Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 215. Dan ternyata cinta..



Bab 215. Dan ternyata cinta..


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Rarasati


... ...


Satu jam setelah ia tiba di Kalianyar beberapa waktu, seusai mengisi acara pernikahan Fina lalu, sebuah pesan masuk ke ponselnya.


+6281xxxx


" Ini aku Sakti Ra.."


" Aku sebenarnya seneng lihat kamu ada di acaranya Pandu tadi. Tapi...aku lebih seneng begitu ngelihat kamu bahagia pas pelukan sama sahabatku."


Rara sempat syok saat membaca pesan kedua dari Sakti. Pria itu rupanya melihat ia yang dengan ngawurnya memeluk Yudha.


" Jaga Yudha dengan baik Ra. Kamu beruntung, sepertinya dia berhenti jadi playboy kelas kucai gara-gara kamu"


Rara tersenyum haru saat membaca hal itu.


" Kita temenan ya. Aku pamit!"


Rara sempat bingung karena Sakti tak menjawab saat ia membalas pesan pria itu, dan menanyakan maksud arti kata pamit itu.


Rara menunjukkan semua pesan itu kepada Yudha. Membuat pria itu makin merasa bersalah demi mengetahui, jika kebisuan Sakti waktu itu adalah karena terbakar cemburu . Rara mengusap lembut pergelangan tangan Yudha, wanita itu tahu bila Yudha tengah merasa bersalah.


" Kamu beruntung punya sahabat kaya Sakti Yud!" Rara tersenyum. Pria itu berjiwa ksatria karena berbesar hati menerima kenyataan.


" Bener!...asal kamu tau Ra, selama ini dia adalah anak yang paling periang, paling sableng diantara kita. Tapi nyatanya...ia justru memiliki pemikiran paling dewasa diantara kita Ra!" Yudha terlihat menitikkan air matanya demi mengingat Sakti. Batinnya tersenyum kecut akan hal itu.


Rara turut bersedih" Semua orang punya waktunya masing-masing Yud. Kita doakan, semoga apa yang didambakan Sakti, bisa segera terwujud. Biar kalian bisa kumpul lagi!"


Yudha merasa beruntung, karena Rara bersikap dewasa sekali dan mau menghiburnya " Thanks Ra!"


.


.


Yudhasoka


Jelang pukul satu dini hari ia baru mengantarkan Rara kembali ke kediamannya. Tak apalah sekali-kali. Begitu pikir mereka.


Toh mereka juga baru kali ini pergi berkencan dengan menyandang status resmi sebagai sepasang kekasih. Jadi... cincailah!


Mereka kebanyakan ngobrol ngalor- ngidul sampai lupa waktu. Rara yang mendengarkan cerita konyol Yudha soal persahabatan mereka yang sudah terjalin dengan sangat lama, benar- benar terbuai.


Bahkan tanpa tanggung- tanggung, Yudha juga menceritakan aksi heroik mereka sewaktu membebaskan Fina.


" Kok aku jadi ngeri dengar ceritamu ya Yud!" Rara terkekeh. Pantas saja banyak bodyguard yang berjaga di hotel tempat kemaren ia ngamen disana.


" Andai aku kenal kamu dari dulu, aku yakin kamu pasti ikut dan suka!" Ucap Yudha yang bangga sebab memiliki kekasih yang jago beladiri.


" Ya udah ini udah malam kamu istirahat!" Ucap Yudha saat mereka telah tiba di kediaman Rara.


" Bukan malam lagi ..ini mah udah dini hari kali!" Sergah Rara seraya terkekeh.


Yudha menatap Rara yang tertawa lepas dengan hati menghangat, wanita itu cantik sekali jika tertawa seperti itu. " Makasih ya Ra, kamu...udah mau nerima aku!"


Kedua manusia yang bagai makhluk nocturnal ( hidup di malam hari) itu , terlihat masih canggung dan malu-malu akan statusnya yang baru.


Rara mengangguk " Ya udah..aku...turun ya!" Ucap Rara kikuk. Tak tahu bagiamana berpamitan yang baik.


Yudha mengangguk, menelan ludahnya karena mendadak grogi. Kemana keberaniannya sebagai penyandang womanizer kelas kakap selama ini?


" Tunggu Ra!" Ucapnya tiba-tiba, yang membuat Rara menunda tangannya yang sudah berada di ujung handle pintu mobil itu.


CUP


Yudha mengecup bibir Rara, sesaat setelah ia mendekatkan tubuh dan wajahnya ke arah wanita bertubuh sintal itu, membuat mata Rara kini melebar karena terperanjat.


Yudha merengkuh pinggang Rara menggunakan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tak ia biarkan menganggur begitu saja. Yudha menekan lembut tengkuk Rara dan membuat wanita itu kini memejamkan matanya.


Ah inikah rasanya berciuman?


Sapuan lembut lidah Yudha, serta aroma nafas tubuh pria itu , mengalir mengisi laju darah Rara yang mendadak berdesir.


Yudha benar-benar pejantan kelas berat.


Yudha ingin menegaskan jika dia adalah lelakinya Rara saat ini. Pria itu terus mengusap lembut pinggang Rara dengan lidah yang masih saling berbelit. Bahkan sesekali terdengar lenguhan yang membuat Yudha menarik senyuman.


Begitu napas kedua insan itu telah terengah-engah, mereka sepakat untuk menyudahi ciuman panas perdana malam itu.


CUP


Yudha memungkasi adegan itu dengan mencium kening Rara sangat lama. Menegaskan jika pria itu benar-benar mencintai Rara.


" Dah istirahat, kalau disini terus, bahaya nanti!" Ucap Yudha terkekeh yang sebenarnya mati-matian menahan rasa gila saat itu.


Yeah!!!!


.


.


Embun memudar, menyongsong fajar yang membawa serta kehangatan bagi isi buana. Memberikan suluhan fotosintesis bagi isi nirmala.


Wajah Yudha cerah sekali pagi itu, secerah daster mamaknya yang pagi itu beliau kenakan, dan membuatnya bagai goni berisikan tembikar.


" Tumben kutengok muka kau berseri-seri!"


" Sudah ketemu rupanya si Sakti itu?"


Cibir Mariana yang kini menumpangkan dua butir telur balado keatas empat kotak nasi yang hari ini harus di setorkan ke rumah ketua pemuda, lantaran akan diadakan kerja bakti di desa sebelah. Mewajibkan seluruh masyarakat untuk memberikan sumbangsih berupa makanan dan minuman.


" Belum....Yudha senang karena..!"


BRUAK!!


" Arju!!! biji mata segede buah kelapa masih ajak tak kau lihat ini meja penuh dengan makanan hah? Mamak memang perlu banting itu henpon kurasa ya?"


Ucapan Yudha menguap demi mendengar suara mamaknya yang membombardir adiknya dengan ocehan. Haish, untung dia dan Arju lebih menurun ke logat bapaknya yang Jawa.


" Opo to Iki, isuk- isuk wes geger ae! ( Ada apa toh ini, pagi-pagi udah ribut aja!)" Suara Bapak bak oase di tengah gurun pasir. Ya... pria itu keluar dengan pakaian yang sudah rapih. Membuat mamak menyudahi aksi marah memarahi generasi menunduk itu.


Mamak terlihat bersungut-sungut karena Arju selalunya membuat onar. Membuat Yudha memilih menghabiskan teh buatan mamaknya saja.


" Gimana keadaan Bapaknya temenmu itu Yud?" Tanya Bapak yang kini mencomot tahu susu goreng hangat produksi pabriknya.


" Udah baikan Pak, baru aja Yudha mau ngasih tahu!" Jawab Yudha dengan wajah sumringah


" Apa pulak yang kelen bicarakan itu?" Tanya Mamak yang kini mematikan kompor sebab gorengan terakhirnya sudah matang.


Yudha dan Bapak sing melirik dan tersenyum penuh arti. " Urusan lelaki lah!"


" Bhaa...sudah bosan hidup kau rupanya Yud?" Mamak mengangkat serok yang ia bawa dan menggunakannya untuk mengancam Yudha.


" Tunggu Mak, tunggu...!" Ucap Yudha meringis, menatap mamaknya yang kembang kempis.


" Mamak udah pingin punya mantu kan?" Ucap Yudha mengelus lengan mamaknya yang sebesar dahan kayu waru.


" Ada dapat kah kau?" Tanya mamak girang. Bisa juga dia pamer ke anggota arisan setelah ini.


" Nanti sore Yudha ajak main kesini Mak. Siapkan diri mamak ya!!"


.