Falling In Love (The Series)

Falling In Love (The Series)
Bab 148. Skenario kehidupan



Bab 148. Skenario kehidupan


^^^" Ada atau tidak ada, nyatanya ada!"^^^


.


.


.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Serafina


Hari berlalu dengan cepat, Fina telah banyak berubah. Selain sikapnya yang makin bar-bar, ia kini menjadi pribadi lebih bisa mengatur segala sesuatunya dengan cepat dan taktis.


Ia memang bukan orang kaya yang memiliki kekayaan yang tak akan habis dimakan tujuh turunan. Namun, membuat reservasi acara di sebuah resto ternama bersama teman-temannya tentu bukanlah hal yang sulit.


Malam ini adalah malam dimana ia akan mengundang para sahabat Pandu, juga sahabatnya sendiri. Ia ingin membangun keakraban bersama para orang-orang baru yang akan lebih sering ia temui di desa setelah ini.


Circle pertemanan yang jelas akan berubah.Ia sudah memantapkan hati untuk merajut masa depan dengan pria pilihannya. Pandu. Pria tangguh yang membuatnya gila sedari awal bertemu. Emmm pokonya sesuatu banget lah.


Cafe berdesain semi industrial dengan dinding kaca lebar yang membentang itu, seolah menjadi penegas kenyamanan . Suguhan milenial juga kentara disana, terdapat singer dan juga pemain gitar akustik, yang siap memanjakan para tamu.


"Dit, aku tinggal jemput temen aku dulu ya?" Ucap Fina yang kini sudah berada di cafe Gardenia itu. Terlihat menyambar tasnya.


" Nah terus aku sama siapa?" Dita yang hari itu sengaja datang awal malah kini dibuat sendiri.


" Kamu bantu urus *****-bengeknya dulu ya!"


" Nah itu Pandu udah datang, sayang! Sini!" Fina melambaikan tangannya menyambut kedatangan Pandu dan teman-temannya.


Pandu bersama Yudha dan Sakti terlihat berjalan menuju ke arah Fina. Pandu semakin terlihat ganteng saja pikirnya, mengenakan pakaian apapun, kok rasanya Fina lebih suka jika Pandu bertelanjang dada ya. Dasar otak gesrek. Fina malah membayangkan yang tidak-tidak di saat seperti itu.


" Aku pergi sebentar ya, mu jemput temen. Dia gak bisa datang sendiri, nanti aku kenalin ke kamu!"


Pandu mengernyit. Baru dia datang sudah mau di tinggal?


" Aku antar ya, ini udah malam!" Ucap Pandu menahan langkah Fina.


" Enggak perlu, temanku perempuan kok. Udah bentar aja kok. Rumahnya deket dari sini. Udah ya byee!"


CUP


Dengan cepat, Fina mengecup bibir Pandu sekilas lalu segera melesat menuju parkiran mobilnya. Berniat menjemput seseorang. Membuat Pandu menggelengkan kepalanya. Benarkah itu kekasihnya?


" Nasib jomblo Yud Yud, lihat orang nyosor kok ya ngerasa ngenes banget!" Cibir Sakti sambil ngeloyor menuju tempat duduk. Jangkrik Jangkrik!


Saat di parkiran, ia bertemu Ajisaka yang baru sampai bersama Sukron. Terlihat muram. Apa pria itu benar-benar tak memiliki stok semangat? CK!


" Mas Aji?" Sapa Fina.


Ajisaka masih terlihat tak bersemangat. Ia mengajak Sukron lantaran malas mengemudikan mobilnya sendiri. Lebih tepatnya, pria itu tak memiliki semangat juang sejak ia kehilangan jejak Widaninggar.


" Mau kemana?" Tanya Ajisaka yang melihat Fina sudah menggenggam kunci mobilnya.


" Bentar ya mas aku jemput teman dulu. Mas Aji masuk aja dulu, itu Pandu sama yang lain udah dateng kok!"


Aji mengangguk.


" Mau di antar?" Tawar Aji.


Fina menggeleng " Enggak usah, tempatnya dekat kok dari sini!"


.


.


Ajisaka


Langkahnya gontai, langkah orang malas. Sama sekali tak menunjukkan raut cerah. Benarkah jika ia tengah di serang rasa galau? Dasar Aji!


" Ah elah Ji Ji, begitu amat mukamu! Kalah- kalah orang habis kena mencret!" Sakti mendengus tak habis pikir, kenapa sahabatnya itu terlihat muram saja.


Sukron terkekeh, sebab memang begitu adanya. Bosnya mirip orang yang kena sakit diare.


" Acaranya lama enggak sih? Aku enggak bisa lama deh kayaknya?" Jawab Ajisaka yang kini menyeruput minumannya yang telah terhidang di meja panjang itu.


" Belum juga mulai, udah begitu aja!" Sahut Yudha.


Sakti mengangguk " Tuh ada banyak cewek, tinggal pilih. Siapa tahu ada yang cocok!"


Yudha mengangguk setuju " Tapi agak repot kalau udah kena sentuhan calon janda Sa. Lain rasanya!" Yudha terkekeh sengaja menggoda Ajisaka.


" Matamu Yud!" Aji mendengus kala mendengar Yudha menyebutkan Wida dengan julukan calon Janda.


Membuat mereka semua makin tergelak demi melihat reaksi Ajisaka yang kesal. Astaga pria itu.


.


.


Dita dan Pandu terlihat ngobrol dengan para pegawai resto itu. Dita yang nampak sedikit complaint, dan Pandu yang juga sedikit memberikan saran.


Rupanya, acara itu lebih mirip dengan acara kumpul-kumpul kawula muda ketimbang acara syukuran. Apa apa lah, toh intinya sama.


" Pacarmu mana? Bikin acara malah di tinggal!" Dengus Sakti menyambut Pandu yang kini mendaratkan tubuhnya di samping Ajisaka.


" Lagi jemput temannya, udah santai aja dulu. Acaranya cuma makan-makan sama nyantai aja kok!" Sahut Pandu.


Pandu mengangsurkan sebungkus rokok untuk teman-temannya, Sakti terlihat memerhatikan Dita yang sedari tadi sibuk berbicara dengan pegawai cafe itu. Entah apa yang di debatkan.


Mengingat dia adalah manifestasi keminesan yang nyata, alias ia merupakan satu-satunya pria yang saat ini memiliki nasib yang belum sempat ketiga sahabatnya, jelas menjadi keresahan tersendiri yang tak Sakti tunjukkan.


" Ngapain lihat anak itu terus?" Ucap Ajisaka kepada Sakti.


" Naksir lu?"


" Enggak, cuman jaman sekarang kayaknya enggak ada cewek jelek ya Ji. Aku cuma ngebayangin, apa masih ada wanita sederhana yang tersisa buat aku di muka bumi ini?"


Aji terkekeh. Aji sepertinya menuduh Sakti tertarik dengan Dita. Padahal tidak sama sekali.


Sakti punya kriteria lain, dan tentu bukan seperti sahabat dari Fina itu. Sakti bar-bar, Dita juga bar-bar. Jelas bukan seleranya. No way!


" Tau, jangan-jangan jodohmu udah mati Sak!" Ketus Yudha yang mencomot kudapan ringan yang ada di depan mereka.


" Matamu! Aku itu nyarinya yang selevel aja Yud. Kaya si Hesti juga mau deh aku, kalau dapat yang kayak dia, wuuuhh aku bakal pakai sarung tiap hari dirumah!" Ucap Sakti dengan pandangan menerawang.


Yudha dan Aji mengerutkan keningnya. Apa maksud si sableng?


Sakti tergelak " Mikir ya sarung buat apa? Ya biar gampang pas nglepasin burungku ke sarangnya nanti, hahahaha!" Sakti terpingkal-pingkal sendiri, membuat Pandu yang sibuk berbalas pesan dengan Fina sampai tersentak.


Dasar sableng!


.


.


Widaninggar


Ia tak tahu harus mengenakan apa. Tak memiliki pakaian yang terbilang bagus. Untungnya ia masih menyimpan dress dengan panjang selutut dan lengan tanggung sebatas siku yang masih bisa ia kenakan.


" Ibuk cantik banget mau pergi kemana?" Ucap Damar dengan polosnya sembari mulai memainkan game kesukaannya.


" Mau ke tempat Tante yang ngasih kita uang dulu itu, inget nggak?"


" Damar ikut ya?'" Rayu Wida kepada putranya.


" Enggak, Damar mau main game aja dirumah Buk. Lagi asik ini!" Sahut Damar yang masih sibuk memainkan game pada gawai miliknya.


Wajah Wida langsung muram. Ia ingin mengajak Damar sebenarnya.


" Tinggal aja Wid, biar dirumah sama Ibuk!" Ucap Ibu yang sudah mengetahui jika dia malam ini akan di jemput temannya.


" Tapi buk, kasihan Damar enggak pernah aku ajak keluar." Wida merasa sedih, karena saat ia juga ingin menyenangkan Damar. Ya walau bukan dari acaranya sendiri, setidaknya disana Damar bisa refreshing.


" Udah enggak apa-apa. Kalau kamu enggak datang, malah enggak enak sama yang pernah nolong kamu itu!" Ucap Ibuk menyenangkan.


" Mana yang jemput kamu kok belum datang?" Tanya Pak Atmojo yang muncul dari arah depan.


Ya, Wida menceritakan jika ia mendapat undangan dari wanita yang menolongnya beberapa waktu yang lalu dari dekapan Joni dan anak buahnya.


" Mungkin sebentar lagi!" Jawab Wida sambil menatap Damar yang memang terlihat asik. Ya sudahlah, ia akan berjanji untuk tak berlama-lama nanti.


Bapak mengijinkan karena tempat yang akan mereka tuju merupakan tempat menengah keatas ,yang sudah di pastikan akan aman karena memiliki penjagaan dari security.


Detik itu juga, terdengar deru mobil di halaman rumah mereka. Jelas itu Fina.


" Itu pasti Fina!" Ucap Wida yang kini berjalan ke depan. Membuat dua orang tuanya turut mengikuti langkah Wida.


" Permisi, selamat malam!" Suara wanita membuat tiga anggota keluarganya turut menyambut kedatangan tamu itu.


" Fina, masuk dulu Fin!" Ucap Wida tersenyum.


Fina mengangguk seraya membalas senyuman ramah Wida.


" Kenalkan ini Fina Buk, orang yang nolongin Wida pas kapan hari!" Mata Wida bahkan berkaca-kaca tiap mengingat kejadian itu.


" Silahkan duduk nak! Maaf rumah kami berantakan begini. Tadi si Wida lagi banyak jahitan kebetulan!" Ibu sungkan karena rumah mereka memang sedang tidak rapi.


" Terimakasih banyak ya nak, sudah tolong anak ibuk. Kalau enggak ada kamu, mungkin ibuk sekarang enggak akan ketemu Wida!" Ibu mengusap bahu Fina penuh ketulusan. Merasa berhutang budi kepada wanita dengan rambut coklat itu.


Ibu menitikan air matanya, membuat suasana berubah menjadi mengharu biru. Bahkan Fina turut mengeluarkan cairan bening itu.


" Sudah kewajiban kita sebagai sesama Buk. Mbk Inggar, maksud saya Mbak Wida orang baik. Oh ya, Damar dimana?" Ucap Fina celingak-celinguk.


" Sebentar ya Ibuk Bapak lihat!" Ucap Bapak.


" Maaf mbak Fina, Damar ketiduran itu. Kecapekan main game sampai tidur di dalam!" Ucap Bapak sungkan. Mereka orang tak berpunya, sangat malu dengan kondisi rumah yang berantakan seperti itu jika ada tamu hadir. Apalagi tamu sekelas Fina.


" Ya udah lain kali saja Pak, yuk mbak kita berangkat. Pak Buk Fin ajak mbak Inggar dulu ya, nanti saya antar pulang lagi!" Fina meraih tangan kedua orangtua Wida, menciumnya takzim.


" Hati-hati ya nak, titip Wida!"


Di dalam mobil,


"Yang ikut banyak Fin?" Ucap Wida sembari memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


" Enggak kok, cuma temanku, sama ada sahabatnya cowokku mbak. Kita kumpul-kumpul aja. Aku seneng banget bisa ketemu mbak Wida lagi. Pokonya mbak Wida harus semangat move on dari masa lalu ya mbak!" Fina mengajak Wida bukan tanpa alasan. Wanita itu sudah mengangkat Wida seperti kakaknya sendiri.


Cerita kisah hidup Wida yang menyayat hati Fina, membuat sejumput rasa kasihan menyelinap masuk ke relung hatinya.


Baik Wida maupun Fina tidak tahu, jika di cafe itu telah hadir orang yang ingin Wida hindari. Ajisaka.


.


.


.


.