina dengan Rizal harus batal. Mama gak mau tahu!"
" Pandu lebih pantas bersama Fina karena beberapa kali pria itu selalu berhasil melindungi anak kita Pa!"
.
.
Rendy
Ia gelagapan sebenarnya. Ia juga sempat melirik reaksi wajah dua pria tampan yang duduk di kursi penumpang belakang kala Ibu Pandu melayangkan pertanyaan itu.
" Emmm tadi kan sudah saya jelaskan di awal, jika Pandu pasti akan kembali ke kantor. Jadi...!"
" Emm maaf Mas, tapi Kenapa kita tidak mencari Pandu saja tadi!" Sahut Yudha memotong penjelasannya.
Mampus gue! Rendy bingung, masa iya dia harus jujur karena Pak Bayu yang meminta. Oh astaga, beginilah repotnya menjadi anak buah.
.
.
Pandu
Saat itu matahari seolah-olah berada tepat di atas kepalanya. Terasa terik dan menyengat. Ia masih duduk terpekur diatas kursi panjang yang berada di ruang terbuka hijau itu. Nanar menatap hamparan bunga aglonema yang beraneka ragam.
Masih di temani Fina yang juga berwajah letih. Seletih hati dan pikiran Pandu saat ini
Pandu belum bisa berdamai dengan semua yang terjadi. Ia harusnya bisa menghajar pria bernama Hartadi tadi. Tapi...ah sial. Ia selalu saja kecewa jika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
" Ndu..mau sampai kapan disini?" Fina menatap muram wajah Pandu.
" Aku gak tau harus gimana pas ketemu ibuk nanti Fin. Aku...!"
Pandu gusar dan seperti tak memiliki kendali atas dirinya.
" Hey! Kalian bisa bicara baik-baik nanti, hm?" Fina mengusap lengan Pandu dengan kasih.
Namun, belum sempat menjawab ucapan wanita yang ada di sampingnya itu, ponselnya bergetar.
Bayu calling...
Astaga, ia bahkan tak memberi embel-embel apapun di depan nama bosnya itu. Dasar Pandu!
Pandu melihat sekilas nama yang terpampang di layar ponselnya lalu terlihat seperti memikirkan sesuatu.
" Angkat cepet! Dari om Bayu kan?" Fina yang sebenarnya sudah tahu lantaran sempat mengintip itu, kini pura-pura bertanya.
Pandu mengangguk.
" Angkat dong!" Perintah Fina.
Entah mengapa ia menurut untuk melakukan hal yang di instruksikan oleh wanita nakal di sampingnya itu, kehadiran Fina benar-benar bisa membuat kemarahan Pandu mereda.
" Ya!" Sahutnya dengan alis berkerut. Membuat Fina menatap wajah pria itu dengan tatapan saksama. Fina menyukai semua yang ada pada diri Pandu.
" Cepat kembali ke kantor! Ibumu beserta teman-temanmu ada disana!"
" Banyak sekali persolan yang tidak selesai hanya dengan emosi!"
TUT
Ia mendesis kesal sesaat setelah Bayu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Benar-benar otoriter!
" Satu-satunya cara memungkasi masalah adalah dengan menghadapi, karena dia akan semakin beranak pinak jika dihindari!" Fina tersenyum menatap Pandu.
Pandu menatap Fina dengan tatapan penuh arti. Wanita itu!
" Kenapa?" Fina kini insecure dengan sendirinya.
Pandu masih menatap Fina penuh arti.
" Pandu kenapa sih lihat gue begitu!" Lihatlah, dia bahkan kini berucap elo gue lagi.
Pandu mendekatkan wajahnya ke wajah Fina, membuat wanita itu panas dingin. Apakah Pandu akan menciumnya?
" Kamu kalau gini jelek banget!!! Gak mandi dari kapan?" Bisik Pandu seraya tersenyum licik sesaat setelah wajahnya sampai di depan telinga Fina. Membuat wanita itu kini mendengus kesal sembari mendorong Pandu.
" Pandu!!!!!"
Pandu tergelak karena berhasil mengerjai wanita nakal di sampingnya itu.
.
.
Ambarwati
Ia diminta Rendy untuk membersihkan dirinya di sebuah kamar yang terbilang bagus untuk ukuran sebua kamar di kantor. Ia juga heran, mengapa kantor besar ini memiliki kamar bak hotel.
" Anda bisa beristirahat sembari menunggu Pandu Bu!" Rendy mengangguk sopan saat undur diri.
" Mas tunggu dulu!" Ucapnya yang berhasil menahan langkah kaki Rendy.
" Ya?"
" Teman-teman anak saya dimana?" Ia mencemaskan Ajisaka, Yudha dan si pria sableng, Sakti.
" Mereka sedang membersihkan diri di kamar sebelah Bu, nanti jika Pandu datang saya akan minta dia untuk kemari!" Rendy tersenyum. Menampilkan lesung pipinya yang membuat wajah pria itu makin manis.
Ia menatap pintu yang terlihat mengayun dan kini tertutup. Rendy telah pergi dari hadapannya.
Ia melihat pakaian yang diberikan oleh Rendy. Dapat dari mana pakaian bagus dengan cara secepat ini?
Pikirannya yang tak menjangkau birokrasi di KJ itu membuatnya makin mumet. Ia tidak tahu, jika uang selalu bisa membuat segala sesuatunya lebih mudah dan ringkas.
Rupanya sugesti dari Rendy ada benarnya, ia yang sedari kemarin memang sudah lelah dalam perjalanan, kini mencoba membaringkan tubuhnya yang telah bersih dan segar itu. Meski hatinya belum tenang lantaran belum bertemu Pandu, tapi raganya yang letih tak bisa lagi ia ajak kerjasama untuk terjaga selama beberapa saat.
Ia tertidur.
.
.
Bayu
" Gimana Ren?" Tanyanya sesaat setelah tiba di kantor KJ.
" Aman bos, hanya...Pandu belum juga kembali!" Rendy memasang wajah cemas.
" Biarkan dulu, aku sudah menghubunginya tadi. Teman-teman Pandu dimana?" Ia berucap seraya melepaskan jas yang ia kenakan.
" Mereka bersama Theo diatas, tadi sudah saya kirim makanan juga buat mereka!"
" Bagus, terimakasih banyak Ren. Kita harus memperlakukan mereka dengan baik. Karena Pandu lah, uang kita bisa kembali?" Bayu menepuk pundak Rendy penuh kebanggaan.
Rendy mengangguk setuju, sejurus kemudian ia menahan langkah Bayu yang hendak menuju ruangannya.
" Emmm Pak...!" Ucapnya ragu.
" Ya?" Bayu membalikkan badannya.
" Saya lupa belum memberi makan siang buat Bu Ambar, soalnya tadi saya ketuk gak dijawab. Saya gak enak mau masuk!" Rendy terlihat meringis.
Bayu terlihat berpikir sejenak " Biar saya saja setelah ini!"
Badannya sebenarnya letih. Ia bahkan lupa kapan terakhir memejamkan matanya untuk tidur. Bukan tanpa alasan dia harus memperlakukan keluarga Pandu dengan baik. Karena jujur, ia merasa tertolong sekali dengan hadirnya Pandu.
Meski ia tak bisa membohongi diri, bila ia juga sangat terkejut, lantaran Pandu rupanya merupakan anak orang berpengaruh macam Hartadi. Takdir memang acapkali mengajak kita untuk bercanda.
Saat ia hendak mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Ambarwati, ia malah dibuat terkaget karena pintu itu terlihat mengayun dan memperlihatkan sosok Ambarwati yang hendak keluar. Aroma sabun yang segar kini mengusik hidung Bayu. Ambarwati terlihat lebih segar.
" Emm maaf, saya mau keluar tadi!" Ucap Ambar yang sebenarnya juga terkejut. Mereka berdua sama-sama terkaget.
Di ruangan.
Ambarwati duduk sembari memangku kedua tangannya dengan gelisah. Ia memakai blouse panjang warna putih, dengan bawahan sebuah rok denim panjang. Terlihat sederhana. Tapi itulah stylenya.
" Tadi Rendy ngantar ini tapi kamu tidak menjawab. Jadi .. sekarang makanlah. Pandu mungkin sebentar lagi datang!" Bayu mencoba bersikap normal dan memperlakukan tamunya itu dengan baik.
Kecanggungan yang tercipta seolah harus ia terjang. Ia sendiri sebenarnya merasa lapar, tapi tentu tamu itu harus di prioritaskan bukan?
"Anda sendiri tidak makan?" Ambarwati menatap Bayu yang duduk di kursi agak jauh darinya. Mencoba menawarkan.
" Saya masih kenyang!" Jawabnya cepat.
KRUK!!!
Perut sialan! Berani-beraninya dia berkhianat di saat- seperti ini. Astaga, benar-benar tak bisa diajak bekerja sama.
Membuat Ambarwati tersenyum geli. Pria di depannya itu kini wajahnya sangat memerah. Jelas Bayu tengah dilanda rasa malu.
Sungguh, ini adalah pertama kalinya Bayu melihat senyum yang merekah di wajah Ibu Pandu itu, sejak pertama mereka bertemu. Ya.....meski dia kini harus menanggung malu sih.
" Sepertinya perut anda lebih jujur dari bibir anda!" Ambarwati terkekeh saat mengucapkan hal itu.
Oh tidak, ia pasti sudah gila karena turut tersenyum menertawakan dirinya sendiri, seraya menatap wajah wanita yang kini lekas membuatnya gelisah itu.
Oh no!!!
.
.
.
.