
Bab 160. Menutup tabir kejahatan
^^^" Bersembunyi di manapun, berkamuflase menjadi apapun. Yang namanya karma, pasti sudah hafal baumu!"^^^
.
.
.
...πππ...
Sukron
Tepat saat ia yang tengah membonceng Dino menggunakan motor matic Wida berhenti di sebuah jalan karena kehabisan bahan bakar, tepat juga saat ia melihat Arninggara yang berjualan dengan wajah bersungut-sungut.
" Din kalau kita ringkus itu wanita sekarang, kita pasti dikira penculik. Bisa habis kita!" Tutur Sukron dengan mata tak lepas menatap Arninggara yang berjalan melipir.
Ia bahkan celingak-celinguk demi memetakan keadaan yang ada. Tentu ia tak boleh grusa- grusu dalam bertindak.
" Telpon Mas Yudha aja, dia udah jalan kesini apa belum?" Tutur Dino sambil terus mengawasi Arninggara yang kian berjalan menjauh.
Dan bagai ide yang mujarab. Sukron dengan segera menunaikan saran dari rekannya itu.
" Ya Kron?" Terdengar sahutan dari seberang.
Ia lega saat angka menitan di layarnya itu mulai berjalan, menandakan jika sang empunya nomor telah menjawab panggilannya.
" Aku kehabisan bahan bakar, Bik Arning ada di depanku sekitar lima puluh meter. Aku enggak berani ngringkus dia, terlalu rame disini.
" Bisa bonyok aku!"
"Kau bisa mengatasinya?"
" OK kirim lokasimu!"
Ia dengan cepat mengirim lokasi keberadaannya terkini kepada Yudha. Jangan sampai wanita itu lolos lagi.
" Ambil aja kembalinya Pak!" Tutur Dino kepada kakek tua penjual bensin eceran yang berjalan sangat lamban. Berniat akan kembali kedalam untuk mengambil kembalian, saat Dino menyerahkan rupiah berwarna biru.
Mereka berdua kini ngacir, membuntuti wanita sialan itu dan berharap Yudha segera tiba bersama Sakti. Akan sangat rempong jika mereka menangkap wanita itu menggunakan motornya.
" Kron, itu mobil si Bos!" Dino menunjuk ke arah Xpander hitam yang melaju dari arah berlawanan.
Dua laki-laki yang saling berboncengan diatas motor matic kusam itu , seketika melambai-lambai bak nyiur di pantai. Membuat atensi pengendara lain teralihkan kepada mereka.
Wong edan!
Kaca mobil itu terbuka, menampilkan dua makhluk berzakar yang tentu saja akan menjadi sekutu mereka.
Yeah, ini saatnya eksekusi!
.
.
Arninggara
Ia terperanjat saat sebuah mobil memepetnya dengan tiba-tiba, sepersekian detik kemudian sebuah tangan kokoh menarik dirinya masuk kedalam mobil itu.
Tak memberikan kesempatan pada dirinya untuk mengelak barang sejenak. Sial!
BRAK
KLEK
Suara automatic lock door membuatnya makin kebingungan saat pintu itu tertutup dengan kerasnya. Membuat dia gemetaran.
Dan betapa terkejutnya ia saat melihat tiga pria kurang ajar yang berada satu mobil dengannya. Menyeringai licik.
Ya, Sukron membiarkan Dino mengendarai motor Wida seorang diri, sementara ia turut masuk bersama Sakti dan Yudha dalam mobil Aji.
" Kurang ajar kalian, turunkan aku!" Ia naik pitam saat tiga pemuda kurang ajar itu malah tersenyum licik kepadanya.
Berusaha membuka pintu itu dan menarik-nariknya. Namun sia-sia. Ia bagai terpenjara di dalam sebuah kotak Pandora.
" Sabar, kau akan turun pada waktunya!" Sukron menyeringai.
"Sak, telepon si bos sekarang juga!" Pinta Sukron yang membuat Arninggara seketika mendelik.
.
.
Kediaman Ajisaka
Seorang wanita kini bersimpuh seraya memohon ampun kepada Pria pemilik pabrik dragon fruit foods itu. Ya, Arninggara terlihat ketakutan kala Aji kini mendakwa wanita itu.
" Tolong Aji jangan kamu laporkan bibi ke polisi, anak itu yang menggigit bibi. Coba kamu lihat ini!"
Aji sama sekali tak mempedulikan bibinya yang sambat, hatinya harus tega kali ini. Ia sudah terlalu lama menahan pil pahit akan sikap bibinya selama ini. Cukup sudah.
" Aji, bagiamanapun juga aku ini masih bibimu!" Rengek wanita itu seraya masih gencar memohon.
Aji tersenyum kecut, kini ia melepaskan pegangan tangan bibinya lali berjongkok menyamakan tinggi bibinya yang bersimpuh di lantai rumahnya.
" Benarkah jika kau bibiku?" Aji menatap tajam ke arah bibinya. Rahang pria itu mengeras dan matanya terkandung kilatan kemarahan.
Membuat Arninggara ciut nyali.
" Lalu kenapa bibi selama ini justru merecoki kehidupanku, hah?" Arninggara bahkan merasa Aji akan menelannya hidup-hidup. Suara pria itu benar-benar ada di ujung kemarahannya.
" Masakan bibi Aji!" Wanita itu kini mengatupkan kedua tangannya seraya memohon belas kasih.
" Ingatkah bibik semasa aku kecil?" Pria itu menangis. Menyesalkan diri mengapa harus memiliki hubungan darah dengan wanita jahat macam Arninggara.
" Ji, Wida enggak pantas buat kamu!"
" Bibi cuma pingin kamu punya pasangan yang sepadan. Bukan dengan wanita kere macam dia yang gak jelas asal-usulnya!"
" Lalu wanita seperti apa yang pantas buatku, hah?" Lagi, Aji berteriak membuat suaranya menggema di ruangan itu. Makin meradang kala berani-beraninya wanita itu mengucapkan perkataan yang menghina Widaninggar.
" Aku yang menikah Bik, jadi aku yang putuskan!" Aji berteriak tepat di depan waja Arninggara yang benar-benar takut. Pria itu kini menjelma bagai singa yang lapar. Mengaum hendak menerkam musuhnya.
" Argggggghhh!" Aji meninju meja dan menghancurkan semua benda di kamar itu. Meluapkan emosi akan keluarga yang jauh dari arti sebenarnya.
Kini mereka sama sama hening, hanya terdengar deru napas Aji yang memburu juga Isak tangis dari Arninggara yang semakin pecah.
"Kalau kau benar bibiku, kau tidak akan bersikap seperti ini!" Aji menunjuk wajah Arninggara yang sudah kuyup dengan air mata.
" Siapkan dirimu karena akan ada petugas yang menjemputmu setelah ini!"
Aji berlalu meninggalkan bibinya dalam jurang kenistaan bersama dengan kamar yang kini menjadi kacau balau. Pria itu benar-benar harus tega demi memberikan efek jera kepada bibinya.
" Aji!"
" Aji!"
BRAK
Ajisaka menutup dan mengunci pintu kamar yang digunakannya untuk mengamankan bibinya sementara waktu, sebelum polisi akan menjemputnya.
Ya....Aji melaporkan bibinya atas tuduhan pencemaran nama baik, kasus pencurian uang miliknya, juga karena perbuatannya yang sengaja mencelakai seorang bocah.
Aji mengembuskan napasnya guna mengurangi sesak di dadanya. Mungkin ini akan mudah jika ia memberlakukan hukuman ini pada orang lain. Bukan bibinya.
...πΊπΊπΊ...
Hari berlalu, ia bahkan tak menepati janjinya kepada Wida untuk kembali ke rumah sakit. Sejak ia mendakwa bibinya kemaren, ia benar-benar di sibukkan oleh berbagai urusan. Mulai dari pekerjaannya, hingga urusannya dengan pihak berwajib.
Kini, ia bahkan meminta Dino untuk mengurus hal yang masih bisa di wakilkan, dan memilih untuk pergi mengurus hal lain yang membutuhkan penanganan darinya secara langsung.
Setelah pertemuan yang ia gadang-gadang telah konyol begitu saja kemarin, kini Ajisaka terlihat sudah berada di sebuah hotel ternama untuk melakukan pertemuan.
" Terimakasih banyak Pak Aji, saya senang bisa bekerja sama dengan anda!" Pria itu menjabat tangan Aji dengan kuat. Merasa puas dan cocok dengan hasil kerjasama yang baru saja terjalin.
Aji terlihat memijat-mijat pelipisnya yang terasa pusing saat pria itu sudah berada di kursi belakang mobilnya. Menatap nanar ke arah luar. Terselip pemikiran tentang bibinya yang saat ini pasti sudah berada di kantor polisi.
Aji tak memperdulikan omongan orang yang memberikan dirinya predikat manusia kejam. Sungguh, mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Whatever lah!
Sukron menatap wajah bosnya yang murung melalui rear vission mirror di depannya. Abdi setia Aji itu terlihat iba kala melihat bosnya yang saat ini jelas perang batin.
Aji merasa entah mengapa ia di takdirkan jauh dari kehangatan sebuah keluarga. Berniat dalam hati, jika ia menikah nanti, ia akan mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada keturunannya. Ia berharap, anak cucunya nanti jangan sampai merasakan apa yang ia rasakan.
Merasa kosong dan asing. Tak memiliki jejak keluarga yang hangat seperti ketiga sahabatnya.
" Langsung pulang atau..." Ucap Sukron menghancurkan keheningan yang tercipta.
" Kita kerumah sakit!" Tukas Aji dengan tanpa mengalihkan pandangannya.
Sukron mengangguk meski Aji tak melihatnya. Kini, Sukron kembali ke mode diamnya. Membiarkan bosnya itu larut dalam pemikiran yang entah seperti apa rasanya.
Mobil hitam itu membelah jalan raya yang sudah lekas terlihat padat di jam menjelang siang itu. Aji meminta Sukron untuk memberhentikan mobilnya ke sebuah toko hampers yang akan ia bawa untuk menjenguk Damar.
" Silahkan tulis pak!" Ucap pegawai toko itu menyerahkan sebuah paper note yang akan di sematkan di hampers yang ia beli nanti.
Dengan yakin, Aji kini melesat menuju rumah sakit tempat dimana Damar masih dirawat. Meski hatinya gulana lantaran baru saja ia menjebloskan bibinya ke hotel prodeo, namun bunga di hatinya mulai bermekaran kala ia tahu jika sebentar lagi ia akan bersua dengan Widaninggar.
" Kenapa terus repot-repot begini Pak Aji?" Istri Pak Atmojo merasa tak enak hati karena kebaikan Aji yang sudah sangat lebih.
" Untuk Damar!" Aji tersenyum, jelas anak kecil itu pasti akan sangat suka dengan berbagai makanan manis juga buah-buahan segar yang ia bawa.
" Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Aji kepada Pak Atmojo.
Pria tua itu mengangguk.
" Untung lukanya tidak parah Pak Aji!" Tutur Pak Atmojo dengan sungkan.
" Nanti sore mungkin sudah boleh pulang!"
Saat kepala terbentur, pada umumnya orang tersebut akan mengalami cedera otak atau gegar otak ringan. Tentu saja kondisi ini tidak membutuhkan penanganan berlebihan.
" Tolong jangan panggil saya dengan sebutan begitu Pak. Panggil saya dengan sebutan lain saja!" Aji menggaruk kepalanya karena canggung. Tentu ia berharap akan di terima menjadi menantu oleh mangan karyawannya itu.
Pak Atmojo dan istrinya tentu saja saling berpandangan. Semakin terasa aneh saja sikap pria itu akhir-akhir ini.
Aji celingak-celinguk,. mencari sosok yang sudah ingin ia temui sedari tadi.
" Wida diminta untuk ke pengadilan tadi pagi!" Ucap Pak Atmojo yang tahu jika pria itu tengah mencari keberadaan anaknya.
Aji terperanjat. Kenapa ia bisa tidak tahu.
" Dengan siapa dia Pak?"
Ajisaka benar-benar mengkhawatirkan perempuan itu. Ia kemaren memang bersalah karena ingkar janji tak kembali ke rumah sakit. Semua itu karena dia yang sibuk mengurus birokrasi rumit urusan bibinya. Aji bahkan tak sempat tidur nyenyak.
" Dengan kakangnya. Kemaren malam dia datang!"
Aji tertegun, baru mengetahui jika Wida memiliki seorang saudara. Seketika raut wajah Aji menjadi lesu.
" Proses perceraian Wida mungkin akan berlangsung lama. Setidaknya, anak saya harus menunggu selama enam bulan lagi jika dia ingin membina rumah tangga lagi!" Pak Atmojo berucap namun lebih terdengar seperti sebuah gumaman. Ia tahu jika mantan bosnya itu ingin tahu akan hal ini.
Aji langsung menatap wajah pak Atmo dengan gimik wajah yang tak terbaca. Semacam terkejut.
"Selama itu?"
.
.
.
.
.
.
Keterangan :
Masa iddah perempuan berbeda- beda. Tergantung musabab yang menimpa mereka.
Masa iddah untuk perempuan yang menggungat cerai yakni sekali haid, atau sekitar satu bulan.
Sumber : Popbela.
Adapun beberapa alasan yang dapat dijadikan alasan bagi seorang isteri yang ingin mengajukan gugatan cerai kepada suaminya adalah sebagai berikut :
Suami berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
Suami meninggalkan isteri selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin isteri dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
Suami mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
Suami melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan Isterinya;
Suami mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami;
Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
Pada umumnya proses perceraian akan memakan waktu maksimal 6 (enam) bulan di tingkat pertama, baik di Pengadilan Negeri maupun di Pengadilan Agama. Tetapi jika prosesi sidang berjalan dengan lancar, maka waktu yang diperlukan biasanya 3 (tiga) sampai 4 (empat) bulan saja.
Sumber : Google.