
Bab 136. Definisi dari kesialan yang berujung keuntungan
^^^" Lekuk indah hadirkan pesona, kemulyaan bagi yang memandang..."^^^
^^^( Ada band)^^^
.
.
.
...πππ...
Ajisaka
Pria yang tak ia ketahui namanya itu rupanya kuat juga, ia bahkan sampai mengerahkan seluruh tenaganya saat menangkis serangan dari Pram.
Hatinya seolah terbakar oleh penuturan Wida akan rumah tangga yang wanita itu jalani. Hatinya benar-benar nyeri kala mendengar kenyataan pahit yang rupanya ada di dunia nyata.
" Pria biadab!"
Ia bahkan suka saat Wida meneriaki dirinya lalu menyebutkan namanya saat berkelahi tadi. Apakah wanita itu khawatir kepadanya? Yeeah!!
Namun sungguh tidak ia duga, Pram menendang perutnya dengan begitu keras
dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Detik itu juga, ia terpelanting kebelakang dan tanpa sengaja menabrak Wida yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
BRUK
" AAAAA!" Teriakan Wida seolah menjadi belati yang kini mengiris hatinya. Apakah ia gagal menyelamatkan wanitanya?
Ia merasa dunianya mungkin akan berkahir saat ia sudah tak bisa lagi mengatur keseimbangan tubuh, kala jalan curam dengan tumbuhan yang tebal itu membuat tubuhnya terus berguling ke bawah.
Ia bahkan berpikir, mungkin detik itu ia akan menyusul kedua orangtuanya ke alam baka bahkan sebelum ia mendapat jawaban manis dari wanita yang tengah ia selamatkan itu.
Damned!
Sejenak ia tak mempedulikan dirinya sendiri. Otaknya hanya berisi nama dan bayangan wajah wanita nestapa yang diam-diam ia cintai itu.
" Wida!"
Sungguh gila, ia bahkan masih meneriakkan nama wanita yang saat ini juga bertaruh nyawa karena turut berguling menuju dasar jurang yang curam.
Lama dan terasa bertubi- tubi.
BRUK
Seketika pandangannya berubah menjadi gelap saat tubuhnya telah berada di tempat yang sudah datar, dan tenang. Kini, tubuhnya serasa remuk redam.
" Wida!" Lirihnya dalam hati saat bibirnya telah tidak sanggup terbuka seraya merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Ia bisa mendengar suara tapi sangat sulit untuk membuka matanya.
Apa dia sudah mati?
.
.
Widaninggar
Dari awal ia memang tengah berada di bibir jurang saat ia berada di ujung lelahnya kala berlari. Bahkan ia tak tahu arah disana. Sialnya lagi, sejauh nyala mata memandang , hanya ada bentangan bibir jurang yang tersaji.
Tak ia duga, Mas Aji kalah dari serangan Mas Pram. Bahkan, ia sempat pasrah saat tubuh besar mas Aji menubruknya lalu membuat ia dan Mas Aji berguling menuju jurang.
Hatinya mendadak teringat dengan Damar, wajah ibunya dan wajah tua Bapak kala mengejarnya tadi. Mungkinkah ini akhir dari hidupnya?
" Damar!" Lirihnya dalam hati.
Ia yang hanya mengenakan rok bahkan bisa merasakan jika paha atasnya kini tak terlindungi apapun karena roknya tersingkap oleh ranting- ranting yang menusuk kulitnya.
" AAAAA!!"
Ia berteriak karena selain merasa takut, ia juga tak mengerti mengapa bibirnya berteriak. Gerak reflek yang mungkin sudah biasa.
Lemas, sakit, remuk, tak berdaya. Ia kini benar-benar merasa tak bertulang.
Sunyi, senyap.
" Auuwwhhh!" Ia merasa sikunya nyeri, tubuhnya sakit sekali. Tapi tunggu dulu, ia masih hidup!
Ia mencoba membuka matanya kala ia merasa telah tak bergerak. Kepalanya pusing sekali ternyata, membuatnya memejamkan matanya kembali. Suara burung dan monyet liar sayup-sayup terdengar.
Pasrah. Ia kini tak tahu harus bagaimana.
" Mas Aji?" Dengan berteriak, ia membuka matanya kembali dengan cepat kala mengingat sosok Hero yang saat ini pasti mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Dengan susah payah dan jalaran rasa sakit yang kian menjadi, Wida mencoba mendudukkan tubuhnya sebisanya. Dan benar, Mas Aji tengah terlentang sambil memejamkan matanya dengan jarak yang tidak terlalu jauh darinya.
" Mas Aji bangun mas!" Ia berucap dengan suara lirih, bahkan ia tak sanggup untuk sekedar berdiri.
" Mas!"
"Mas Aji!" Wida terus ngesot menuju tempat Aji tergeletak. Perasaan yang tidak-tidak kini menguasai dirinya. Apakah Aji baik-baik saja?
" Mas! Bangun mas!" Ia menepuk wajah Aji yang kini terlihat kotor , banyak goresan dan terluka di sana sini. Pasti wajahnya saat ini juga sama kacaunya dengan wajah pria yang ia duga tengah pingsan itu.
Wida menangisi Aji. Sungguh, ia kini bingung harus bagiamana.
" Mas Aji bangun mas!" Ia berada dititik keresahan dan ketakutan secara bersamaan. Cucuran air mata seolah menjadi penegas jika Wida berada dalam ambang kebingungan.
Namun, mendadak ia teringat dengan suatu hal. Memeriksa denyut nadi melalui pergelangan tangan.
" Semoga masih berdenyut!"
Dengan sigap Wida menepikan rasa sakit di tubuhnya, lalu meraih lengan kiri Aji yang masih memejamkan matanya.
"Astaga, lemah sekali!" Gumamnya usai meraba denyut nadi di pergelangan tangan kiri Aji, kini ia semakin panik dan bingung. Jika terus begini, Mas Aji bisa saja mengalami henti jantung.
Sejenak ia ragu saat menatap bibir Ajisaka. Mustikah dia kudu memberikan CPR?
CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation, merupakan prosedur pertolongan pertama yang sangat penting, untuk menyelamatkan pasien henti jantung. Prosedurnya terdiri dari kompresi dada, membuka jalur napas, dan memberi napas buatan.
Ia benar-benar bingung, memberikan CPR berarti harus menempelkan bibirnya kepada bibir pria itu. Haishh!!!
Tapi...jika ia tidak segera memberikan pertolongan itu, ia takut jika sesuatu yang lebih parah akan menimpa Aji. Henti jantung misalnya.
Tidak! Tidak!
Wida menepikan semua ego nya, wanita itu kini terlihat menjepit hidung Aji lalu menempatkan bibirnya ke bibir Aji. Ia memberikan napas sambil melihat ke arah dada Aji.
Belum terlihat adanya reaksi dada Aji yang terangkat, ia kembali melakukan hal yang sama. Ia kembali menempelkan bibirnya, mengulang hal yang sama. Namun, saat hendak melihat ke arah dada Mas Aji guna memastikan apakah dada pria itu sudah terangkat, sepasang biji mata Aji rupanya sudah terbuka.
" Hah!" Wida seketika menjauh dari tubuh Aji dengan cepat karena terkejut. Apa pria itu mengerjainya?
Sial!
Ia semakin mendengus kesal kala melihat Aji yang kini senyam-senyum sendiri. Pria itu bahkan kini bisa memindahkan kedua tangannya ke belakang kepalanya.
Ya, meski memang terlihat sedikit lemah saat ini.
" Sejak kapan Mas Aji sadar?" Kini Wida yang sedikit malu bertanya sambil membuang wajahnya.
Mas Aji terlihat tersenyum penuh arti " Sejak kamu...!" Aji mengerlingkan matanya. Membuat Wida mendengus. Pria itu bahkan mengesalkan sekali bahkan disaat genting seperti ini.
" Mas Aji menipuku ya!" Wida memukul perut Aji dengan kesal.
" Auhw!!! Rintih Aji sungguhan.
"Setelah menciumku seenaknya, sekarang kau mau berbuat sama dengan pria tadi? Menyakiti perutku yang kosong ini?"
Wida seketika memandang Aji dengan perasaan bersalah, kala pria itu mengingatkan jika Mas Pram yang membuat mereka berada di tempat sunyi itu.
Aji masih tersenyum penuh arti dengan posisi tidur berbantalkan kedua tangannya. Meski rasa tubuhnya remuk, tapi ia seolah melayang di udara kala merasakan sentuhan hangat bibir Wida yang membuatnya meledak-ledak. Ya, walau Aji tahu, itu merupakan bentuk kepedulian dari Wida akan keselamatan nyawanya. Tidak ada makna lain.
Tapi jelas beda untuknya.
Ahay!!!
Inikah definisi dari kesialan yang berujung keuntungan?
.
.
.