
Bab 237. As seen you
.
.
.
...πππ...
Rarasati
Ia merasa sesuatu yang besar dan sesak itu menjebolnya dengan perih yang teramat. Benar-benar menghujamnya dengan luar biasa.
Namun, semakin lama rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat , manakala hentakan pelan itu seirama dengan libiidoo yang terproduksi lebih banyak.
Yeah!
Yudha menggauli istrinya dengan begitu lembut, penuh cinta dan kasih sayang. Rasanya, ia beruntung dengan apa yang ia miliki sekarang. Yudha meraup bibir istrinya kembali dengan rakus, saat ia masih tekun menghentak dan kini temponya lebih cepat.
Rara merasakan nyeri, pedih, sakit, nikmat, kesenangan, sayang, juga rasa cinta secara bersamaan. Definisi dari kamasutra perdana. Wanita itu menatap sendu wajah suaminya yang terlihat mengayun diatasnya. Wajah orientalnya itu terlihat dua kali lipat tampan, manakala tubuh tegap pria itu menggagahi dirinya.
Oh God!
Masih fresh, jadi belum bisa banyak tingkah. Begitu yang ada di otak Yudha.
Ranjang yang turut bergerak, bersamaan dengan peluh yang mengucur padahal AC di ruangan itu telah berada di 17 derajat Celcius. Benar-benar seolah tiada berarti.
" Ah!"
Yudha menyeringai manakala tubuh istrinya menegang sembari mengeluarkan suara-suara merdu itu, ia kembali meruap bibir Rara manakala istrinya mengeluarkan sesuatu yang hangat dari dalam bagian bawahnya.
Membuat tubuhnya bagai tak bertulang. Lutut dan sendinya begetar hebat. Sensasi pertama yang berhasil ia dapatkan. Yudha berhasil mengantarkan dirinya menuju puncak tertinggi, capaian kenikmatan itu.
" Sekarang giliranku!" Bisik Yudha dengan suara parau.
" Apa? Jadi belum selesai? Astaga!" Rara sempat terkejut karena rasanya sudah sangat lama dan bagian bawahnya sudah mulai pegal dan linu.
" Apa dia tidak memiliki rasa lelah?"
.
.
Yudha
Yudha terkekeh-kekeh manakala melihat istrinya menggerutu saat ia usai meledakkan benih-benih unggul ke rahim subur istrinya. Berharap keroco- keroco itu bisa tumbuh menjadi zigot yang sehat.
" Ini gimana aku jalannya loh!" Rara mendengus sebab rasa di pangkal pahanya nyeri dan linu sekali. Gila aja ,benda sebesar itu bisa terjejalkan ke miliknya yang sempit.
Yudha makin tergelak. " Tadi enak, sekarang marah-marah!"
Rara mendelik, bisa-bisanya suaminya menjawab se santai itu. "Nanti malam gimana? Tak buat jalan sakit ini, masa iya aku jalan kayak orang baru sunat. Ekah- ekeh!" Menatap sengit ke arah Yudha yang malah terpingkal-pingkal.
" Ya udah sini yok aku gendong mandinya!" Ucap Yudha menahan tawanya. " Jago gelud, begini aja menggerutu!"
Rara seketika menimpuk jidat suaminya dengan kotak tissue yang ada di depannya. " Begini aja kamu bilang, awas kamu nanti ya. Enggak ada jatah!" Ucap Rara melengos.
Membuat Yudha melebarkan matanya. " Yah, jangan gitu dong. Aku akan cuma bercanda. Ya udah habis ini aku belikan salep buat kamu!" Ucap Yudha terkikik geli.
" Ayok aku gendong, biar bisa mandi terus istirahat!"
Rara masih duduk dan terlihat berpikir.
" Awas kalau minta lagi. Mandi- ya mandi tok!" Rara mewanti-wanti suaminya agar tidak mblarah.
Namun Yudha tetaplah Yudha. Pria bergelora yang tak bisa membuat Rara lari dari jeratan cintanya yang menggebu-gebu. Pria itu berhasil membuat Rara larut untuk meladeni geloranya yang sedahsyat samudra, untuk kesekian kalinya.
Yeah!!!
.
.
Sky Hotel
Di sebuah kamar hotel di yang menjadi tempat terselenggaranya acara resepsi Yudha dan Rara, seorang pria kini terlihat mematut dirinya ke depan cermin. Tak sabar ingin bertemu dengan orang - orang yang ia rindukan.
Rasanya seperti mimpi, meski kadang susah untuk diterima dengan akal pikirnya, namun nyatanya takdir Tuhan itu benar-benar asli.
Ia yang dulu kusam, kerdil bahkan kecil, kini menjadi berkilau, dan terlihat. Walau ketiga sahabatnya, tiada pernah mempersoalkan hal itu. Namun hidup merupakan kenyataan bukan? Dan hatinya mantap untuk hal itu.
.
.
Ajisaka
" Anak ayah, udah cakep. Ayo kita kemon. Bu... kita tunggu di depan ya?" Aji berteriak di bibir pintu kamarnya, ia tahu Wida tengah bersiap.
" Yah, om rambut jagung jadi ikut?" Tanya Damar yang kini ia tuntun berjalan ke depan.
" Jadi dong, nah tuh dia!" Tunjuk Aji kepada Sukron yang membetulkan rambutnya ke spion mobil. Telah bersiap mengenakan jas dan sepatu kinclong yang baru dibelinya.
" Om!" Sapa Damar kepada soulmate best friend partner ever-nya. Sukron.
" Wih!! Keren banget, Damar cakep sekali kamu malam ini!" Sukron mengelus rambut Damar yang sudah terminyaki dengan rapih.
" Jangan Om, nanti jambulnya ambles!" Sergah Damar yang kini mengusap surai hitamnya. Mahakarya dari sang ayah.
" Ah elah...anak sama bapak sama aja!" ucap Sukron yang membuat Aji tergelak.
" Udah?" Wida yang dari dalam kini berjalan seraya berucap kepada suaminya. Membuat Ajisaka terpana karena dandanan istrinya yang benar-benar cantik.
Dress warna hitam dengan kalung berlian yang elegan, sanggul rambut simpel serta make up tipis, sepasang sepatu hak tinggi membuat tampilan Wida sangat fresh.
Aji terpesona.
" Sabar bos sabar...sabar, kita berangkat dulu. Nanti aja nubruknya!" Sukron terkekeh-kekeh manakala melihat wajah Aji yang kini melongo.
Sialan si Sukron!
.
.
Pandu
Kehamilan Fina membuatnya gerak kini juga terbatas. Ia menjadi tak tega jika harus meninggalkan istrinya lama. Pasalnya wanita itu sering merasa meriang di awal-awal kehamilan seperti saat ini.
Ibu dan ibu mertuanya bahkan cukup kompak demi menjaga calon cucu pertama mereka, namun pernikahan Yudha, jelas moment yang tak boleh mereka lewatkan. Membuatnya bersyukur atas hal itu.
Pandu bersama keluarganya langsung bertolak menuju SkY hotel, guna memangkas waktu dan energi Fina yang sering berubah mood itu.
" Andai Sakti datang ya sayang?" Ucap Fina saat ia duduk dan tengah di pasangi sebuah kalung oleh Pandu.
Pandu tertegun, ia sebenarnya juga rindu dengan sahabatnya yang sudah sangat lama tak ia jumpai.
" Mungkin lain hari. Semoga Tuhan masih berbaik hati buat mempertemukan kita dengan Sakti!" Pandu dan Fina kini menatap pantulan diri mereka ke layar cermin.
Tersenyum atas apa yang mereka alami, sepanjang perjalanan cinta mereka.
" Sehat-sehat ya sayang. Jangan bikin Mama rewel ya!" Pandu kini berjongkok dan mengusap perut Fina. Membuat Fina tersenyum hangat.
Mereka semua keluar kamar hotel dan hendak menuju ke ballroom yang berada di lantai dasar. Namun, saat Fina berjalan, seorang wanita dengan wajah tegas dan belum pernah ia lihat sebelumnya tak sengaja menabrak dirinya.
" Hey! Bisa hati-hati?" Pandu seketika panik. Wanita itu menabrak istrinya dengan sangat keras. Sepertinya wanita itu terburu-buru. Meski suaranya tidak marah, namun raut wajah Pandu menunjukkan ketidaksukaan.
Wanita berambut panjang itu tertegun manakala melihat wajah Fina dan Pandu.
" Seperti pernah melihat mereka, tapi dimana?"
.
.
.
.