Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 240. Manusia dan segala kesukarannya



Bab 240. Manusia dan segala kesukarannya


.


.


.


Yudha


Ia langsung mendorong tubuh Sakti manakala melihat lendir yang menjijikkan sekaligus sebagai penanda jika kesablengan pria itu telah kembali.


Yes, welcome back Mr sableng!


Cak Juned bersama istrinya yang turut hadir sebagai tamu undangan di belakang sana, bahkan tak kuasa menitikkan air matanya demi menyaksikan apa yang tersaji di depan mata itu.


Pun dengan Mamak Mariana, Bu Ambar berserta Pak Bayu, serta para orang tua Yanga hadir, turut menangis meski mereka belum tahu betul ada masalah apa yang sebenernya menjerat mereka.


" Nih bang lap dulu ingusmu itu, tak kusangka, pria-pria dewasa itu cengeng pulak ya ?" Arju datang dengan membawa sekotak tissue dengan wajah santai. " Tadi pas di telpon janji tidak nangis, tidak taunya...?" Arju melipat kedua tangannya dengan wajah datar. Membuat Aji, Pandu terlebih Yudha terkejut.


" Di telpon?" Tanya Yudha saat Sakti kini sibuk menyusut hidungnya hingga mengeluarkan bunyi yang membuat orang lain bergidik. Sialan si Sakti!


Arju mengangguk, " Aku sudah menyelesaikan tugasku, jangan lupa bagianku ya bang? Malam ini aku harus menang melawan si kampret!" Seru Arju seraya menepuk lengan Sakti sambil ngeloyor pergi. Membuat mereka semua makin penasaran.


Ada hal terselubung apakah dengan dua laki-laki berbeda usia itu?


.


.


Di sebuah ruangan,


" Apa?" Yudha terkejut demi mendengar penuturan Sakti yang berkata jika ia selama ini intens berhubungan dengan adiknya. Ya, generasi menunduk itu benar-benar memiliki sikap intelejensi yang luar biasa.


Membuat Aji dan Pandu kini memijat keningnya. Jadi si Arju yang ada di belakang layar?


" Tapi, kenapa Arju tidak ada bilang ke kamu Mas?" Tanya Rara yang kini bingung menatap suaminya yang masih tercenung. Sama sekali tak menduga jika Arju bersekutu dengan pria longor itu.


" Sudah aku bilang, dia itu memiliki sikap intelejensi diatas rata-rata. Kalian wajib waspada!" Tukas Sakti kini meraih sebotol air dingin. Berbicara terus menerus membuat kerongkongannya kering.


" Jangan-jangan, yang ngirimin aku baju aneh sama obat itu juga adiknya mas Yudha?" Wida yang polos berucap seraya mengingat- ingat.


" Uhuk-uhuk!" Sakti seketika tersedak minumnya ,manakala mendengar Wida mengucapkan lingerie seksi itu baju aneh.


" Itu kan sexy banget, kenapa Bu wdia bilang aneh?"


" Enggak salah lagi, ketersedakan dia itu mewakili ucapan Yes kali gaes!" Ucap Fina kini memprovokasi. Menatap sebal ke arah Sakti.


Membuat Sakti meringis." Sory buat semuanya. Jujur, aku waktu itu enggak percaya diri dengan kalian gaes. Aku merasa kecil, kerdil, dan juga...."


Sakti menjelaskan niatnya pergi karena ingin memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Meski tak di sangka, apa yang ia dapatkan saat ini sangat melebihi ekspektasinya saat malam itu meninggalkan orang tuanya di Kalianyar. Sakti belum menceritakan perihal dirinya yang sebenarnya merupakan cucu dari orang kaya yang memiliki sebuah Vineyards ternama.


Semua orang menghela nafasnya. Sama sekali tak mengira jika sahabatnya yang paling sering membuat mereka tertawa itu, justru memiliki pemikiran nelangsa. Namun, Kembalinya kesablengan Sakti saat ini, jelas membuat mereka semua yakin, jika Sakti sudah kembali dengan segala hal seru yang ada dalam dirinya. Membuat mereka bahagia.


Tapi, yang jelas mereka agak sedikit curiga demi melihat pakaian yang kini di kenakan Sakti. Jelas bukan pakaian sembarangan yang dulu pria itu gunakan.


" Oh ya mana di Damar?" Tanya Sakti demi mengalihkan situasi curiga para sahabatnya yang mulai ia sadari.


" Udah balik sama si Sukron, Sukron udah mengkudeta anak itu sejak mereka baru nikah!" Tutur Pandu sembari tekrikik-kikik.


Membuat Sakti juga tergelak. Pun dengan Aji yang senyam-senyum sendiri sebab ia bisa menggempur pertahanan Wida tiap malam tanpa gangguan. Ihiir!


Yudha yang masih belum bisa mencerna semuanya terlihat masih serius. Tentu saja, kepergian Sakti juga tak lepas dari dirinya yang bersama Rara, begitu pikiranya. Padahal, kenyataan yang ada bukan begitu.


" Lu kenapa masih diem?" Tanya Aji menatap Yudha yang memang masih merasa bersalah.


Abang Arju itu menghela napas panjang. "Aku minta maaf Sak, karena..."


" Ssssttt, aku udah kembali jadi tolong jangan mengorek yang lalu. Apa yang tejadi tak lain karena Tuhan memiliki maksud lain!'' Pria sableng itu tahu kemana arah pembicaraan Yudha yang mulai terlihat mellow.


Sakti kali ini bersikap tenang dan serius manakala berucap. Pria itu nampak menatap lurus kearah Yudha yang jelas merasa bersalah.


" Yud..Ra...!" Ucap Sakti menatap keduanya secara bergantian. Membuat suasana seketika menjadi lebih serius. " Aku bahagia banget lihat kalian bersama, ini jujur dan tulus. Aji, Pandu, Fina dan Bu Wida...tolong dengarkan aku baik-baik!" Sakti ingin memupus rasa tak enak hati pada diri Yudha, ia tahu sahabatnya itu mungkin masih merasa tak enak hati.


" Kita semua terlahir sudah memiliki garis hidup dan takdir masing-masing, tidak terbantahkan dan tidak dapat diubah oleh tangan manusia. Pun dengan jodoh, nasib juga kematian orang itu sendiri!"


Membuat semuanya menelan ludah demi mendengar keseriusan Sakti.


.


.


Anjana


Ia membiarkan Sakti untuk bernostalgia bersama para sahabatnya. Ia juga meminta para pengawal tersembunyi untuk pergi agar situasi tidak terlalu mencekam. Lagipula, tidak ada musuh yang patut di waspadai disini.


Ia kini berada di luar hotel, duduk termenung di depan kolam yang malam ini sepi. Entahlah, Anjana turut merasa lega sebab persoalan tuan mudanya bersama sahabatnya itu, kini telah usai.


Ia turut bahagia kala melihat Sakti yang saling berpelukan bersama ketiga sahabatnya tadi. Sedikit minder sebab istri para sahabatnya sangat cantik dan lihai dalam berdandan. Membuatnya insecure.


Ia juga wanita normal yang pasti ingin tampil cantik. Tapi, ia tidak memiliki keahlian di bidang itu.


Dan saat membalikkan badannya sebab kantuk mulai menyerang dirinya, ia seketika terkejut demi melihat Pieter yang ada disana.


DEG


" Pieter?" Anjana mendelik karena terkejut saat melihat pria yang beberapa waktu ini menghilang, namun kini berada di depannya dengan wajah menyeringai.


" Kucari kemana-mana tidak tahunya kau disini sendiri. Kemana tuan mudamu yang kau bela itu?" Ucap Pieter tersenyum penuh arti.


Anjana melihat ke sekelilingnya dan tak mendapati siapapun yang ada di sana. Kemana orang-orang disana, bukankah seharusnya mereka masih riwa-riwi untuk membereskan sisa acara Yudha?


" Maaf sayang, tapi aku tidak mau mengalah dengan pria banyak bicara itu!"


DUG


Dengan gerakan tak terbaca, Pieter memukul tengkuk Anjana dan membuat wanita itu seketika limbung.


Sepasang mata yang menyaksikan hal itu kini mendelik dengan tubuh bergetar, demi melihat Anjana yang kini dibawa pergi oleh seorang pria tampan yang tak ia kenal.


Sejurus kemudian manusia yang barusaja melihat kejadian itu, kini beringsut mundur perlahan dengan tubuh gemetar.


Tidak, ia harus cepat melaporkan hal ini kepada seseorang.


.


.


Arjuna


Ia menyelinap keluar dari kamar hotel tempat Bapak dan Mamaknya kini beristirahat. Ya, mereka berencana pulang besok sebab jarak rumah mereka yang agak jauh serta mereka yang sudah lelah dengan aktivitas seharian ini.


Ia mengikuti kemana Anjana pergi sebab bocah itu merasa takjub dengan wanita itu. Wanita itu menurutnya cerdas dan menjadi idamannya.


Ia bersembunyi di balik tanaman janda bolong yang rimbun, sehingga membuat tubuhnya yang cimpil tak terlihat, menatap lekat wajah eksotis yang tegas itu dari jarak beberapa meter.


" Sepi sekali, sangat cocok!" Gumamnya tekrikik-kikik demi bisa melihat wajah Anjana yang menjadi idamannya.


Namun, kejadian mengejutkan di jarak beberapa meter darinya itu, sukses membuat tubuhnya gemetaran demi melihat Anjana yang di pukul okeh seseorang dan kini terlihat pingsan.


" Hah, sialan. Itu kenal dipukul begitu?" Gumamnya dengan dada deg-degan.


Arju mundur perlahan dan berhasil menjauh dari tempat itu. Bocah itu sejurus kemudian berlari dengan cepat, dan berjalan mencari kamar Sakti yang ia ingat pernah diucapkan oleh Anjana.


Ia sangat ketakutan sehingga hanya terfokus kepada satu hal. Melaporkan hal ini kepada Bang Sakti.


" Kamar 203, 204, 205!" Ia bahkan menghitung dengan dada bergetar kala membaca angka yang ada di depan pintu kamar itu. Ia mencari kamar 207 yang ia ingat menjadi kamar milik Abang sableng itu.


DUG


" Aduh!" Arju mengaduh saat ia melewati sebuah ruangan, yang tanpa di duga dari dalamnya keluar tubuh besar seseorang yang menabrak dirinya. Dan sialnya, rupanya itu merupakan tubuh abangnya yang baru keluar bersama para sahabatnya.


" Arju! Ngapain kamu malam-malam begini lari-lari sampek keringetan gitu?" Yudha menatap adiknya yang nampak berkeringat dengan muka pucat.


Membuat semuanya juga turut penasaran.


" Bang Sakti, Anjana diculik orang!"


.


.


.