
Bab 187. Wawancara
.
.
.
...πππ...
Sukron
Setengah mati ia menahan suaranya yang tertawa puas seorang diri, dari balik kelapa yang menjulang tinggi itu. Ia cekikikan dengan puasnya demi melihat Ajisaka yang kini pasti kesal namun tak bisa mengeluarkan emosinya karena ada Wida.
Mari kita lihat, apa bosnya itu berani memarahinya di depan pujaan hatinya. Hahahaha!
" Semoga aja bos enggak curiga. Ya sudahlah, mari kita mulai dramanya!" Gumam Sukron yang kini berdehem seraya membetulkan pakaiannya dan bersiap menuju ke tempat Aji.
Antek kurang ajar?
" Astaga bos! Kenapa bisa sampai begini? Sukron berlari dengan wajah penuh kekhawatiran. Benar-benar penipu ulung, pembual brengsek, tukang ngibul kelas kakap.
Hati Sukron tergelak demi melihat wajah Aji yang sudah bersungut-sungut dan hendak memarahinya.
" Kamu itu haru.....!"
" Mas!" Ucapan seketika Aji menguap demi melihat Wida yang kini sudah berjongkok di depannya. Membuat niat Aji yang ingin mendamprat Sukron seketika urung.
Selamat kamu Kron ya?
" Tuh kan bener!"
Sukron terkikik dalam hati. Puas dan merasa menang. Kini, ia percaya jika Widaninggar benar-benar sosok yang pas untuk bisa meredam sifat bosnya yang kerap meletup-letup itu.
Sukron yakin, semua pegawai Ajisaka setelah ini ,pasti akan lebih makmur karena jika Aji menikah dengan Wida, mood pria itu akan terus baik dan berdampak pada sikap bosnya.
Ok Sip!
.
.
Ajisaka
Ia hanya bisa tunduk tengadah saat pria berwajah mirip Wida, dan yang beberapa waktu lalu sempat ia hadiahi bogem mentah itu terus menatapnya dengan lekat.
Ah sial. Begini sekali rasanya.
" Apa kabar kang?" Tanyanya sungkan demi memecah aura mencekam di meja ruang tamu itu.
" Baik!" Ucap kang Darman cuek seraya menghisap rokoknya dalam-dalam. Ia melirik Sukron yang lebih memilih untuk menemani Damar membuka harta karun yang baru di dapatnya, dari Aji. Sialan si Sukron!
Glek!
Bahkan ludah licin itu terasa sulit untuk ia telan. Suasananya benar-benar canggung, dan seolah mencekam.
Ia terus melihat ke arah kelambu dengan motif bangau keluaran tahun bahulak, demi menanti Wida yang terasa lama.
" Wida mana sih, buat minum enggak kelar- kelar?"
" Ehem!"
Suara kang Darman yang berdehem sukses membuat dirinya terkejut. Pria di depannya itu masih menatapnya sengit. Jelas perbuatan impulsifnya tempo hari masih saja menorehkan kekesalan dalam diri pria yang lebih tua darinya itu.
Hah, jelas itu salahnya.
" Kamu beneran mau sama adik saya?" Tanya kang Darman sembari menggerus batang rokoknya ke dalam asbak kuno berbentuk segitiga berwana ungu pudar itu.
Membuat Sukron seketika mematung karena seharusnya ia tak berada di dalam jika pembicaraannya akan se serius ini.
Ajisaka menelan ludahnya demi rasa grogi, yang menjalari seluruh tubuhnya. Mungkin ia tak akan grogi jika ia tak tahu bila kang Darman merupakan kakak dari wanita yang ia cintai.
Ya benar, seringkali ketidaktahuan itu lebih menenangkan.
Sukron tertawa puas demi melihat Ajisaka yang sudah pucat pasi. Ah pria itu bahkan mirip Harimau yang kehilangan taringnya.
" Iya kang!" Jawabnya singkat. Memangnya mau menjawab apalagi?
" Eh Mar, kita buka ini yuk. Ada mainannya di dalam. Kita buka diluar sana Om ya?" Ucap Sukron demi mendengar pembicaraan serius dua pria yang tengah duduk di kursi itu. Ia ingin memberikan waktu bagi dua pria itu untuk berbicara.
Kang Damar tersenyum ke arah Damar seraya mengangguk, " Jangan nakal ya le?"
Untung Sukron berbicara kepada Damar barusan. Membuat ia bisa sedikit mencari napas demi menghadapi beberapa pertanyaan yang jelas akan makin beraneka ragam kedepan.
" Beginilah keadaan kami...Kami ini wong cilik dan bukan siapa-siapa!"
Hening. Aji masih tak berani menyela ucapan pria di depannya itu.
"Saya dengar, kamu ini dulu juragannya Bapak saya kan?"
Kang Darman menatap dua mata Ajisaka secara lekat. Berbicara secara serius dan jantan. Aji mengangguk. Sungguh, pria di depannya itu benar-benar lebih mengerikan ketimbang calon mertuanya.
" Apa kamu enggak takut malu?"
Demi semua yang ada di jagat raya ini, Ajisaka kini sadar jika pria di depannya itu benar-benar menguji dirinya secara terang-terangan.
" Saya enggak mau adik saya gagal untuk kedua kalinya. Kami ini miskin dan sengsara. Sementara kamu..."
" Saya mencintai Wida tulus kang!" Potongnya cepat karena ia tak tahan.
"Saya tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan status sosial siapapun!"
Aji semakin yakin, pasti ibunya Wida sengaja menahan wanita itu berlama-lama di dapur, demi membiarkan kang Darman menginterogasi dirinya. Hal yang belum pernah sekali dilakukan oleh Pak Atmojo. Pria yang bahkan tak memiliki sifat curiga kepada orang lain.
" Wanita di uji saat pria tak memiliki apa-apa!" Ucap kang Darman yang tersenyum kecut, demi menertawakan dirinya sendiri yang telah di tinggalkan istrinya.
" Dan pria akan diuji saat ia memiliki semua yang ia harapkan!" Kang Darman kini menatapnya penuh maksud.
" Intinya saya hanya tidak ingin di hari-hari depan, adik saya akan mengalami hal-hal yang tidak kami harapkan!"
Membuat Ajisaka kini berpikir keras. Ia menangkap maksud dari seorang kakak laki-laki yang tentu saja mengkhawatirkan nasib adik perempuannya.
" Kang!" Ucap Aji menatap dua manik mata kang Darman dengan serius. Sepertinya banyak hal yang perlu ia luruskan.
" Jika orang lain melihat saya sebagai pria berduit yang di kelilingi banyak orang, dan bahkan banyak yang mengatakan jika saya ini tempramen atau apa, tapi ijinkan saya mendefinisikan secara pribadi siapa saya sebenernya!"
Kang Darman mulai tertarik pada Ajisaka. Pria di depannya itu benar-benar memiliki tingkat pemikiran yang sudah dewasa, melebihi ekspektasinya. Ya, walau harus ia akui, jika Ajisaka memang tempramental.
" Saya hanyalah seorang pria kesepian, yang sedari kecil tak pernah merasakan sentuhan kelembutan kasih sayang keluarga. Yang saya tahu hanya bekerja dan bekerja!"
Kang Darman masih menatap santai Ajisaka yang terlihat mulai serius dan larut dalam ucapannya.
" Dan saat saya bertemu Wida, entah mengapa dorongan ingin melindungi itu sangat kuat. Terlebih...saya merasa terurus dengan sikap Wida kang!"
Kilasan ingatannya juga kembali saat Wida bahkan telah sekali memberikan dia suguhan duniawi yang dahsyat itu. Ah Wida!
" Saya ingin di dampingi oleh wanita seperti Wida kang...Wanita tangguh yang tidak mau berpangku tangan walau hidupnya di terpa persoalan!"
Aji menatap wajah kang Darman muram. Belum hilang dari ingatannya saat pertama kali ia berjumpa dengan Wida dengan kondisi babak belur.
Kang Darman terlihat menatap Ajisaka yang sudah berwajah murung karena ketar-ketir akan mendapat penolakan itu ,dengan terlihat berpikir.
" Tolong ijinkan dan restui saya untuk menjadi bapaknya Damar kang?"
Ucap Aji kembali, namun kini dengan suara yang begitu tulus dan halus. Kang Darman tersenyum, pria itu menepuk pundak Ajisaka yang sudah terlihat putus asa.
Kini, pria itu sudah membuktikan sendiri keseriusan yang nampak dari sorot mata Ajisaka. Sebagai sesama pria, tentu ia bisa mendefinisikan secar langsung apa yang di ucapkan oleh pria berpenampilan parlente itu.
" Kalau begitu siapkan stok kesabaranmu yang banyak. Karena sekalipun kami sebenarnya memang sudah merestui, urusan perceraian itu masih belum kelar. Jadi...."
" Apa perlu saya carikan pengacara?"
Kang Darman seketika tersentak demi mendengar ucapan Ajisaka yang sat- set itu. Apa calon adik iparnya itu sudah se-ngebet itu untuk menikahi adik perempuannya?
.
.
.
.
Up sore lagi ya, hari ini Mommy ada giat hari kedua di Puskesmas Mommy. Ada pelatihan untuk pencegahan stunting.
Jumpa sore ya sayangnya mommyππππ